Konsep:Dar al-Taqrib Baina al-Madzahib al-Islamiyyah
Dar al-Taqrib Baina al-Madzahib al-Islamiyyah (bahasa Arab: دار التقريب بين المذاهب الإسلامية); Rumah Pendekatan Antarmazhab Islam) adalah sebuah lembaga yang mulai beroperasi pada tahun 1947 M di Kairo dengan tujuan mendekatkan mazhab-mazhab Islam satu sama lain. Para pendiri lembaga ini adalah Mahmud Syaltut, Rektor Universitas Al-Azhar Mesir saat itu, dan Muhammad Taqi Qummi, perwakilan Ayatullah Burujerdi, Marja Taklid Syiah saat itu. Salah satu aktivitas penting Dar al-Taqrib adalah penerbitan majalah Risalah al-Islam, yang edisi pertamanya diterbitkan pada tahun 1949 M dan mencapai edisi ke-60 pada tahun 1972 M. Di antara pencapaian lembaga ini adalah pengajaran Fikih Perbandingan dan peletakan dasar bagi pendirian Lembaga Internasional Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam di Iran. Dar al-Taqrib ditutup pada tahun 1979 M.
Pendirian
Dar al-Taqrib mulai beroperasi di Kairo pada tahun 1947 M oleh Mahmud Syaltut, Rektor Universitas Al-Azhar di Mesir, dan Muhammad Taqi Qummi, perwakilan Ayatullah Burujerdi.[1] Dalam buku-buku sejarah, tidak disebutkan adanya anggaran dasar untuk Dar al-Taqrib, hanya nama Muhammad Muhammad al-Madani sebagai direktur penanggung jawab dan Mahmud Syaltut sebagai pemimpin redaksi majalah Risalah al-Islam.[2]
Menurut Sayid Hadi Khusrowshahi, sekelompok ulama Syiah dan Ahlusunah mendukung Dar al-Taqrib secara ilmiah, pemikiran, dan materi:
- Ayatullah Burujerdi, Marja Syiah dari Iran.
- Muhammad Husain Kasyif al-Ghita, Marja Taklid dari Irak.
- Sayid Abdul Husain Syarafuddin, Marja Syiah dari Lebanon.
- Musthafa Maraghi, Rektor Universitas Al-Azhar, Mesir.
- Musthafa Abdul Razzaq, Universitas Al-Azhar, Mesir.
- Abdul Majid Salim, Rektor Universitas Al-Azhar, Mesir.
- Syekh Mahmud Syaltut, Rektor Universitas Al-Azhar, Mesir.
- Muhammad Madani, Dekan Fakultas Hukum Islam di Universitas Al-Azhar, Mesir.[3]
Aktivitas

Menurut para sejarawan, Dar al-Taqrib melakukan banyak aktivitas untuk menyebarkan persatuan di antara umat Islam:
Penerbitan Majalah Risalah al-Islam
Majalah Risalah al-Islam diterbitkan sejak tahun 1949 M, dengan empat edisi setiap tahunnya, dan hingga tahun 1972 M, sekitar 60 edisi telah dicetak. Majalah ini bersifat bebas dan netral, di mana para ulama dan pemikir Islam dapat menyampaikan pandangan mereka satu sama lain melalui majalah ini dan memperkenalkan Islam serta mazhab-mazhab Islam dengan benar.[4]
Risalah al-Islam adalah jurnal triwulanan yang bergerak di bidang akidah, Al-Qur'an, fikih, dan sastra.[5]
Muhammad Wa'izh Zadeh Khurasani berpendapat bahwa setelah wafatnya Ayatullah Burujerdi, tidak ada lagi yang memberikan bantuan finansial kepada Dar al-Taqrib, sehingga aktivitas Dar al-Taqrib dan majalah Risalah al-Islam pun terhenti.[6]
Pencetakan dan Penerbitan Hadis dan Masalah Fikih Syiah
Mencetak dan menerbitkan beberapa hadis dan masalah fikih Syiah serta beberapa buku karya ulama Syiah, di antaranya:
- Risalah Hadis Tsaqalain:
