Lompat ke isi

Konsep:Kargil

Dari wikishia
Kargil
NegaraIndia
ProvinsiLadakh
Luas wilayah14.036 m²
Jumlah penduduk120.000
Nama lokalPurik, Purikistan


KARGIL adalah salah satu kota berpenduduk Syiah di India di wilayah Kashmir, dan 90 persen penduduk distrik ini adalah kaum Syiah. Islam dan Syiah masuk, menetap, dan berkembang di kota ini melalui para ulama Syiah seperti Mir Syamsuddin Iraqi, Sayyid Mir Hasyim, Syekh Ali Najafi Syabani, dan Syekh Jawad Nashiruddin al-Islam. Kargil disebut sebagai "Iran Kecil" karena kecintaan penduduknya terhadap Revolusi Islam Iran. Di kota ini terdapat tempat-tempat bersejarah dan makam para mubalig Syiah seperti makam Sayyid Mir Hasyim. Para ulama Syiah beralih ke kerja-kerja organisasional dengan mengikuti Revolusi Islam Iran. Lembaga-lembaga keagamaan seperti Imam Khomeini Memorial Trust dan Jam'iyah al-Ulama Kargil aktif di bidang budaya dan pendidikan.

Geografi

Kargil adalah salah satu distrik di Ladakh di wilayah Kashmir, dan di kota Kargil mayoritas penduduknya beragama Muslim mazhab Syiah. Luas wilayah Kargil kurang lebih 14.036 m².[1] Qadhi Nurullah Syustari menyebut Kargil dan Baltistan sebagai "Tibet Kecil" (Tibet Kecil Islami) sebagai lawan dari "Tibet Besar" (Tibet Besar Buddhis).[2] Secara administratif, Kargil dibagi menjadi tujuh wilayah.[3] Berdasarkan pernyataan para peneliti, Kargil adalah daerah beriklim dingin dan cuaca di wilayah ini cenderung kering.[4]

Masuknya Syiah

Berdasarkan sumber-sumber sejarah, Islam dan Tasyayyu' sampai ke wilayah ini pada akhir abad ke-7 (Hijriah) melalui Mir Syamsuddin Iraqi.[5] Menurut sumber-sumber lokal, dengan dakwah Mir Syamsuddin Iraqi, banyak penganut Hindu dan Raja-raja (penguasa lokal) masuk Islam, dan Mir Syamsuddin Iraqi membangun sebuah Masjid di wilayah ini.[6]

Dikatakan bahwa setelah Sayyid Mir Syamsuddin Iraqi, Sayyid Husain Shah datang ke wilayah ini untuk berdakwah dan melakukan banyak upaya demi menyebarkan agama. Ia wafat di wilayah ini dan makamnya berada di daerah Buqma Karbu, di mana orang-orang datang untuk menziarahi makamnya.[7]

Berdasarkan sumber-sierah, pernikahan putri penguasa Skardu, Baltistan, dengan penguasa Kargil menyebabkan meluasnya Syiah di wilayah ini.[8] Dikatakan bahwa penguasa Kargil melamar putri penguasa Skardu Baltistan, dan penguasa tersebut memberikan syarat agar penguasa Kargil masuk Islam jika ingin menikahi putrinya. Penguasa Kargil menerima syarat tersebut dan menjadi Muslim, dan dengan masuk Islamnya sang penguasa, banyak penduduk yang juga masuk Islam.[9] Dikatakan bahwa penguasa Skardu mengirim dua ulama Syiah bersama putrinya untuk menyebarkan agama Islam ke Kargil.[10]

Kacho Sikandar mengatakan bahwa ketika revolusi keagamaan dimulai di Kargil, budaya Islam memengaruhi budaya di sana, dan budaya lokal kehilangan posisinya, sementara budaya Islam justru meluas dan berkembang. Di berbagai daerah dan lingkungan dibangun masjid-masjid dan husainiyah-husainiyah, dan masyarakat beralih ke acara-acara ibadah dan keagamaan termasuk Salat, Puasa, Haji, dan ziarah ke Atabat Aliyat serta tempat-tempat suci yang terletak di Irak dan Iran.[11]

