Lompat ke isi

Konsep:Buqah

Dari wikishia

Buq'ah (bahasa Arab:بُقْعَة) merujuk pada bangunan makam Imamzadeh, tokoh-tokoh agama, dan bangunan keagamaan khusus, yang bentuknya bervariasi dari makam kecil hingga mausoleum yang megah. Pada masa Dinasti Seljuk, istilah ini digunakan di wilayah timur dan tengah dunia Islam untuk Khanaqah, makam, dan bangunan ibadah, pendidikan, atau amal, dan berakar dari ungkapan "Al-Buq'ah al-Mubarakah" (Tempat yang Diberkahi). Penyebaran Islam dan tradisi penghormatan terhadap para syuhada menyebabkan maraknya pembangunan buq'ah, masyhad, dan raudhah.

Sejak masa Seljuk, kata "Buq'ah" juga digunakan dalam prasasti dan teks resmi; contohnya adalah prasasti Yaghi Basan bin Ghazi di Niksar (552 H) yang merujuk pada Khanaqah para darwis, dan penggunaan ini berlanjut pada masa Ayyubiyah di Yerusalem. Dalam budaya Turki-Iran, kata "Buq'ah" dikaitkan dengan khanaqah para darwis dan makam para syekh sufi, serta selalu mengasosiasikan "tempat-tempat yang diberkahi".

Di Iran, setelah Masjid, buq'ah dan imamzadeh adalah bangunan keagamaan yang paling umum dan hampir tidak ada kota tanpa makam. Mengingat tidak adanya tradisi pembangunan makam di Iran sebelum Islam, kemungkinan besar orang-orang Iran mengadopsi gaya ini dari wilayah Muslim lainnya setelah kedatangan Islam.

Terminologi

Buq'ah secara harfiah merujuk pada bangunan makam para Imamzadeh dan tokoh agama, serta bangunan keagamaan khusus. Di negeri-negeri Islam, bangunan mulai dari jenis makam kecil dan sederhana hingga mausoleum besar dan megah yang dianggap sebagai buq'ah, memiliki berbagai nama sesuai dengan bentuk dan fungsinya. Nama-nama yang paling penting antara lain adalah: Qubbah, Dharih, Turbah (Turbat), Madfan, Qabr, Gor (Kubur), Mazar, Marqad, Raudhah, Masyhad, Maqam, dan Maqbarah.

Sejarah

Kata "Buq'ah" pada masa Seljuk, khususnya di bagian timur dan tengah dunia Islam, digunakan untuk arti khanaqah, makam, dan secara umum bangunan untuk tujuan ibadah, pendidikan, atau amal. Perubahan makna ini diambil dari ungkapan "Al-Buq'ah al-Mubarakah"[1] yang dalam hadis-hadis merujuk pada tempat suci percakapan Allah dengan Nabi Musa as dan juga banyak digunakan dalam teks-teks agama dan buku-buku ziarah.[2]

Penyebaran Islam yang berkaitan erat dengan jihad dan kesyahidan, menyebabkan terbentuknya tradisi penghormatan terhadap para syuhada dan pembangunan masyhad, buq'ah, dan raudhah di atas tempat pemakaman mereka. Oleh karena itu, di banyak negeri Islam yang berbatasan dengan Dar al-Harb (wilayah perang), bangunan-bangunan ini menjadi umum; seperti yang terlihat di daerah Aswan di Nubia, makam-makam dari abad ke-4 dan ke-5 H,[3] sementara di daerah seperti Spanyol dan Sisilia, meskipun dekat dengan medan pertempuran, karya-karya semacam itu tidak terlihat.[4]

Menurut para peneliti, sejak masa Seljuk, kata "Buq'ah" digunakan dalam prasasti dan teks resmi untuk merujuk pada bangunan ibadah, khanaqah, atau makam. Contoh awalnya adalah prasasti Yaghi Basan bin Ghazi di Niksar (552 H) yang merujuk pada "Buq'ah Mubarakah" dan kemungkinan besar adalah khanaqah para darwis. Penggunaan ini berlanjut sejak zaman Ayyubiyah dan digunakan di Yerusalem untuk memperkenalkan sekolah dan tempat-tempat keagamaan, seperti "Al-Buq'ah al-Baidha" dan "Al-Buq'ah al-Aqdasiah".

