Konsep:Ayat Khalifah Manusia
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat Khalifah Manusia |
| Surah | Al-Baqarah |
| Ayat | 30 |
| Juz | 1 |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Keberatan malaikat terhadap penciptaan manusia |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Maklumat kekhalifahan manusia kepada malaikat |
| