Lompat ke isi

Konsep:Qur'ah

Dari wikishia

Qur'ah atau Undian adalah pemilihan acak yang digunakan ketika tidak ada jalan syar'i maupun rasional lainnya untuk mengambil keputusan. Menurut riwayat-riwayat Syiah, undian merupakan perbuatan yang boleh dan merupakan solusi untuk menyelesaikan masalah dan ketidakpastian. Latar belakang undian dalam sejarah agama merujuk pada pemilihan Nabi Yunus (as) untuk ditenggelamkan ke laut dan pemilihan Nabi Zakaria untuk mengasuh Hazrat Maryam (sa). Undian juga digunakan dalam undian berhadiah.

Dalam riwayat-riwayat disebutkan bahwa dalam beberapa kasus, undian digunakan untuk menentukan hukum syariat. Mohammad Hossein Gharavi Na'ini berpendapat bahwa mendiagnosis waktu dan kasus penggunaan undian adalah hal yang sulit dan harus mencukupkan diri pada apa yang terdapat dalam riwayat atau pendapat para pakar fikih masa lalu. Istikharah dikenal sebagai salah satu bentuk undian dan para pakar fikih menganggapnya disyariatkan dengan bersandar pada kehujahan undian.

Dalam kitab-kitab fikih, subjek ini dibahas di bawah judul "Kaidah Qur'ah", namun beberapa pakar fikih menganggapnya sebagai sebuah kaidah ushul. Untuk membuktikan kehujahan undian, para pakar fikih bersandar pada ayat-ayat seperti ayat 141 surah ash-Shaffat dan ayat 44 surah Ali 'Imran, sirah kaum berakal, serta beberapa riwayat.

Dalam lotre atau pengundian hadiah, undian digunakan untuk memilih pemenang. Ahmad Naraqi meyakini bahwa undian dalam kasus yang semata-mata untuk memilih probabilitas tidak mendapatkan legitimasi. Meskipun demikian, terdapat riwayat-riwayat yang memperkenalkan undian sebagai "jalan paling adil" dan "menyerahkan urusan kepada Allah" yang dapat menjadi alasan legitimasinya.

Undian dan Kedudukannya

Undian diartikan sebagai pemilihan acak di mana seseorang yang bingung tidak memiliki jalan syar'i maupun rasional lain di hadapannya.[1] Pemilihan ini bisa bertujuan untuk menyingkap kebenaran, seperti pengundian untuk menemukan hamba yang berdosa dalam kisah Nabi Yunus (as), atau semata-mata untuk mengunggulkan salah satu probabilitas di mana tidak ada fakta spesifik yang terlibat, seperti kisah pengasuhan Hazrat Maryam (sa) atau pengundian bank dan toko-toko.[2]

Dalam riwayat-riwayat Syiah, undian dideskripsikan sebagai jalan yang dekat dengan keadilan, solusi untuk menghilangkan kesulitan dan ketidakpastian, penyerahan urusan kepada Allah, dan pilihan tanpa kesalahan.[3] Beberapa pakar fikih meyakini bahwa maksud dari "menganggap hukum undian tanpa kesalahan" dalam riwayat-riwayat ini mungkin merujuk pada maslahat Allah dalam pilihan yang dihasilkan[4] atau benarnya tindakan pengundian sebagai sebuah solusi.[5]

Menurut keyakinan beberapa pakar fikih, undian tidak memiliki tata cara atau doa khusus, dan doa-doa yang terdapat dalam riwayat-riwayat terkait undian hanyalah doa mustahab untuk memohon kebenaran.[6] Selain itu, beberapa pakar fikih meyakini bahwa pengundian tidak dikhususkan bagi orang tertentu, kecuali dalam masalah peradilan di mana penetapan hukum berada di tangan Imam atau para wakil umum atau wakil khusus beliau.[7] Sebaliknya, Ahmad Naraqi dan beberapa pakar fikih lainnya berdasarkan riwayat-riwayat meyakini bahwa undian dikhususkan bagi Imam Maksum.[8] Istikharah juga dikenal sebagai salah satu bentuk undian dan beberapa pakar fikih dengan bersandar pada kehujahan undian, mengonfirmasi legitimasi istikharah.[9]

