Lompat ke isi

Konsep:Ayat 107 Surah At-Taubah

Dari wikishia
Ayat 107 Surah At-Taubah
Informasi Ayat
NamaAyat 107 Surah At-Taubah
SurahAt-Taubah
Ayat107
Juz11
Informasi Konten
Sebab
Turun
Pembangunan masjid di samping Masjid Quba oleh orang-orang munafik
Tempat
Turun
Madinah
TentangMenyebutkan tujuan pembangunan Masjid Dhirar oleh orang-orang munafik
Ayat-ayat terkaitAyat 108 Surah At-Taubah dan Ayat 109 Surah At-Taubah


Ayat 107 Surah At-Taubah (bahasa Arab:آیة ۱۰۷ سورة التوبه) mengisyaratkan tujuan-tujuan tersembunyi orang-orang munafik dalam membangun Masjid Dhirar. Dalam ayat ini, menimbulkan kemudaratan, memperkuat kekufuran, menciptakan perpecahan di antara kaum muslimin, dan menunggu (mempersiapkan tempat) untuk memerangi Allah dan Rasul-Nya, dianggap sebagai tujuan orang-orang munafik. Di akhir ayat, sumpah mereka yang menyatakan memiliki niat baik dianggap sebagai kebohongan, dan Allah diperkenalkan sebagai Dzat yang mengetahui rahasia-rahasia mereka.

Dalam penjelasan mengenai sebab turun ayat disebutkan bahwa setelah pembangunan Masjid Quba oleh Kabilah Bani 'Amr bin 'Auf dan peresmiannya oleh Nabi Muhammad saw, orang-orang munafik membangun Masjid Dhirar dengan dalih membantu orang-orang lemah, dan mereka meminta Nabi saw untuk salat di dalamnya; namun dengan turunnya ayat ini, niat mereka terbongkar dan masjid tersebut dihancurkan atas perintah Nabi saw. Dikatakan bahwa masjid ini dibangun atas hasutan Abu Amir al-Rahib, salah satu musuh Islam.

Pentingnya memiliki niat yang ikhlas dan menghindari pamer (riya) dalam membangun Masjid serta ketidakbolehan membangun dua masjid yang berdekatan merupakan beberapa pemahaman para mufasir dari ayat ini. Berdasarkan beberapa laporan, di kota Kufah dan Syam, dibangun masjid-masjid dengan niat kemenangan Yazid bin Muawiyah atas Imam Husain as, yang mana para Imam Syiah menyebut masjid-masjid ini sebagai Masjid Mal'unah (masjid-masjid yang terlaknat) dan melarang pelaksanaan salat di dalamnya.

Poin-Poin Umum Ayat

Ayat 107 Surah At-Taubah mengisyaratkan salah satu rencana penting orang-orang munafik untuk memukul kaum muslimin.[1] Pada ayat-ayat sebelumnya telah disinggung berbagai jenis kemunafikan[2] dan kondisi kelompok-kelompok mereka yang berbeda;[3] namun dalam ayat ini dan ayat-ayat setelahnya, diisyaratkan sekelompok orang munafik yang berniat melakukan konspirasi dengan perencanaan yang matang. Ayat-ayat ini membongkar rencana mereka[4] dan mengisyaratkan tujuan-tujuan tersembunyi dan menipu yang ditampilkan dengan penampilan yang indah.[5] Kelompok ini mengambil tindakan membangun Masjid untuk memajukan tujuan mereka[6] yang menurut para mufasir, adalah Masjid Dhirar yang terkenal.[7]

Di akhir ayat, Al-Qur'an membahas sumpah-sumpah palsu mereka untuk mengalihkan opini publik dan kemudian mengisyaratkan pengetahuan Allah akan rahasia-rahasia dan kebohongan mereka[8] serta memberitahu Nabi Muhammad saw tentang kebatilan sumpah-sumpah mereka.[9] Mereka bersumpah bahwa tujuan mereka membangun masjid tidak lain hanyalah kebaikan dan perbaikan[10] dan niat mereka hanyalah membantu kaum muslimin dan mempermudah kondisi bagi orang-orang yang lemah.[11]

Kisah Masjid Dhirar dianggap sebagai peristiwa penting dan menonjol dalam kejadian Perang Tabuk[12] yang selain dalam sumber-sumber tafsir, juga tercermin dalam sumber-sumber lain seperti sumber sejarah.[13] Kitab-kitab tafsir dengan pendekatan riwayat telah mengisyaratkan sejumlah hadis tafsir dalam hal ini.[14]

