Konsep:Tafsir bi al-Ra'yi
Tafsir bi al-Ra'yi (bahasa Arab:التفسير بالرأي) adalah metode dalam penafsiran Al-Qur'an yang didasarkan pada pandangan dan keyakinan pribadi mufasir, tanpa memperhatikan dalil-dalil rasional maupun riwayat. Dalam hadis-hadis para Imam Maksum, tafsir bi al-ra'yi dicela dan dinyatakan memiliki konsekuensi berat seperti neraka Jahannam bagi pelakunya.
Berdasarkan penelitian sejarah, riwayat-riwayat yang melarang tafsir bi al-ra'yi umumnya muncul pada abad ke-2 Hijriah, sehingga tidak dapat dipastikan apakah larangan ini sudah ada sejak zaman Rasulullah saw.
Tafsir bi al-ra'yi berbeda secara fundamental dengan tafsir ijtihadi, karena tafsir ijtihadi menggunakan berbagai sumber, dalil-dalil valid, dan akal, sedangkan tafsir bi al-ra'yi hanya berdasarkan pendapat pribadi tanpa dasar.
Menurut mufasir seperti Allamah Thabathaba'i, larangan tafsir bi al-ra'yi merujuk pada penafsiran yang dangkal, subjektif, dan tanpa dasar. Di sisi lain, ada argumen yang membolehkan tafsir bi al-ra'yi, seperti seruan Al-Qur'an untuk tadabbur, kebolehan ijtihad, dan praktik sahabat. Namun, pihak yang menentang berpendapat bahwa menafsirkan tanpa merujuk sumber-sumber valid adalah terlarang, dan perbedaan pendapat di kalangan sahabat lebih disebabkan oleh perbedaan pemahaman terhadap riwayat, bukan tafsir berdasarkan pendapat pribadi.
Definisi dan Kedudukan
Menurut Faidh al-Kasyani, tafsir bi al-ra'yi adalah penafsiran tanpa memperhatikan makna zahir ayat, di mana mufasir menafsirkan Al-Qur'an sesuai dengan pendapat dan keinginannya sendiri, sedangkan jika keinginan itu tidak ada, ia tidak akan sampai pada penafsiran tersebut.[1]
Allamah Thabathaba'i, seorang mufasir Syiah pada abad ke-14 HS, berpendapat bahwa larangan Rasulullah saw[2] terhadap "tafsir bi al-ra'yi" merujuk pada penafsiran Al-Qur'an berdasarkan selera pribadi tanpa merujuk sumber-sumber valid, bukan penafsiran berdasarkan ijtihad ilmiah. Menurut Thabathaba'i, larangan ini tidak bertentangan dengan tadabbur Al-Qur'an dan pengujian riwayat terhadapnya—yang justru ditekankan dalam Al-Qur'an dan hadis—melainkan bertujuan mencegah penafsiran dangkal dan serampangan, bukan upaya ilmiah berdasarkan kaidah bahasa.[3]
Menurut Sayid Abul Qasim al-Khu'i (w. 1371 HS) dalam kitab al-Bayan, jika seseorang berpegang pada zahir ayat Al-Qur'an tetapi mengabaikan pengkhususan yang disampaikan oleh para Imam as, maka ia telah terjatuh pada tafsir bi al-ra'yi.[4]
Abdullah Jawadi Amuli, penulis Tafsir Tasnim, menyatakan bahwa setiap penafsiran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmiah dan rasional atau tidak selaras dengan nilai-nilai akhlak tergolong sebagai tafsir bi al-ra'yi.[5]
Istilah "tafsir bi al-ra'yi" tidak disebutkan dalam Al-Qur'an[6], dan satu-satunya ayat yang sering dikaitkan dengannya adalah QS Ali Imran:7, yang menurut sebagian ahli tafsir[7] hanya menyebutkan sebagian contoh tafsir bi al-ra'yi.[8] Mufasir seperti Muhammad bin Mas'ud al-'Ayyasyi (abad ke-4 H),[9] Syaikh Thusi (abad ke-5 H),[10] dan Faidh al-Kasyani (abad ke-11 H)[11] telah membahas larangan tafsir bi al-ra'yi dalam karya-karya mereka.
Dalam beberapa kitab hadis Syiah[12] dan Sunni[13], tafsir bi al-ra'yi secara tegas dilarang. Berdasarkan riwayat-riwayat ini, menafsirkan Al-Qur'an berdasarkan pendapat pribadi tidak hanya menunjukkan kekufuran dan kebohongan terhadap Allah, tetapi pelakunya juga layak masuk neraka.[14] Tafsir bi al-ra'yi juga dibahas dalam kitab-kitab ushul fikih pada bagian hujjah zahir Al-Qur'an.[15]
Latar Belakang Riwayat tentang Tafsir bi al-Ra'yi
Ali Ahang, seorang peneliti tafsir dan ilmu Al-Qur'an, melalui analisis historis terhadap laporan-laporan hadis dan tafsir mengenai riwayat-riwayat larangan tafsir bi al-ra'yi yang dinisbatkan kepada Rasulullah saw, menyimpulkan bahwa para ahli hadis Syiah sejak masa Imam Shadiq as dan seterusnya—karena pandangan mereka yang berorientasi pada hadis—berhadapan dengan para penganut ra'yu (pendapat pribadi) dan qiyas, lalu melakukan perlawanan keras terhadap tafsir bi al-ra'yi. Berdasarkan hal ini, riwayat-riwayat Syiah yang menyatakan keharaman tafsir bi al-ra'yi dalam bentuk hadis qudsi umumnya muncul pada akhir abad ke-2 Hijriah.[16]
Menurut penelitian Ahang, dalam sumber-sumber Ahlusunah juga, riwayat-riwayat larangan tafsir bi al-ra'yi yang dinisbatkan kepada Rasulullah saw kebanyakan terbentuk pada abad ke-2 Hijriah, yakni pada masa pertentangan antara penganut ra'yu dan ahli hadis. Larangan ini tidak ada pada abad pertama Hijriah. Oleh karena itu, tidak dapat dipastikan sikap Rasulullah saw terhadap tafsir bi al-ra'yi, dan pada abad pertama Hijriah, tidak dapat dibuktikan adanya konsep bernama "tafsir bi al-ra'yi" beserta keharamannya.[17]
Perbedaan Tafsir bi al-Ra'yi dengan Tafsir 'Aqli dan Ijtihadi
Disebutkan bahwa tafsir 'aqli dan tafsir ijtihadi memiliki perbedaan penting dengan tafsir bi al-ra'yi. Dalam tafsir bi al-ra'yi, mufasir mendekati ayat-ayat hanya berdasarkan selera atau pendapat pribadinya, tanpa memperhatikan dalil-dalil rasional maupun riwayat. Sementara dalam tafsir 'aqli, upaya dilakukan untuk memahami makna ayat dengan benar menggunakan dalil-dalil rasional yang jelas dan indikasi-indikasi valid. Tafsir ijtihadi juga diterima jika berdasarkan dalil-dalil valid tersebut, tetapi jika dilakukan tanpa merujuk sumber-sumber ini, pada hakikatnya ia adalah tafsir bi al-ra'yi itu sendiri.[18]
Argumen Penentang Tafsir bi al-Ra'yi
Argumen utama penentang tafsir bi al-ra'yi adalah sejumlah hadis dalam literatur hadis Syiah[19] dan Sunni[20] yang secara tegas melarang tafsir bi al-ra'yi.
Sayid Abul Qasim al-Khu'i,[21] Sayid Muhammad Baqir al-Hakim (w. 1382 HS)[22], dan Abbas Ali Amid Zanjani (w. 1390 HS)[23] menyatakan bahwa hadis-hadis ini bersifat mutawatir.
Beberapa kandungan hadis-hadis tersebut meliputi: kecaman terhadap tafsir bi al-ra'yi, ketidakberimanan pelakunya, serta ancaman neraka Jahannam baginya,[24] tuduhan kebodohan, kebohongan,[25] dan kesesatan yang ditimbulkan oleh tafsir semacam ini.[26] Dalam riwayat lain disebutkan bahwa meskipun hasilnya benar, tafsir bi al-ra'yi tetap tercela.[27]
Selain itu, mereka merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an seperti QS Al-A'raf:33:
«قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ مَا بَطَنَ وَ الْإِثْمَ وَ الْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَ أَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَ أَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ»
("Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak tanpa alasan benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak diturunkan buktinya, dan mengatakan atas nama Allah apa yang tidak kamu ketahui.")
Mereka berpendapat bahwa tafsir bi al-ra'yi termasuk perkataan tanpa dasar ilmiah, dan mengatasnamakan Allah tanpa ilmu diharamkan dalam ayat-ayat semacam ini.[28]
Argumen Pendukung Tafsir bi al-Ra'yi
Pendukung tafsir bi al-ra'yi merujuk pada ayat-ayat seperti QS An-Nisa:82:
> «أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَ لَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا»
("Mengapa mereka tidak mentadabburi Al-Qur'an? Seandainya ia berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.")
Mereka berargumen bahwa seruan Al-Qur'an untuk tadabbur menunjukkan kebolehan menafsirkan dengan akal dan pemahaman manusia.[29] Sebagai tanggapan, dinyatakan bahwa tadabbur Al-Qur'an memang diperbolehkan, tetapi tafsir bi al-ra'yi—yakni menyampaikan pendapat tanpa merujuk dalil-dalil rasional maupun riwayat—tetap terlarang.[30]
Selain itu, dikatakan bahwa jika tafsir bi al-ra'yi mutlak dilarang, maka ijtihad juga menjadi tidak bermakna, dan banyak hukum akan terbengkalai, padahal seorang mujtahid harus menyimpulkan hukum dari Al-Qur'an.[31] Sebagai jawaban, ditegaskan bahwa tafsir bi al-ra'yi adalah ijtihad tanpa dalil, dan itu terlarang; sedangkan ijtihad berdasarkan dalil-dalil rasional dan riwayat diperbolehkan.[32]
Sebagian pendukung juga merujuk pada praktik sahabat, yang terkadang menafsirkan Al-Qur'an berdasarkan ijtihad pribadi.[33] Sebagai tanggapan, dinyatakan bahwa perbedaan pendapat di kalangan sahabat dalam menafsirkan tidak selalu berasal dari pendapat pribadi, melainkan bisa karena perbedaan dalam menerima hadis atau pemahaman yang beragam terhadap hadis-hadis tersebut. Karena kemaksuman tidak berlaku bagi sahabat, tindakan mereka tidak bisa dijadikan pembenaran untuk tafsir bi al-ra'yi.[34]
Contoh-contoh Tafsir bi al-Ra'yi
Menurut Amid Zanjani, banyak teolog seperti Fakhruddin ar-Razi, filsuf seperti Ikhwan as-Shafa serta para sufi seperti al-Qusyairi tanpa disadari terjebak dalam "tafsir bi al-ra'yi".[35]
Sebagai contoh, Fakhruddin ar-Razi dalam menafsirkan QS Al-Baqarah:6 (إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ), menulis bahwa ayat ini menunjukkan kebolehan taklif atas hal yang mustahil. Sebab, dengan asumsi kekufuran dan pengetahuan Allah tentang kekufuran tersebut, perintah untuk beriman menjadi mustahil, namun dalam ayat ini justru diperintahkan secara tegas.[36]
Ikhwan al-Shafa dan beberapa filsuf lainnya menafsirkan kata "ثَمَانِيَة" (delapan) dalam QS Al-Haqqah:17 (وَالْمَلَكُ عَلَىٰ أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ) sebagai delapan falak model Ptolemaik. Mereka juga memandang ayat-ayat tentang surga dan neraka sebagai simbolis belaka, yang merujuk pada hasil spiritual dan maknawi dari perbuatan manusia.[37]
Sementara itu, al-Qusyairi menafsirkan QS Ar-Rum:15 (فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَهُمْ فِي رَوْضَةٍ يُحْبَرُونَ) sebagai sama' sufi.[38]
Nashir Makarim Syirazi (lahir 1305 HS) dalam bukunya "Tafsir bi al-Ra'yi wa Harch-o Marj-e Adabi" menyebutkan contoh tafsir bi al-ra'yi kontemporer yang membela komunisme. Misalnya, dalam menafsirkan QS An-Nas:4 (مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ), ada yang menafsirkannya sebagai: "Dari kejahatan sihir sistem kapitalis yang tersembunyi." Dalam tafsiran ini, "pembisik (waswas)" dibatasi maknanya sebagai sistem kapitalis yang menipu, sementara "jin" diartikan sebagai aktivitas tersembunyi sistem kapitalis.[39]
Pranala Terkait
Catatan Kaki
- ↑ Faidh al-Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1416 H, jil. 1, hlm. 39–35.
- ↑ Ibnu Abi Jumhur, Awali al-La'ali al-'Aziziyyah fi al-Ahadits al-Diniyyah, 1403 H, jil. 4, hlm. 104.
- ↑ Allamah Thabathaba'i, al-Mizan, 1393 H, jil. 3, hlm. 76.
- ↑ Al-Khu'i, al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Dar al-Zahra, hlm. 269.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1379 HS, jil. 1, hlm. 175.
- ↑ Syakir, Tafsir, Tarikh Rawi-ha wa Ruykard-ha, 1396 HS, jil. 3, hlm. 474.
- ↑ Hakim, Ulum al-Qur'an, 1417 H, hlm. 232.
- ↑ Shakir, Tafsir, Tarikh Rawi-ha wa Ruykard-ha, 1396 HS, jil. 3, hlm. 474.
- ↑ Al-'Ayyasyi, Tafsir al-'Ayyasyi, 1380 H, jil. 1, hlm. 17.
- ↑ Syaikh Thusi, al-Tibyan, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, jil. 1, hlm. 4.
- ↑ Faidh al-Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1416 H, jil. 1, hlm. 39–35.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jil. 89, hlm. 107; Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 1, hlm. 62; Syaikh Shaduq, al-Tawhid, 1416 H, hlm. 91; Syaikh Shaduq, al-Khishal, 1362 HS, jil. 1, hlm. 255; Hurr al-'Amili, Wasail al-Syiah, 1409 H, jil. 27, hlm. 205–190.
- ↑ Ibnu Abi Syaibah, al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Akhbar, 1407 H, jil. 6, hlm. 136; Nasa'i, al-Sunan al-Kubra, 1411 H, jil. 7, hlm. 285; Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, 1395 H, jil. 5, hlm. 200.
- ↑ Hurr al-'Amili, Wasail al-Syiah, 1412 H, jil. 27, hlm. 190.
- ↑ Akhund Khurasani, Kifayah al-Ushul, 1430 H, jil. 2, hlm. 293–292; Syaikh Anshari, Faraid al-Ushul, 1419 H, jil. 1, hlm. 143–142.
- ↑ Ahang, "Tafsir bi al-Ra'yi az Mafhumi Sadeh ta Angare'i Faragir: Naqd wa Barrasi Didgah Masyhur", hlm. 23–7.
- ↑ Ahang, "Tafsir bi al-Ra'yi az Mafhumi Sadeh ta Angare'i Faragir: Naqd wa Barrasi Didgah Masyhur", hlm. 23–7.
- ↑ Rezaei Isfahani, Darsnameh Rawi-ha wa Giraish-ha-ye Tafsiri Qur'an, 1382 HS, hlm. 186.
- ↑ Ibnu Abi Jumhur, Awali al-La'ali, 1403 H, jil. 1, hlm. 174; jil. 4, hlm. 104; Syaikh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha as, 1404 H, jil. 2, hlm. 107.