Penulis buku Ahl al-Bait fi al-Kitab wa al-Sunnah mengatakan bahwa Hadis Tsaqalain dicetak dalam edisi keempat tahun kedua majalah "Risalah al-Islam". Menurut beberapa peneliti hadis, Hadis Tsaqalain diriwayatkan oleh 33 Sahabat termasuk Anas bin Malik, Umar bin Khattab, Amr bin Ash, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf, serta oleh 19 Tabiin, di samping itu 300 ulama Ahlusunah juga menukil riwayat ini dalam buku-buku mereka.[7]
- Al-Hajj 'ala al-Madzahib:
Muhammad Muhammadi Reysyahri mengutip dari para sejarawan mengatakan bahwa salah satu keberatan utama terhadap Syiah adalah masalah Haji. Akibat propaganda musuh, umat Islam berpikir bahwa haji orang Syiah hanya di Karbala dan Najaf. Oleh karena itu, untuk pertama kalinya perwakilan mazhab Syiah Imamiyah dan Zaidiyah bersama perwakilan mazhab Syafi'i, Maliki, Hambali, dan Hanafi menyusun sebuah karya berjudul "Al-Hajj 'ala al-Madzahib" (Haji Berdasarkan Mazhab-mazhab) mengenai hukum dan Manasik Haji. Kelompok Ikhwanul Muslimin melalui Dar al-Taqrib mencetaknya di surat kabar, dan masyarakat setelah membacanya menyadari bahwa mazhab Syiah tidak terpisah dari Islam, dan prinsip serta rukun manasik hajinya sama dengan empat mazhab Ahlusunah lainnya.[8]
- Al-Mukhtashar al-Nafi':
Al-Mukhtashar al-Nafi' adalah buku karya Muhaqqiq Hilli (wafat 676 H). Raysyahri mengutip dari buku-buku sejarah mengatakan bahwa para ilmuwan Ahlusunah setelah membaca buku ini menyadari bahwa tidak ada perbedaan besar dalam prinsip antara Fikih Syiah dan fikih Ahlusunah, dan sebagian besar sumber Syiah untuk pengambilan hukum Islam sama dengan sumber Ahlusunah, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi.[9]
- Wasail al-Syi'ah:
Wasail al-Syi'ah adalah buku yang disusun oleh Muhammad bin Hasan Hurr Amili dan berisi hadis-hadis, hukum, dan sunnah Nabi Islam saw serta Ahlulbait as. Muhammad Taqi Qummi menerbitkan buku ini di Dar al-Taqrib agar Ahlusunah lebih mengenal Fikih Istidlali Syiah.[10]
- Tadzkirah al-Fuqaha:
Tadzkirah al-Fuqaha ditulis oleh Allamah Hilli (wafat 726 H), seorang ulama Syiah. Penulis buku Ahl al-Bait fi al-Kitab wa al-Sunnah mengatakan bahwa para pendiri Dar al-Taqrib menerbitkan buku ini untuk mendekatkan pandangan fikih Syiah dan Ahlusunah.[11]
Penyelenggaraan Acara Asyura di Bulan Muharram
Dalam buku "Mansyur-e Hambastegi" disebutkan bahwa selama bertahun-tahun di Mesir, Hari Asyura dirayakan (sebagai hari gembira). Namun setelah berdirinya Dar al-Taqrib, Mahmud Syaltut pada suatu tahun mengadakan upacara duka (azadari) pada hari Asyura atas nama Imam Husain as di al-Azhar untuk mempersiapkan dasar bagi pendekatan dua mazhab besar Islam.[12]
Penyelenggaraan Konferensi Islam
Aktivitas lainnya adalah penyelenggaraan pertemuan dengan kehadiran ulama mazhab Islam. Buletin Taqrib menyebutkan beberapa di antaranya seperti konferensi tahunan Masyarakat Islam Amerika Utara di Washington dan konferensi yang diadakan di negara-negara Inggris, Turki, Thailand, dan Sri Lanka.[13]
Pendekatan
Dar al-Taqrib secara politik tidak berafiliasi dengan partai atau kelompok mana pun, namun memiliki pendekatan politik tertentu untuk menciptakan persatuan di antara umat Islam, di antaranya:[14]