Penggunaan Undian dalam Hukum Syariat

Mohammad Hossein Gharavi Na'ini meyakini bahwa penggunaan undian untuk menentukan hukum syariat adalah hal yang rumit dan harus mencukupkan diri pada kasus-kasus di mana para pakar fikih telah beramal berdasarkan riwayat.[10] Sebaliknya, Nashir Makarem Shirazi berkeyakinan bahwa Fatwa berdasarkan undian tidak terbatas pada kasus-kasus tersebut dan ia menganggap fatwa para pakar fikih masa lalu bersandar pada riwayat-riwayat yang sama.[11] Menurut para pakar fikih, undian dilakukan dalam kasus-kasus di mana amarah, ashl amali, atau kaidah keadilan dan kesetaraan tidak dapat diterapkan.[12] Oleh karena itu, undian tidak digunakan dalam Syubhat Hukmiyah atau maudhu'iyah yang telah disyariatkan kaidah khusus baginya.[13]

Undian telah dibahas secara mendalam dalam kitab-kitab terkait kaidah fikih dengan judul "Kaidah Qur'ah".[14] Namun beberapa pakar fikih menyebutnya sebagai kaidah ushul.[15] Menurut kata Ali Akbar Seifi Mazandarani, pakar fikih Syiah, Mir Abd al-Fattah al-Maraghi dalam kitab Al-Anawin al-Fiqhiyah adalah orang pertama yang menyebut undian sebagai "Kaidah".[16] Menurut Hossein Karimi Qomi, terdapat hampir 78 hadis dalam Wasa'il al-Syiah dan Mustadrak-nya mengenai undian.[17] Undian telah diterapkan dalam berbagai posisi fikih seperti qasm, bab peradilan, bab waris, Taharah, dan itq dalam riwayat-riwayat serta fatwa para pakar fikih terdahulu.[18] Ali Muhazzab dalam artikel "Qur'ah dar Fiqh-e Imamiyah wa Negaheh be Sabeqeh-ye Tarikhi-ye an" mengacu pada 17 kasus di mana para pakar fikih menetapkan hukum syariat sesuai undian, serta 5 pasal hukum yang di dalamnya undian disebutkan.[19]

Dalil Kehujahan Undian

Menurut keyakinan beberapa pakar fikih Syiah, kebolehan bersandar pada undian termasuk masalah yang pasti, diyakini, disepakati oleh para ulama Syiah, dan tidak dapat dipungkiri.[20] Para pakar fikih bersandar pada dalil-dalil berikut untuk membuktikan kehujahan kaidah undian:

  1. Ayat-ayat Al-Qur'an; untuk tujuan ini diisyaratkan pada dua ayat berikut:
    1. Ayat 141 Surah ash-Shaffat: Menurut ayat ini, Nabi Yunus (as) yang merupakan nabi yang maksum dari dosa, ikut serta dalam pengundian kapal dan ketiadaan protes dari pihaknya dianggap sebagai konfirmasi atas tindakan ini.[21]
    2. Ayat 44 Surah Ali 'Imran: Berdasarkan ayat ini, Nabi Zakaria dan para ulama Bani Israil lainnya secara mufakat memilih undian untuk memilih pengasuh Hazrat Maryam (sa).[22] Beberapa pakar fikih karena alasan tertentu menganggap ayat-ayat ini tidak mampu membuktikan undian dari sisi agama Islam.[23]
  2. Riwayat; menurut kata beberapa pakar fikih, riwayat-riwayat undian mencapai tingkat tawatur. Riwayat-riwayat ini muncul dalam dua kelompok:
    1. Riwayat-riwayat yang secara umum menganggap undian sebagai solusi untuk terbebas dari ketidakpastian atau kesulitan.[24] Menurut riwayat-riwayat ini, undian dianggap sebagai penyerahan urusan ke tangan Allah dan solusi untuk setiap masalah yang hukumnya tidak jelas.[25]
    2. Riwayat-riwayat yang di dalamnya undian digunakan sebagai pemecah masalah.[26] Berdasarkan riwayat-riwayat, beberapa urusan yang ditentukan melalui undian adalah sebagai berikut: 1. Status budak atau merdekanya seorang anak yang tidak diketahui di antara dua kondisi tersebut;[27] 2. Menemukan kambing yang dagingnya menjadi haram karena disetubuhi (wathi) dan telah masuk ke dalam kawanan;[28] 3. Kadar bagian warisan individu khunsa yang tidak diketahui laki-laki atau perempuannya.[29] 4. Penentuan budak-budak yang dibebaskan dalam sebuah peristiwa di mana seseorang sebelum wafatnya membebaskan sepertiga budaknya secara tidak ditentukan.[30]
  3. Sirah kaum berakal dalam urusan sosial: Menurut keyakinan Baqir Iravani, ketika urf tidak dapat mencakup seluruh sisi dalam sebuah masalah, maka mau tidak mau mereka memilih sebagian darinya dengan undian, di mana sirah ini tidak hanya tidak dilarang oleh pemberi syariat, melainkan telah dikonfirmasi dengan ungkapan-ungkapan seperti "undian adalah sunnah".[31][32]

