Konsep:Nikmat-nikmat Surga
Nikmat-nikmat Surga adalah ganjaran bagi orang-orang yang berbahagia di Akhirat yang dalam Al-Qur'an digambarkan dengan ungkapan-ungkapan seperti taman-taman dengan banyak pohon yang hijau dan teduh, dengan sungai-sungai yang mengalir, mata air yang memancar, buah-buahan yang melimpah, dan suhu yang sejuk. Penduduk Surga akan mendapatkan apa pun yang mereka inginkan di sana. Al-Qur'an juga meniadakan sifat-sifat negatif dari surga; termasuk penderitaan, kesedihan, perkataan sia-sia, dan kemabukan.
Para mufasir Al-Qur'an mengklasifikasikan nikmat-nikmat surga ke dalam dua kategori: jasmani dan ruhani, yang berakar pada hakikat ganda manusia. Meskipun dalam Al-Qur'an lebih banyak disebutkan nikmat jasmani, namun nikmat maknawi dianggap lebih tinggi dan tidak tertandingi oleh nikmat materi. Dikatakan bahwa kelezatan di alam akhirat tidak memiliki batasan. Abdullah Javadi Amoli merinci 15 nikmat jasmani dan inderawi: taman-taman, sungai-sungai, minuman dan pelayan pemberi minum, bejana-bejana, pakaian, dipan, pasangan, pelayan, istana, buah-buahan, daging burung, Telaga Kautsar, dan mata air Tasnim. Selain itu, disebutkan bahwa keluarga yang beriman akan berkumpul bersama di surga.
Abdullah Javadi Amoli menganggap nikmat ruhani pertama di surga adalah ketenangan yang meliputi seluruh keberadaan penghuni surga. Selain itu, di surga, para penghuni surga akan disambut dengan salam dan penghormatan dari Allah dan para Malaikat, mereka bersama teman-teman yang sehati, dan tidak ada rasa benci di hati mereka. Keridaan Ilahi juga, menurut Abdullah Javadi Amoli dan berdasarkan penelitian Murtadha Muthahhari, dihitung sebagai salah satu nikmat maknawi tertinggi di surga. Berbagai nikmat surga, mulai dari makanan dan minuman, rumah, taman dan istana, pakaian, serta hal lainnya, disebutkan dalam berbagai surah Al-Qur'an seperti Ar-Rahman, Al-Waqi'ah, dan Al-Insan, serta dalam hadis-hadis Maksumin as.
Kedudukan dan Karakteristik
Surga berdasarkan Al-Qur'an, adalah tempat tinggal setelah dunia bagi orang-orang yang berbahagia (alladzīna su'idū)[1]; taman atau taman-taman dengan banyak pohon yang hijau dan teduh,[2] dengan sungai-sungai yang mengalir (berdasarkan ungkapan "tajrī min tahtihal-anhār"),[3] mata air yang memancar dan mengalir,[4] penuh dengan berbagai macam buah-buahan,[5] dengan suhu yang sejuk.[6] Para mufasir, dengan bersandar pada ayat-ayat Al-Qur'an seperti Ayat 31 Surah An-Nahl, Ayat 16 Surah al-Furqan, dan Ayat 31 Surah Fussyilat, berpendapat bahwa penghuni surga akan mendapatkan apa pun yang mereka inginkan di surga;[7] sebagaimana Sayid Muhammad Husain Tabataba'i dan penulis Tafsir Nemuneh, dalam Ayat 71 Surah Az-Zukhruf, menukil dari Tafsir Majma' al-Bayan bahwa semua nikmat surga dalam ayat ini dinyatakan dengan ungkapan "wa fīhā mā tasytahīhil-anfusu wa taladzdzul-a'yun"[8] yang merupakan ungkapan dari luasnya alam semesta, dan isyarat pada luasnya apa yang terlintas maupun tidak terlintas dalam pikiran manusia.[9]
