Lompat ke isi

Konsep:Dharih Imam Ridha as

Dari wikishia

Dharih Imam Ridha as adalah sebuah struktur berbentuk jalinan atau terali yang dipasang di atas makam Imam Ridha as. Para peziarah berusaha menyentuh dan menciumnya sebagai bentuk tabarruk (mencari berkah).

Sejarah pasti pemasangan dharih pertama di Kompleks Makam Imam Ridha as tidak diketahui. Namun, berdasarkan catatan yang ada, sejak era dinasti Shafawiyah hingga tahun 1404 HS, telah terdapat lima dharih yang dipasang di atas makam tersebut. Sebagian peneliti meyakini bahwa sebelum era Shafawiyah, sudah ada peti kayu yang menaungi makam Imam Ridha as.

Dharih Syah Tahmasab, yang diakui sebagai dharih tertua yang terdokumentasi, berasal dari zaman Shafawiyah dan tetap digunakan hingga tahun 1311 HS. Posisinya kemudian digantikan oleh Dharih Baja Syah Abbasi (dikenal juga sebagai Fath'ali Syahi), yang berfungsi hingga tahun 1338 HS. Selanjutnya, dharih murassa‘ Nadiri (dharih bertatah permata) yang awalnya dibuat oleh Nadir Syah Afshar untuk makamnya sendiri, diwakafkan untuk kompleks makam suci ini. Dharih ini menghiasi makam hingga tahun 1379 HS, sebelum akhirnya dipindahkan ke ruang bawah tanah (sardab) kompleks.

Kemudian, Dharih Syir dan Syekar, terbuat dari paduan emas dan perak, dipasang dari tahun 1338 hingga 1379 HS, dan kini disimpan di Museum Astan-e Quds-e Razawi. Dharih yang saat ini terpasang, yaitu Dharih Perak dan Emas, telah menghiasi makam sejak bulan Esfand 1379 HS. Dharih ini dirancang oleh seniman Mahmud Farshchiyan, dan memiliki 14 jendela berterali yang melambangkan 14 Maksum, serta dihiasi kaligrafi ayat-ayat Al-Qur'an. Ciri khas lainnya antara lain motif berbentuk delapan kelopak (melambangkan Imam kedelapan) dan lima kelopak (melambangkan Lima Manusia Suci), serta seni khatam yang rumit.

Para peziarah berusaha mendekati dharih Imam Ridha as.

Hakikat dan Kedudukan

Dharih Imam Ridha as adalah struktur terali dari kayu, logam, atau kombinasi keduanya, yang dipasang di atas makam beliau.[1] Para peziarah berupaya keras untuk dapat menyentuhnya.[2] Dalam keyakinan masyarakat awam, seorang peziarah yang tidak berhasil menyentuh dharih seringkali merasa bahwa ziarahnya kurang sempurna atau belum diterima.[3]

Dalam literatur tentang tata cara ziarah Imam Ridha as, beberapa adab terkait dharih disebutkan, di antaranya: berdiri menghadap dharih (sampai badan menyentuhnya),[4] menciumnya,[5] menggesekkan pipi kepadanya,[6] membaca doa,[7] ziarahnamah[8] dan membaca Al-Qur'an di dekatnya.[9]

Dharih ini biasanya dihiasi dengan lempengan emas dan perak, serta memuat kaligrafi ayat-ayat Al-Qur'an dan riwayat-riwayat.[10] Menurut beberapa sumber, dalam pembuatan dharih Imam Ridha as diterapkan perpaduan berbagai seni rupa, seperti miniatur, kaligrafi, ukir logam, ukir kayu, penyepuhan, dan khatam.[11]

Jendela-jendela berterali berbentuk mihrab dengan gaya lengkung khas Iran pada Dharih Simin wa Zarin.

Sejarah

Asal-usul pemasangan dharih di atas makam Imam Ridha as tidak dapat dipastikan.[12] Akan tetapi, yang umum diterima adalah bahwa tradisi pemasangan dharih dimulai pada masa Shafawiyah.[13] Sebelumnya, makam hanya ditutupi oleh sebuah peti kayu.[14]

Rujukan tertulis pertama tentang rencana pemasangan dharih di Kompleks Makam Imam Ridha as berasal dari tahun 915 H.[15] Dalam sebuah surat kepada Syaibak Khan Uzbek (pendiri Dinasti Syaibaniyah), Syah Isma‘il I Shafawi menyatakan niatnya untuk memasang dharih bertatahkan permata seberat tujuh puluh man (sebuah satuan berat) di atas makam Imam Ridha as.[16] Namun, tidak ada bukti bahwa dharih tersebut benar-benar terpasang.[17]

Fragmen kaligrafi emas dari Dharih Syah Tahmasab yang disimpan di Museum Astan-e Quds-e Razawi.