Catatan Kaki

  1. Karimi Qomi, Qa'idah al-Qur'ah, 1420 H, hlm. 33.
  2. Karimi Qomi, Qa'idah al-Qur'ah, 1420 H, hlm. 33; Naraqi, 'Awa'id al-Ayyam, 1417 H, hlm. 662-663.
  3. Syekh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 3, hlm. 92; Syekh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 6, hlm. 240.
  4. Asytiyani, Qawa'id al-Fiqhiyah (Bahr al-Fawa'id), 1403 H, jld. 3, hlm. 219.
  5. Makarem Shirazi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1411 H, jld. 1, hlm. 331; Naraqi, 'Awa'id al-Ayyam, 1417 H, hlm. 641.
  6. Iravani, Durus Tamhidiyah fi al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1426 H, jld. 2, hlm. 28; Naraqi, 'Awa'id al-Ayyam, 1417 H, hlm. 669.
  7. Makarem Shirazi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1411 H, jld. 1, hlm. 366-368; Iravani, Durus Tamhidiyah fi al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1426 H, jld. 2, hlm. 28.
  8. Naraqi, 'Awa'id al-Ayyam, 1417 H, hlm. 653-658.
  9. Karimi Qomi, Qa'idah al-Qur'ah, 1420 H, hlm. 12.
  10. Na'ini, Fawa'id al-Ushul, 1376 HS, jld. 4, hlm. 680.
  11. Makarem Shirazi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1411 H, jld. 1, hlm. 362-363.
  12. Na'ini, Fawa'id al-Ushul, 1376 HS, jld. 4, hlm. 680; Makarem Shirazi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1411 H, jld. 1, hlm. 362-363.
  13. Na'ini, Fawa'id al-Ushul, 1376 HS, jld. 4, hlm. 679; Karimi Qomi, Qa'idah al-Qur'ah, 1420 H, hlm. 25; Khoei, Misbah al-Ushul, 1417 H, jld. 3, hlm. 343.
  14. Lihat: Iravani, Durus Tamhidiyah fi al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1426 H, jld. 2, hlm. 9-40; Makarem Shirazi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1411 H, jld. 1, hlm. 321-380; Fadhil Lankarani, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1416 H, hlm. 421-442.
  15. Seifi Mazandarani, Mabani al-Fiqh al-Faal fi al-Qawa'id al-Fiqhiyah al-Asasiyah, 1425 H, jld. 3, hlm. 224; Fadhil Lankarani, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1416 H, hlm. 436.
  16. Seifi Mazandarani, Mabani al-Fiqh al-Faal fi al-Qawa'id al-Fiqhiyah al-Asasiyah, 1425 H, jld. 3, hlm. 222.
  17. Karimi Qomi, Qa'idah al-Qur'ah, 1420 H, hlm. 23 dan 38.
  18. Mabani al-Fiqh al-Faal fi al-Qawa'id al-Fiqhiyah al-Asasiyah, jld. 3, hlm. 220; Karimi Qomi, Qa'idah al-Qur'ah, 1420 H, hlm. 23 dan 38.
  19. Muhazzab, "Qur'ah dar Fiqh-e Imamiyah wa Negaheh be Sabeqeh-ye Tarikhi-ye an", hlm. 124.
  20. Hilli, Al-Sara'ir al-Hawi li-Tahrir al-Fatawa, 1410 H, jld. 2, hlm. 173; Makarem Shirazi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1411 H, jld. 1, hlm. 332; Bojnourdi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1419 H, jld. 1, hlm. 65.
  21. Iravani, Durus Tamhidiyah fi al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1426 H, jld. 2, hlm. 14; Bojnourdi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1419 H, jld. 1, hlm. 59.
  22. Iravani, Durus Tamhidiyah fi al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1426 H, jld. 2, hlm. 14; Bojnourdi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1419 H, jld. 1, hlm. 59.
  23. Iravani, Durus Tamhidiyah fi al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1426 H, jld. 2, hlm. 15-16; Makarem Shirazi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1411 H, jld. 1, hlm. 328.
  24. Bojnourdi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1419 H, jld. 1, hlm. 60.
  25. Syekh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 3, hlm. 92.
  26. Bojnourdi, Al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1419 H, jld. 1, hlm. 62.
  27. Syekh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 6, hlm. 240.
  28. Amili, Wasa'il al-Syiah, 1409 H, jld. 24, hlm. 170.
  29. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 7, hlm. 158.
  30. Amili, Wasa'il al-Syiah, 1409 H, jld. 23, hlm. 103.
  31. Syekh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jld. 6, hlm. 239.
  32. Iravani, Durus Tamhidiyah fi al-Qawa'id al-Fiqhiyah, 1426 H, jld. 2, hlm. 18.