Al-Qur'an Al-Karim, selain menjelaskan karakteristik positif surga, juga meniadakan karakteristik negatifnya; penekanan pada sifat-sifat positif seperti keabadian, keamanan (āminīn),[10] kekekalan (na'īmun muqīm),[11] kesinambungan (ghairu mamnūn),[12] dan kemudahan akses (lā maqthū'atin wa lā mamnū'ah);[13] serta peniadaan sifat-sifat negatif seperti kelelahan (nashab),[14] kepayahan (lughūb),[15] kesedihan (hazan),[16] perbuatan dosa (ta'tsīm),[17] perkataan sia-sia dan kosong (laghwu, lāghiyah),[18] tuduhan dusta dan mendengar perkataan dusta sekecil apa pun (kidzdzāb)[19] serta mabuk dan hilangnya akal (ghaul).[20]
Nikmat Jasmani dan Inderawi
Menurut Murtadha Muthahhari, dalam penggambaran surga di Al-Qur'an Al-Karim, nikmat-nikmat jasmani berkali-kali disebutkan, dan dalam janji-janji surgawi banyak dibicarakan tentang nikmat jasmani.[21] Berbagai nikmat surga disebutkan dalam berbagai surah Al-Qur'an seperti surah Ar-Rahman,[22] Al-Waqi'ah,[23] Al-Insan[24] dan dalam hadis-hadis.[25] Dikatakan bahwa kelezatan di alam akhirat dan surga tidak memiliki batasan dan mata, telinga, serta indera perasa manusia dapat menikmati kelezatan tanpa batas.[26]
Abdullah Javadi Amoli, mufasir Al-Qur'an, dalam laporan ringkasnya, merinci 15 nikmat jasmani dan inderawi surga yaitu: taman-taman, sungai-sungai, khamar dan para pelayan pemberi minum, minuman khusus, pemberi minum bagi orang-orang baik (abrar) dan orang-orang yang dekat dengan Allah (muqarrabin), bejana dan piala, pakaian dan perhiasan, dipan dan permadani, pasangan, pelayan, istana dan kastil, buah-buahan, daging burung, Telaga Kautsar, dan mata air Tasnim.[27] Sekelompok mufasir Muslim dengan bersandar pada Ayat 23 Surah Ar-Ra'd dan Ayat 8 Surah Ghafir, mengatakan bahwa pasangan yang beriman akan hidup bersama di surga; sebagaimana ayah, ibu, dan anak-anak mereka jika saleh akan masuk surga bersama mereka (di bawah ayat 56 Surah Yasin dan 70 Surah Az-Zukhruf).[28]
Menurut Murtadha Muthahhari, meskipun dalam Al-Qur'an Al-Karim nikmat jasmani secara jumlah lebih banyak disebutkan, namun dalam ayat-ayat Al-Qur'an dengan pernyataan tegas atau isyarat yang jelas, nikmat-nikmat maknawi digambarkan lebih tinggi dan tidak dapat dibandingkan dengan nikmat jasmani dan materi.[29] Beberapa nikmat jasmani dan inderawi surga adalah:
- Makanan dan Minuman: Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an Al-Karim, di surga terdapat segala jenis buah-buahan yang melimpah, senantiasa ada, dan berturut-turut (kulli fākihah, fākihah katsīrah, min kullis-tsamarāt, fawākiha mimmā yasytahūn, yatakhayyarūn, ukuluhā dā'im) serta mudah dipetik dari pohon-pohonnya.[30] Dalam Al-Qur'an Al-Karim, daging[31] dan daging burung (lahma thairin),[32] dari jenis apa pun yang diinginkan penduduk surga, disebutkan dua kali sebagai nikmat surga.[33] Mengenai minuman surga, disebutkan dalam Ayat 15 Surah Muhammad: sungai-sungai dari air, susu, khamar, dan madu, piala khamar (ka's) yang minumannya sangat putih dan lezat[34], dicampur dengan aroma kafur[35] atau dicampur dengan aroma jahe dari mata air bernama Salsabil[36] atau disertai dengan kesturi dan dicampur dengan Tasnim. Kata syarab[37] dan syarabun thahur (minuman suci)[38] juga merujuk pada minuman surga. Dalam Al-Qur'an Al-Karim, ditekankan tentang bersihnya khamar surga dari bahaya dan aib khamar dunia yang dikenal (mabuk, sakit kepala, mendorong pada dosa, merusak akal).[39]
- Pakaian dan Bejana: Pakaian dari sutra, sutra halus, dan brokat, gelang emas, perak, dan mutiara,[40] permadani sutra dan bersulam emas yang indah serta sandaran-sandaran mewah dan tinggi,[41] nampan emas, bejana perak, dan piala kristal[42] serta pelayan muda yang tampan (wildān, ghilmān)[43], merupakan beberapa nikmat surga lainnya.[44]
