Lompat ke isi

Konsep:Dhahhak bin Qais Fihri

Dari wikishia
Dhahhak bin Qais Fihri
Info pribadi
Nama lengkapDhahhak bin Qais bin Khalid
JulukanAbu Anis
Garis keturunanBani Fihr
Wafat/Syahadah64/684 di Marj Rahit
Penyebab Wafat /SyahadahTerbunuh dalam peperangan

Dhahhak bin Qais Fihri adalah salah seorang Sahabat Nabi Muhammad saw yang turut meriwayatkan Hadis dari beliau serta dari sejumlah sahabat lainnya. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab, ia berpartisipasi aktif dalam kampanye militer melawan milisi Romawi sekaligus berperan dalam proses penaklukan Damaskus. Secara historis, ia dikenal sebagai pendukung setia dinasti Bani Umayyah. Memasuki era pemerintahan Muawiyah, ia berupaya keras melancarkan agitasi dan mengganggu stabilitas keamanan di berbagai wilayah yang tunduk pada otoritas Imam Ali as.

Setelah Muawiyah wafat, Dhahhak bin Qais bertindak sebagai imam dalam pelaksanaan salat jenazahnya, dan kemudian memberikan ucapan selamat atas suksesi kekuasaan kepada Yazid. Pasca-kematian Yazid, muncul diskursus dan wacana Baiat (sumpah setia) yang ditujukan kepada Dhahhak. Ia sempat mengambil alih kendali pemerintahan secara transisional sepeninggal Muawiyah II; namun, tidak lama setelah itu ia memutar haluan dan mengikrarkan dukungan kepada faksi Abdullah bin Zubair. Manuver politik inilah yang pada akhirnya berujung pada terbunuhnya Dhahhak oleh pasukan Marwan bin Hakam dalam pertempuran berdarah di wilayah Marj Rahit.

Pengenalan dan Kedudukan Dhahhak bin Qais

Nasab Dhahhak bin Qais bin Khalid bersambung kepada Bani Fihr, salah satu kabilah yang termasyhur dari klan Quraisy.[1] Terdapat beberapa kunyah (nama panggilan kehormatan) yang disematkan kepadanya, seperti Abu Anis, Abu Umayyah, Abu Abdurrahman, dan Abu Said.[2] Di antara sekian banyak nama tersebut, panggilannya yang paling populer adalah Abu Anis.[3] Berbagai literatur klasik menyajikan pandangan yang berbeda-beda mengenai tanggal lahirnya; kendati demikian, fakta yang disepakati adalah bahwa ia lahir sebelum wafatnya Nabi Muhammad saw. Para sejarawan mengestimasikan waktu kelahirannya berada pada rentang antara satu hingga tujuh tahun sebelum Nabi Muhammad saw wafat.[4]

Mengingat eksistensinya yang sejaman dengan masa hidup Nabi Muhammad saw, dan bersandar pada definisi terminologis bahwa setiap Muslim yang pernah berjumpa dengan Nabi semasa hidupnya dikategorikan sebagai Sahabat,[5] maka Dhahhak bin Qais secara sah menyandang status sebagai sahabat Rasulullah saw. Ia meriwayatkan Hadis secara langsung dari Nabi Muhammad saw., di samping menukil riwayat dari tokoh-tokoh seperti Umar bin Khattab dan Habib bin Maslamah. Selanjutnya, eksistensi keilmuannya direkam oleh sejumlah nama besar, termasuk Muawiyah, Tamim bin Thurfah, Hasan Bashri, Urwah bin Zubair, Abu Ishaq al-Sabi'i, dan Amir al-Sya'bi, yang tercatat pernah mengambil dan meriwayatkan hadis darinya.[6]

Masa Para Khalifah

Dhahhak bin Qais memainkan peranan strategis di bawah bayang-bayang kepemimpinan para khalifah. Pada era pemerintahan Abu Bakar, ia ditugaskan bertolak ke Syam bersama Amru bin Ash untuk memimpin barisan peperangan menghadapi hegemoni Romawi.[7] Memasuki periode kekhalifahan Umar, jejak langkahnya terekam dalam invasi penaklukan Damaskus, kota historis yang kemudian ia pilih sebagai tempat menetap.[8]