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

"Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (kepada orang-orang mukmin), untuk (memperkuat) kekafiran, untuk memecah belah antara orang-orang mukmin, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka benar-benar bersumpah, 'Kami menghendaki kebaikan semata.' Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka adalah pendusta." (QS. At-Taubah: 107)

Tujuan Orang-Orang Munafik dalam Membangun Masjid Dhirar

Ayat 107 Surah At-Taubah setelah menyinggung pembangunan Masjid oleh orang-orang munafik, mengisyaratkan tujuan-tujuan mereka melakukan hal tersebut.[15] Makarim Syirazi, salah satu mufasir Syiah, dengan bersandar pada ayat tersebut, menganggap tujuan mereka dari tindakan ini adalah melemahkan persatuan kaum muslimin, menghalangi penyebaran Islam, menghancurkan Nabi Muhammad saw dan melenyapkan dasar Islam.[16]

  • Memberikan Mudarat kepada Kaum Muslimin

Para mufasir menafsirkan kata "dhirar" dalam ayat tersebut dengan makna mencari dan menimbulkan kerusakan/bahaya.[17] Dikatakan bahwa maksud ayat dari memberikan mudarat adalah menimbulkan kerusakan pada Masjid Quba[18] dan jemaah salatnya[19] serta memberikan mudarat kepada Masjid Rasulullah saw.[20]

  • Memperkuat Kekufuran

Tujuan orang-orang munafik membangun Masjid Dhirar dianggap untuk mendirikan[21] dan memperkuat dasar-dasar kekufuran[22] dan kemunafikan[23] melawan Allah dan Rasul.[24] Orang-orang munafik memutuskan membangun masjid dengan tujuan menolak salat di belakang Nabi Islam saw. Mereka mengklaim bahwa jika Nabi datang ke masjid mereka, mereka akan salat bersamanya.[25]

  • Menciptakan Perpecahan di Antara Kaum Muslimin

Tujuan berikutnya dari orang-orang munafik dalam membangun Masjid Dhirar adalah menciptakan perselisihan dan melemahkan persatuan di tengah masyarakat Muslim[26] serta menjauhkan mereka dari sekeliling Rasulullah saw.[27] Dikatakan bahwa dengan berkumpulnya sekelompok orang di Masjid ini, keramaian Masjid Quba yang berada di dekatnya[28] atau Masjid Nabi saw yang berjarak lebih jauh, akan hilang[29] dan jumlah jemaah salat mereka akan berkurang.[30]

  • Menunggu untuk Memerangi Allah dan Rasul

Para mufasir menafsirkan kata "irshad" dalam ayat dengan makna menunggu[31] yang disertai dengan permusuhan.[32] Dikatakan bahwa tujuan akhir orang-orang munafik adalah menciptakan sebuah markas agar seseorang yang sebelumnya telah memusuhi Allah dan Nabi saw dan rekam jejak buruknya telah jelas bagi semua orang, dapat menjalankan rencana-rencananya dari markas ini.[33] Orang tersebut dianggap sebagai Abu Amir al-Rahib, ayah Hanzhalah bin Abi 'Amir, yang mana Nabi menyebut Abu Amir sebagai orang Fasik.[34]

Sebab Turun

Para mufasir menganggap sebab turun ayat ini beserta dua Ayat setelahnya berkaitan dengan sekelompok orang munafik[35] khususnya Abu Amir al-Rahib[36] dan pembangunan Masjid Dhirar.[37] Dikatakan bahwa terdapat kesepakatan pendapat di antara para mufasir mengenai sebab turun Ayat ini.[38]

Ketika Masjid Quba dibangun di Madinah oleh sekelompok orang dari Bani 'Amr bin 'Auf, mereka meminta Nabi saw untuk Salat di masjid tersebut. Nabi saw pun meresmikan Masjid itu dan mendirikan salat di sana.[39] Sejumlah orang munafik karena dengki terhadap jemaah salat Masjid Quba,[40] dengan dalih seperti membantu orang-orang lemah dan sakit di Kabilah Bani Salim, membangun masjid lain di samping Masjid Quba. Masjid ini pada kenyataannya adalah markas untuk berkumpulnya orang-orang munafik.[41] Orang-orang ini meminta Nabi saw menjelang keberangkatan ke Perang Tabuk agar salat di masjid baru tersebut. Nabi saw menunda permintaan ini hingga kembali dari perang, dan setelah kembali dari Tabuk, ayat ini turun[42] dan membongkar niat asli mereka.[43] Menyusul peristiwa ini, Nabi saw memerintahkan agar masjid tersebut dihancurkan dan lokasinya dijadikan tempat pembuangan sampah.[44]