- Keberadaan Segala Sesuatu yang Memanjakan Mata: Dalam Ayat 71 Surah Az-Zukhruf, ditegaskan tentang keberadaan segala sesuatu yang memanjakan mata (mā taladzdzul-a'yun) dan terpenuhinya setiap keinginan (mā tasytahīhil-anfus) di surga. Beberapa mufasir menyimpulkan dari dua ungkapan ini bahwa hal-hal yang disebutkan dalam Al-Qur'an mengenai nikmat surga bukanlah seluruh nikmat yang ada, dan nikmat surga lebih tinggi dari imajinasi dan pengetahuan manusia di dunia.[45]
Nikmat Maknawi dan Ruhani
Abdullah Javadi Amoli dalam menggambarkan nikmat ruhani dan maknawi, menganggap nikmat pertama adalah ketenangan yang menyeluruh yang meliputi seluruh keberadaan penghuni surga.[46] Selain itu berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an, penghuni surga akan disambut dengan salam dan penghormatan dari Allah,[47] dan para malaikat memberikan salam kepada mereka,[48] memiliki teman-teman yang serasi dan tidak ada dendam di hati penghuni surga.[49]
Menurut Javadi Amoli, Maqam Ridwan adalah salah satu tingkatan tertinggi surga,[50] yang berdasarkan penelitian Murtadha Muthahhari, disebutkan dalam 13 ayat Al-Qur'an.[51] Nikmat maknawi dan ruhani surga yang terpenting adalah:
- Ridwan Allah, berdasarkan riwayat-riwayat Islam, adalah nikmat surga yang paling utama. Menurut hadis dari Imam Ali as, setelah penetapan penghuni surga di tempat mereka, dikatakan kepada mereka bahwa yang lebih tinggi dan lebih berharga daripada nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan kepada kalian adalah keridaan Allah terhadap kalian dan kecintaan-Nya kepada kalian. Imam Ali as setelah menyampaikan perkataan tersebut, membaca Ayat 72 Surah At-Taubah yang sebagiannya berbunyi: "wa ridhwānum-minallāhi akbar"; artinya keridaan Allah adalah lebih tinggi dari segala sesuatu.[52]
Hubungan Nikmat Surga dengan Budaya Arab
Abdolkarim Soroush, intelektual agama, dan Sayid Muhammad Ali Iyazi, pakar fikih Syiah, serta Mohammad Hadi Ma'rifat, peneliti Al-Qur'an dan mufasir Syiah, telah mengangkat diskusi ini bahwa nikmat-nikmat surga dalam Al-Qur'an disesuaikan dengan persepsi dan pemahaman audiens awal Al-Qur'an di Semenanjung Arab, dan nikmat yang sama bagi individu lain yang hidup di negeri lain dengan budaya dan nilai-nilai lain belum tentu memiliki daya tarik.[53] Meskipun demikian, Mohammad Hadi Ma'rifat, dalam kitab Syubahat wa Rudud Haula al-Qur'an al-Karim menentang pernyataan semacam ini dan meyakini bahwa penggambaran Al-Qur'an tentang surga dan neraka didasarkan pada standar umum manusia, bukan sekadar standar khusus orang Arab. Ma'rifat berpendapat bahwa sudut pandang semacam itu bersumber dari tadabur yang tidak tepat dan kurangnya ketelitian dalam bahasa Al-Qur'an.[54]
Catatan Kaki
- ↑ Surah Hud, ayat 108.
- ↑ Surah Ar-Ra'd, ayat 35; Surah Yasin, ayat 56; Surah Ar-Rahman, ayat 48 dan 64; Surah Al-Waqi'ah, ayat 30; Surah Al-Insan, ayat 14.
- ↑ Disebutkan 35 kali dan beberapa ungkapan lainnya.
- ↑ Surah Yasin, ayat 34; Surah Adz-Dzariyat, ayat 15; Surah Ar-Rahman, ayat 50 dan 66; Surah Al-Insan, ayat 6 dan 18; Surah Al-Muthaffifin, ayat 28.
- ↑ Surah Shad, ayat 51; Surah Az-Zukhruf, ayat 73; Surah Ad-Dukhan, ayat 55.