- Menurut para sejarawan, salah satu pembahasan terpenting yang menyebabkan perselisihan antara Syiah dan Sunni adalah pembahasan kekhalifahan Islam dan kepemimpinan politik, di mana satu kelompok menganggapnya khusus bagi Ahlulbait as dan kelompok lain menafikannya dari Ahlulbait as.[15] Muhammad Wa'izh Zadeh Khurasani berpendapat bahwa pandangan Ayatullah Burujerdi adalah mengangkat masalah seperti ini saat ini tidak berguna dan menyebabkan perselisihan umat Islam. Karena saat ini tidak ada kekhalifahan yang perlu diperdebatkan kebenaran atau ketidakbenarannya.[16]
- Pada tahun 1380 H, tersiar kabar bahwa Muhammad Reza Pahlavi, Syah Iran, telah mengakui Israel. Penulis buku Eslam, Aiyin-e Hambastegi mengatakan bahwa Mahmud Syaltut, salah satu pendiri Dar al-Taqrib, meminta Ayatullah Burujerdi untuk berbicara dengan Syah dan mengambil tindakan dalam hal ini. Surat ditulis atas nama Ayatullah Burujerdi kepada Syekh Syaltut yang berisi jawaban Syah bahwa pemerintah Iran tidak mengakui negara Israel.[17]
- Beberapa negara seperti Pakistan mengadakan kongres untuk membela Islam dan menghilangkan kesalahpahaman, di mana Dar al-Taqrib bekerja sama erat dengan mereka. Para anggota sampai pada kesimpulan untuk menyerahkan penyelesaian masalah perselisihan mazhab Islam kepada Dar al-Taqrib. Atas usulan Syekh Muhammad Syari'at, penanganan kondisi Pemakaman Baqi diserahkan kepada Dar al-Taqrib, yang kemudian diikuti dengan pembangunan tembok di sekeliling Baqi.[18]
Pencapaian
Di antara pencapaian Dar al-Taqrib adalah sebagai berikut:
Pengajaran Fikih Perbandingan (Fiqh Muqaran)
Penulis buku Munadiyan-e Taqrib menganggap pengajaran Fikih Perbandingan sebagai salah satu pencapaian Dar al-Taqrib dan mengatakan bahwa hal ini dilakukan oleh Syekh Muhammad Musthafa Maraghi, Rektor Al-Azhar, dan hal ini belum pernah terjadi sebelum berdirinya Dar al-Taqrib.[19]
Fikih Perbandingan berarti bahwa para peneliti harus mengkaji teori-teori fikih terlepas dari pemikiran mazhab dan sektarian, dan memilih yang terbaik di antaranya dengan dalil tanpa fanatisme apa pun.[20]
Pembentukan Lembaga Internasional Pendekatan Mazhab
Pencapaian lain dari Dar al-Taqrib adalah mempersiapkan dasar bagi pembentukan lembaga-lembaga pendekatan (taqrib), di mana Lembaga Internasional Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam adalah salah satunya.[21] Muhammad Wa'izh Zadeh Khurasani, anggota Dewan Tinggi Lembaga Forum Pendekatan Mazhab-mazhab Islam, mengenai pendirian lembaga ini mengatakan, "Karena saya telah lama berhubungan dengan Dar al-Taqrib, pada tahun 1369 HS/1990 M, Sayid Ali Khamenei memerintahkan saya untuk mendirikan Lembaga Pendekatan Mazhab-mazhab Islam."[22]
Catatan Kaki
- ↑ Tahuri, Munadiyan-e Taqrib (Muhammad Taqi Qummi), tanpa tahun, hlm. 86-87.
- ↑ al-Islam, Situs Noormags.
- ↑ Alizadeh, Syarh-e Hal wa Khulaseh-ye Fa'aliyat-haye Dar al-Taqrib-e Mesr, 1379 HS, hlm. 1; Khusrowshahi, Mizgerd-e Taqrib bein-e Madzahib-e Eslami, 1381 HS, hlm. 44.
- ↑ Bi-Azar Syirazi, Eslam Aiyin-e Hambastegi, 1378 HS, hlm. 31-32.
- ↑ Adzarsyab, Malaf al-Taqrib, 1380 HS.
- ↑ Wa'izh Zadeh Khurasani, Zendegi-ye Ayatullah Burujerdi, 1379 HS, hlm. 369.