Daftar Pustaka

  • Asytiyani, Mohammad Hassan. Qawa'id al-Fiqhiyah (Bahr al-Fawa'id). Qom, Penerbit Perpustakaan Ayatullah Mar'as-syi Najafi, cetakan pertama, 1403 H.
  • Ibnu Idris, Mohammad bin Ahmad. Al-Sara'ir al-Hawi li-Tahrir al-Fatawa. Qom, Muassasah Nasyr-e Eslami, cetakan kedua, 1410 H.
  • Iravani, Baqir. Durus Tamhidiyah fi al-Qawa'id al-Fiqhiyah. Qom, Dar al-Fiqh, cetakan ketiga, 1426 H.
  • Bojnourdi, Sayyid Hassan. Al-Qawa'id al-Fiqhiyah. Qom, Nasyr al-Hadi, cetakan pertama, 1419 H.
  • Khoei, Sayyid Abul Qasim. Misbah al-Ushul. Qom, Davari, cetakan kelima, 1417 H.
  • Seifi Mazandarani, Ali Akbar. Mabani al-Fiqh al-Faal fi al-Qawa'id al-Fiqhiyah al-Asasiyah. Qom, Jami'ah Modarresin Hauzah Ilmiah Qom, cetakan pertama, 1425 H.
  • Syekh Shaduq, Mohammad bin Ali. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Jami'ah Modarresin, Qom, cetakan kedua, 1413 H.
  • Syekh Thusi, Mohammad bin Hasan. Tahdzib al-Ahkam. Dar al-Kutub al-Islamiyah, Qom, cetakan keempat, 1407 H.
  • Amili, Mohammad bin Hasan. Wasa'il al-Syiah. Muassasah Alu al-Bait 'alaihimus-salam, Qom, cetakan pertama, 1409 H.
  • Fadhil Lankarani, Mohammad. Al-Qawa'id al-Fiqhiyah. Qom, Percetakan Mehr, cetakan pertama, 1416 H.
  • Karimi Qomi, Hossein. Qa'idah al-Qur'ah. Qom, Nasyr Markaz-e Fiqhi-ye Aimmah-ye Ath-har 'alaihimus-salam, cetakan pertama, 1420 H.
  • Kulaini, Mohammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Dar al-Kutub al-Islamiyah, Tehran, cetakan keempat, 1407 H.
  • Makarem Shirazi, Nasser. Al-Qawa'id al-Fiqhiyah. Qom, Madrasah al-Imam Amirul Mukminin (as), cetakan ketiga, 1411 H.
  • Muhazzab, Ali. "Qur'ah dar Fiqh-e Imamiyah wa Negaheh be Sabeqeh-ye Tarikhi-ye an". Fasynamah Maqalat wa Barresi-ha, nomor 17 dan 18, musim semi 1353 HS.
  • Na'ini, Mohammad Hossein. Fawa'id al-Ushul. Qom, Jami'ah Modarresin Hauzah Ilmiah Qom, cetakan pertama, 1376 HS.
  • Naraqi, Ahmad. 'Awa'id al-Ayyam fi Bayan Qawa'id al-Ahkam wa Muhimmat Masail al-Halal wa al-Haram. Qom, Penerbit Kantor Tablighat-e Eslami Hauzah Ilmiah Qom, cetakan pertama, 1417 H.

Templat:Kaidah-kaidah Fikih```

Would you like me to translate another text or do you have any other requests?