Lompat ke isi

Konsep:Tafsir Adabi

Dari wikishia

Tafsir Adabi (Tafsir Sastra) merupakan suatu bentuk penafsiran yang menerangkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan memanfaatkan ilmu-ilmu kebahasaan Arab, seperti sharaf (morfologi), nahwu (sintaksis), balaghah (retorika), dan ilmu etimologi. Pendekatan ini mencakup berbagai cabang seperti tafsir lughawi (kajian leksikal), nahwi (tata bahasa), dan balaghi (stilistika) untuk memperoleh pemahaman yang lebih akurat tentang makna ayat. Metode serupa juga digunakan oleh para Imam Syiah dalam tafsir Al-Qur'an.

Tafsir Adabi Al-Qur'an telah berkembang sejak awal periode Islam, kemudian menjadi lebih sistematis dan luas seiring munculnya karya-karya khusus di bidang leksikografi, tata bahasa, dan retorika. Metode ini disebut mencapai puncaknya pada abad ke-4 dan ke-5 Hijriah, sebelum kembali dihidupkan pada abad ke-14 Hijriah dengan pendekatan yang lebih ilmiah dan tematik.

Beberapa kritik dialamatkan kepada tafsir Adabi, antara lain tidak adanya kaidah baku, penyajian beragam makna tanpa analisis kritis, kecenderungan melakukan takwil yang keliru, serta banyaknya tawaran makna tanpa prioritas yang justru dapat menyulitkan pemahaman.

Konsep dan Kedudukan

Tafsir sastra Al-Qur'an adalah penafsiran ayat-ayat yang didasarkan pada ilmu sastra Arab, termasuk penjelasan kosakata sulit dan analisis terhadap beragam qira'at.[1] Ruang lingkupnya meliputi sharaf, nahwu, balaghah, dan kajian etimologis.[2]

Tafsir sastra dianggap sebagai landasan fundamental dalam tafsir Al-Qur'an, sehingga seluruh pendekatan lain—seperti tafsir kalam, fikih, atau irfani—tetap memerlukannya.[3] Metode ini sering diposisikan sebagai kebalikan dari tafsir riwayat[4] dan termasuk dalam ragam tafsir ijtihadi.[5]

Sejarah

Tafsir sastra dikenal sebagai metode penafsiran tertua dan paling otentik[6] yang mengalami perkembangan signifikan. Awalnya berupa kajian leksikal yang terpisah, lalu berkembang menjadi karya-karya khusus tentang leksikografi, tata bahasa, i'rab, qira'at, makna Al-Qur'an, serta i'jaz sastra Al-Qur'an, hingga akhirnya menghasilkan tafsir-tafsir Adabi yang komprehensif.[7]

Kecenderungan terhadap tafsir Adabi mulai tampak pada akhir abad kedua Hijriah, dengan karya penting seperti Majaz al-Qur'an karya Abu 'Ubaidah (Mu'ammar bin Mutsanna) dan Ma'ani al-Qur'an karya Al-Farra'.[8] Pada abad ke-4 Hijriah, studi sastra Al-Qur'an dikembangkan lebih lanjut oleh kalangan Mu'tazilah, misalnya melalui kitab An-Nukat fi I'jaz al-Qur'an.[9] Puncak keemasan tafsir Adabi terjadi pada abad ke-5 Hijriah dengan lahirnya Haqa'iq Ghawamidh at-Tanzil karya Az-Zamakhsyari, seorang tokoh Mu'tazilah.[10]

Pada abad ke-14 Hijriah, tiga ulama Ahlusunah—Muhammad 'Abduh, Thaha Husain, dan Amin al-Khûli—menyerukan revitalisasi tafsir Adabi.[11] Amin al-Khûli bahkan merintis penyusunan kerangka metodologis yang sistematis untuk pendekatan ini.[12]

Jenis-Jenis Tafsir Sastra

Berdasarkan cabang-cabang ilmu sastra Arab, tafsir Adabi terbagi menjadi beberapa jenis:[13]

Berkas:Tafsir Ibn Abbas.JPG
Halaman dari Tafsir Ibn Abbas - Naskah Aya Sofya

Tafsir Lughawi (Leksikal)

