Konsep:Khotbah al-Wasilah
Khotbah al-Wasilah adalah salah satu Khotbah yang dinisbatkan kepada Imam Ali as, berisi nasihat-nasihat moral dan tema-tema seperti kedudukan dan keutamaan Imam Ali as, penyimpangan dalam suksesi Nabi saw, kedudukan wasilah, serta peristiwa Ghadir. Dikatakan bahwa Khotbah ini disampaikan tujuh hari setelah wafat Nabi saw di Madinah dan dinamakan Khotbah Wasilah karena membahas tentang "wasilah" sebuah kedudukan khusus Nabi saw di hari kiamat.
Teks lengkap Khotbah Wasilah diriwayatkan dalam bab Rawdhah dari kitab al-Kafi, dan bagian-bagiannya juga disebutkan dalam sumber-sumber hadis lain seperti al-Amali karya Syekh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, dan Tuhaf al-Uqul.
Khotbah ini tidak disebutkan dalam Nahj al-Balaghah, dan sanadnya dianggap lemah. Namun, Muhammad Baqir al-Majlisi berdasarkan kemasyhuran dan kandungan Khotbah ini menganggapnya sahih dan tidak memerlukan sanad.
Asal Penamaan
Khotbah ini dinamakan Wasilah karena Imam Ali as menjelaskan tentang "wasilah", kedudukannya, dan hakikatnya.[1] Dikatakan bahwa wasilah adalah kedudukan khusus Nabi Muhammad saw di hari kebangkitan.[2] Dalam Khotbah ini disebutkan bahwa Allah telah menjanjikan kedudukan wasilah kepada Nabi saw—sebuah kedudukan yang merupakan tangga menuju surga, tingkatan tertinggi kedekatan dengan Allah, puncak segala harapan, dan maqam yang memiliki seribu tingkatan. Rasulullah saw berada di tingkatan cahaya di atas seluruh surga, sedangkan Imam Ali as berada di tingkatan di bawah beliau.[3]
Waktu dan Tempat Khotbah
Imam Ali as menyampaikan Khotbah Wasilah di Madinah tujuh hari setelah wafat Nabi saw.[4] Dari Imam Baqir as diriwayatkan bahwa Khotbah ini disampaikan setelah Imam Ali as menyelesaikan pengumpulan Al-Qur'an.[5]
Isi Khotbah
Khotbah Wasilah dimulai dengan pujian dan penggambaran Allah serta sifat-sifat-Nya.[6] Di dalamnya terkandung nasihat-nasihat moral, hakikat dan jalan kebahagiaan, pemanfaatan berbagai karunia Ilahi, kedudukan dan posisi Imam Ali as, penyimpangan dalam suksesi Nabi saw,[7] kedudukan wasilah,[8] dan peristiwa Ghadir.[9]
Dalam salah satu bagian Khotbah, Imam Ali as menyebutkan banyaknya keutamaan dan kemuliaannya, serta memperkenalkan dirinya sebagai dzikir, jalan, iman, Al-Qur'an, agama,[10] bahtera Nuh, kabar besar, dan orang yang paling jujur.[11] Di bagian lain, Imam Ali as—dengan merujuk pada hadis "Sesungguhnya Ali dariku seperti Harun dari Musa, kecuali tidak ada nabi setelahku" dan peristiwa Ghadir—membuktikan hak suksesinya, menyinggung perampasan khilafah oleh khalifah pertama dan kedua, serta mencela keduanya.[12]
Sumber Khotbah
Khotbah Wasilah diriwayatkan secara lengkap dalam bab Rawdhah kitab al-Kafi karya al-Kulaini, seorang ulama Syiah pada abad ke-3 dan ke-4 Hijriah.[13] Selain itu, bagian-bagiannya juga terdapat dalam sumber-sumber seperti al-Amali karya Syekh Shaduq,[14] Man La Yahdhuruhu al-Faqih karya Syekh Shaduq (ulama Syiah abad ke-4 H),[15] dan Tuhaf al-Uqul karya Ibnu Syu’bah al-Harrani, seorang fuqaha Syiah abad ke-4 H.[16] Khotbah ini tidak terdapat dalam Nahj al-Balaghah,[17] tetapi disebutkan dalam kitab Tamam Nahj al-Balaghah.[18]
Sanad dan Keabsahan
Khotbah Wasilah diriwayatkan oleh Jabir bin Yazid al-Ju’fi dari Imam Baqir as yang meriwayatkannya dari Imam Ali as.[19] Jabir termasuk sahabat khusus Imam Baqir as[20] dan sahabat Imam Shadiq as.[21] Namun, para ulama ilmu rijal berbeda pendapat mengenai ketsiqahannya;[22] Ahmad bin Ali al-Najasyi (w. 450 H) menyebutnya "fi nafsihi mukhtalit" (salah satu istilah yang menunjukkan kelemahan perawi) dan menganggap orang-orang yang meriwayatkan darinya—seperti Amr bin Syamir yang meriwayatkan Khotbah ini—sebagai perawi lemah.[23][24] Sementara itu, Ibnu al-Ghadha’iri (w. sebelum 450 H) menganggap Jabir sebagai tsiqah, tetapi menilai semua perawi yang meriwayatkan darinya sebagai lemah.[25] Allamah Hilli (w. 726 H) tidak memilih salah satu pendapat di atas.[26]
Allamah Majlisi, seorang faqih dan muhaddits Syiah abad ke-12 Hijriah, menganggap sanad Khotbah Wasilah sebagai lemah, tetapi—dengan mempertimbangkan kekuatan dan kebenaran isi Khotbah serta kemasyhurannya—menilainya sebagai sahih dan tidak memerlukan sanad.[27]
Teks dan Terjemahan Khotbah Wasilah
Catatan Kaki
- ↑ Mazandarani, Syarh al-Kafi, 1382 H, jil. 11, hlm. 202.
