Konsep:Yaum al-Bai'ah
|| ||
|| - ||
|| - || || ||
Yaum al-Bai'ah (bahasa Arab: یَومُ البِیْعَة) atau Hari Baiat adalah sebuah istilah yang digunakan dalam kitab-kitab tafsir, riwayat, dan sejarah mengenai sejumlah peristiwa sejarah Awal Islam. Di antara kasus-kasus tersebut adalah baiat laki-laki dan perempuan kepada Nabi Muhammad saw di atas bukit Shafa setelah penaklukan Mekkah, peristiwa Ghadir, pengambilan baiat dari Imam Ali as untuk Abu Bakar, baiat kepada Utsman bin Affan pada hari Syura, dan baiat masyarakat kepada Imam Ali as setelah terbunuhnya Utsman.
Baiat Kaum Muslimin kepada Nabi setelah Penaklukan Mekkah
Pada tahun 8 H, setelah penaklukan Mekkah, suatu hari di atas bukit Shafa, Nabi saw mengambil baiat dari laki-laki dan perempuan untuk menghormati hukum-hukum agama Islam dan tidak melanggarnya, serta menjauhi syirik kepada Allah dan dosa.[1] Hari ini dalam beberapa sumber disebut sebagai Yaum al-Bai'ah.[2]
Peristiwa Ghadir
Dalam sejumlah buku tafsir dan riwayat, hari Ghadir (hari dimana Nabi memperkenalkan Ali as sebagai penerusnya) disebut sebagai Yaum al-Bai'ah. Furat al-Kufi dalam tafsirnya, di pinggir penukilan sebuah riwayat dari Abu Dzar al-Ghifari, menyebut hari Ghadir sebagai Yaum al-Bai'ah.[3] Dalam kitab Mir'at al-'Uqul[4] karya Majlisi Awal dan Bayan al-Sa'adah fi Maqamat al-'Ibadah[5] karya Sulthan Muhammad Gunabadi, istilah Yaum al-Bai'ah juga digunakan untuk mengacu pada hari Ghadir.
Pengambilan Baiat dari Imam Ali (as) untuk Abu Bakar
Syahrestani, penulis kitab Al-Milal wa al-Nihal, menukil dari Ibrahim bin Sayyar bin Hani, yang dikenal dengan Nazzham, salah satu tokoh Muktazilah, menggunakan istilah Yaum al-Bai'ah untuk hari di mana Umar bin Khattab bersama sekelompok muslim atas perintah khalifah pertama mengepung rumah Imam Ali as dan mengancam akan membakar rumah.[6] [catatan 1] Shafadi, salah satu ulama Ahlusunah lainnya, dalam kitab Al-Wafi bi al-Wafayat juga menukil dari Nazzam bahwa Umar memukul Fatimah az-Zahra sa pada Hari Baiat sedemikian rupa hingga Muhsin gugur.[7]
Baiat kepada Utsman pada Hari Syura
Ungkapan Yaum al-Bai'ah juga digunakan untuk hari naiknya Utsman ke tampuk kekhalifahan dalam Dewan Syura Enam Orang. Syekh Hurr Amili dalam kitab Al-Jawahir al-Saniyyah,[8] dan Ibnu Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah[9] telah menggunakan ungkapan ini.
Baiat kepada Imam Ali as
Dalam sebagian sumber riwayat dan sejarah, ungkapan Yaum al-Bai'ah digunakan untuk menggambarkan hari baiat masyarakat kepada Imam Ali as setelah terbunuhnya Utsman. Ibnu Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah-nya, saat menjelaskan peristiwa hari kedua setelah baiat masyarakat kepada Imam Ali as dan khotbah beliau untuk masyarakat, menggunakan kata Yaum al-Bai'ah untuk hari baiat.[10] Ibnu Atsir, sejarawan Ahlusunah, dalam kitab Al-Kamil fi al-Tarikh saat menjelaskan peristiwa hari Jumat di mana masyarakat berbaiat kepada Imam Ali as, juga menggunakan ungkapan Yaum al-Bai'ah.[11]
Catatan
- ↑ Maka ia berkata: Sesungguhnya Umar memukul perut Fatimah pada Yaum al-Bai'ah (Hari Baiat) hingga ia menggugurkan janin dari perutnya. Dan ia berteriak: Bakarlah rumahnya beserta orang-orang di dalamnya, padahal di dalam rumah tidak ada orang selain Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain.
Catatan Kaki
- ↑ Al-Qummi, Tafsir al-Qummi, 1363 HS, jld. 2, hlm. 363; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 413.
- ↑ Furutan dan Muradi, Vazhe-nameh Fiqh-e Siyasi (Kamus Fikih Politik), 1389 HS, hlm. 187.
- ↑ Al-Kufi, Tafsir Furat al-Kufi, 1410 H, hlm. 516.
- ↑ Majlisi, Mir'at al-'Uqul, 1404 H, jld. 4, hlm. 183.
- ↑ Sulthan Ali Syah, Bayan al-Sa'adah, 1408 H, jld. 1, hlm. 225.
- ↑ Syahrestani, Al-Milal wa al-Nihal, 1364 HS, jld. 1, hlm. 71.
- ↑ Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1420 H, jld. 6, hlm. 15.
- ↑ Hurr Amili, Al-Jawahir al-Saniyyah fi al-Ahadits al-Qudsiyyah, 1380 HS, hlm. 583.
- ↑ Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 9, hlm. 56.
- ↑ Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 7, hlm. 36.
- ↑ Ibnu Atsir, Al-Kamil fi al-Tarikh, 1385 H, jld. 3, hlm. 193.
Daftar Pustaka
- Al-Kufi, Furat bin Ibrahim. Tafsir Furat al-Kufi. Teheran: Wizarat-e Ersyad, 1410 H.
- Al-Qummi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Qom: Dar al-Kitab, 1363 HS.
- Furutan, Abashalt; Muradi, Ali Ashghar. Vazhe-nameh Fiqh-e Siyasi (Kamus Fikih Politik). Qom: Markaz-e Fiqhi-ye A'immah Athhar, 1389 HS.
- Hurr Amili, Muhammad bin Hasan. Al-Jawahir al-Saniyyah fi al-Ahadits al-Qudsiyyah. Teheran: Intisharat-e Dehqan, 1380 HS.
- Ibnu Abi al-Hadid, Abdul Hamid bin Hibatullah. Syarh Nahj al-Balaghah li-Ibni Abi al-Hadid. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1404 H.
- Ibnu Atsir, Abu al-Hasan Ali bin Muhammad. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut: Dar Shadir wa Dar Beirut, 1385 H.
- Majlisi, Muhammad Taqi. Mir'at al-'Uqul fi Syarh Akhbar Aal al-Rasul. Koreksi: Hasyim Rasuli Mahallati. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1404 H.
- Shafadi, Shalahuddin Khalil bin Aibak. Al-Wafi bi al-Wafayat. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H.
- Sulthan Ali Syah, Sulthan Muhammad bin Haidar. Bayan al-Sa'adah fi Maqamat al-'Ibadah. Beirut: Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1410 H.
- Syahrestani, Muhammad bin Abdul Karim. Al-Milal wa al-Nihal. Qom: Al-Syarif al-Radhi, 1364 HS.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Teheran: Nashir Khusro, 1372 HS.