Tafsir lughawi merupakan penjelasan tentang kata-kata asing atau tidak lazim dalam Al-Qur'an.[14] Karya pertama dalam bidang ini ditulis oleh Aban bin Taghlib (w. 141 H), sahabat Imam al-Baqir as dan Imam al-Shadiq as, namun kitab tersebut telah hilang.[15] Kitab tertua yang masih ada adalah Majaz al-Qur'an karya Abu 'Ubaidah Mu'ammar bin Mutsanna (w. 210 H)—kadang disebut Gharib al-Qur'an—yang penulisannya dimulai pada tahun 188 H.[16]

Kajian kosakata Al-Qur'an mencapai puncaknya pada awal abad ke-5 H melalui karya Raghib al-Isfahani (w. 425 H), Mufradat Alfaz al-Qur'an, yang dianggap sebagai karya paling komprehensif dalam bidangnya.[17] Di antara karya terkenal lainnya adalah Gharib al-Qur'an karya Ibnu Qutaibah dan Gharib al-Qur'an karya Ibnu 'Aziz al-Sijistani (w. 330 H) yang proses penulisannya memakan waktu 15 tahun.[18]

Tafsir Nahwi (Gramatikal)

Ilmu nahwu berfungsi sebagai alat untuk memahami makna tuturan dalam bahasa Arab dan menangkap maksud penutur.[19] Pengetahuan ini dianggap sebagai kebutuhan paling mendasar bagi setiap mufasir.[20] Sumber-sumber tafsir nahwi terbagi dalam dua kategori:

  • Kitab Ma'ani al-Qur'an: Sejak paruh kedua abad ke-2 H, muncul karya-karya tafsir Al-Qur'an berjudul Ma'ani al-Qur'an yang berlanjut hingga abad ke-5. Kitab-kitab ini menitikberatkan pada pemahaman makna Al-Qur'an melalui pendekatan sastra dan menjadi rujukan penting bagi tafsir Adabi periode berikutnya.[21] Kitab pertama dalam genre ini ditulis oleh Aban bin Taghlib (w. 141 H), seorang qari dan ahli nahwu Syiah.[22] Ibnu Nadim mencatat sekitar 25 kitab dalam kategori ini.[23]
  • Kitab I'rab al-Qur'an: Karya-karya I'rab al-Qur'an mirip dengan Ma'ani al-Qur'an dalam membahas aspek kebahasaan, sharaf, dan nahwu ayat, termasuk analisis berbagai qira'at dari sudut pandang tata bahasa. Perbedaannya, kitab-kitab ini lebih menekankan analisis gramatikal dan penjelasan i'rab ayat-ayat yang kompleks, dilengkapi dengan berbagai alternatif penafsiran struktur kalimat.[24]

Tafsir Balaghi (Retorika)

Ilmu balaghah—yang mencakup ma'ani dan bayan—memainkan peran penting dalam memahami makna ayat-ayat Al-Qur'an.[25] Melalui ilmu ini, rahasia dan kedalaman makna Al-Qur'an dapat diungkap.[26] Berlandaskan ilmu ini, mufasir Muslim menafsirkan ayat dengan menganalisis partikel, huruf, struktur kalimat, dan gaya bahasa seperti kiasan, metafora, perumpamaan, serta susunan kata.[27]

Pada abad ke-3 H, berkembang kajian tentang rahasia gaya bahasa dan keindahan susunan Al-Qur'an, yang pada abad ke-4 H melahirkan disiplin ilmu independen bernama I'jaz al-Qur'an.[28] Karya pionir dalam bidang ini adalah Majaz al-Qur'an karya Abu 'Ubaidah (w. 210 H)—menjadi rujukan studi leksikal dan sastra selanjutnya-dan Ma'ani al-Qur'an karya Al-Farra' (w. 207 H) sebagai pelengkapnya.[29][30] Pada abad ke-3 H, Al-Jahiz (w. 250 H) melakukan studi mendalam tentang balaghah Al-Qur'an dan menghasilkan karya seperti Nazm al-Qur'an.[31]