- ↑ Surah Al-Insan, ayat 13; lihat juga tafsir-tafsir, termasuk al-Thabari, Tafsir al-Thabari; al-Thabrasi, Majma' al-Bayan; Fakhr Razi, Tafsir al-Kabir; al-Qurthubi, Al-Jami' li-Ahkam al-Qur'an, di bawah ayat ini.
- ↑ Javadi Amoli, Tafsir Mozo'i-ye Qur'an-e Karim (Tafsir Tematik Al-Qur'an Al-Karim), 1394 HS, jld. 5, hlm. 342.
- ↑ Tabataba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 18, hlm. 122; Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan), 1374 HS, jld. 21, hlm. 115.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan), 1374 HS, jld. 21, hlm. 115.
- ↑ Surah Al-Hijr, ayat 46.
- ↑ Surah At-Taubah, ayat 21.
- ↑ Surah Fussyilat, ayat 8.
- ↑ Surah Al-Waqi'ah, ayat 33.
- ↑ Surah Al-Hijr, ayat 48; Surah Fathir, ayat 35.
- ↑ Surah Fathir, ayat 35.
- ↑ Surah Fathir, ayat 34.
- ↑ Surah Ath-Thur, ayat 23.
- ↑ Surah Al-Waqi'ah, ayat 25; Surah Al-Ghasyiyah, ayat 11.
- ↑ Surah An-Naba', ayat 35.
- ↑ Surah Ash-Shaffat, ayat 47.
- ↑ Muthahhari, Asynayi ba Qur'an (Mengenal Al-Qur'an), 1389 HS, jld. 11, hlm. 45.
- ↑ Surah Ar-Rahman, ayat 46 dan 76.
- ↑ Surah Al-Waqi'ah, ayat 10 dan 37.
- ↑ Surah Al-Insan, ayat 5, 6, 12, 22.
- ↑ Lihat: Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 8, "Bab al-Jannah wa Na'imuha", hlm. 116-221.
- ↑ Muthahhari, Asynayi ba Qur'an (Mengenal Al-Qur'an), 1389 HS, jld. 11, hlm. 56.
- ↑ Javadi Amoli, Tafsir Mozo'i-ye Qur'an-e Karim (Tafsir Tematik Al-Qur'an Al-Karim), 1394 HS, jld. 5, hlm. 297-320.
- ↑ Lihat al-Thabari, Tafsir al-Thabari; al-Thabrasi, Majma' al-Bayan; Fakhr Razi, Tafsir al-Kabir; al-Qurthubi, Al-Jami' li-Ahkam al-Qur'an; Tabataba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, di bawah Ar-Ra'd: 23, dan Ghafir: 8.
- ↑ Muthahhari, Asynayi ba Qur'an (Mengenal Al-Qur'an), 1389 HS, jld. 11, hlm. 45.
- ↑ Al-Insan: 14
- ↑ Lihat Ath-Thur: 22.
- ↑ Lihat Al-Waqi'ah: 21.
- ↑ Lihat al-Thabrasi, Tafsir Majma' al-Bayan, di bawah Al-Waqi'ah: 21.
- ↑ Surah Ash-Shaffat, ayat 45-46; Surah Al-Waqi'ah, ayat 18.
- ↑ Surah Al-Insan, ayat 5.
- ↑ Surah Al-Insan, ayat 18.
- ↑ Surah Shad, ayat 51.
- ↑ Surah Al-Insan, ayat 21.
- ↑ Haddad-Adel, Danisynamah-ye Jahan-e Eslam (Ensiklopedi Dunia Islam), 1386 HS, jld. 11, hlm. 6, di bawah entri Jannah.
- ↑ Surah Al-Kahf, ayat 31; Surah Al-Hajj, ayat 23; Surah Fathir, ayat 33; Surah Ad-Dukhan, ayat 53; Surah Al-Insan, ayat 12 dan 21.
- ↑ Surah Yasin, ayat 56; Surah Ath-Thur, ayat 20; Surah Ar-Rahman, ayat 54 dan 76; Surah Al-Waqi'ah, ayat 15; Surah Al-Insan, ayat 13, Surah Al-Muthaffifin, ayat 23 dan 35; Surah Al-Ghasyiyah, ayat 13 dan 16.