- ↑ Ibnu Abi Syaibah, al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Akhbar, 1407 H, jil. 6, hlm. 136; Nasa'i, al-Sunan al-Kubra, 1411 H, jil. 7, hlm. 285; Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, 1395 H, jil. 5, hlm. 200.
- ↑ Al-Khu'i, al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Dar al-Zahra, hlm. 267.
- ↑ Al-Hakim, Ulum al-Qur'an, 1417 H, hlm. 233.
- ↑ Amid Zanjani, Mabani wa Rawish-ha-ye Tafsir-e Qur'an, 1387 HS, hlm. 221.
- ↑ Ibnu Abi Jumhur, Awali al-La'ali, 1403 H, jil. 1, hlm. 174; jil. 4, hlm. 104; Syaikh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha as, 1404 H, jil. 2, hlm. 107.
- ↑ Hurr al-'Amili, Wasail al-Syiah, 1409 H, jil. 27, hlm. 190; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jil. 89, hlm. 107.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 8, hlm. 311.
- ↑ Hurr al-'Amili, Wasail al-Syiah, 1409 H, jil. 27, hlm. 202 dan 205.
- ↑ Okk, Usul al-Tafsir wa Qawa'iduh, 1428 H, hlm. 168.
- ↑ Okk, Usul al-Tafsir wa Qawa'iduh, 1428 H, hlm. 169.
- ↑ Rezaei Isfahani, Mantiq Tafsir al-Qur'an, 1378 HS, jil. 2, hlm. 290.
- ↑ Okk, Usul al-Tafsir wa Qawa'iduh, 1428 H, hlm. 169; Rezaei Isfahani, Mantiq Tafsir al-Qur'an, 1378 HS, jil. 2, hlm. 291.
- ↑ Rezaei Isfahani, Mantiq Tafsir al-Qur'an, 1378 HS, jil. 2, hlm. 291.
- ↑ 'Akk, Ushul al-Tafsir wa Qawa'iduh, 1428 H, hlm. 170.
- ↑ Rezaei Isfahani, Mantiq Tafsir al-Qur'an, 1378 HS, jil. 2, hlm. 291–292.
- ↑ Amid Zanjani, Mabani wa Rawish-ha-ye Tafsir-e Qur'an, 1387 HS, hlm. 261.
- ↑ Amid Zanjani, Mabani wa Rawish-ha-ye Tafsir-e Qur'an, 1387 HS, hlm. 261.
- ↑ Amid Zanjani, Mabani wa Rawish-ha-ye Tafsir-e Qur'an, 1387 HS, hlm. 261.
- ↑ Amid Zanjani, Mabani wa Rawish-ha-ye Tafsir-e Qur'an, 1387 HS, hlm. 261.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir bi al-Ra'yi wa Harch-o Marj-e Adabi, 1388 HS, hlm. 49–50.
Daftar Pustaka
- Akhund Khorasani, Muhammad Kazim, Kifayat al-Ushul, tashihh 'Abbas 'Ali Zare'i Sabzwari, Qum, Mu'assasat Nashr Islami, 1430 H.
- Ahang, 'Ali, "Tafsir bi Ra'i dari Mafhum Sadeh hingga Angareh-ye Faragir: Naqd wa Barresi Didgah-e Mashhur", dalam Payuhesh-name-ye Naqd-e Aqa'id-e Tafsiri, tahun kelima, nomor kedua, musim dingin 1403 SH.
- Ibn Abi Jamhur, Muhammad bin Zain al-Din, Awali al-Lu'lu' al-'Aziziyyah fi al-Ahadits ad-Diniyyah, tahqiq Mujtaba 'Iraqi, Qum, Mu'assasat Sayid al-Syuhada' (as), 1403 H.
- Ibn Abi Syibah, 'Abdullah bin Muhammad, al-Musannaf fi al-Ahadits wa al-Akhbar, tashihh Kamal Yusuf al-Hawt, Riyadh, Maktabat ar-Rusyd, 1409 H.
- Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa, Sunan al-Tirmidzi, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, Mesir, Syarikat Maktabah wa Matba'ah Mustafa al-Yas al-Halabi, 1395 H.
- Jawadi Amuli, Abdullah, Tasnim: Tafsir al-Qur'an al-Karim, Qum, Markaz Nashr Isra', 1379 SH.
- Hur 'Amili, Muhammad bin Hasan, Tafsil Wasa'il al-Syi'ah ila Tahsil Masail asy-Syari'ah, tahqiq wa tashihh Guruh Pajuhesh Mu'assasat Al al-Bayt, Qum, Mu'assasat Al al-Bayt, cetakan pertama, 1409 H.
- Hakim, Sayid Muhammad Baqir, 'Ulum al-Qur'an, Qum, Majma' al-Fikr al-Islami, 1417 H.
- Khui, Sayid Abu al-Qasim, al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Qum, Nashr Dar az-Zahra', tanpa tahun.
- Rezai Isfahani, Muhammad 'Ali, Dars-name-ye Rawesy-ha wa Garayesh-ha-ye Tafsiri Qur'an, Qum, Markaz Jahani 'Ulum Islami, 1382 SH.
- Razei Isfahani, Muhammad 'Ali, Mantiq Tafsir al-Qur'an, Qum, Nashr Jama'at al-Mustafa al-'Alamiyyah, 1387 SH.
- Syakir, Muhammad Kazhim, Tafsir, Tarikh, Rawesy-ha wa Ruikard-ha, Tehran, Sazman Intisyarat Pazuhesygah Farhang wa Andisheh Islami, 1396 SH.
- Syekh Ansari, Murtadha, Fara'id al-Ushul, Qum, Majma' al-Fikr al-Islami, cetakan kesembilan, 1428 H.
- Syekh Shaduq, Muhammad bin 'Ali bin Babawaih, al-Tauhid, Qum, Mu'assasat Nashr Islami, 1416 H.
- Syekh Shaduq, Muhammad bin 'Ali bin Babawaih, al-Khisal, tashihh 'Ali Akbar Gaffari, Qum, Nashr Jama'ah Mudarris, cetakan pertama, 1362 SH.
- Syekh Shaduq, Muhammad bin 'Ali bin Babawaih, 'Uyun Akhbar al-Ridha (as), Beirut, Mu'assasat al-A'lami lil Matbu'at, 1404 H.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan, at-Tabyan fi Tafsir al-Qur'an, tashihh Ahmad Habib 'Amili, Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, tanpa tahun.
- 'Akk, Khalid 'Abdurrahman, Ushul at-Tafsir wa Qawa'idih, Beirut, Dar an-Nafa'is, 1428 H.
- Allamah Thabathabai, Sayid Muhammad Husain, al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Mu'assasat Isma'iliyan, cetakan ketiga, 1393 H.
- Umid Zanjani, 'Abbas 'Ali, Mabani wa Rawesy-ha-ye Tafsir al-Qur'an, Tehran, Nashr Wizarat Farhang wa Irshad Islami, 1387 SH.
- Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud, Tafsir al-'Ayasyi, tashihh Sayid Hasyim Rasuli Mahallati, Tehran, al-Matba'ah al-'Ilmiyyah, 1380 H.
- Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha, Tafsir al-Shafi, Qum, Mu'assasat al-Hadi (as), 1416 H.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, al-Kafi, tahqiq 'Ali Akbar Gaffari wa Muhammad Akhundi, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-A'imah al-Athhar, Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
- Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir bi Ra'i wa Harj wa Marj Adabi, Qum, Nasl-e Javan, 1388 SH.
- Nasa'i, Ahmad bin 'Ali, al-Sunan al-Kubra, tahqiq 'Abd al-Ghaffar Sulaiman Bindazi, Beirut, Mansyurat Muhammad 'Ali Baydhun, 1411 H.