Dikatakan bahwa Sayyid Mir Hasyim adalah salah satu mubalig Syiah yang dibawa dari Kashmir untuk mendidik Muhammad Sultan, putra penguasa wilayah tersebut. Ia berupaya untuk mengembangkan Syiah di wilayah ini. Sayyid Mir Hasyim wafat di Kargil dan makamnya berada di Karbu, di mana orang-orang datang menziarahinya.[12]

Berdasarkan pernyataan para sejarawan, pada berbagai periode, banyak mubalig seperti Muhammad Yusuf, Syekh Jawad Nashiruddin al-Islam, dan Syekh Ali Syabani telah berupaya untuk mengembangkan Syiah di wilayah ini.[13]

Kedudukan Kargil

90 persen penduduk Kargil adalah kaum Syiah.[14] Wilayah ini terletak di antara India, China, dan Pakistan, dan dianggap sebagai daerah yang strategis.[15]

Berdasarkan sumber-sumber sejarah, Kargil dengan pengaruh dari pemikiran Imam Khomeini sebagai pemimpin kaum Syiah dunia, mulai mengorganisir aktivitas sosial dan politik mereka serta menciptakan transformasi dalam struktur ekonomi dan sosial di sekitarnya. Mereka berusaha meningkatkan taraf kehidupan masyarakat Syiah dengan meningkatkan tingkat pendidikan dan memperbaiki kondisi ekonomi.[16] Banyak ulama Kargil hadir di Hauzah Ilmiah Najaf dan Qom.[17] Berdasarkan pernyataan Kacho Sikandar, kepemimpinan urusan agama berada di tangan para marja dan mujtahid di Iran dan Irak. Pemikiran dan ide-ide Imam Khomeini telah menyebabkan meluasnya iman dan keyakinan masyarakat terhadap Islam serta persatuan di antara mereka.[18]

Berdasarkan pernyataan Kanwari, para ulama dan mujtahid dari Lucknow memiliki kedudukan khusus di tengah masyarakat wilayah ini. Buku-buku dan tulisan-tulisan mereka yang bertemakan filosofi syahadah, Tragedi Karbala, sirah para nabi dan Ahlulbait as, dan sebagainya, dipelajari oleh kaum Syiah dengan penuh antusias.[19] Berdasarkan sumber-sumber lokal, di Distrik Kargil terdapat sebuah Hauzah Ilmiah di mana anak-anak diajarkan pengetahuan agama. Biaya hauzah ini ditanggung oleh kaum Syiah, dan ulama lokal yang mengelola hauzah tersebut mayoritas adalah alumni hauzah ilmiah Najaf dan Qom.[20]

Peninggalan Sejarah dan Pusat Budaya serta Ilmiah

Berdasarkan sumber sejarah, Masjid Kehri La Khatun (nama putri penguasa), dibangun oleh Kehri La Khatun di wilayah Karchah.[21] Masjid ini tetap bertahan pada masa serangan kaum Dogra (penguasa Hindu).[22] Beberapa organisasi dan pusat keagamaan Kargil disebutkan di bawah ini:

  • Anjuman Ashabul Safina: Didirikan oleh para alumni Hauzah Ilmiah Najaf. Melalui perkumpulan ini, diadakan majelis-majelis Empat Belas Manusia Suci (as).[23]
  • Yayasan Medis Sajjadiah (Sajjadiah Medical Trust): Yang didirikan oleh para pegawai pemerintah.[24]
  • Anjuman Muntazhirin Imam Zaman (af): Didirikan untuk menyebarkan berita dunia Islam dan berita Republik Islam Iran. Ketua lembaga ini adalah Mohammad Husain Zakiri.[25]
  • Jam'iyah al-Ulama Isna Asyariyah Kargil India: Lembaga ini aktif di bidang kesehatan, budaya, pendidikan, ilmu modern, dan kebudayaan.[26]
  • Beberapa tujuan yayasan ini adalah:
  • Meluaskan pendidikan dan budaya agama, menciptakan persatuan di antara kaum Muslimin, memberantas kemiskinan dan pengangguran, membantu fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan, membangun sekolah-sekolah agama dan modern bagi kaum Syiah.[28]
  • Berupaya untuk menghidupkan pemikiran murni Islam Muhammadi dan komitmen terhadap sistem Wilayatul Faqih.
  • Berupaya untuk menghidupkan pemikiran-pemikiran Imam dan Revolusi Islam.[29]
  • Beberapa aktivitas yayasan ini:
  • Pendirian asoisasi ilmiah dan sekolah modern Syahid Murtadha Muthahhari.
  • Pembentukan Basij Imam, Zainabiyah, dan Ruhani.
  • Pendirian pusat kesehatan – pengobatan Baqiriyah.
  • Pendirian hauzah ilmiah dengan nama Jamiah Imam Khomeini.
  • Pendirian Jamiah al-Zahra (as) untuk kaum wanita.
  • Peluncuran jaringan berita Voice of Ladakh (Suara Ladakh).[30]

