Qiraah Hafsh dari Ashim

Prioritas: a, Kualitas: b
tanpa navbox
Dari wikishia

Qiraah Hafsh dari Ashim (bahasa Arab:قراءة حفص عن عاصم) adalah sebuah riwayat terkenal dari qiraah Ashim bin Abi al-Najud Kufi, salah seorang dari tujuh qari Al-Qur'an terkenal yang muridnya, Hafsh bin Sulaiman Asadi menukil darinya. Qari seperti Abu Bakar bin Ayyasy juga meriwayatkan qiraah Ashim; Tetapi, riwayat Hafsh lebih terkenal. Riwayat Hafsh lebih diterima karena penguasaan dan kefasihan serta memiliki sedikit perbedaan dengan qiraah Ashim, saat ini qiraah tersebut masyhur di antara sekitar 95% negara-negara Islam.

Para ahli qiraah menganggap shahih riwayat Hafsh yang berasal dari qiraah Ashim dan sanadnya bersambung kepada Nabi saw, dikatakan bahwa qiraah Ashim berasal dari qiraah Imam Ali as melalui satu perantara, yaitu melalui Abu Abd al-Rahman Sullami. Ashim dianggap dipercaya dan seorang yang bertakwa serta qiraahnya adalah qiraah yang paling fasih. Selain itu, Hafsh dianggap sebagai salah satu murid Ashim yang paling berpengetahuan mengenai qiraah dan dianggap dapat diandalkan serta akurat dalam qiraah. Abu Abd al-Rahman Sullami juga diperkenalkan sebagai seorang yang dipercaya dan berkedudukan luhur.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan qiraah Ashim menurut riwayat Hafsh menjadi terkenal di negara-negara Islam: Muhammad Hadi Ma'rifat menganggap qiraah ini masyhur dan diterima oleh semua orang sejak awal diperkenalkan. Ada pula yang berpendapat bahwa kemasyhuran dan qiraah Ashim menurut riwayat Hafs, dimulai pada abad ke-10 atas usaha Kesultanan Utsmaniyah.

Kedudukan dan Urgensi Qiraah

Qiraah Hafsh dari Ashim adalah riwayat Hafsh bin Sulaiman Asadi berasal dari qiraah gurunya Ashim bin Abi al-Najud Kufi yang merupakan salah satu dari tujuh qiraah Al-Qur'an terkenal.[1] Dikatakan bahwa qiraah ini adalah salah satu qiraah yang mutawatir dan diterima oleh seluruh umat Islam.[2] Menurut Muhammad Ismail Muhammad al-Masyhadani, penelaah dan guru gramatika Arab serta qiraah Al-Qur'an di Universitas Mosul, saat ini, di sekitar 95% negara Islam, qiraah Ashim menurut riwayat Hafsh sangat masyhur dan di 5% negara Islam lainnya, qiraah lainnya adalah yang masyhur.[3]

Tentu saja banyak kelompok yang meriwayatkan qiraah Ashim dengan atau tanpa perantara;[4]namun riwayat Hafsh dan riwayat Abu Bakar bin Ayyasy lebih masyhur.[5]

Legalitas Qiraah Hafsh dari Ashim

Para ahli qiraah menganggap riwat Hafsh tentang qiraah Ashim dan kebersambungan rantai sanadnya dengan Nabi saw adalah riwayat yang sahih;[6] karena Ashim mendapatkannya dari Abu Abd al-Rahman Sullami dan dia mengambilnya langsung dari Imam Ali as dan Imam Ali as mendapatkannya dari Nabi saw. Ashim juga mempelajari riwayat ini dari Zar bin Habisy, di mana dia pelajarinya dari Abdullah bin Mas'ud dan Abdullah bin Mas'ud juga mempelajarinya dari Nabi saw.[7] Di sisi lain, qiraah ini diriwayatkan oleh Hafsh adalah salah satu perawi Ashim yang paling akurat dan muridnya yang paling berilmu.[8]

Muhammad Hadi Ma'rifat, penelaah Al-Qur'an dan seorang fakih Syiah (W. 2007 M), meyakini bahwa qiraah Hafsh dari Ashim adalah satu-satunya qiraah yang memiliki sanad shahih dan diperkuat dengan dukungan umat Islam sejak awal diperkenalkan dan masyhur di tengah-tengah umat Islam dari generasi ke generasi selama berabad-abad hingga hari ini.[9]