Sejak era Shafawiyah hingga zaman Republik Islam Iran, tercatat lima dharih yang telah menghiasi makam Imam Ridha as:[18] Dharih Syah Tahmasab, Dharih Baja Syah ‘Abbasi, Dharih Murassa‘ Nadiri, Dharih Shir u Shakar, dan Dharih Simin wa Zarin.[19]

Dharih Tertua (Syah Tahmasab)

Pemasangan dharih tertua di atas makam Imam Ridha as dikaitkan dengan Syah Tahmasab Awwal Shafawi (berkuasa: 930-984 H) dan karena itu dharih ini dinamakan Dharih Syah-Tahmasab. [20]

Dalam kitab Tarikh-e 'Alam-ara-ye 'Abbasi, saat menuturkan peristiwa serangan Uzbek ke Masyhad dan penjarahan Haram Imam Ridha as pada tahun 997 H, disebutkan tentang adanya dharih yang memiliki mahjar (jaringan atau pagar) [21] dari emas. [22] Di tempat lain disebutkan bahwa ketika Syah 'Abbas Awwal Shafawi pergi ke Masyhad setelah penjarahan harram oleh orang-orang Uzbek, tidak ada yang tersisa dari benda berharga harram kecuali mahjar emas. [23]

Dharih Syah-Tahmasab memiliki struktur kayu, [24] pintu bertatah permata, [25] serta hiasan dan kaligrafi dari emas. [26] Salah satu kaligrafi ini adalah kisi-kisi yang memuat Surah Hal Ata (Surah Al-Insan) dengan khat tsuluts. [27] Pada kaligrafi emas lainnya di atas pintu dharih, tarikh Hijriah pemasangan dharih tertulis sebagai berikut: "Pada masa pemerintahan hamba Pemimpin Negeri, Syah Tahmasab Shafawi, mahjar yang diberkati ini dipasang di tempat suci ini. Tahun 957 H." [28] Dalam kaligrafi lain, tahun pemasangan dharih ini ditulis sebagai 947 H. [29] Sebagian menduga bahwa perbedaan dua tarikh ini disebabkan oleh jarak antara waktu pembuatan dan pemasangan dharih; sebuah jarak yang tercipta akibat kekacauan situasi di Khurasan karena serangan orang-orang Uzbek. [30]

Dharih Baja Syah-'Abbasi, di Museum Astan-e Quds-e Razawi.

Disebutkan bahwa dharih kedua dan ketiga harram dipasang secara berlapis di atas dharih ini, [31] dan karena alasan inilah, dharih ini tetap berada di atas makam Imam Ridha as hingga bulan Dai 1311 HS, ketika kayu-kayunya yang telah lapuk akhirnya dibongkar. [32] Setelah dharih ini tidak digunakan lagi, hiasan dan kaligrafi emasnya dipindahkan ke Museum Astan-e Quds-e Razawi [33] dan pintunya yang bertatah permata ditempatkan di atas dinding barat bangunan utama (buq'ah) Imam Ridha as. [34]

Dharih Baja Syah-'Abbasi

Berdasarkan sumber-sumber yang ada, dharih kedua Haram Imam Ridha as adalah Dharih Syah-'Abbasi, yang dikenal sebagai Dharih Fath'ali Syahi. [35] Dharih ini terbuat dari baja dan tidak memiliki hiasan. [36] Dalam beberapa sumber dari era Shafawiyah, disebutkan bahwa dharih ini adalah peninggalan dari Syah 'Abbas Awwal Shafawi. [37]

Fath'ali Syah Qajar (berkuasa: 1212-1250 H), raja kedua Dinasti Qajar, pada tahun 1332 H, menghadiahkan sebuah pintu bertatah permata kepada Haram Imam Ridha as yang kemudian dipasang di bagian bawah kaki dharih ini. [38] Disebutkan bahwa peristiwa ini menyebabkan dharih ini secara keliru dianggap sebagai buatan era Fath'ali Syah. [39]

Perbaikan dan pemasangan kembali Dharih Murassa' Nadiri pada era Pahlavi Pertama (1310 HS).