Kargil dan Revolusi Islam Iran

Berdasarkan sumber-sumber lokal, setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, perhatian penduduk wilayah ini beralih ke Iran. Setelah wafatnya Sayyid Muhsin al-Hakim, masyarakat menjadi muqallid Imam Khomeini.[31] Berdasarkan pernyataan para peneliti, penduduk wilayah ini sangat mencintai Revolusi Islam dan mereka menamai wilayah ini sebagai Iran Kecil.[32]

Berdasarkan laporan wartawan, masyarakat menunjukkan kecintaan mereka pada revolusi Iran dengan memasang foto Imam dan Pemimpin Revolusi di toko-toko dan dinding-dinding serta mengibarkan bendera Iran. Ketika wartawan asing, khususnya Amerika, memasuki kota ini, mereka sangat terkejut melihat foto-foto dan bendera-bendera tersebut dan tidak percaya bahwa revolusi Iran telah sampai ke titik paling utara India.[33]

Dikatakan bahwa penduduk kota ini merayakan kemenangan Revolusi Islam Iran di kota ini setiap tahun.[34] Penduduk kota ini mengadakan demonstrasi anti Amerika Serikat dan Israel serta memberikan dukungan kepada rakyat Palestina yang tak berdaya pada Jumat terakhir bulan Ramadhan atas perintah Imam Khomeini. Karena alasan itulah penduduk Kashmir juga menyebut kota ini sebagai Baitul Imam (Rumah Imam).[35]

Perwakilan BBC dalam sebuah laporan menyebutkan bahwa di Kargil, di pegunungan ini kita harus berjalan kaki sepuluh hingga lima belas kilometer untuk sampai ke rumah-rumah. Rumah-rumah tersebut bahkan belum dialiri listrik. Saya tidak melihat satu pun rumah di pegunungan yang kosong dari foto Imam Khomeini dan Pemimpin Republik Islam![36]

Perwakilan BBC mengatakan bahwa sangat mengherankan bagi saya bagaimana mereka di pegunungan ini termasuk para pendukung dan pengikut Khomeini?! Padahal air dan listrik sangat sulit menjangkau tempat tersebut.[37]