- ↑ Muhammadi Raysyahri, Ahl al-Bait fi al-Kitab wa al-Sunnah, 1391 HS, hlm. 125–127.
- ↑ Muhammadi Raysyahri, Ahl al-Bait fi al-Kitab wa al-Sunnah, 1391 HS, hlm. 125–127.
- ↑ Muhammadi Raysyahri, Ahl al-Bait fi al-Kitab wa al-Sunnah, 1391 HS, hlm. 125–127.
- ↑ Muhammadi Raysyahri, Ahl al-Bait fi al-Kitab wa al-Sunnah, 1391 HS, hlm. 125–127.
- ↑ Muhammadi Raysyahri, Ahl al-Bait fi al-Kitab wa al-Sunnah, 1391 HS, hlm. 125–127.
- ↑ Mu'izzuddin, Mansyur-e Hambastegi, 1409 H, hlm. 57.
- ↑ Peik-e Taqrib, No. 77, hlm. 20; Peik-e Taqrib, No. 61, hlm. 6.
- ↑ Mu'izzuddin, Mansyur-e Hambastegi, 1409 H, hlm. 57.
- ↑ Mu'izzuddin, Mansyur-e Hambastegi, 1409 H, hlm. 57.
- ↑ Wa'izh Zadeh Khurasani, Zendegi-ye Ayatullah Burujerdi, 1379 HS, hlm. 366-373.
- ↑ Bi-Azar Syirazi, Eslam Aiyin-e Hambastegi, 1378 HS, hlm. 261-274.
- ↑ Ishaqi, Nasim-e Hambastegi, 1386 HS, hlm. 281.
- ↑ Tahuri, Munadiyan-e Taqrib, Tanpa tahun, hlm. 115.
- ↑ Bi-Azar Syirazi, Eslam Aiyin-e Hambastegi, 1378 HS, hlm. 79.
- ↑ Wa'izh Zadeh Khurasani, Zendegi-ye Ayatullah Burujerdi, 1379 HS, hlm. 369.
- ↑ Wa'izh Zadeh Khurasani, Zendegi-ye Ayatullah Burujerdi, 1379 HS, hlm. 369.
Daftar Pustaka
- Adzarsyab, Muhammad Ali. Malaf al-Taqrib. Qom: Lembaga Forum Pendekatan Mazhab-mazhab Islam, 1380 HS.
- Alizadeh, Mirza. Syarh-e Hal va Kholaseh-ye Fa'aliyat-haye Dar al-Taqrib-e Mesr (Biografi dan Ringkasan Aktivitas Dar al-Taqrib Mesir). Tanpa tempat, tanpa penerbit, 1379 HS.
- Bi-Azar Syirazi, Abdul Karim. Eslam Aiyin-e Hambastegi (Islam Agama Solidaritas). Qom: Zakat-e 'Elm, 1378 HS.
- Ishaqi, Sayid Husain. Nasim-e Hambastegi (Angin Solidaritas). Qom: Markaz-e Pajuhesy-haye Eslami-ye Seda wa Sima, 1386 HS.
- Khusrowshahi, Hadi. Mizgerd-e Taqrib bein-e Madzahib-e Eslami (Meja Bundar Pendekatan Antarmazhab Islam). Qom: Markaz-e Barresi-haye Eslami, Kolbeh-ye Syuruq, 1381 HS.
- Majalah Peik-e Taqrib, No. 61 dan 77.
- Mu'izzuddin, Muhammad Sa'id. Mansyur-e Hambastegi (Piagam Solidaritas). Qom: Lembaga Forum Pendekatan Mazhab-mazhab Islam, 1409 H.
- Muhammadi Raysyahri, Muhammad. Ahl al-Bait fi al-Kitab wa al-Sunnah. Qom: Muassasah Farhangi Dar al-Hadits, 1391 HS.
- Tahuri, Muslim. Munadiyan-e Taqrib (Para Penyeru Pendekatan). Tanpa tempat, tanpa penerbit, tanpa tahun.
- Wa'izh Zadeh Khurasani, Muhammad. Zendegi-ye Ayatullah Burujerdi (Kehidupan Ayatullah Burujerdi). Qom: Lembaga Forum Pendekatan Mazhab-mazhab Islam, 1379 HS.