- ↑ Surah Az-Zukhruf, ayat 71; Surah Al-Waqi'ah, ayat 18 dan 34; Surah Al-Insan, ayat 15 dan 16; Surah Al-Ghasyiyah, ayat 14.
- ↑ Surah Ath-Thur, ayat 24; Surah Al-Waqi'ah, ayat 17 dan 18; Surah Al-Insan, ayat 19.
- ↑ Haddad-Adel, Danisynamah-ye Jahan-e Eslam (Ensiklopedi Dunia Islam), 1386 HS, jld. 11, hlm. 6, di bawah entri Jannah.
- ↑ Tabataba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, di bawah ayat-ayat ini.
- ↑ Javadi Amoli, Tafsir Mozo'i-ye Qur'an-e Karim (Tafsir Tematik Al-Qur'an Al-Karim), 1394 HS, jld. 5, hlm. 323.
- ↑ Javadi Amoli, Tafsir Mozo'i-ye Qur'an-e Karim (Tafsir Tematik Al-Qur'an Al-Karim), 1394 HS, jld. 5, hlm. 324.
- ↑ Javadi Amoli, Tafsir Mozo'i-ye Qur'an-e Karim (Tafsir Tematik Al-Qur'an Al-Karim), 1394 HS, jld. 5, hlm. 325.
- ↑ Javadi Amoli, Tafsir Mozo'i-ye Qur'an-e Karim (Tafsir Tematik Al-Qur'an Al-Karim), 1394 HS, jld. 5, hlm. 335.
- ↑ Javadi Amoli, Tafsir Mozo'i-ye Qur'an-e Karim (Tafsir Tematik Al-Qur'an Al-Karim), 1394 HS, jld. 5, hlm. 337.
- ↑ Muthahhari, Falsafah-ye Tarikh (Filsafat Sejarah), 1390 HS, jld. 4, hlm. 130.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 8, hlm. 140-141; Isfahani, Sifat al-Jannah, 1406 H, jld. 2, hlm. 136-137.
- ↑ Soroush, "Dzati wa Arzi dar Din", hlm. 11; Iyazi, Qur'an wa Farhang-e Zamaneh (Al-Qur'an dan Budaya Zaman), 1380 HS, hlm. 16-20.
- ↑ Ma'rifat, Syubahat wa Rudud, 1423 H, hlm. 195-196.
Daftar Pustaka
- Iyazi, Sayid Muhammad Ali. Qur'an wa Farhang-e Zamaneh (Al-Qur'an dan Budaya Zaman). Rasht, Penerbit Kitab Mubin, 1380 HS.
- Javadi Amoli, Abdullah. Tafsir Mozo'i-ye Qur'an-e Karim - Jild 5: Ma'ad dar Qur'an (Tafsir Tematik Al-Qur'an Al-Karim - Jilid 5: Eskatologi dalam Al-Qur'an). Qom, Isra, 1394 HS.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
- Ma'rifat, Mohammad Hadi. Syubahat wa Rudud Haula al-Qur'an al-Karim. Qom, Muassasah al-Tamhid, 1423 H.
- Makarem Shirazi, Nashir dkk. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
- Musawi Jaza'iri, Sayid Hashem. Abwab al-Jannah fi al-Dunya wa al-Akhirah. Qom, Naji al-Jaza'iri, 1395 HS.
- Muthahhari, Murtadha. Asynayi ba Qur'an (Jild 11) (Mengenal Al-Qur'an Jilid 11). Tehran, Sadra, 1389 HS.
- Muthahhari, Murtadha. Falsafah-ye Tarikh (Jild 4) (Filsafat Sejarah Jilid 4). Tehran, Sadra, 1390 HS.
- Soroush, Abdolkarim. "Dzati wa Arzi dar Din". Majalah Keyan, nomor 42, tahun 1377 HS.
- Tabataba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Isma'iliyan, 1393 H.
- Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
- Isfahani, Abu Nu'aim. Sifat al-Jannah. Riset: Ali Ridha Abdullah. Damsyik, Dar al-Ma'mun lil-Turats, 1415 H.
- Ikhwan al-Shafa. Rasail Ikhwan al-Shafa wa Khullan al-Wafa. Empat jilid, Beirut, Al-Dar al-Islamiyah, cetakan pertama, 1412 H.
- Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut, tanpa nama, 1421 H - 2000 M.