Mengenai karakteristik dharih ini, disebutkan bahwa panjangnya sekitar lima meter, lebarnya tiga meter, dan tingginya dua meter; atapnya terbuat dari kayu berbentuk pelana dan dihiasi dengan lempengan emas, terdapat sebuah lingkaran (ṭawq) emas bertatah permata di tengahnya dan dua kubah (qubbah) bertatah permata di sisi-sisinya. [40] Terdapat laporan tentang penambahan beberapa hiasan pada era Qajar. [41] Juga disebutkan tentang pencurian hiasannya oleh salah seorang gubernur Khurasan dari era Qajar yang memberontak. [42] Dharih ini dipindahkan ke Museum Astan-e Quds-e Razawi pada tahun 1338 HS (pertengahan bulan Sya'ban 1379 H). [43]

Dharih Murassa' Nadiri (Bertatah Permata)

Disebutkan bahwa dharih ketiga Haram Imam Ridha as adalah dharih murassa' (bertatah permata) dari baja, yang dikenal sebagai Dharih Negin-Nishan (Bertanda Permata). [44]

Berdasarkan apa yang tertulis dalam kitab Zabur Al-e Dawud, sebuah karya dari era Afshariyah, dharih ini dibuat oleh Nadir Syah Afshar (berkuasa: 1148-1160 H), pendiri Dinasti Afshariyah, untuk makamnya sendiri, tetapi para penerusnya mewakafkannya untuk Haram Imam Ridha as. [45] Berdasarkan hal ini, dharih ini diwakafkan untuk Haram Imam Ridha pada masa pemerintahan 'Ali Syah Afshar, raja kedua Afshariyah, tetapi tidak dipasang. [46] Namun, setelah naik takhtanya Syah Soleyman II, raja Shafawiyah, pada 5 Safar 1163 H, [47] Dharih Nadiri diperkecil dan ditempatkan di dalam Dharih Syah-'Abbasi. [48]

Sebagian dari hiasan Dharih Murassa' Nadiri.

Pada kaligrafi di atas pintu dharih ini, pewakafan dan pemasangannya dikaitkan dengan Syahrukh, raja Afshariyah dan cucu Nadir Syah Afshar, serta Syah Sultan Husain Shafawi. [49] Karena Syahrukh naik takhta pada tahun 1161 H sedangkan tahun yang tertera dalam kaligrafi ini adalah 1160 H, disebutkan bahwa ketidaksesuaian ini merupakan indikasi bahwa kaligrafi ini ditambahkan pada dharih ini selama pemerintahannya. [50]

Berdasarkan laporan majalah Nameh-ye Astan-e Quds, dharih ini pada tahun 1339 HS memiliki sekitar 3260 qubbah (kubah kecil) pada persimpangan jaringan bajanya, dan pada setiap qubbah dipasang permata kecil rubi dan zamrud. [51] Berdasarkan laporan ini, seiring waktu, sejumlah permata ini telah hilang. [52]

Dharih Nadiri diperbaiki dan dipasang kembali pada tahun 1311 HS, setelah pembongkaran Dharih Syah-Tahmasab. [53] Disebutkan bahwa saat pemasangan dharih berikutnya (Shir u Shakar) pada tahun 1338 HS, karena status wakaf khusus Dharih Nadiri, dharih ini dibiarkan tetap di tempatnya. [54] Menurut laporan majalah Nameh-ye Astan-e Quds, saat pemasangan Dharih Shir u Shakar, karena dharih ini lebih besar dari Dharih Nadiri, dasar Dharih Nadiri ditempatkan di atas alas-alas kayu agar 'arizah (surat permohonan) dan nadzar (sumbangan nazar) dapat dengan mudah jatuh ke dasar dharih melalui celah antara dua dharih, dan proses ghubarrubi (penyapuan debu) dapat dilakukan dengan mudah. [55] [[Berkas:ضریح شیر و شکر۲.jpg|jmpl|Dharih Shir u Shakar, sebelum penggantian.]>

Saat penggantian Dharih Shir u Shakar dengan Dharih Simin wa Zarin pada tahun 1379 HS, Dharih Nadiri, karena statusnya sebagai wakaf, dipasang di ruang bawah tanah (sardab) bangunan utama (buq'ah) Imam Ridha as. [56]