Abad ke-4 H ditandai dengan munculnya karya-karya bertajuk "I'jaz al-Qur'an", termasuk I'jaz al-Qur'an karya Muhammad bin Yazid al-Wasithi (w. 307 H), Al-Nukat fi I'jaz al-Qur'an karya Ali bin 'Isa al-Rummani (w. 386 H), dan I'jaz al-Qur'an karya Al-Baqillani (w. 403 H).[32] Puncak pencapaian terjadi pada abad ke-5 H ketika Abdul Qahir al-Jurjani (w. 471 H) meletakkan dasar ilmu Ma'ani dan Bayan melalui dua mahakaryanya: Dala'il al-I'jaz (tentang bukti-bukti kemukjizatan retorika Al-Qur'an) dan Asrar al-Balaghah (tentang bentuk-bentuk ekspresi bahasa Al-Qur'an).[33] Landasan pemikiran inilah yang kemudian diterapkan oleh Al-Zamakhsyari dalam tafsir Al-Kasyaf.[34]

Pendekatan Sastra Imam Syiah dalam Menafsirkan Al-Qur'an

Selain menekankan pentingnya mempelajari bahasa Arab untuk memahami makna ayat-ayat Al-Qur'an,[35] Imam-Imam Syiah dalam banyak kasus juga menggunakan tafsir Adabi untuk menafsirkan makna ayat-ayat Al-Qur'an, khususnya melalui penjelasan makna leksikal atau dengan berpegang pada kaidah-kaidah sharaf, nahwu, dan balaghah.[36] Sebagai para mufasir utama Al-Qur'an,[37] mereka memanfaatkan berbagai metode penafsiran, termasuk tafsir Adabi.[38] Berikut adalah beberapa contoh tafsir mereka:

  • Tafsir Nahwi (Gramatikal): Dalam menafsirkan Surah Yusuf ayat 24, Imam Ridha as—berbeda dengan sejumlah mufasir—menafsirkan frasa hamma bihā dengan memperkirakan (taqdir) adanya frasa bi qatlihā (untuk membunuhnya). Dengan demikian, beliau menafsirkannya sebagai niat Yusuf untuk membunuh Zulaikha sebagai reaksi atas ajakan mesumnya, sehingga menyucikan Nabi Yusuf dari kecenderungan untuk berbuat dosa.[41]
  • Tafsir Balaghi (Retorika): Dalam Surah At-Taubah ayat 43, Allah menegur Nabi Muhammad saw karena mengizinkan sekelompok orang untuk tidak ikut berperang. Imam Ridha as menafsirkan ayat ini sebagai bentuk kinayah (kiasan) kepada orang-orang yang memang enggan menyertai Rasulullah dalam perang, dan menyatakan merekalah sebagai sasaran utama ayat ini.[42]

Pendekatan Baru terhadap Tafsir Sastra

Dalam kecenderungan tafsir Adabi kontemporer, Al-Qur'an dipandang sebagai sebuah teks sastra yang utuh, dan mufasir berusaha menafsirkannya dengan berlandaskan pada sastra bahasa Arab serta ilmu-ilmu yang terkait.[43] Salah satu ciri terpenting dari tafsir semacam ini adalah sifatnya yang metodologis, di mana ia menyajikan kerangka kerja yang jelas dan terstruktur untuk tafsir Al-Qur'an.[44]

Muhammad 'Abduh, seorang mufasir Ahlusunah, menghidupkan kembali metode sastra dalam memahami Al-Qur'an. Thaha Husain, murid 'Abduh, memberikan sedikit penyempurnaan pada metode tafsir dan analisis sastra, sementara Amin al-Khuli, seorang sastrawan dan pakar Al-Qur'an Mesir dari kalangan Ahlusunah, mengubahnya menjadi sebuah mazhab tafsir.[45] Jenis tafsir ini dipandang sebagai penyeimbang bagi tafsir riwayat ala kaum Salafi, tafsir batiniah kaum Sufi, dan tafsir ilmiah.[46]

