Konsep:Qashidah Lamiyyah Abu Thalib
Templat:Kotak info puisi Qashidah Lamiyyah Abu Thalib adalah puisi yang dinisbatkan kepada Abu Thalib, ayah Imam Ali (as), yang digubah dalam rangka membela dan mendukung Nabi Islam (saw). Abu Thalib menggubah Qashidah Lamiyyah dalam kondisi ketika Nabi (saw) dan kaum Muslimin lainnya hidup dalam kesulitan di Syib Abi Thalib, dan kaum musyrik meminta Abu Thalib untuk menyerahkan Muhammad (saw) kepada mereka. Abu Thalib dengan menggubah Qashidah Lamiyyah, bangkit menentang mereka dan mengumumkan bahwa ia akan mendukung Nabi (saw) hingga akhir hayat.
Kaum Syiah dengan bersandar pada Qashidah Lamiyyah Abu Thalib, berargumen atas Iman Abu Thalib; di antaranya Syekh Mufid dalam kitab independen yang ia tulis tentang iman Abu Thalib, Syekh Saduq dalam kitab Amali-nya, dan Kulaini dalam kitab al-Kafi. Banyak ahli hadis dan penulis Ahlusunah serta Syiah sejak abad kedua Hijriah dan seterusnya, menyebutkan satu atau beberapa bait dari Qashidah Lamiyyah Abu Thalib dalam buku-buku mereka; di antaranya Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Khalil bin Ahmad al-Farahidi, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Abil Hadid al-Mu'tazili, dan Allamah Amini.
Selain pencetakan Qashidah Lamiyyah dalam bahasa Arab, qasidah ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Parsi, Inggris, dan Jerman, dan para penulis termasuk Sardar Kabuli, dalam buku-buku independen telah membahas syarah dan tafsir bait-baitnya.
Urgensi dan Kedudukan
Abu Thalib menggubah Qashidah Lamiyyah di Syib Abi Thalib[1] pada masa-masa sulit Nabi Islam (saw)[2] dan para pengikutnya. Oleh karena itu, puisi ini juga terkenal dengan nama Qashidah Syi'biyyah.[3] Qasidah terkenal lainnya dengan bait pembuka Mimiyyah juga diriwayatkan dari Abu Thalib. Kedua qasidah Lamiyyah dan Mimiyyah disebutkan dalam buku dengan judul Diwan Abu Thalib.[4]
Ibnu Hisyam, sejarawan abad kedua dan abad ketiga Hijriah, dalam kitab al-Sirah al-Nabawiyyah menyebutkan 94 bait dari Qashidah Lamiyyah yang ia anggap dapat dinisbatkan kepada Abu Thalib. Ia juga mengisyaratkan bahwa beberapa ahli puisi mengingkari penisbatan mayoritas bait tersebut kepada Abu Thalib.[5] Ibnu Katsir juga dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah menukil 83 bait dari qasidah ini[6] dan menganggapnya sangat baligh sehingga hanya layak bagi Abu Thalib.[7] Ia juga menyebut Qashidah Lamiyyah lebih unggul daripada al-Mu'allaqat al-Sab'.Templat:Y[8]
Jafar Sobhani, faqih Syiah, menukil 121 bait dari qasidah ini dalam buku komprehensif Diwan Abu Thalib yang dikumpulkan oleh Abu Haffan al-Abdi.[9] Mohammad Mahdi Sabahi Kasyani, salah seorang peneliti Syiah, mengekstraksi 133 bait Qashidah Lamiyyah dari berbagai sumber dan mencantumkannya dalam buku Abu Thalib Sya'ir al-Rasul al-A'zham.[10]
Sejak abad kedua Hijriah dan seterusnya, banyak karya Ahlusunah dan Syiah yang menyebutkan satu atau beberapa bait dari qasidah ini. Di antara karya-karya tersebut adalah Shahih al-Bukhari (Muhammad bin Ismail al-Bukhari), Musnad (Ahmad bin Hanbal), al-Ain (Khalil bin Ahmad al-Farahidi), Thabaqat Fuhul al-Syu'ara' (Muhammad bin Sallam al-Jumahi), Syarh Nahj al-Balaghah (Ibnu Abil Hadid al-Mu'tazili), dan Al-Ghadir (Allamah Amini).[11]
Khalil Kamareh-i, salah seorang fukaha abad ke-14 Hijriah, menyebut qasidah ini sebagai epos iman dan menukil sebuah riwayat dari Imam Ali (as) bahwa beliau merekomendasikan pengajaran qasidah ini kepada para pemuda.[12] Mengajarkan qasidah ini kepada anak-anak pada usia tujuh tahun, di samping pengajaran hukum-hukum, renang, dan memanah, disebutkan sebagai salah satu hal yang disunnahkan dalam pendidikan anak-anak.[13]