Dharih Shir u Shakar

Dharih keempat yang dipasang di Haram Imam Ridha as adalah dharih emas-perak yang dikenal sebagai Dharih Shir u Shakar. Dharih ini dipasang di atas Dharih Murassa' Nadiri pada tahun 1338 HS. [57]

Pembangunannya diprakarsai pada era Muhammad Reza Pahlevi (tahun 1330 HS) oleh Sayid Jalal al-Din Tehrani, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Pemimpin (Nayeb al-Tawliyah) Haram. [58] Proses pembuatan dan pemasangan berlangsung dari Mordad 1336 HS hingga Dai 1338 HS, dipimpin oleh Sayid Fakhr al-Din Shadman dan Muhammad Mehran. [59] Detail lengkap proses ini didokumentasikan oleh Mehran dalam artikel "Dharih-e Jadid" di majalah "Nameh-ye Astan-e Quds". [60]

Sayid Abu al-Hasan Hafeẓiyan (kedua dari kanan) dan Muhammad Taqi Zu al-Fann (ketiga dari kanan) memeriksa Dharih Shir u Shakar pada tahap akhir pengerjaan.

Kontrak pembuatan ditandatangani pada tahun 1336 HS. Tim pelaksana terdiri dari Sayid Abu al-Hasan Hafeẓiyan (W. 1360 HS), seorang ulama yang bertindak sebagai pengawas dan pemilih teks kaligrafi, serta Muhammad Taqi Zu al-Fann (wafat 1357 HS), master pengukir logam (qalam-zani) dari Iṣfahan. [61] Bahan baku yang digunakan antara lain 33.848 mitsqal perak, 7.052 mitsqal emas, satu ton perunggu, dan tiga ton kayu kenari kering, yang sebagian merupakan wakaf dari Husain Malik, seorang dermawan Syiah. [62]

Dharih ini memiliki 14 bukaan yang melambangkan empat belas maksum. Seluruh permukaan lempeng perak pada dasar, pilar, dan area kaligrafi diukir dengan berbagai motif. [63] Surah Al-Insan (Hal Ata) diukir dengan khat Ahmad Najafi Zanjani pada pita kaligrafi perak di bagian atas jendela, sementara Surah Yasin diukir dengan khat Habib Allah Faza'ili pada cornice (ṭarrah) bagian bawah. [64]

Setelah 17 hari proses pemasangan, Dharih Shir u Shakar dibuka untuk peziarah pada pukul 17:30, tanggal 14 Sya'ban 1379 H, yang bertepatan dengan hari kelahiran Imam Zaman a.j. dan 22 Bahman 1338 HS. [65] Dharih ini kemudian diganti setelah 41 tahun (pada 1379 HS) dan kini disimpan di Museum Astan-e Quds-e Razawi. [66] [[Berkas:ضریح شیر و شکر.jpg|jmpl|Dharih Shir u Shakar yang dipamerkan di Museum Astan-e Quds-e Razawi.]]

Dharih Perak dan Emas

Dharih yang saat ini menghiasi Haram Imam Ridha as adalah Dharih Simin wa Zarin (Perak dan Emas). [67] Pembuatannya menjadi salah satu karya monumental Astan-e Quds-e Razawi di era Republik Islam Iran. [68]

Keputusan untuk mengganti dharih sebelumnya diambil setelah hampir 40 tahun penggunaan, karena menurunnya kekuatan struktur dan kerusakan yang ditimbulkan oleh ledakan bom di harram pada tahun 1373 HS. [69] Dari berbagai desain yang diajukan, terpilih karya Mahmud Farshchiyan, seniman miniatur Iran, yang dinilai paling memenuhi kriteria seni Islami-Irani. [70]

Detail Dharih Simin wa Zarin menampilkan kaligrafi nama Imam Hasan as dan Imam Husain as, serta motif bunga delapan kelopak.

