Lompat ke isi

Konsep:Ayat 10 Surah Fathir

Dari wikishia
Ayat 10 Surah Fathir
Informasi Ayat
SurahSurah Fathir
Ayat10
Juz22
Informasi Konten
Tempat
Turun
Mekah
TentangCara Mencapai Kemuliaan Sejati


Ayat 10 Surah Fathir (bahasa Arab:آیه ۱۰ سوره فاطر) menekankan bahwa Allah adalah sumber sejati kemuliaan (izzah). Ayat ini menjelaskan bahwa kemuliaan tidak semata-mata berasal dari kekuasaan dunia atau pengaruh manusia lain, melainkan dari kekuatan batin yang lahir dari keteguhan hati menghadapi godaan internal dan dominasi eksternal.

Salah satu cara mencapai kemuliaan adalah melalui perkataan yang baik, yang dalam ayat ini disebut «الکَلِمُ الطَّیِّب». Para mufasir menafsirkan perkataan yang baik sebagai akidah yang benar mengenai Tauhid, Kenabian, dan Wilayah. Zikir-zikir seperti "La Ilaha Illallah" termasuk contohnya. Istilah shu'ud (naik) dalam ayat ini mengacu pada penerimaan perkataan tersebut oleh Allah, yang menurut riwayat mensyaratkan juga penerimaan wilayah Ahlulbait as.

Selain perkataan yang baik, amal saleh juga menjadi sarana penting. Para Mufasir menjelaskan bahwa amal saleh lahir dari keyakinan yang benar, dan frasa «اَلْعَمَلُ اَلصّٰالِحُ یَرْفَعُهُ» (dan amal yang saleh dinaikkan-Nya) menegaskan bahwa amal dan perkataan harus saling terkait agar diterima. Dengan kata lain, kemuliaan sejati hanya diperoleh melalui hubungan harmonis antara akidah yang benar dan tindakan nyata, bukan dari tipu daya yang digunakan orang-orang musyrik untuk mendapatkan pengakuan semu.

Secara keseluruhan, ayat ini menunjukkan bahwa untuk mencapai kemuliaan, seorang manusia perlu menyatukan keyakinan yang lurus, perkataan yang baik, dan amal saleh yang tulus, sehingga semua itu diterima oleh Allah dan menguatkan jiwa dalam menghadapi tantangan hidup.

Kemuliaan Sejati di Bawah Naungan Tauhid

Ayat 10 Surah Fathir memperkenalkan Allah sebagai sumber segala kemuliaan.[1] Ayat ini menegaskan bahwa siapa pun yang ingin meraih kemuliaan sejati harus memintanya dari Allah.[2] Dalam konteks tersebut, perkataan yang baik dan amal saleh dianggap sebagai sarana untuk memperoleh kemuliaan Ilahi.[3]

Para Mufasir menjelaskan bahwa ayat ini, yang termasuk ayat Makkiyah,[4] juga berfungsi sebagai peringatan terhadap orang-orang musyrik yang keliru dalam mencari kemuliaan melalui berhala. Mereka khawatir bahwa keimanan kepada Nabi Muhammad saw akan mengurangi pengaruh sosial dan menurunkan jumlah pengikut mereka.[5] Selain itu, orang-orang Munafik meyakini bahwa kebesaran dan kredibilitas mereka tergantung pada kompromi dengan para musyrik;[6] oleh karena itu, ayat ini menekankan bahwa manusia tidak boleh bergantung pada sesembahan khayalan atau tipu daya untuk memperoleh kemuliaan atau mengatasi hambatan hidup.[7]

Kemuliaan yang dimaksud digambarkan sebagai kekuatan batin yang membuat manusia teguh dan tak terkalahkan menghadapi pemberontakan, hawa nafsu, serta dominasi kekayaan dan kekuasaan.[8] Berdasarkan riwayat,[9] kekuatan batin tersebut hanya bersumber dari iman kepada Allah;[10] karena Dia adalah sumber mutlak kemuliaan dan ketakterkalahkan.[11]

Dengan demikian, ayat ini mengajarkan bahwa untuk meraih kemuliaan sejati, manusia perlu menggabungkan iman yang lurus, perkataan yang baik, dan amal saleh yang tulus, sehingga kekuatan batin yang diperoleh membuat mereka mampu menghadapi segala tantangan hidup dan tetap teguh di jalan Allah.