Isi: Dukungan terhadap Nabi Islam
Qashidah Lamiyyah Abu Thalib digubah dalam situasi di mana para pembesar Quraisy yang berusaha menghalangi dakwah agama Islam oleh Nabi (saw), meminta Abu Thalib agar menyerahkan Muhammad (saw) kepada mereka dan mereka berjanji kepadanya bahwa jika ia melakukan itu, ia akan mencapai kedudukan pemimpin dan raja mereka.[14] Abu Thalib dengan menggubah Qashidah Lamiyyah mengumumkan kepada mereka bahwa Bani Hasyim akan menjadi pembela Nabi (saw) hingga titik darah penghabisan dan tidak akan menyerahkan Muhammad (saw) kepada mereka.[15] Qashidah Lamiyyah Abu Thalib dimulai sebagai berikut:
Khalili ma udzuni li awwali 'adzili * bi shaghwa'a fi haqqin wala 'inda bathili (Terjemahan:) Wahai kedua sahabatku; aku tidak akan mendengarkan celaan dan cercaan dari pencela manapun dan aku tidak memedulikan mereka.
Wa lamma ra'aitu al-qauma la wudda fihim * wa qad qatha'u kulla al-'ura wa al-wasa'ili... (Terjemahan:) Dan ketika aku menyadari bahwa kaum ini (kafir Quraisy) tidak memiliki rasa cinta sedikit pun di antara mereka dan mereka memutus seluruh tali dan hubungan persahabatan serta kekerabatan...
Shabartu lahum nafsi bi samra'a samhatin * wa abyadha 'adhbin min turatsi al-maqawili (Terjemahan:) Dengan tombak-tombak yang lentur dan fleksibel serta pedang-pedang tajam yang merupakan warisan para raja, aku mendahulukan kesabaran terhadap mereka.
Argumentasi atas Iman Abu Thalib
Templat:Utama Sebagaimana disebutkan dalam sumber-sumber Ahlusunah,[16] kaum Syiah, dengan bersandar pada kandungan Qashidah Lamiyyah, menganggap Abu Thalib sebagai seorang Muslim. Dalam kitab al-Kafi, disebutkan sebuah hadis dari Imam Shadiq (as) bahwa beliau dengan bertumpu pada dua bait dari Qashidah Lamiyyah, menentang orang-orang yang menganggap Abu Thalib kafir.[17] Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Abbas yang dinukil dalam Amali Syekh Saduq, ia juga dengan bersandar pada salah satu bait Qashidah Lamiyyah, menyebut Abu Thalib sebagai seorang Muslim.[18]
Syekh Mufid, faqih dan teolog Syiah, dalam risalah independen, dengan menggunakan argumen-argumen termasuk bait-bait dari Qashidah Lamiyyah, menekankan pada Iman Abu Thalib.[19] Ia menyimpulkan dari bait "Fa ayyadahu Rabbu al-'ibadi bi nashrihi / Wa adzhara dinan haqquhu ghaira bathili"; (Tuhan para hamba membantu beliau dengan pertolongan-Nya / Dan menampakkan agama yang hak tanpa kebatilan) bahwa Abu Thalib telah menerima kenabian Nabi.[20] Selain itu, bait "Haliman rasyidan haziman ghaira tha'isyin / Yuwali Ilaha al-khalqi laisa bi mahili" (Penyantun, teguh, berpandangan jauh, bijak, dan tidak gegabah / Mencintai Tuhan semesta alam dan bukan penentang) dianggap sebagai tanda keyakinan Abu Thalib pada tauhid dan penerimaan kenabian Nabi (saw).[21]
Terjemahan dan Syarah
Qashidah Lamiyyah Abu Thalib telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Parsi, Inggris, dan Jerman.[22] Juga terjemahan puitis Parsi Qashidah Lamiyyah digubah dan dicetak oleh Gholamreza Dabiran.[23] Beberapa penulis yang membahas syarah dan penjelasan berbagai bait Qashidah Lamiyyah antara lain:
- Haidar Quli Sardar Kabuli (1293-1372 HS) dalam buku dengan judul Syarh al-Qashidah al-Lamiyyah li Sayyidina wa Maulana Abi Thalib (as) yang dicetak pada 1398 HS.[24]
- Syekh Muhammad Ali Hazin Lahiji, dalam risalah independen.[25]
- Ali Fahmi al-Mustari (wafat 1326 H) dalam buku dengan judul Thalabah al-Thalib fi Syarh Lamiyyah Abi Thalib yang dicetak di Iran pada 1398 HS.[26] Karya ini sebelumnya telah diterbitkan di Istanbul pada tahun 1327 H.[27]
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma'ad, 1428 H, jld. 1, hlm. 547.