  • Pada era keemasan Bani Umayyah, ia mula-mula dianugerahi jabatan sebagai kepala unit pengawal pribadi Muawiyah,[9] yang kemudian membawanya menjadi gubernur administratif di wilayah Jazirah.[10] Akan tetapi, pasca-kekalahannya dalam konfrontasi militer melawan Imam Ali as,[11] Dhahhak diutus untuk melancarkan serangkaian manuver rahasia, dengan fokus mendelegitimasi dan mendestabilisasi keamanan di teritorial yang bernaung di bawah kepemimpinan Imam Ali as.[12] Saat Perang Shiffin berkecamuk, ia memegang tongkat komando sebagai salah satu panglima di pihak Muawiyah.[13] Akibat serangkaian tindakan politis dan militernya itu, Imam Ali as secara khusus melaknat Dhahhak bin Qais dalam doa qunut salat Subuh.[14] Pasca-kesyahidan Imam Ali as, Muawiyah memberikan otoritas Kufah kepadanya.[15] Selaras dengan mandat Muawiyah pada rentang waktu 59 H (678-679 M), ia memelopori kampanye politik sistematis untuk menggalang baiat secara masif bagi Muawiyah.[16]
  • Menyusul mangkatnya Muawiyah, Dhahhak menduduki posisi sentral dalam prosesi pengiringan jenazahnya. Usai mendirikan salat Zuhur, masyarakat berkerumun dan jenazah tokoh Umayyah itu pun disalatkan dengan Dhahhak bertindak selaku imam.[17] Kesetiaan hierarkis ini tidak luntur pada masa kepemimpinan Yazid, di mana Dhahhak berteguh mengalirkan dukungan penuh kepada sang penguasa baru.[18]
  • Turbulensi yang melanda pasca-kematian Yazid mendorong sekelompok masyarakat untuk membaiah Dhahhak, memproyeksikannya agar setara dengan elitis lain seperti Ibnu Zubair, Khalid bin Walid, dan Marwan bin Hakam. Sepanjang umur kekuasaan Muawiyah bin Yazid (Muawiyah II), ia memegang tampuk pengarahan umat di belahan Syam. Tatkala Muawiyah II wafat, kekosongan kekuasaan sebelum terpilihnya suksesor baru diisi oleh sosok Dhahhak.[19]
  • Kematian Muawiyah II yang dikelilingi tabir misteri secara instan menyulut friksi dan polemik dalam agenda suksesi khalifah.[20] Diketahui, Muawiyah II mengambil jalan pasifis dan pantang memerangi Ibnu Zubair. Sementara itu, rakyat Syam memandang Abdullah bin Zubair sebagai pahlawan penuntut balas bagi kematian Utsman. Fakta bahwa garis nasabnya melalui pihak ibu berujung langsung kepada Abu Bakar kian memperkuat pesona legitimasinya di mata mereka.[21] Kalkulasi sosiopolitik inilah yang membujuk Dhahhak bin Qais secara sembunyi-sembunyi mengorkestrasi pembelotan masyarakat menuju poros Abdullah bin Zubair.[22] Situasi Syam semakin parah terbelah akibat sengketa antarklan Qais dan Kalb terkait penyaluran baiat untuk Bani Umayyah.[23] Pascakonflik panjang yang melelahkan, Dhahhak akhirnya menjatuhkan baiat definitifnya untuk Abdullah bin Zubair, yang meneteskan hadiah balas budi berupa kursi gubernur (wali) Damaskus.[24] Ia lantas merakit kekuatan militer guna menyokong keluarga Zubair, seraya mengampanyekan seruan baiat secara luas kepada publik.[25] Merespons hal tersebut, kubu faksional Bani Umayyah mendeklarasikan Marwan bin Hakam sebagai antitesis khalifah.[26] Ubaidillah bin Ziyad, yang pragmatisme politiknya terikat pada eksistensi rezim Marwan, bermanuver menginvasi zona psikologis Dhahhak seraya menghasut: "Engkau adalah sayid (tuan) agung dan pemuka Quraisy. Sungguh suatu degradasi apabila engkau menundukkan diri di bawah intervensi trah Zubair. Sekiranya engkau berkenan memikul sendiri mahkota kekhalifahan itu, aku memberikan garansi penuh bahwa Quraisy akan berdiri di belakangmu."[27]