Berdasarkan sejumlah riwayat, Masjid Dhirar dibangun atas perintah Abu Amir al-Rahib. Abu Amir awalnya termasuk orang yang memberikan kabar gembira tentang kemunculan Nabi Muhammad saw;[45] namun setelah hijrah Nabi saw dan penyebaran Islam, ia mulai menentang beliau.[46] Abu Amir menulis surat kepada orang-orang munafik Madinah dan menjanjikan akan membawa pasukan dari Romawi.[47] Ia meminta mereka membangun sebuah masjid untuk aktivitasnya di Madinah.[48] Orang-orang munafik membangun Masjid Dhirar dan menunggu kembalinya Abu Amir untuk salat bagi mereka di masjid tersebut.[49]

Para Pembangun Masjid Dhirar

Para mufasir menyebutkan jumlah orang yang membangun Masjid Dhirar adalah 12[50] atau 15 orang[51] dari kabilah Bani 'Amr bin 'Auf[52] atau Bani Ghanm bin 'Auf[53] dari kaum Anshar.[54] Meskipun demikian, terdapat perbedaan pendapat di antara mufasir mengenai nama-nama orang ini.[55] Khidzam bin Khalid bin Ubaid, Tsa'labah bin Hathib, Hilal bin Umayyah, dan Abbad bin Hanif termasuk di antara orang-orang yang disebutkan dalam sumber-sumber tafsir[56] dan sejarah.[57]

Hal-Hal Penting Mengenai Masjid dan Pembangunannya

Para mufasir memiliki pemahaman dari ayat 107 Surah At-Taubah dalam bidang masjid dan pembangunan masjid, di antaranya:

  • Syarat Niat Pendiri Masjid: Ayat ini menunjukkan bahwa niat ikhlas para pendiri dan pengurus masjid itu penting.[58] Jika Masjid dibangun dengan niat Salat dan Ibadah, maka itu terpuji; namun jika tujuannya menimbulkan kerugian dan bahaya, maka itu dianggap buruk dan dosa.[59] Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ulama Islam meyakini setiap masjid yang dibangun dengan Niat bahaya, Riya (pamer) atau membanggakan diri, memiliki hukum Masjid Dhirar dan tidak boleh Salat di dalamnya.[60] Dalam sumber-sumber tafsir diisyaratkan tokoh-tokoh terkemuka yang dengan bersandar pada ayat ini, menghindari salat di beberapa masjid.[61] Menurut beberapa laporan, di Kufah dan Syam, dibangun masjid-masjid dengan niat kemenangan Yazid bin Muawiyah atas Imam Husain as, yang mana para Imam Syiah menyebutnya sebagai Masjid Mal'unah (masjid-masjid terlaknat) dan melarang pelaksanaan salat di dalamnya.[62]
  • Pembatasan dalam Membangun Masjid yang Berdekatan: Tidak boleh dibangun Masjid di samping masjid lain dan pembangunan masjid baru harus dicegah; kecuali jika karena besarnya lingkungan tersebut, ada kebutuhan untuk masjid baru.[63] Sebagian mufasir meyakini bahwa bahkan dalam satu kota tidak boleh dibangun dua atau tiga Masjid Jami' dan jika seseorang melakukan Salat Jumat di masjid kedua, salatnya tidak diterima.[64] Berdasarkan laporan sejarah, Umar bin Khattab pada masa penaklukan Islam, mengeluarkan perintah mengenai pembangunan masjid di wilayah-wilayah ini. Ia menekankan agar di setiap kota, tidak dibangun dua masjid yang saling berdekatan.[65]
  • Pemahaman Terkait Salat Jamaah: Tidak boleh diadakan dua Salat Jamaah dalam satu Masjid; karena hal ini juga dapat menyebabkan perpecahan dan melemahkan persatuan kaum muslimin.[66]
  • Masjid sebagai Alat Persatuan: Setiap masjid yang menjadi faktor perpecahan dan pelemahan persatuan kaum muslimin, dianggap sebagai Masjid Dhirar dan kehormatan serta kesuciannya dalam kondisi demikian akan hilang.[67] Dalam hal ini, segala bentuk penyalahgunaan oleh musuh harus dicegah.[68] Dikatakan bahwa pembangunan masjid dengan motif kesukuan atau pribadi yang menyebabkan perpecahan kaum muslimin dan sepinya barisan Salat Jamaah, bertentangan dengan tujuan-tujuan Islam.[69]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 137; Ja'fari, Tafsir Kautsar, 1376 HS, jld. 4, hlm. 579.
  2. Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 4, hlm. 101.
  3. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 137.
  4. Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 4, hlm. 101; Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 137.
  5. Syaikh al-Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 5, hlm. 298; Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 8, hlm. 257; Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 138.
  6. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 9, hlm. 389.
  7. Al-Tsa'labi, Al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 5, hlm. 94; Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jld. 6, hlm. 311; Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 3, hlm. 504.
  8. Syaikh al-Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 5, hlm. 298; Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 8, hlm. 257; Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 138.
  9. Fakhrurazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hlm. 147.
  10. Al-Qumi, Tafsir al-Qumi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 305.
  11. Al-Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 11, hlm. 18.
  12. Sayid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1425 H, jld. 3, hlm. 1710.
  13. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Beirut, jld. 2, hlm. 529; Al-Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 3, hlm. 110-111; Al-Baladzuri, Futuh al-Buldan, 1988 M, hlm. 13.
  14. Al-Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 11, hlm. 18-20; Al-Suyuthi, Al-Durr al-Manthur, 1407 H, jld. 3, hlm. 276; Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 2, hlm. 375.
  15. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 9, hlm. 389.
  16. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 137.
  17. Syaikh al-Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 5, hlm. 297; Al-Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 6, hlm. 19; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 9, hlm. 389.
  18. Fakhrurazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hlm. 147.
  19. Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 2, hlm. 310; Al-Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 3, hlm. 97; Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 2, hlm. 375.
  20. Al-Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 11, hlm. 18.
  21. Al-Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 110.
  22. Al-Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 3, hlm. 97; Qumi Masyhadi, Kanz al-Daqaiq, 1368 HS, jld. 5, hlm. 542; Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 2, hlm. 375.
  23. Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 2, hlm. 310; Al-Tsa'labi, Al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 5, hlm. 94.
  24. Fakhrurazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hlm. 147; Al-Baghawi, Ma'alim al-Tanzil, 1420 H, jld. 2, hlm. 387.
  25. Fakhrurazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hlm. 147.
  26. Al-Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 11, hlm. 18; Fakhrurazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hlm. 147; Syaikh al-Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 5, hlm. 298.
  27. Al-Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 110; Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 8, hlm. 257.
  28. Al-Baghawi, Ma'alim al-Tanzil, 1420 H, jld. 2, hlm. 387.
  29. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 137-138.
  30. Al-Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 110.
  31. Al-Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 6, hlm. 19; Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 8, hlm. 257.
  32. Fakhrurazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hlm. 147.
  33. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 138.
  34. Fakhrurazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hlm. 147; Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 3, hlm. 501-502.
  35. Al-Baghawi, Ma'alim al-Tanzil, 1420 H, jld. 2, hlm. 387; Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 4, hlm. 211.
  36. Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 8, hlm. 257; Al-Qumi, Tafsir al-Qumi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 305.
  37. Al-Qumi, Tafsir al-Qumi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 305.
  38. Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhshan, 1404 H, jld. 8, hlm. 117.
  39. Qumi Masyhadi, Kanz al-Daqaiq, 1368 HS, jld. 5, hlm. 540-541.
  40. Al-Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 109; Qumi Masyhadi, Kanz al-Daqaiq, 1368 HS, jld. 5, hlm. 540-541.
  41. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 9, hlm. 389; Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 3, hlm. 501-502.
  42. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 9, hlm. 389.
  43. Al-Qumi, Tafsir al-Qumi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 305; Al-Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 11, hlm. 18; Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 2, hlm. 310.
  44. Syaikh al-Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 5, hlm. 298; Qumi Masyhadi, Kanz al-Daqaiq, 1368 HS, jld. 5, hlm. 540-541.
  45. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 135.
  46. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 135.
  47. Fakhrurazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hlm. 147.
  48. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 136; Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 3, hlm. 501-502.
  49. Fakhrurazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hlm. 147; Al-Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 283.
  50. Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 2, hlm. 196; Fakhrurazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 16, hlm. 147; Syaikh al-Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 5, hlm. 297.
  51. Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhshan, 1404 H, jld. 8, hlm. 117.
  52. Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 2, hlm. 196; Syaikh al-Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 5, hlm. 297.
  53. Qumi Masyhadi, Kanz al-Daqaiq, 1368 HS, jld. 5, hlm. 540-541.
  54. Al-Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 11, hlm. 20; Al-Suyuthi, Al-Durr al-Manthur, 1407 H, jld. 3, hlm. 277; Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 2, hlm. 196.
  55. Syaikh al-Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 5, hlm. 297.
  56. Al-Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 11, hlm. 18; Al-Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 6, hlm. 19; Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 8, hlm. 253-254.
  57. Sebagai contoh lihat: Al-Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 3, hlm. 110-111.
  58. Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 3, hlm. 503-504.
  59. Syaikh al-Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 5, hlm. 298.
  60. Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 8, hlm. 254.
  61. Al-Tsa'labi, Al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 5, hlm. 94; Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 8, hlm. 254.
  62. Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 3, hlm. 502.
  63. Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 8, hlm. 254.
  64. Sebagai contoh lihat: Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 8, hlm. 254.
  65. Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 2, hlm. 310; Al-Tsa'labi, Al-Kasyf wa al-Bayan, 1422 H, jld. 5, hlm. 94.
  66. Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 8, hlm. 257.
  67. Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 3, hlm. 503-504.
  68. Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 3, hlm. 503-504.
  69. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 138.