- ↑ Sobhani Tabrizi, Forugh-e Abadiyat (Cahaya Keabadian), 1385 HS, hlm. 352.
- ↑ Qadhi Askar, "Dars-e Panjah o Syesyom: Syib-e Abu Thalib", hlm. 305.
- ↑ Ahmadi, Tarikh-e Hadis-e Syiah dar Sadeh-haye Chaharom ta Haftom-e Hejri, 1389 HS, hlm. 285.
- ↑ Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, Beirut, jld. 1, hlm. 272-280.
- ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1408 H, jld. 3, hlm. 70-74.
- ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1408 H, jld. 3, hlm. 74.
- ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1408 H, jld. 3, hlm. 74.
- ↑ Sobhani Tabrizi, Forugh-e Abadiyat, 1385 HS, hlm. 353.
- ↑ Sabahi Kasyani, Abu Thalib Sya'ir al-Rasul al-A'zham, 1395 HS, hlm. 61 dan 113-330.
- ↑ Sabahi Kasyani, Abu Thalib Sya'ir al-Rasul al-A'zham, 1395 HS, hlm. 63-73.
- ↑ Kamareh-i, Onshor-e Syoja'at ya Haftad o Do Tan va Yek Tan, jld. 7, hlm. 459.
- ↑ Muassasah Dairatul Maarif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1392 HS, jld. 5, hlm. 675.
- ↑ Rezaei-nasab, Amuzesy-e Tarikh-e Islam, 1396 HS, hlm. 34.
- ↑ Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, Beirut, jld. 1, hlm. 280; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1408 H, jld. 3, hlm. 70.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, 1379 H, jld. 2, hlm. 496; Al-Halabi, al-Sirah al-Halabiyyah, 1427 H, jld. 1, hlm. 170.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1429 H, jld. 2, hlm. 462-463, Kitab al-Hujjah, Bab Maulid al-Nabi wa Wafatih, h. 29.
- ↑ Syekh Saduq, al-Amali, 1417 H, jld. 1, hlm. 712, h. 980.
- ↑ Syekh Mufid, Iman Abi Thalib, 1413 H, hlm. 18.
- ↑ Syekh Mufid, Iman Abi Thalib, 1413 H, hlm. 18-19.
- ↑ Syekh Mufid, Iman Abi Thalib, 1413 H, hlm. 19-20.
- ↑ Sabahi Kasyani, Abu Thalib Sya'ir al-Rasul al-A'zham, 1395 HS, hlm. 75-76.
- ↑ Kamareh-i, Onshor-e Syoja'at ya Haftad o Do Tan va Yek Tan, jld. 7, hlm. 459.
- ↑ Sardar Kabuli, Syarh al-Qashidah al-Lamiyyah li Sayyidina wa Maulana Abi Thalib, 1398 HS.
- ↑ Mahdavi, A'lam-e Isfahan, 1391 HS, jld. 4, hlm. 725.
- ↑ Al-Haj, "Abu Thalib Ma'wa al-Rasul wa al-Risalah", hlm. 334.
- ↑ Fahmi al-Mustari, Thalabah al-Thalib, 1398 HS, hlm. 19.
Catatan
Daftar Pustaka
- Ahmadi, Mahdi. Tarikh-e Hadis-e Syiah dar Sadeh-haye Chaharom ta Haftom-e Hejri (Sejarah Hadis Syiah pada Abad Keempat hingga Ketujuh Hijriah). Qom, Penerbit Darul Hadits, 1389 HS.