Komponen-Komponen Tafsir Sastra Kontemporer

Amin al-Khuli (w. 1966 M), seorang sastrawan dan pakar Al-Qur'an Ahlusunah, berpendapat bahwa Al-Qur'an adalah kitab sastra terbesar dalam bahasa Arab, dan prasyarat untuk menafsirkannya secara sastra adalah dengan mempertimbangkan konteks historis dan atmosfer tempat turunnya Al-Qur'an.[47] Bint al-Syathi' (w. 1998 M), seorang pakar Al-Qur'an asal Mesir, menyebutkan sejumlah prinsip dan ketentuan untuk tafsir Adabi Al-Qur'an, di antaranya: keharusan menafsirkan Al-Qur'an secara tematik dengan memperhatikan urutan turunnya, menafsirkan kosakata Al-Qur'an sesuai dengan pemahaman masyarakat pada masa turunnya, menghindari penafsiran kata-kata yang bersinonim sebagai kata yang sama persis maknanya, mendahulukan ayat-ayat Al-Qur'an atas kaidah nahwu dan sastra, memberikan analisis psikologis dan sosiologis terhadap ayat-ayat Al-Qur'an, menjauhi hal-hal yang dihindari oleh ayat-ayat untuk mengungkapkannya,[48] membatasi pemaknaan ayat pada konteksnya (siyaq), serta menolak adanya wajah-wajah makna (wujûh) yang beragam.[49]

Ciri-ciri dan pendekatan lain juga disebutkan untuk tafsir Adabi kontemporer Al-Qur'an, antara lain:

  1. Mengesampingkan riwayat-riwayat tafsir dan tidak melibatkannya dalam tafsir Al-Qur'an, sambil tetap memanfaatkan riwayat asbabun nuzul dan yang semisalnya.
  2. Mencegah secara serius masuknya Israiliyat ke dalam tafsir.
  3. Meminimalisir takwil ayat, khususnya takwil nahwi.
  4. Tidak memasuki wilayah mutasyabihat Al-Qur'an (hal-hal yang rinciannya tidak dijelaskan oleh Al-Qur'an).
  5. Tidak memasuki ranah hal-hal gaib yang hanya dapat diketahui melalui hadis sahih, serta tidak membahas detail-detail hari Kiamat dan semisalnya.
  6. Mencegah meresapnya khurafat dan hal-hal tidak nyata dalam penafsiran kisah-kisah Al-Qur'an.
  7. Menjauhkan tafsir dari terminologi ilmu-ilmu lain seperti filsafat dan ilmu kalam.
  8. Memperhatikan dimensi sosial ayat-ayat suci, menganalisis sunnah-sunnah (hukum) yang menguasai alam semesta dan masyarakat, serta memperhatikan problematika umat manusia dan menyajikan solusi-solusi Al-Qur'an.
  9. Memberi ruang bagi akal dan memberikan kebebasan yang luas untuk berpikir tentang ayat-ayat Al-Qur'an.[50]

Karya-karya Terkenal

Dalam bidang tafsir Adabi kontemporer, telah ditulis berbagai karya yang umumnya disusun secara tematik.[51] Beberapa karya tersebut antara lain: kumpulan tulisan berjudul Min Huda al-Qur'an karya Amin al-Khuli; Min Washf al-Qur'an li Yaum al-Din wa al-Hisab karya Syukri Muhammad 'Ayyad; tiga buku Al-Tafsir al-Bayani, Al-I'jaz al-Bayani, dan Al-Qur'an wa Qadhaya al-Insan karya Bint al-Syathi'; dua buku Al-Fann al-Qashashi fi al-Qur'an al-Karim dan Al-Asas al-Qur'aniyyah li al-Taqaddum serta Al-Jadal fi al-Qur'an karya Muhammad Ahmad Khalfallah; dan juga Al-'Afwu fi al-Qur'an karya Mahdi 'Allam.[52]

Tafsir-Tafsir Sastra

Berkas:Tafsir Majma' al-Bayan.jpg
Tafsir Majma' al-Bayan merupakan salah satu tafsir Adabi komprehensif paling kaya

Tafsir sastra terbagi menjadi beberapa cabang, di antaranya tafsir lughawi (leksikal), nahwi (gramatikal), balaghi (retorika), dan kitab-kitab komprehensif di bidang sastra.[53] Tafsir-tafsir komprehensif yang bersifat dirayah-ijtihadi berkembang pesat pada abad ke-4 dan ke-5 Hijriah, di mana salah satu bagian penting dan menonjol dari tafsir-tafsir ini adalah penekanannya pada ilmu sastra dalam menafsirkan ayat. Dua tafsir komprehensif, Al-Tibyan karya Syekh Thusi (w. 460 H) dan Majma' al-Bayan karya Fadhl bin Hasan al-Thabarsi (w. 548 H), termasuk dalam jenis tafsir semacam ini.[54] Tafsir-tafsir lainnya yang lebih menonjol dari segi sastra adalah sebagai berikut:

  1. Al-Kasyaf 'an Ghawamidh al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil: Kitab ini adalah karya Al-Zamakhsyari (w. 538 H), seorang ilmuwan Mu'tazilah dari kalangan Ahlusunah, yang dianggap sebagai tafsir Adabi paling sempurna dan komprehensif.[55]
  2. Al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-'Aziz: Karya ini ditulis oleh Ibnu 'Athiyah al-Andalusi (w. 546 H), seorang faqih dan mufasir bermazhab Maliki dari Ahlusunah, yang memuat pembahasan sastra dan mengkaji berbagai qira'at dari sudut pandang sastra.[56]
  3. Jawami' al-Jami': Kitab ini karya Fadhl bin Hasan al-Thabarsi (w. 548 H), yang mirip dengan tafsir al-Kasyaf, membahas ilmu lughah, nahwu, sharaf, i'rab, dan balaghah.[57]
  4. Al-Bahr al-Muhith fi Tafsir al-Qur'an al-Karim: Kitab ini adalah karya Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf al-Nahwi al-Andalusi al-Gharnathi (w. 754 H), yang dijuluki sebagai tafsir paling komprehensif yang memuat poin-poin sastra.[58]

Berikut adalah tafsir-tafsir yang oleh para peneliti Al-Qur'an disebut sebagai tafsir Adabi:[59]

No. Nama Kitab Pengarang Jenis Mazhab Abad
1 Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an Syaikh Thusi Tafsir Komprehensif Syiah 5 H
2 Majma' al-Bayan Fadhl bin Hasan al-Thabarsi Tafsir Komprehensif Syiah 6 H
3 Al-Kasyaf 'an Ghawamidh al-Tanzil Al-Zamakhsyari Tafsir Komprehensif Sunni 6 H atau sedikit sebelumnya
4 Al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-'Aziz Ibnu 'Athiyah al-Andalusi Tafsir Komprehensif Sunni 6 H
5 Jawami' al-Jami' Fadhl bin Hasan al-Thabarsi Tafsir Komprehensif Syiah 6 H
6 Al-Bahr al-Muhith fi Tafsir al-Qur'an al-Karim Muhammad al-Andalusi al-Gharnathi Tafsir Komprehensif Sunni 8 H
7 Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil Abdullah bin Umar al-Baidhawi Tafsir Komprehensif Sunni 8 H
8 Tafsir Gharib al-Qur'an Dinisbatkan kepada Zaid bin Ali Tafsir Leksikal Syiah 2 H
9 Majaz al-Qur'an Abu 'Ubaidah Mu'ammar bin Mutsanna Tafsir Leksikal-Balaghi Sunni 2 H
10 Tafsir Gharib al-Qur'an Al-Farra' Tafsir Leksikal-Nahwi-Balaghi Sunni 2 H
11 Tafsir Gharib al-Qur'an Abu Bakar al-Sijistani Tafsir Leksikal Sunni 3 H
12 Tafsir Gharib al-Qur'an Ibnu Qutaibah al-Dinawari Tafsir Leksikal Sunni 3 H
13 Mufradat Alfaz al-Qur'an Al-Raghib al-Isfahani Tafsir Leksikal Diperdebatkan 5 H
14 Tafsir al-Wujuh wa al-Nazha'ir Husain bin Muhammad al-Damaghani Tafsir Leksikal Sunni 8 H
15 Tafsir Mubhamat al-Qur'an Muhammad bin Ali al-Balansi Tafsir Leksikal Sunni 8 H
16 Al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim Hasan Mushthafawi Tafsir Leksikal Syiah 15 H
17 Ma'ani al-Qur'an Al-Akhfasy Tafsir Nahwi Sunni 2 H
18 Ma'ani al-Qur'an wa I'rabuh Al-Zajjaj Tafsir Nahwi Sunni 4 H
19 Ma'ani al-Qur'an Al-Nahhas Tafsir Nahwi Sunni 4 H
20 I'jaz al-Qur'an Muhammad bin Zaid al-Wasithi Tafsir Balaghi Sunni 3 H
21 Al-Nukat fi I'jaz al-Qur'an Ali bin 'Isa al-Rummani Tafsir Balaghi Sunni 4 H
22 I'jaz al-Qur'an Al-Baqillani Tafsir Balaghi Sunni 4 H