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ ٱلْكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلْعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرْفَعُهُۥ ۚ وَٱلَّذِينَ يَمْكُرُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُو۟لَٰٓئِكَ هُوَ يَبُورُ  (Terjemahan: Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur.) [ Fathir-10 ]


Analisis Tafsir dan Riwayat tentang Kalim Thayyib

Frasa «الکَلِمُ الطَّیِّب» atau "perkataan yang baik" dalam ayat ini ditafsirkan sebagai keyakinan yang benar mengenai Allah, Kiamat, dan agama.[12] Para Mufasir memahami ungkapan ini sebagai petunjuk pada kesaksian terhadap Tauhid, risalah, dan Wilayah, sementara dalam beberapa riwayat,[13] zikir seperti "La Ilaha Illallah" dan "Muhammadun Rasulullah" dijadikan contoh konkritnya.[14]

Beberapa mufasir, dengan merujuk pada riwayat dari Imam Shadiq as,[15] berpendapat bahwa yang dimaksud dengan bagian ayat ini adalah wilayah Ahlulbait as. Mereka menekankan bahwa tanpa penerimaan wilayah ini, amal manusia tidak akan naik dan diterima oleh Allah.[16]

Menurut Ayatullah Khamenei, pengetahuan (ma'arif) yang terbentuk dalam jiwa manusia dari Al-Qur'an dan Doa juga termasuk contoh "perkataan yang baik".[17] Ayatullah Makarim Syirazi, salah seorang mufasir Syiah, menegaskan bahwa semua hal di atas dapat dianggap sebagai perkataan yang suci.[18]

Beberapa mufasir menafsirkan naiknya "al-kalimu ath-thayyib" sebagai penerimaan oleh Allah dan pemberian pahala. Ada pula yang meyakini bahwa malaikat membawa catatan amal yang mencatat iman dan ketaatan hamba kepada Allah.[19] Allamah Thabathaba'i memandang proses ini sebagai bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah, yang secara otomatis meningkatkan kedekatan hamba dengan Tuhan dan menegaskan bahwa penerimaan merupakan konsekuensi dari kedekatan tersebut.[20]

Hubungan Amal Saleh dan Perkataan yang Baik

Amal Saleh adalah setiap tindakan yang lahir dari keyakinan yang benar.[21] Dalam beberapa riwayat, keyakinan hati terhadap zikir yang menegaskan tauhid, kenabian, dan wilayah juga dianggap sebagai amal saleh.[22]

Frasa «اَلْعَمَلُ اَلصّٰالِحُ یَرْفَعُهُ» ditafsirkan berbeda; sebagian meyakini bahwa amal saleh yang menaikkan perkataan yang baik kepada Allah, sementara yang lain percaya bahwa perkataan yang baik yang menaikkan amal saleh, sehingga amal diterima bila disertai akidah yang suci.[23] Dalam beberapa tafsir, dinukil riwayat dari Nabi saw bahwa amal yang sejalan dengan perkataan benar akan menaikkan perkataan itu kepada Allah, sedangkan ketidaksesuaian antara perkataan dan amal menyebabkan perkataan dikembalikan.[24]

Beberapa mufasir menafsirkan "sayyi'at" (kejahatan) dalam ayat ini sebagai tipu daya yang digunakan orang-orang musyrik untuk meraih kemuliaan.[25] Sebagian lainnya menganggapnya merujuk secara spesifik pada konspirasi Quraisy terhadap Nabi Muhammad saw.[26]