Menurut Ibnu Nadim, Ashim mempelajari qiraahnya dari Abu Abd al-Rahman Sullami dan Zar bin Habisy;[10] tetapi Abu Bakar bin Ayyash, perawi lain dari qiraah Ashim, mengatakan: "Ashim memberitahuku bahwa tidak ada yang mengajariku Al-Qur'an kecuali Abu Abd al-Rahman Sullami dan ketika aku kembali, aku biasa membacanya di hadapan Zar bin Habisy".[11]

Terdapat perbedaan pendapat dari sahabat manakah Sullami mempelajari Al-Qur'an:[12] Sebagian mengatakan bahwa ia mempelajari Al-Qur'an dari Imam Ali as, Utsman dan Abdullah bin Mas'ud dan membacanya di hadapan mereka.[13] Sebagian lain menukil bahwa ia mempelajari Al-Qur'an dari Imam Ali as dan membacanya di hadapan Utsman.[14] Ada juga yang mengatakan bahwa dia mempelajari Al-Qur'an dari Utsman dan membacanya di hadapan Imam Ali as.[15] Muhammad Hadi Ma'rifat menukil dari Dzahabi yang mengatakan bahwa Sullami mempelajari Al-Qur'an dari Abdullah bin Mas'ud dan membacanya di hadapan Imam Ali as.[16] Beberapa orang berpendapat bahwa dia mempelajari Al-Qur'an dari Imam Ali as dan membacanya semuanya di hadapan Imam Ali as.[17]

Kemasyhuran Qiraah Hafsh dari Ashim

Dikatakan bahwa pemilihan qiraah Hafsh dari Ashim oleh Kesultanan Utsmaniyah dan pencetakan serta penerbitan Mushaf berdasarkan qiraah itu sekitar abad ke-10 Hijriah menyebabkan masyhurnya qiraah ini dan diterimanya di kalangan masyarakat Islam.[18] Ali Muhammad al-Dhaba', seorang ahli qiraah asal Mesir (W. 1380 H) menulis bahwa awal mula kepopuleran dan diterimanya qiraah Ashim menurut riwayat Hafsh di negara-negara Islam adalah sejak pertengahan abad ke-12 Hijriah.[19]

Pengenalan Perawi

Halaman pertama penjelasan Al-Qur'an yang diterbitkan Arab Saudi yang menjelaskan bahwa Al-Qur'an tersebut disesuaikan dengan qiraah Hafsh dari Ashim

Abu Abd al-Rahman Sullami Salah satu Tabiin Kufah dan seorang qari yang mempelajari qiraah Al-Qur'an dari beberapa sahabat Nabi saw.[20] Para ulama Rijal menganggap Abu Abd al-Rahman Sullami sebagai orang yang Tsiqah dan berkedudukan luhur.[21]

Zar bin Habisy Seseorang yang menurut Ibnu Nadim, Ashim biasa membaca qiraah kepadanya.[22] Dia adalah salah seorang Tabiin Kufah dan seorang qari thabaqah tiga.[23] Dia mempelajari qiraah dari Abdullah bin Mas'ud[24] dan berdasarkan sebuah nukilan mempelajarinya dari Imam Ali as dan Abdullah bin Mas'ud.[25]

Ashim bin Bahdalah Abi al-Najud Dikenal sebagai Ashim, dia adalah salah satu dari tujuh qari dan berasal dari Kufah.[26] Banyak ulama Rijal menganggap Ashim sebagai orang yang tsiqah dan bertakwa[27] dan qiraahnya adalah yang paling fasihnya qiraah.[28] Diriwayatkan dari beberapa orang bahwa beliau berhati-hati dan cermat dalam menghafal dan mencatat qiraah.[29] Hafsh bin Sulaiman

Dia berasal dari Kufah dan putra bawaan istri Ashim. Dia belajar qiraah Al-Qur'an darinya, membaca di hadapannya berkali-kali dan menyebarkannya di negara-negara Islam, seperti Bagdad dan Mekah.[30] Beberapa ahli qiraah meyakini qiraahnya hfsh lebih baik diantara para murid dan perawi ashim.[31] Menurut laporan banyak ulama Rijal, Hafsh tsiqah dalam qiraah dan dalam menghafal serta mencatat qiraah Ashim sangat akurat.[32]