Pengerjaan teknis melibatkan para maestro terkemuka: ukiran logam (qalam-zani) dan penyepuhan (zargari) diawasi Muṣṭafa Khodadadzadeh Eṣfahani; kaligrafi ditangani Sayid Muhammad Husaini Muwahhid; sementara karya kayu khatam (khatam-kari) interior dipercayakan kepada Muhammad Mahdi Keshti-Ara-ye Syirazi, Gholamredha Ruzi-ṭalab, dan 'Abbas Shafari. [71]

Proses penggantian dimulai pada 21 Dai 1379 HS [72] dan dharih baru diresmikan setelah 55 hari, tepat pada 16 Esfand 1379 HS (Hari Raya Idul Adha 1421 H). [73]

Spesifikasi Teknis dan Artistik

Dharih Perak dan Emas memiliki berat total 12 ton dengan lapisan emas dan perak yang disambung tanpa sekrup. [74] Dimensinya adalah panjang 4,78 meter, lebar 3,73 meter, dan tinggi 3,96 meter (termasuk alas/ pasang). [75] Sebuah fitur simbolisnya adalah 14 jendela yang merepresentasikan [14 maksum]]. [76]

Detail interior Dharih Simin wa Zarin yang menampilkan keahlian khatam-kari (kayu khatam) yang sangat halus.

Setiap sisi dharih menampilkan satu bunga matahari besar-yang melambangkan gelar Imam Ridha as, Syams al-Syumus (Matahari di Atas Segala Matahari)-dan dua bunga lebih kecil di sampingnya. [77] Pada kelopak bunga ini, terukir Asma'ul Husna menggunakan khat tsuluts di atas latar emas. [78]

Motif floral yang digunakan sarat makna: bunga berkelopak delapan merujuk pada Imam Ridha sebagai Imam ke-8, sementara bunga berkelopak lima melambangkan Kelima Orang Suci Ahlul Kisa. Dua surah, Al-Insan (Hal Ata) dan Yasin, membentuk kaligrafi yang mengitari dharih. [79] Bagian atas dharih juga memuat ukiran Asma'ul Husna, nama Nabi Muhammad saw, dan nama Para Imam Syiah. [80]

Interior dharih menampilkan karya khatam-kari (kayu khatam) yang sangat berharga. [81] Langit-langitnya dihiasi panel khatam besar yang menyatu, dengan sebuah Araqchini (kubah kecil) berbentuk syamsah (matahari) yang megah di bagian tengah. [82]