- Al-Haj, Hasan. "Abu Thalib Ma'wa al-Rasul wa al-Risalah" (Abu Thalib Tempat Naungan Rasul dan Risalah). Dalam buku Syakhshiyat min al-Haramain al-Syarifain. Teheran, Penerbit Masy'ar, 1433 H.
- Al-Halabi, Ali bin Ibrahim. Al-Sirah al-Halabiyyah: Insan al-'Uyun fi Sirat al-Amin al-Ma'mun. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1427 H.
- Fahmi al-Mustari, Ali. Thalabah al-Thalib fi Syarh Lamiyyah Abi Thalib. Penyusunan: Mohammad Mahdi Sabahi Kasyani. Qom, Penerbit Muassasah Abu Thalib, 1390 HS/1440 H/2019 M.
- Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali. Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari. Koreksi: Muhammad Fuad Abdul Baqi. Di bawah pengawasan Muhibuddin al-Khathib. Catatan: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Beirut, Penerbit Dar al-Ma'rifah, 1379 H.
- Ibnu Hisyam, Abdul Malik bin Hisyam. Al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibnu Hisyam. Riset: Mustafa al-Saqqa, Ibrahim al-Abyari dan Abdul Hafizh Syalabi. Beirut, Penerbit Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Riset: Ali Syiri. Jld. 3. Beirut, Penerbit Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1408 H/1988 M.
- Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakar. Zad al-Ma'ad fi Hady Khair al-Ibad. Riset: Anas Muhammad al-Syafii. Jld. 1. Kairo, Penerbit Dar al-Afaq al-Arabiyyah, 1428 H/2007 M.
- Kamareh-i, Mirza Khalil. Onshor-e Syoja'at ya Haftad o Do Tan va Yek Tan (Unsur Keberanian atau Tujuh Puluh Dua Orang dan Satu Orang). Riset: Markaz-e Elmi Tahqiqati Dar al-Erfan asy-Syii. Di bawah pengawasan Husain Ansharian. Qom, Penerbit Dar al-Erfan, 1389 HS.
- Kulaini Razi, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Atas usaha Mohammad Husain Dirayati. Qom, Penerbit Darul Hadits, 1429 H/1387 HS.
- Mahdavi, Sayyid Mushlihuddin. A'lam-e Isfahan (Para Tokoh Isfahan). Tashih dan riset: Gholamreza Nasrullahi. Kata Pengantar: Mohammad Ali Chelongar. Jld. 4. Isfahan, Sazman-e Farhangi-Tafrihi Syahrdari-ye Isfahan, 1391 HS.
- Muassasah Dairatul Maarif Fiqh Islami. Farhang-e Fiqh Mutabiq Mazhab Ahlulbait (Kamus Fikih Sesuai Mazhab Ahlulbait). Di bawah pengawasan Mahmoud Hashemi Shahroudi. Qom, Muassasah Dairatul Maarif Fiqh Islami, 1392 HS.
- Qadhi Askar, Sayyid Ali. "Dars-e Panjah o Syesyom: Syib-e Abu Thalib". Dalam Rah-tusyey-e Haj, jld. 2. Qom, Penerbit Masy'ar, 1388 HS.
- Rezaei-nasab, Mohammad. Amuzesy-e Tarikh-e Islam (Pengajaran Sejarah Islam). Pendahuluan: Ali Qanbarian. Teheran, Penerbit Mirats-e Farhikhtegan, 1396 HS.
- Sabahi Kasyani, Mohammad Mahdi. Abu Thalib Sya'ir al-Rasul al-A'zham. Qom, Mohammad Mahdi Sabahi, 1395 HS/1437 H.
- Sardar Kabuli, Haidar Quli bin Nur Mohammad Khan. Syarh al-Qashidah al-Lamiyyah li Sayyidina wa Maulana Abi Thalib. Penyusunan: Mohammad Mahdi Sabahi Kasyani. Qom, Penerbit Muassasah Abu Thalib, 1398 HS/1440 H/2019 M.
- Sobhani, Jakfar. Forugh-e Abadiyat (Cahaya Keabadian). Qom, Penerbit Bustan-e Ketab, 1385 HS.
- Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man. Iman Abi Thalib. Teheran, Penerbit Muassasah al-Ba'tsah, 1413 H.
- Syekh Saduq, Muhammad bin Ali. Al-Amali. Teheran, Penerbit Muassasah al-Ba'tsah, 1417 H.