Perbedaan Qiraah Hafsh dengan Qiraah Ashim

Dikatakan bahwa qiraah Hafsh berbeda dengan qiraah Ashim hanya dalam satu hal, yaitu qiraah kata «‌ضعف‌» "Dha'f" pada ayat 54 Surah Al-Rum, di mana Ashim huruf «‌ض‌» dibaca dengan harakat fathah dan Hafsh dengan harakat dhammah.[33] Sementara itu, dilaporkan lebih dari lima ratus perbedaan harakat huruf antara qiraah Hafsh dan qiraah Abu Bakr bin Ayyasy, di mana dia juga mempelajari qiraah dari Ashim dan membacakan di hadapannya.[34] Mengenai sebab perbedaan antara qiraah Hafsh dan Abu Bakar Ibnu Ayyasy, dikatakan bahwa Ashim mengajari Ibnu Ayyasy qiraah yang ia pelajari dari Zar bin Habisy dan dia mempelajarinya dari Abdullah bin Mas'ud.[35]

Cirikhas

Beberapa cirikhas dan prinsip qiraah Ashim menurut riwayat Hafsh adalah sebagai berikut:

  • Ashim membaca Bismillahirrahmanirrahim di antara dua surah, yaitu akhir setiap surah dan permulaan surah berikutnya; Kecuali jarak antara Surah Al-Anfal dan Surah At-Taubah.[36] Qiraahnya dalam hal demikian dinukil dalam tiga bentuk: wakaf, wasl dan sakt (jeda singkat di antara kata).[37]
  • Dalam keseluruhan Al-Qur'an, menurut riwayat Hafsh dari qiraah Ashim, sakt diriwayatkan hanya pada empat tempat, yaitu: Antara kata terakhir ayat pertama Surah Al-Kahfi (عِوَجا) dan kata pertama ayat kedua Surah yang sama (قَیماً), antara kata «مَرقَدِنا» dan kata «هذا» di ayat 52 Surah Yasin, antara kata «مَنْ» dan kata «رَاقٍ» dalam ayat 27 Surah Al-Qiyamat dan antara kata «بَلْ» dan kata «رَانَ» pada ayat 14 Surah Al-Muthaffifin.[38] [catatan 1]
  • Dalam qiraah Ashim hanya ada satu kasus yaitu imalah (melafalkan harakat fathah yang condong ke arah kasrah dan alif ke ya' untuk memudahkan bacaan), bacaan «راء» pada kata «مَجْراها» dalam ayat 41 Surah Hud yaitu dibaca sebagai Kasra.[39]
  • Semua Hamzah dalam Al-Qur'an dibaca dengan "Tahqiq" menurut qiraah Ashim;[40] "Tahqiq Hamzah" dalam ilmu Tajwid berarti membaca huruf Hamzah dari makhrajnya dengan memperhatikan semua sifat-sifatnya.[41] Hanya dua kata «کُفُواً» dan «هُزُواً» dikecualikan dari kaidah ini.[42] Dalam kata «ءأعجَمیٌ» dalam ayat 44 Surah Fusshilat, Hamzah kedua juga dibaca dengan mudah; Artinya, dengan lembut dan dengan suara antara Hamzah dan Alif.[43]
  • Gaya qiraah Ashim disifati sebagai tartile lambat.[44]

Monografi

Beberapa karya yang ditulis tentang qiraah Hafsh dari Ashim adalah sebagai berikut:

  • Ahamiyat Qirat-e Ashim be Rivayat Hafsh, karya Khudayi Isfahani: Buku ini memperkenalkan Ashim dan qiraahnya dalam sebelas bab, memperkenalkan para qari yang Ashim meriwayatkan dari mereka dan para qari seperti Hafsh dan Abu Bakar bin Ayyasy. Dalam bab kesepuluh, perbandingan riwayat Hafsh dengan riwayat Abu Bakar bin Ayyasy.[45] Bab kesebelas dikhususkan untuk perbedaan antara qiraah Ashim dan qiraah lainnya.[46]
  • Mabahits fi Ilm al-Qiraat ma'a Bayan Ushul Riwayat Hafsh, karya Muhammad bin Abbasbaz: Penulis buku ini pertama-tama memperkenalkan Ashim dan Hafsh dan menjelaskan dokumen sanad riwayat Hafsh dari qiraah Ashim. Kemudian dia menganalisa cirikhas-cirikhas dan prinsip-prinsipnya.[47]
  • Al-Qimah al-Dalaliyah li Qiraah Ashim bi Riwayat Hafsh, karya Muhammad Ismail Muhammad Al-Masyhadani: Dalam buku ini, qiraah Ashim menurut riwayat Hafsh dianalisis dan dikaji dari segi perubahan bentuk dan struktur beberapa kata Al-Qur'an yang menyebabkan perubahan maknanya. Mengingat makna kata, konteks ayat Al-Qur'an dan beberapa dalil lainnya, penulis lebih memilih apa yang disebutkan dalam qiraah Ashim dari Hafsh dibandingkan qiraah lainnya.[48] Buku ini disusun dalam pendahuluan, tiga bab dan sebuah penutup.[49]