Buq'ah dalam Budaya Turki dan Iran

Dalam budaya Turki-Iran, hubungan kata "Buq'ah" dengan khanaqah para darwis dan makam, khususnya makam para syekh sufi, terlihat jelas. Bangunan-bangunan ini, terlepas dari peta dan desain arsitekturnya, selalu mengasosiasikan "tempat-tempat yang diberkahi". Dalam buku Asrar al-Tawhid,[5] biografi Abu Sa'id Abul Khair, kata "Buq'ah" dan dalam satu kasus "Buq'ah dari kebaikan" digunakan sebagai sinonim untuk khanaqah.[6] O'Kane mengumpulkan contoh-contoh bangunan yang dalam prasastinya biasanya disebutkan sebagai "Buq'ah" dari Anatolia[7] dan Iran, serta mencatat bahwa kata ini lebih umum di wilayah-wilayah ini daripada di wilayah Arab.[8]

Di Iran, setelah masjid, buq'ah dan imamzadeh adalah bangunan keagamaan yang paling umum dan hampir tidak ada kota tanpa makam.[9] Kecuali makam Cyrus di Pasargadae, di Iran pra-Islam tidak ada contoh makam penting dan terpisah, jadi masuknya Islam ke Iran tidak memiliki tradisi pembangunan makam lokal dan kemungkinan besar orang Iran setelah Islam mengadopsi gaya ini dari rekan seagama mereka di Mesir, Suriah, dan Irak.[10]

Catatan Kaki

  1. QS. Al-Qashash: 30.
  2. Sebagai contoh lihat: Ibnu Qulawayh, Kamil al-Ziyarat, 1356 H, jld. 1, hlm. 26, 46, 234, 181, dan 276.
  3. Maqrizi, Imta' al-Asma', 1420 H, jld. 1, hlm. 197-199.
  4. Hillenbrand, Maqaber dar Memari-ye Iran (Makam-makam dalam Arsitektur Iran), 1366 HS, hlm. 26.
  5. Ditulis oleh Muhammad bin Munawwar pada kuartal terakhir abad keenam.
  6. Muhammad bin Munawwar, Asrar al-Tawhid, 1386 HS, hlm. 44, 86, 146.
  7. Sebagai contoh setelah Danishmendiyah dan periode Seljuk Rum dan "Beylik": Keemiran.
  8. Muhammad bin Munawwar, Asrar al-Tawhid, 1386 HS, hlm. 94-96.
  9. Hillenbrand, Maqaber dar Memari-ye Iran (Makam-makam dalam Arsitektur Iran), 1366 HS, hlm. 273.
  10. Hillenbrand, Maqaber dar Memari-ye Iran (Makam-makam dalam Arsitektur Iran), 1366 HS, hlm. 27.

Daftar Pustaka

  • Hillenbrand, Robert. Maqaber dar Memari-ye Iran: Dore-ye Eslami (Makam-makam dalam Arsitektur Iran: Periode Islam). Penerjemah: Karamatullah Afsar. Teheran, Cetakan Muhammad Yusuf Kiyani, 1366 HS.
  • Ibnu Qulawayh, Ja'far bin Muhammad. Kamil al-Ziyarat (Ziarah yang Sempurna). Najaf, Mathba'ah al-Murtadhawiyyah, 1356 H.
  • Maqrizi, Ahmad bin Ali. Imta' al-Asma' bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata'. Peneliti: Muhammad Abdul Hamid al-Namisi. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1420 H.
  • Muhammad bin Munawwar. Asrar al-Tawhid fi Maqamat al-Syaikh Abi Sa'id (Rahasia Tauhid di Maqam Syekh Abu Sa'id). Editor: Mohammad Reza Shafiei Kadkani. Teheran, Penerbit Agah, 1386 HS.

Pranala Luar