Catatan Kaki

  1. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 12.
  2. Mujtahidi Sistani, Syahifah Razawiyyah, 1389 HS, hlm. 46; «Ziarah yang Menyenangkan atau Berdesak-desakan Menuju Dharih; Itulah Permasalahannya!», Kantor Berita Mahasiswa.
  3. Mujtahidi Sistani, Syahifah Razaviyyah, 1389 HS, hlm. 46; «Ziarah yang Menyenangkan atau Berdesak-desakan Menuju Dharih; Itulah Permasalahannya!», Kantor Berita Mahasiswa.
  4. Mujtahidi Sistani, Syahifah Razawiyyah, 1389 HS, hlm. 477.
  5. Mujtahidi Sistani, Syahifah Razawiyyah, 1389 HS, hlm. 536.
  6. Mujtahidi Sistani, Syahifah Razawiyyah, 1389 HS, hlm. 552.
  7. Mujtahidi Sistani, Syahifah Razawiyyah, 1389 HS, hlm. 601.
  8. Mujtahidi Sistani, Syahifah Razaviyyah, 1389 HS, hlm. 645.
  9. Mujtahidi Sistani, Syahifah Razawiyyah, 1389 HS, hlm. 479.
  10. ‘Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 88.
  11. ‘Umrani, Islam wa Honarha-ye Ziba, 1390 HS, hlm. 157.
  12. ‘Aṭṭardi, Tarikh-e Astan-e Quds-e Razawi, 1371 HS, jil. 1, hlm. 74; ‘Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 88.
  13. ‘Aṭṭardi, Tarikh-e Astan-e Quds-e Razawi, 1371 HS, jil. 1, hlm. 74; ‘Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 88.
  14. ‘Aṭṭardi, Tarikh-e Astan-e Quds-e Razawi, 1371 HS, jil. 1, hlm. 74; Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 12.
  15. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 12.
  16. Nawai, Syah Isma‘il Shafawi, 1368 HS, hlm. 73.
  17. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 12.
  18. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 12; ‘Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 88; Darin Qit‘ah az Behesyt, 1397 HS, hlm. 90.
  19. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 13-24.
  20. Khojasteh Mabsheri, Tarikh-e Masyhad, 1353 HS, hlm. 115-116; Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 13.
  21. Eskandar Beg Monshi, Tarikh-e 'Alam Ara-ye 'Abbasi, 1314 H, jil. 2, hlm. 276.
  22. Eskandar Beg Monshi, Tarikh-e 'Alam Ara-ye 'Abbasi, 1314 H, jil. 2, hlm. 385.
  23. Eskandar Beg Monshi, Tarikh-e 'Alam Ara-ye 'Abbasi, 1314 H, jil. 2, hlm. 391.
  24. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 13.
  25. Dar In Qit'eh az Behesyt, 1397 HS, hlm. 90.
  26. 'Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 89.
  27. 'Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 89.
  28. Ehtesham Kaviyaniyan, Shams al-Shumus, 1354 HS, hlm. 39.
  29. Shamadi, Rahnama-ye Muzeh-ye Astan-e Quds-e Razawi, Masyhad, hlm. 19.
  30. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 13.
  31. Khojasteh Mabsheri, Tarikh-e Masyhad, 1353 HS, hlm. 116.
  32. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 13.
  33. Shamadi, Rahnama-ye Muzeh-ye Astan-e Quds-e Razawi, Masyhad, hlm. 19 dan 22; 'Aṭṭardi, Tarikh-e Astan-e Quds-e Razawi, 1371 HS, jil. 1, hlm. 77; Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 13.
  34. Dar In Qit'eh az Behesyt, 1397 HS, hlm. 90.
  35. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 13 dan 14.
  36. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 13.
  37. Mostowfi, Zobdat al-Tawarikh, 1375 HS, hlm. 102.
  38. E'temad al-Saltaneh, Maṭla' al-Shams, 1362 HS, jil. 2, hlm. 412.
  39. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 14.
  40. Khojasteh Mabsheri, Tarikh-e Masyhad, 1353 HS, hlm. 117; Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 14.
  41. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 14-15.
  42. Khojasteh Mabsheri, Tarikh-e Masyhad, 1353 HS, hlm. 118-119.
  43. Khojasteh Mabsheri, Tarikh-e Masyhad, 1353 HS, hlm. 120; Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 15.
  44. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 15.
  45. Sultan Hasheem Mirza, Zabur Al-e Dawud, 1379 HS, hlm. 114.
  46. Sultan Hasheem Mirza, Zabur Al-e Dawud, 1379 HS, hlm. 114.
  47. Sultan Hasheem Mirza, Zabur Al-e Dawud, 1379 HS, hlm. 111.
  48. Sultan Hasheem Mirza, Zabur Al-e Dawud, 1379 HS, hlm. 114.
  49. E'temad al-Saltaneh, Maṭla' al-Shams, 1362 HS, jil. 2, hlm. 413.
  50. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 17.
  51. Mehran, "Dharih-e Jadid", hlm. 13.
  52. Mehran, "Dharih-e Jadid", hlm. 14.
  53. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 17.
  54. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 17.
  55. Mehran, "Dharih-e Jadid", hlm. 14.
  56. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 18; Dar In Qit'eh az Behesyt, 1397 HS, hlm. 90.
  57. 'Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 91.
  58. Ehtesham Kaviyaniyan, Shams al-Shumus, 1354 HS, hlm. 42.
  59. Ehtesham Kaviyaniyan, Syams al-Syumus, 1354 HS, hlm. 42; 'Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 92.
  60. Mehran, "Dharih-e Jadid", hlm. 3-19.
  61. Mehran, "Dharih-e Jadid", hlm. 3-4; Shalehi et al., "Katibeh'ha-ye Dharih-e Shir u Shakar-e Emam Redha as az Manẓar-e Mabani-e E'taqadi-e Syi'ah", hlm. 17.
  62. Mehran, "Dharih-e Jadid", hlm. 8.
  63. Mehran, "Dharih-e Jadid", hlm. 9.
  64. Mehran, "Dharih-e Jadid", hlm. 9-10.
  65. Mehran, "Dharih-e Jadid", hlm. 5-6.
  66. 'Alamzadah, Haram-e Razavi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 92.
  67. 'Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 92.
  68. 'Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 92.
  69. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 22; 'Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 92; Dar In Qit'eh az Behesyt, 1397 HS, hlm. 92.
  70. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 22.
  71. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 22-23; 'Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 93-94; Dar In Qit'eh az Behesyt, 1397 HS, hlm. 92.
  72. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 23; 'Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 94-95.
  73. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 23; 'Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 94-95.
  74. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 23; 'Alamzadah, Haram-e Razawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 93.
  75. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 23; 'Alamzadah, Haram-e Razavi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, 1395 HS, hlm. 93.
  76. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 23.
  77. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 23.
  78. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 23-24.
  79. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 24.
  80. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 24.
  81. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razavi, 1401 HS, hlm. 24.
  82. Suhaniyan Haqiqi, Nafais-e Haram-e Razawi, 1401 HS, hlm. 24.