Catatan Kaki

  1. Dzahabi, Ma'rifah al-Qura al-Kibar, hlm. 53; Hadi Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 195.
  2. Hadi Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 246; Baz, Mabahits fi Ilm al-Qiraat Ma'a Bayan Ushul Riwayah Hafsh, hlm. 81.
  3. Ismail Muhammad al-Masyhadani, al-Qimah al-Dilaliyah li Qiraah bi Riwayah Hafsh, hlm. 26.
  4. Tim penulis, Farhangnameh Ulum-e Qurani, hlm. 794.
  5. Syathibi, Matn al-Syathibiyah, hlm. 3.
  6. Ibnu Jazari, al-Nashr fi al-Qiraat, jld. 1, hlm. 156; Baz, Mabahits fi Ilm al-Qiraat Ma'a Bayan Ushul Riwayah Hafsh, hlm. 85.
  7. Dzahabi, Ma'rifah al-Qura al-Kibar, hlm. 54; Hadi Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 248; Baz, Mabahits fi Ilm al-Qiraat Ma'a Bayan Ushul Riwayah Hafsh, hlm. 85.
  8. Hadi Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 246; Baz, Mabahits fi Ilm al-Qiraat Ma'a Bayan Ushul Riwayah Hafsh, hlm. 84-85.
  9. Hadi Ma'rifat, Ulum-e Qurani, hlm. 235.
  10. Ibnu Nadim, al-Fihrist, hlm. 47.
  11. Hadi Ma'rifat, al-Tamhid min Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 246.
  12. Untuk contoh silakan lihat ke: Dzahabi, Ma'rifah al-Qura al-Kibar, jld. 1, hlm. 27; Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Āl Abi Thalib, jld. 2, hlm. 43; Ibnu Jazari, Ghayah al-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra, jld. 1, hlm. 413; Hadi Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 189.
  13. Dzahabi, Ma'rifah al-Qura al-Kibar, jld. 1, hlm. 27, hlm. 27.
  14. Dzahabi, Ma'rifah al-Qura al-Kibar, jld. 1, hlm. 27, hlm. 27.
  15. Ibnu Jazari, Ghayah al-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra, jld. 1, hlm. 413.
  16. Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 189.
  17. Untuk contoh silakan lihat ke: Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Āl Abi Thalib, jld. 2, hlm. 43; Dhaba', al-Idha'ah fi Bayan Ushul al-Qiraah, hlm. 72; Jamal, al-Mughni fi Ilm al-Tajwid bi Riwayah Hafsh 'an 'Ashim, hlm. 46.
  18. Muflih al-Qudhah dan lain-lain, Muqaddimat fi Ilm al-Qiraat, hlm. 63; Jamal, al-Mughni fi Ilm al-Tajwid bi Riwayah Hafsh 'an 'Ashim, hlm. 32.
  19. Dhaba, al-Idha'ah fi Bayan Ushul al-Qiraah, hlm. 72.
  20. Hadi Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulul al-Quran, jld. 2, hlm. 189.
  21. Untuk contoh silakan lihat ke: Dzahabi, Ma'rifah al-Qura al-Kibar, jld. 1, hlm. 30; Ibnu Jazari, Ghayah al-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra, jld. 1, hlm. 414.
  22. Ibnu Nadim, al-Fihrist, hlm. 47.
  23. Hadi Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 190.
  24. Ibnu Mujahid, al-Sab'ah fi al-Qiraat, hlm. 70.
  25. Hadi Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 190.
  26. Ibnu Jazari, Ghayah al-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra, jld. 1, hlm. 346; Khu'i, Mu'jam Rijal al-Hadits, jld. 10, hlm. 195.