Wafat

Siasat makar Ubaidillah bin Ziyad bermuara pada rayuannya yang mendesak Dhahhak bin Qais untuk menarik ditarik barikade pasukannya ke luar batas Damaskus, dengan dalih menantikan penyatuan dengan armada bala bantuan yang sedianya berikrar setia kepadanya.[28] Terperangkap dalam ilusi konspirasi ini, Dhahhak mendirikan kamp militernya di lapangan Marj Rahit seraya menyiagakan batalion kolosal berjumlah mendekati tiga puluh ribu laskar.[29] Di sayap yang berlawanan, Marwan mengonsolidasikan sayap militer dengan estimasi tiga belas ribu tentara demi menyongsong pertarungan fatal melawan Dhahhak.[30] Episentrum pertempuran meledak dan menguras kekuatan kedua front militer tersebut selama dua puluh hari tanpa henti.[31] Sesuai cetak biru taktiknya, Ubaidillah bin Ziyad memancing ilusi perdamaian di medan laga; alhasil, barisan pertahanan Dhahhak mengendur. Celah ini dieksploitasi dengan cemerlang oleh legiun Marwan yang langsung menembus formasi Dhahhak dan melancarkan penetrasi penyergapan di malam hari (syabikhun), yang seketika meluluhlantakkan mereka.[32] Dalam kekacauan tersebut, takdir Dhahhak berakhir tragis setelah dibunuh oleh sosok dari entitas prajurit Marwaniyah bernama Zamhah bin Abdullah.[33] Prahara ini ditorehkan pada pertengahan Zulhijah 64 (684 M), tepat di titik historis yang membara bernama Marj Rahit.[34]

Catatan Kaki

  1. Qurthubi, Al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ashab, 1412 H, jld. 2, hlm. 74.
  2. Qurthubi, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 2, hlm. 747.
  3. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 11, hlm. 46.
  4. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1988, jld. 8, hlm. 243.
  5. Ibnu Hajar al-Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 1, hlm. 158.
  6. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 24, hlm. 280.
  7. Ibnu A'tsam, Kitab al-Futuh, 314 H, jld. 1, hlm. 245.
  8. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 24, hlm. 280.
  9. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 5, hlm. 159.
  10. Ibnu A'tsam, Kitab al-Futuh, 1411 H, jld. 2, hlm. 493.
  11. Dinawari, Al-Imamah wa al-Siyasah, 1380 HS, hlm. 139.
  12. Ibnu A'tsam, Kitab al-Futuh, 1411 H, jld. 4, hlm. 286.
  13. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1365 HS, jld. 4, hlm. 7.
  14. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1365 HS, jld. 4, hlm. 52.
  15. Ibnu Khayyath, Tarikh, 1414 H, hlm. 165.
  16. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1418 H, jld. 3, hlm. 21.
  17. Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah fi Ma'rifah al-Shahabah, 1423 H, jld. 3, hlm. 49.
  18. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 115.
  19. Ibnu A'tsam, Kitab al-Futuh, 1411 H, jld. 5, hlm. 169.
  20. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 242.
  21. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 5, hlm. 35.
  22. Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1405 H, jld. 4, hlm. 145.
  23. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 243.
  24. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 241.
  25. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 241.
  26. Baghdadi, Al-Thabaqat al-Kubra, 1418 H, jld. 5, hlm. 30.
  27. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 241.
  28. Baghdadi, Al-Thabaqat al-Kubra, 1405 H, jld. 5, hlm. 3.
  29. Ibnu Atsir, Al-Kamil, 1405 H, jld. 3, hlm. 241.
  30. Mas'udi, Al-Tanbih wa al-Isyraf, 1423 H, hlm. 266.
  31. Baghdadi, Al-Thabaqat al-Kubra, 1405 H, jld. 5, hlm. 31.
  32. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 243.
  33. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 243.
  34. Ibnu A'tsam, Kitab al-Futuh, 1411 H, jld. 5, hlm. 171.

Daftar Pustaka

  • Baghdadi, Muhammad bin Sa'ad. Al-Thabaqat al-Kubra. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1405 H.
  • Baghdadi, Muhammad bin Sa'ad. Al-Thabaqat al-Kubra. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1418 H.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansab al-Asyraf. Beirut: Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Dinawari, Abdullah bin Mas'ud. Al-Imamah wa al-Siyasah. Terjemahan: Sayid Nashir Thabathabai. Teheran: Penerbit Qoqnoos, 1380 HS.
  • Ibnu A'tsam, Ahmad. Kitab al-Futuh. Beirut: Dar al-Adwa, 1411 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1405 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Usd al-Ghabah fi Ma'rifah al-Shahabah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1423 H.
  • Ibnu Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Madinah Dimasyq. Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali. Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah. Riset: Adil Ahmad Abd al-Maujud dan Ali Muhammad Muawwad. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibnu Khayyath, Khalifah. Tarikh Khalifah bin Khayyath. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1414 H.
  • Mas'udi, Ali bin al-Husain. Al-Tanbih wa al-Isyraf. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1423 H.
  • Mas'udi, Ali bin al-Husain. Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jauhar. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1418 H.
  • Qurthubi, Yusuf bin Abdullah. Al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ashab. Riset: Ali Muhammad al-Bajawi. Beirut: Dar al-Jil, 1412 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Beirut: Dar al-Turats, 1387 H.