Daftar Pustaka

  • Ehtesham Kaviyaniyan, Muhammad, Syams al-Syumus ya Anis al-Nufus (Tarikh-e Astan-e Quds), Masyhad, Bina, 1354 HS.
  • Iskandar Beg Monshi, Tarikh-e 'Alam Ara-ye 'Abbasi, Tehran, Dar al-Ṭiba'ah Aqa Sayid Murtadha, 1314 Q.
  • I'timad al-Saltanah, Muhammad Hasan, Matla' al-Shams, Tahqiq-e Teymur Burhan Limudahi, Tehran, Intisharat-e Farhang-Sara, 1362 HS.
  • Khojasteh Mabsheri, Muhammad Husain, Tarikh-e Masyhad, Masyhad, Chapkhaneh-ye Khorasan, 1353 HS.
  • Dar In Qit'eh az Behesyt (Rahnama-ye Khadiman va Za'iran-e Emam Reża), Masyhad, Mu'asseseh-ye Chap va Intisharat-e Astan-e Quds-e Radhawi, 1397 HS.
  • «Ziyarat-e Delchash ya Dharih-Chasb; Mas'aleh In Ast!», Dar Tarnuma-ye Isna, Ijdad: 22 Azar 1393 HS, Bazdid: 17 Farvardin 1404.
  • Sultan Hasyim Mirza, Muhammad Hashim ibn Muhammad, Zabur Al Davud (Sharh-e Irtibat-e Sadat-e Mar'ashi ba Salatin-e Shafaviyah), Tahqiq-e 'Abd al-Husain Nawa'i, Tehran, Markaz-e Pajuhishi-e Miras-e Maktub, 1379 HS.
  • Suhaniyan Haqiqi, Muhammad, Nafais-e Haram-e Radhawi, Masyhad, Bonyad-e Pajuhish'ha-ye Astan-e Quds-e Radhawi, 1401 HS.
  • Shalehi, Isra', va Abu al-Qasim Dadvar va Mahdi Maki-Nejad, «Katibeh'ha-ye Dharih-e Syir u Syekar-e Emam Reza as az Manẓar-e Mabani-e E'tiqadi-e Syi'ah», Dar Faslnamah-ye 'Ilmi-Pajuhishi-e Negareh, Shumareh-ye 40, Zamestan 1395 HS.
  • Shamadi, Habib Allah, Rahnama-ye Muzeh-ye Astan-e Quds-e Radhawi, Masyhad, Bita.
  • Alamzadah, Buzurg, Haram-e Radhawi be Rivayat-e Tarikh, Masyhad, Beh-Nashr (Intisharat-e Astan-e Quds-e Radhawi), 1395 HS.
  • Attardi, 'Aziz Allah, Tarikh-e Astan-e Quds-e Radhawi, Tehran, Sazman-e Chap va Intisharat-e Vezarat-e Farhang va Irshad-e Eslami va Intisharat-e 'Attar, 1371 HS.
  • Umrani, Sayid Abu al-Hasan, Islam va Honarha-ye Ziba, Qom, Bustan-e Kitab, 1390 HS.
  • Mujtahidi Sistani, Murtadha, Shahifah-ye Radhawiyah, Tarjumah-ye Muhammad Ẓarif, Qom, Intisharat al-Mas, 1389 HS.
  • Mustafawi, Muhammad Hasan ibn Muhammad Karim, Zubdat al-Tawarikh, Tahqiq-e Bahruz Gudarzi, Tehran, Bonyad-e Mawqufat-e Doktor Mahmud Afshar, 1375 HS.
  • Mehran, Muhammad, «Dharih-e Jadid», Dar Nashriyah-ye Namah-ye Astan-e Quds, Shumareh-ye 1, Tir 1339 HS.
  • Nawa'i, Abdul Husain, Syah Isma'il Shafawi (Majmu'eh-ye Asnad va Makatibat-e Tarikhi hamrah ba Yaddasht'ha-ye Tafṣili), Tehran, Intisharat-e Arghavan, 1368 HS.