  27. Untuk contoh silakan lihat ke: Dzahabi, Mizan al-I'tidal, jld. 2, hlm. 357-358; Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, jld. 1, hlm. 153; Ibnu Jazari, al-Nashr fi al-Qiraat al-Ashr, jld. 1, hlm. 155; al-Dani, Jami' al-Bayan fi al-Qiraat al-Sab' , jld. 1, hlm. 196; Khansari, Raudhat al-Jannat, jld. 5, hlm. 4.
  28. Untuk contoh silakan lihat ke: Dzhabi, Ma'rifah al-Qurra al-Kibar ala al-Thabaqat wa al-A'shar, jld. 1, hlm. 52; Ibnu Jazari, Ghayah al-Nihayah fi Thabaqat al-Kurra, jld. 1, hlm. 347; Ibnu Jazari, al-Nashr fi al-Qiraat al-Ashr, jld. 1, hlm. 155; al-Dani, Jami' al-Bayan fi al-Qiraat al-Sab' , jld. 1, hlm. 195; Khansari, Raudhat al-Jannat, jld. 5, hlm. 4.
  29. Untuk contoh silakan lihat ke: Hadi Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 246; Ibnu Jazari, al-Nashr fi al-Qiraat al-Ashr, jld. 1, hlm. 155.
  30. Ibnu Jazari, Ghayah al-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra, jld. 1, hlm. 254; Hadi Ma'rifat, al-tamhid fi Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 248.
  31. Ibnu Jazari, Ghayah al-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra, jld. 1, hlm. 254; Ibnu Jazari, al-nashr fi al-Qiraat al-'Ashr, jld. 1, hlm. 156; Hadi Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 248.
  32. Untuk contoh silakan lihat ke: Hadi Ma'rifat, al-Tamhid fi Ulum al-Quran, jld. 2, hlm. 248; Dzahabi, Mizan al-I'tidal, jld. 1, hlm. 558; Khatib Baghdadi, Tarikh Baghdad, jld. 9, hlm. 64.
  33. Ibnu Mujahid, al-Sab'ah fi al-Qiraat, hlm. 96.
  34. Ibnu Jazari, Ghayah al-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra, jld. 1, hlm. 254.
  35. Ibnu Jazari, Ghayah al-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra, jld. 1, hlm. 254.
  36. Baz, Mabahits fi Ilm al-Qiraat Ma'a Bayan Ushul Riwayah Hafsh, hlm. 86.
  37. Tim penulis, Farhangnameh Ulum-e Qurani, hlm. 795.
  38. Baz, Mabahits fi Ilm al-Qiraat Ma'a Bayan Ushul Riwayah Hafsh, hlm. 88.
  39. Baz, Mabahits fi Ilm al-Qiraat Ma'a Bayan Ushul Riwayah Hafsh, hlm. 88.
  40. Tim penulis, Farhangnameh Ulum-e Qurani, hlm. 795.
  41. Sutudeh Niya, Danesy-e Tajwid (Sath 2), hlm. 149.
  42. Tim penulis, Farhangnameh Ulum-e Qurani, hlm. 795.
  43. Dhaba', al-Idha'ah fi Bayan Ushul al-Qiraah, hlm. 74; Marshafa, Hidayah al-Qari ila Tajwid Kalam al-Bari, jld. 2, hlm. 579.
  44. Tim Penulis, Farhangnameh Ulum-e Qurani, hlm. 759.
  45. Khudai Isfahani, Ahamiyat-e Qiraat-e Ashim be revayat-e Hafsh, hlm. 115.
  46. Khudai Isfahani, Ahamiyat-e Qiraat-e Ashim be revayat-e Hafsh, hlm. 115.
  47. Baz, Mabahits fi Ilm al-Qiraat Ma'a Bayan Ushul Riwayah Hafsh, hlm. 14-15.
  48. Ismail Muhammad al-Masyhadani, al-Qimah al-Dilaliyah li Qiraah bi Riwayah Hafsh, hlm. 19.
  49. Ismail Muhammad al-Masyhadani, al-Qimah al-Dilaliyah li Qiraah bi Riwayah Hafsh, hlm. 7-9.