Daftar Pustaka

  • Al-Alusi, Sayid Mahmud. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Riset oleh Ali Abdul Bari Athiyah, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
  • Al-Baghawi, Husain bin Mas'ud. Ma'alim al-Tanzil fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1420 H.
  • Al-Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1418 H.
  • Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Futuh al-Buldan. Beirut, Dar wa Maktabah al-Hilal, 1988 M.
  • Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Kitab Jamal min Ansab al-Asyraf. Riset oleh Suhail Zakar dan Riyadh Zirikli, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Teheran, Nashir Khosro, 1364 HS.
  • Al-Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. Al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Qom, Perpustakaan Umum Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, 1404 H.
  • Al-Thabari, Muhammad bin Jarir bin Yazid. Tarikh al-Umam wa al-Muluk (Tarikh al-Thabari). Beirut, Dar al-Turats, Cetakan kedua, 1387 H.
  • Al-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
  • Al-Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Nashir Khosro, Cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Al-Tsa'labi, Ahmad bin Muhammad. Al-Kasyf wa al-Bayan al-Ma'ruf Tafsir al-Tsa'labi. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, Cetakan pertama, 1422 H.
  • Al-Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasysyaf 'an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil. Beirut, Dar al-Kitab al-'Arabi, Cetakan ketiga, 1407 H.
  • Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha. Tafsir al-Shafi. Teheran, Maktabah al-Shadr, Cetakan kedua, 1415 H.
  • Fakhrurazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, Cetakan ketiga, 1420 H.
  • Husaini Hamadani, Muhammad. Anwar-e Derakhshan dar Tafsir-e Quran (Cahaya yang Bersinar dalam Tafsir Al-Qur'an). Teheran, Intisharat-e Luthfi, Cetakan pertama, 1404 H.
  • Ibnu Hisyam, Abdul Malik. Al-Sirah al-Nabawiyyah. Beirut, Dar al-Ma'rifah, Tanpa tahun.
  • Ibnu Sulaiman, Muqatil. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1423 H.
  • Ja'fari, Ya'qub. Tafsir Kautsar. Qom, Muassasah Intisharat-e Hijrat, Cetakan pertama, 1376 HS.
  • Maibudi, Ahmad bin Muhammad. Kasyf al-Asrar wa 'Uddah al-Abrar. Teheran, Amirkabir, Cetakan kelima, 1371 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Namuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan kesepuluh, 1371 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Kasyif. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
  • Qara'ati, Muhsin. Tafsir Nur. Teheran, Markaz-e Farhangi-ye Dars-hai az Qur'an, 1388 HS.
  • Qumi Masyhadi, Muhammad bin Muhammad Ridha. Tafsir Kanz al-Daqaiq wa Bahr al-Gharaib. Riset oleh Husain Dargahi, Teheran, Sazman-e Chap va Intisharat-e Wizarat-e Irsyad-e Eslami, 1368 HS.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Qom, Dar al-Kitab, Cetakan ketiga, 1363 HS.
  • Sayid Quthb, Ibrahim Husain Syadzili. Fi Zhilal al-Qur'an. Beirut, Dar al-Syuruq, Cetakan ke-35, 1425 H.
  • Syaikh al-Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, Cetakan pertama, Tanpa tahun.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, Cetakan kedua, 1390 H.
  • Thayyib, Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Intisharat-e Eslam, Cetakan kedua, 1369 HS.