- ↑ Kulaini, al-Rawdhah min al-Kafi, terjemahan Sayid Hasyim Rasuli Muhlati, 1364 S, jil. 1, hlm. 25.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 8, hlm. 24–25.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 8, hlm. 18.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 8, hlm. 18.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 8, hlm. 18.
- ↑ Husaini Tehrani, Imam-Syenasi, 1426 H, jil. 10, hlm. 145–147.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 8, hlm. 24–25.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 8, hlm. 27.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 8, hlm. 27–28.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 8, hlm. 30.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 8, hlm. 27–30.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 8, hlm. 18–30.
- ↑ Syekh Shaduq, al-Amali, 1376 H, hlm. 320–322.
- ↑ Syekh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jil. 4, hlm. 406.
- ↑ Ibnu Syu’bah al-Harrani, Tuhaf al-Uqul, 1404 H, hlm. 93–100.
- ↑ Makarim Syirazi, Payam-e Imam Amir al-Mu'minin as, 1386 H, jil. 12, hlm. 219, 233, 229, dan 319.
- ↑ Mousavi, Tamam Nahj al-Balaghah, 1376 H, hlm. 147, Khotbah 12.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 8, hlm. 18; Syekh Shaduq, al-Amali, 1376 H, hlm. 320.
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib, 1379 H, jil. 4, hlm. 211.
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib, 1379 H, jil. 4, hlm. 281.
- ↑ Allamah Hilli, Rijal al-Allamah al-Hilli, 1411 H, hlm. 35.
- ↑ Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jil. 8, hlm. 18; Syekh Shaduq, al-Amali, 1376 H, hlm. 320.
- ↑ Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 H, hlm. 128.
- ↑ Ibnu al-Ghadha’iri, al-Rijal, 1364 H, hlm. 110.
- ↑ Allamah Hilli, Rijal al-Allamah al-Hilli, 1411 H, hlm. 35.
- ↑ Majlisi, Mir’at al-Uqul, 1404 H, jil. 25, hlm. 25.
Daftar Pustaka
- Ibn Syabah Harrani, Hasan bin 'Ali, Tuhf al-'Uqul, tahqiq wa tashihh 'Ali Akbar Gaffari, Qum, Jama'ah Mudarrisin, cetakan kedua, 1404-1363 H.
- Ibn Syahr Asyub Mazandarani, Muhammad bin 'Ali, Manaqib Al Abi Thalib (as), Qum, 'Allamah, cetakan pertama, 1379 H.
- Ibn Ghadha'iri, Ahmad bin Husain, al-Rijal, tahqiq wa tashihh Muhammad Ridha Husaini, Qum, Dar al-Hadits, cetakan pertama, 1364 SH.
- Husaini Tehran, Sayid Muhammad Husain, Imam Syanas, Masyhad, 'Allamah Thabathabai, cetakan ketiga, 1426 SH.
- Syekh Shaduq, Muhammad bin 'Ali, al-Amali, Tehran, Kitabchi, cetakan keenam, 1376 SH.
- Syekh Shaduq, Muhammad bin 'Ali, Man la Yadzuruh al-Faqih, tahqiq wa tashihh 'Ali Akbar Gaffari, Qum, Daftar Intisyarat Islam, cetakan kedua, 1413 H.
- Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Rijal al-'Allamah al-Hilli, tahqiq wa tashihh Muhammad Shadiq Bahru al-'Ulum, Najaf, Dar al-Dzakhir, cetakan kedua, 1411 H.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, ar-Rudhah min al-Kafi, terjemahan Sayyid Hashim Rasuli Mahallati, Tehran, Intisyarat 'Ilmiyyah Islamiyyah, cetakan pertama, 1364 SH.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, al-Kafi, Tehran, al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
- Makarim Syirazi, Nashir, Payam Imam Amir al-Mu'minin (as), Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1386 SH.
- Musawi, Sayid Shadiq, Tamam Nahj al-Balaghah, Masyhad, Mu'assasah Imam Shabih az-Zaman (as), 1376 SH.
- Najasyi, Ahmad bin 'Ali, Rijal Najasyi, Qum, Daftar Nashr Islam, cetakan keenam, 1365 SH.