Catatan

  1. Jeda atau jeda singkat antar kata menjadi wajib jika dengan menghubungkan dua kata dapat merubah makna kalimat. Misalnya dalam Surah Al-Muthaffifin ayat 14, كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ; Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka, menurut aturan, huruf "lam" dibaca sukun dan harus diidgham ke huruf "ra"; Namun di sini, jika tidak ada jeda diantara dua kata “Bal” dan “Rana”, maka kedua kata tersebut melebur menjadi kata “Barraana”, sehingga mengubah makna ayat tersebut (Ruhani Esfahani, Tajwid Al-Qur'an dan Perbedaan Bacaan dalam Shatibiyyah, 1396, hal.43)

Daftar Pustaka

  • Al-Dani, Utsman bin Sa'id. Jami' al-Bayan fi al-Qiraat al-Sab' . Emirat: Universitas al-Syariqah, 1428 H.
  • Baz, Muhammad bin Abbas. Mabahits fi Ilm al-Qiraat Ma'a Bayan Ushul Riwayah Hafsh. Mesir: Dar al-kalimah, 1425 H.
  • Dhaba', Muhammad Ali. al-Idhaah fi Bayan Ushul al-Qiraah. Kairo: Perpustakaan al-Azhariyah li al-Turats, 1420 H.
  • Dzahabi, Syamsuddin Abu Abdillah. Ma'rifah al-Qurra al-Kibar ala al-Thabaqat wa al-A'shar. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1417 H.
  • Dzahabi, Syamsuddin Abu Abdillah. Mizan al-I'tidal. Dar al-Ma'rifah li al-Mathbu'at wa al-Nashr, cet. 1, 1382 H.
  • Ibnu Jazari, Muhammad bin Muhammad. al-Nashr fi al-Qiraat al-'Ashr. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, tanpa tahun.
  • Ibnu Jazari, Muhammad bin Muhammad. Ghayah al-Nihayah fi Thabaqat al-Qura. Perpustakaan Ibnu Taimiyah, 1351 H, tanpa tempat.
  • Ibnu Mujahid, Ahmad bin Musa. al-Sab'ah fi al-Qiraat. Mesir: dar al-Ma'arif, cet. 2, 1400 H.
  • Ibnu Nadim, Abu al-Faraj Muhammad bin Ishaq. al-Fihrist. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1417 H,
  • Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali. Manaqib Āl Abi Thalib. Qom: Penerbit Allahmeh, cet. 1, 1379 H.
  • Ismail Muhammd al-Masyhadani, Muhammad. al-Qimah al-Dilaliyah li Qiraah bi Riwayah Hafsh. Irak: Pusat penelitian dan Studi Islam, cet. 1, 1430 H.
  • Jamal, Abdur-Rahman Yusuf. al-Mughni fi Ilm al-Tajwid bi Riwayah Hafsh 'an 'Ashim. GAza: Perpustakaan Samir Manshur, tanpa tahun.
  • Khansari, Muhammad Baqir. Raudhat al-Jannat. Qom: Penerbit Ismailiyan, 1390 HS.
  • Khatib Baghdadi, Ahmad bin ali. Tarikh Baghdad. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1417 H.
  • Khudai Isfahani, Akram. Ahamiyat-e Qiraat-e Ashim be revayat-e Hafsh. Teheran: Nashir Raizan, 1378 HS.
  • Khu'i, Sayid Abu al-Qasim. Mu'jam Rijal al-Hadits. Najaf: Yayasan al-Imam al-Khu'i al-Islamiah, tanpa tahun.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi. Ulum-e Qurani. Qom: Yayasan Farhanggi Intisyarati al-Tamhid. Cet. 4, 1381 HS.
  • Marshafa, Abdul Fatah. Hidayah al-Qari il Tajwid Kalam al-Bari. Madinah: Perpustakaan Thayibah, cet. 2, tanpa tahun.
  • Muflih al-Qudhah, Ahmad Muhammad dan lain-lain. Muqaddimat fi Ilm al-Qiraat. Oman: Dar Ammar, 1422 H.
  • Ruhani Isfahani, Sayid Hasyim. Tajwid-e Quran va Ikhtilaf-e Qiraat dar Nazm-e Syatibiyeh. Teheran: Penerbit Usweh, 1396 HS,
  • Sutudeh Niyam Muhammad Reza. Danesy-e Tajwid (Sath 2). Qom: Penerbit Dar al-Ilm, 1396 HS.
  • Syathibi, Abu Muhammad Qasim bin Fairah. Matn al-Syathibiyah. Madinah: Perpustakaan Dar al-Huda, 1431 H.
  • Tim Penulis. Farhangnameh Ulum-e Qurani. Qom: Lembaga Penelitian Farhang va Ulum-e Islami, 1394 HS.