Kritik terhadap Tafsir Adabi

Meskipun memiliki peran khusus dalam mengungkap maksud sebenarnya dari ayat-ayat Al-Qur'an, dikatakan bahwa tafsir Adabi memiliki beberapa kelemahan. Yang terpenting di antaranya adalah tidak adanya kerangka kerja yang jelas dengan kaidah-kaidah yang transparan[60] serta pengutaraan berbagai qira'at (bacaan) yang luas, terutama qira'at yang tidak valid.[61] Kritik-kritik lain yang ditujukan kepada tafsir Adabi adalah sebagai berikut:

  • Menyampaikan berbagai sudut pandang i'rab dan sastra untuk suatu ayat atau frasa tanpa tinjauan kritis yang memadai dan tanpa penjelasan pendapat yang benar.[62]
  • Menyebutkan berbagai makna untuk satu kata tanpa memberikan preferensi pada salah satunya.[63]
  • Berlebihan dalam takwil sastra terhadap ayat-ayat dengan menggunakan takwil yang tidak tepat dan menganggap sebagian kata sebagai tambahan (zaid) yang tidak perlu, seperti menganggap kata kāna dalam Surah Al-Insan ayat 17 dan Surah Maryam ayat 29 sebagai tambahan.[64]
  • Melakukan estimasi (taqdir) yang tidak pada tempatnya, seperti memperkirakan adanya kata li-tuskina dalam Surah Al-Baqarah ayat 35.[65]