Catatan Kaki

  1. Bahjatpur, Hamgam ba Wahy, 1390 HS, jld. 3, hlm. 271.
  2. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 17, hlm. 22.
  3. Sayyid Qutb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1412 H, jld. 5, hlm. 2930.
  4. Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1377 HS, jld. 9, hlm. 2.
  5. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 18, hlm. 193.
  6. Syah Abdul Azhim, Tafsir Itsna Asyari, jld. 11, hlm. 18; Faidh al-Islam, Tarjumeh wa Tafsir Quran Azhim, 1378 HS, jld. 3, hlm. 858.
  7. Bahjatpur, Hamgam ba Wahy, 1390 HS, jld. 3, hlm. 272.
  8. Sayyid Qutb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1412 H, jld. 5, hlm. 2931; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 18, hlm. 197.
  9. Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 8, hlm. 628; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 68, hlm. 120.
  10. Sayyid Qutb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1412 H, jld. 5, hlm. 2931; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 18, hlm. 197.
  11. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 18, hlm. 193.
  12. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 18, hlm. 195.
  13. Qummi, Tafsir al-Qummi, 1404 H, jld. 2, hlm. 208; Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 4, hlm. 353.
  14. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 17, hlm. 23; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 18, hlm. 193; Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jld. 7, hlm. 479.
  15. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 430; Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib as, 1379 HS, jld. 4, hlm. 3; Bahrani, Al-Burhan, 1374 HS, jld. 4, hlm. 539.
  16. Sebagai contoh lihat: Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 3, hlm. 710-711; Bahrani, Tarjumeh Tafsir Rawayi al-Burhan, 1389 HS, jld. 7, hlm. 578-579; Bahjatpur, Hamgam ba Wahy, 1390 HS, jld. 3, hlm. 273.
  17. Khamenei, [https://farsi.khamenei.ir/speech-content?id=55950 «Bayanat dar Didar-e Mas'ulan-e Nizham»].
  18. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 18, hlm. 195.
  19. Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 8, hlm. 628.
  20. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 17, hlm. 23.
  21. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 17, hlm. 24.
  22. Qummi, Tafsir al-Qummi, 1404 H, jld. 2, hlm. 208; Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 4, hlm. 353.
  23. Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 8, hlm. 629; Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 11, hlm. 32.
  24. Qummi, Tafsir al-Qummi, 1404 H, jld. 2, hlm. 208; Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 4, hlm. 353; Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 4, hlm. 233.
  25. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jld. 17, hlm. 24.
  26. Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 8, hlm. 629.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Syahr Asyub Mazandarani. Manaqib Ali Abi Thalib as. Qom: Intisyarat Allamah, cetakan pertama, 1379 HS.
  • Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Tarjumeh Tafsir Rawayi Al-Burhan. Penerjemah: Nazemian, Reza dkk. Teheran: Nahad-e Kitabkhaneh-haye Umumi-ye Sarasar-e Kesywar, cetakan kedua, 1389 HS.
  • Bahjatpur, Abdulkarim. Hamgam ba Wahy. Qom: Muassasah Tamhid, cetakan pertama, 1390 HS.
  • Khamenei, Sayid Ali, «Bayanat dar Didar-e Mas'ulan-e Nizham», Paygah-e Ittela' Rasani-ye Daftar-e Hifz wa Nasyr-e Atsar-e Hazrat Ayatullah al-Uzhma Sayid Ali Khamenei, tanggal publikasi: 15 Farwardin 1403 HS, diakses: 29 Mehr 1404 HS.
  • Sayyid Qutb, Ibrahim. Fi Zhilal al-Qur'an. Beirut: Kairo: Dar al-Syuruq, cetakan ketujuh belas, 1412 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, cetakan ketiga, 1352 HS.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Korektor: Yazdi Thabathaba'i, Fadhlullah, Rasuli, Hasyim. Beirut: Dar al-Ma'rifah, cetakan kedua, 1408 H.
  • Huwaizi, Abdul Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Peneliti: Rasuli Mahallati, Sayid Hasyim. Qom: Intisyarat Ismailiyan, cetakan keempat, 1415 H.
  • Faidh Kasyani, Mullah Muhsin. Tafsir al-Shafi. Peneliti: A'lami, Husain. Teheran: Intisyarat al-Shadr, cetakan kedua, 1415 H.
  • Qara'ati, Muhsin. Tafsir Nur. Markaz Farhangi. Teheran: Darsha-i az Quran, cetakan kesebelas, 1383 HS.
  • Qurasyi, Sayid Ali Akbar. Tafsir Ahsan al-Hadits. Teheran: Bonyad-e Be'that, cetakan ketiga, 1377 HS.
  • Qummi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Peneliti dan Korektor: Musawi Jazairi, Sayid Thayib. Qom: Dar al-Kitab, cetakan ketiga, 1404 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Peneliti dan Korektor: Ghaffari, Ali Akbar, Akhundi, Muhammad. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Lahiji, Muhammad bin Ali. Tafsir Syarif Lahiji. Peneliti: Husaini Urmawi (Muhaddits), Mir Jalaluddin. Teheran: Daftar Nashr Dad, cetakan pertama, 1373 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
  • Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran: Dar Muhibbi al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan pertama, 1374 HS.