Catatan Kaki

  1. Kacho, Qadim Ladakh, 1990 M, hlm. 566.
  2. Syustari, Majalis al-Mu'minin, 1377 HS, jld. 1, hlm. 120.
  3. Hasnain, Tabyin-e Monasebat-e Syi'an va Budayiyan, 1396 HS, hlm. 14.
  4. Hasnain, Tabyin-e Monasebat-e Syi'an va Budayiyan, 1396 HS, hlm. 13.
  5. Kashmiri, Tuhfah al-Ahbab, 1980 M, hlm. 60-61.
  6. Hamadani, Tarikh-e Syi'an-e Kashmir, 1380 HS, hlm. 20.
  7. Kacho, Qadim Ladakh, 1990 M, hlm. 566.
  8. Kanwari, Tadzkirah Purikistan, 2015 M, hlm. 32.
  9. Kacho, Qadim Ladakh, 2015 M, hlm. 564.
  10. Kanwari, Tadzkirah Purikistan, 2015 M, hlm. 33.
  11. Kacho, Qadim Ladakh, 2015 M, hlm. 565.
  12. Kanwari, Tadzkirah Purikistan, 2015 M, hlm. 35.
  13. Kanwari, Tadzkirah Purikistan, 2015 M, hlm. 36.
  14. Jafrian, Atlas Syiah, 1387 HS, hlm. 600.
  15. Kanwari, Tadzkirah Purikistan, 2015 M, hlm. 28.
  16. Ansari, Didar ba Syi'an-e Hend va Kashmir, hlm. 94.
  17. Jafrian, Atlas Syiah, 1387 HS, hlm. 600.
  18. Kacho, Qadim Ladakh, 2015 M, hlm. 566.
  19. Kanwari, Tadzkirah Pakistan, 2015 M, hlm. 56.
  20. Kacho, Qadim Ladakh, 2015 M, hlm. 569.
  21. Kanwari, Tadzkirah Purikistan, 2015 M, hlm. 31.
  22. Lakhnawi, Tarikh-e Jammu, 1991 M, hlm. 290.
  23. Kanwari, Tadzkirah Purikistan, 2015 M, hlm. 101.
  24. Kanwari, Tadzkirah Purikistan, 2015 M, hlm. 102.
  25. Kanwari, Tadzkirah Purikistan, 2015 M, hlm. 105.
  26. "Numayandeh-ye Wali dar Hendoustan", Hawzah News.
  27. "IKMT Kargil", Situs Imam Khomeini Memorial Trust.
  28. Kanwari, Tadzkirah Purikistan, 2015 M, hlm. 105.
  29. "IKMT Kargil", Situs Imam Khomeini Memorial Trust.
  30. "IKMT Kargil", Situs Imam Khomeini Memorial Trust.
  31. Mousavi, Gostaresh-e Islam dar Mantaqeh-ye Ladakh, 1398 HS, hlm. 40.
  32. Mousavi, Gostaresh-e Islam dar Mantaqeh-ye Ladakh, 1398 HS, hlm. 40.
  33. "IKMT Kargil", Situs Imam Khomeini Memorial Trust.
  34. Makhdoumi, Man Modir-e Jaleseh-am, hlm. 22.
  35. Makhdoumi, Man Modir-e Jaleseh-am, hlm. 22.
  36. Makhdoumi, Man Modir-e Jaleseh-am, 1391 HS, hlm. 22.
  37. Makhdoumi, Man Modir-e Jaleseh-am, 1391 HS, hlm. 23.

Daftar Pustaka

  • Ansari, Iftikhar Husain. Didar ba Syi'an-e Hend va Kashmir (Bertemu dengan Kaum Syiah India dan Kashmir), Laporan perjalanan delegasi yang dikirim oleh Ayatullah al-Uzhma Sistani, tanpa tahun.
  • Hamadani, Safdar. Tarikh-e Syi'an-e Kashmir (Sejarah Kaum Syiah Kashmir). Srinagar Kashmir, Imam Husain Research and Publishing Center, 1380 HS.
  • Hasnain. Tabyin-e Monasebat-e Syi'an va Budayiyan-e Tibeti dar Ladakh (Penjelasan Hubungan Kaum Syiah dan Kaum Buddhis Tibet di Ladakh). Jamiah al-Mustafa al-Alamiyah, Kompleks Pendidikan Tinggi Imam Khomeini, Sekolah Sejarah dan Agama, 1396 HS.
  • Jafrian, Rasul. Atlas Syiah. Teheran, Penerbit Organisasi Geografi Angkatan Bersenjata, cetakan pertama, 1387 HS.
  • Kacho, Sikandar Khan. Qadim Ladakh, Tarikh va Tamaddon (Ladakh Kuno, Sejarah dan Peradaban). Leh Ladakh, Kacho Publishers, 1990 M.
  • Kanwari, Akhund Muhammad Yusuf. Tadzkirah Purikistan. Kargil, Akhund Publications, cetakan pertama, 2015 M.
  • Kashmiri, Muhammad Ali. Tuhfah al-Ahbab. Appand Sons Lahore, 1980 M.
  • Lakhnawi, Hishmatullah Khan. Tarikh-e Jammu. Mirpur Azad Kashmir, Verinag Publishers, 1991 M.
  • Makhdoumi, Rahim. Man Modir-e Jaleseh-am (Aku adalah Pemimpin Sidang). Teheran, Rasoul-e Aftab, cetakan pertama, 1391 HS.
  • Mousavi, Arncho Nisa. "Gostaresh-e Islam dar Mantaqeh-ye Ladakh (Hend)" (Perkembangan Islam di Wilayah Ladakh - India). Dofaslnamah Tarikh-name-ye Islam, Nomor 1, 1398 HS.
  • Syustari, Qadhi Nurullah. Majalis al-Mu'minin. Jld. 1. Teheran, Penerbit Islamiyyah, cetakan keempat, 1377 HS.
  • "IKMT Kargil". Situs Imam Khomeini Memorial Trust, tanggal kunjungan: 24 Khordad 1402 HS.