Catatan Kaki

  1. Thayyib Husaini, "Metode Tafsir Sastra", 806; Ahmad Nashih, "Tafsir Lughawi dan Adabi Al-Qur'an dari Perspektif Riwayat Ma'shuminas", hlm. 179.
  2. Thayyib Husaini, "Metode Tafsir Sastra", 806; Ahmad Nashih, "Tafsir Lughawi dan Adabi Al-Qur'an dari Perspektif Riwayat Ma'shuminas", hlm. 179.
  3. Thayyib Husaini, "Telaah Metodologis Tafsir Sastra", hlm. 32.
  4. Thayyib Husaini, "Telaah Metodologis Tafsir Sastra", hlm. 32.
  5. Ma'rifat, At-Tamhid fi 'Ulûm al-Qur'an, 1388 HS, jil. 10, hlm. 287; Huseini Zadeh dan Alawi Mihr, "Tafsir Ijtihadi", hlm. 132.
  6. Thayyib Husaini, "Telaah Metodologis Tafsir Sastra", hlm. 29.
  7. Thayyib Husaini, "Tafsir Sastra", hlm. 154.
  8. Thayyib Husaini, "Metode Tafsir Sastra", 805.
  9. Thayyib Husaini, "Metode Tafsir Sastra", 805.
  10. Thayyib Husaini, "Metode Tafsir Sastra", 805.
  11. Thayyib Husaini, "Metode Tafsir Sastra", 805.
  12. Thayyib Husaini, "Metode Tafsir Sastra", 805.
  13. Jam'i al-Nawisin, Tafsir al-Qur'an, 1388 HS, hlm. 49.
  14. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 144.
  15. Jam'i al-Nawisin, Tafsir al-Qur'an, 1388 HS, hlm. 52; Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 145.
  16. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 145.
  17. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 144.
  18. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 145.
  19. Al-Suyuthi, Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an, 1421 H, jil. 1, hlm. 543.
  20. Al-Hajjar, Al-Asas al-Manhajiyah, 1433 H, hlm. 221.
  21. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 146.
  22. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 146.
  23. Ibnu Nadim, Al-Fihrist, tahqiq Ibrahim Ramadhan, 1417 H, hlm. 53-54.
  24. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 147.
  25. Al-Hajjar, Al-Asas al-Manhajiyah, 1433 H, hlm. 276.
  26. Al-Hajjar, Al-Asas al-Manhajiyah, 1433 H, hlm. 276.
  27. Mu'adhab, Rushul Tafsir al-Qur'an, 1380 HS, hlm. 221; Al-Hajjar, Al-Asas al-Manhajiyah, 1433 H, hlm. 280-300.
  28. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 147.
  29. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 147-148.
  30. Zaghlu l Salam, Atsar al-Qur'an al-Karim fi Tathawwur al-Naqd al-'Arabi, Dar al-Ma'arif, hlm. 48.
  31. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 148.
  32. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 149.
  33. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 150.
  34. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 150.
  35. Mu'adhab, Rushul Tafsir al-Qur'an, 1380 HS, hlm. 215.
  36. Ahmad Nashih, "Tafsir Lughawi dan Adabi Al-Qur'an dari Perspektif Riwayat Ma'shumin as", hlm. 179.
  37. Babai dan Thayyib Husaini, "Pengantar Pendekatan Balaghi Ma'shumin dalam Tafsir Al-Qur'an", hlm. 67.
  38. Ma'rifat, Tafsir wa Mufassirun, 1379 HS, jil. 2, hlm. 446-447.
  39. Ahmad Nashih, "Tafsir Lughawi dan Adabi Al-Qur'an dari Perspektif Riwayat Ma'shumin as", hlm. 181.
  40. Ahmad Nashih, "Tafsir Lughawi dan Adabi Al-Qur'an dari Perspektif Riwayat Ma'shumin as", hlm. 181.
  41. Babai dan Thayyib Husaini, "Pengantar Pendekatan Balaghi Ma'shumin dalam Tafsir Al-Qur'an", hlm. 76-77.
  42. Babai dan Thayyib Husaini, "Pengantar Pendekatan Balaghi Ma'shumin dalam Tafsir Al-Qur'an", hlm. 86.
  43. Thayyib Husaini, "Refleksi tentang Kecenderungan Tafsir Sastra Kontemporer", hlm. 149.
  44. Thayyib Husaini, "Refleksi tentang Kecenderungan Tafsir Sastra Kontemporer", hlm. 149.
  45. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 155.
  46. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 158-159.
  47. Wielandt, "Tafsir Al-Qur'an pada Masa Baru dan Kontemporer", hlm. 100.
  48. Thayyib Husaini, "Metode Tafsir Sastra", 807.
  49. Thayyib Husaini, "Refleksi tentang Kecenderungan Tafsir Sastra Kontemporer", hlm. 156.
  50. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 159.
  51. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 159.
  52. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 160.
  53. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 144-150.
  54. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 150.
  55. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 150.
  56. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 150.
  57. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 152.
  58. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 152.
  59. Ridhai Isfahani, Darsnameh Ravesy-ha va Gerayesh-haye Tafsiri Qur'an, 1382 HS, hlm. 453-455; Jam'i al-Nawisin, Tafsir al-Qur'an, 1388 HS, hlm. 57-61; Mu'adhab, Rushul Tafsir al-Qur'an, 1380 HS, hlm. 216-232; Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 144-154.
  60. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 154.
  61. Thayyib Husaini, "Tafsir Adabi", hlm. 154.
  62. Thayyib Husaini, "Telaah Metodologis Tafsir Sastra", hlm. 33.
  63. Thayyib Husaini, "Telaah Metodologis Tafsir Sastra", hlm. 34-35.
  64. Thayyib Husaini, "Telaah Metodologis Tafsir Sastra", hlm. 37.
  65. Thayyib Husaini, "Telaah Metodologis Tafsir Sastra", hlm. 38-39.

Daftar Pustaka

  • Ibn Nadim, Muhammad bin Ishaq, Al-Fihrist, tahqiq Ibrahim Ramadhan, Beirut, Dar al-Ma'rifah, chap-e duvum, 1417 Q.
  • Ahmad Nashih, Ali, "Tafsir Lughawi wa Adabi Qur'an az Manzare Ravayat Ma'suman(as)", dar Faslnameye Pajhuheshhaye Adabi Qur'an, Sal 1, Dore 1, Khordad 1392 HS.
  • Babai, Alireza, va Sayid Mahmud Tayyeb-Husaini, "Daramadi bar Ruykard-e Balaghi-ye Ma'suman dar Tafsir-e Qur'an", dar Majalleye Hadith-e Howze, Sal 1, no. 1, Khordad 1399 HS.
  • Jam'i az Nevisandegan, Tafsir-e Qur'an, Tehran, Ketab-e Marja', 1388 HS.
  • Hojjar, Adi, Al-Asas al-Manhajiyyah fi Tafsir al-Nass al-Qur'ani, Karbala, al-'Atabat al-Husayniyyah al-Muqaddasah, 1433 Q.
  • Husaini Zadeh, Sayid Abdolrasoul, va Husain Alavi Mehr, "Tafsir-e Ejtehadi", Da'eratolma'arefe Qur'an-e Karim, Jeld 8, Qom, Daftar-e Tablighat-e Eslami, 1392 HS.
  • Rezaei Esfahani, Muhammad Ali, Darsname-ye Ravesh-ha va Gerayesh-haye Tafsiri-ye Qur'an, Qom, Markaz-e Jahani-ye Olum-e Eslami, 1382 HS.
  • Zaghloul Salam, Muhammad, Athar al-Qur'an fi Tatawwur al-Naqd al-'Arabi, Cairo, Dar al-Ma'arif, bi-ta.
  • Suyuti, Abdurrahman bin Abi Bakr, Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an, tahqiq Fawwaz Ahmad Zamrli, Beirut, Dar al-Kutub al-'Arabi, 1421 Q.
  • Thayyib-Husaini, Sayid Mahmud, "Ravesh-e Tafsir-e Adabi", dar Hamayesh-e Melli-ye Qur'an-pazhuhi: Pishraft va Ravesh-shenasi-ye Tafsiri (Majmue-ye Maqalat-e Hamayesh-e Melli-ye Qur'an-pazhuhi).
  • Thayyib-Husaini, Sayid Mahmud, "Ta'ammolati dar Gerayesh-e Tafsir-e Adabi-ye Mo'aser", Qur'an-shenakht, Sal-e Dovvom, no.-ye Dovvom, Paiz va Zemestan 1388 HS.
  • Thayyib-Husaini, Sayid Mahmud, "Asib-shenasi-ye Ravesh-e Tafsir-e Adabi", Faslname-ye Meshkat, no. 2, Tabestan 1389 HS.
  • Thayyib-Husaini, Sayid Mahmud, "Tafsir-e Adabi", Da'eratolma'arefe Qur'an-e Karim, Jeld 8, Qom, Bustan-e Ketab, chap-e duvum, 1392 HS.
  • Muaddib, Reza, Ravesh-haye Tafsir-e Qur'an, Qom, Entesyarat-e Eshraq, 1380 HS.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi, Al-Tamhid fi 'Ulum al-Qur'an, Qom, Mu'asseseh-ye Farhangi-ye Entesyarati al-Tamhid, 1388 HS.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi, Tafsir va Mufassiran, Qom, Mo'assese-ye Farhangi-ye Entesyarati al-Tamhid, 1379 HS.
  • Wielandt, Rotraud, "Tafsir-e Qur'an dar Dore-ye Jadid va Mo'aser", dar Qur'an-pazhuhi-ye Khare-shenasan, no. 1, tahun ke-2, Tabestan 1386 HS.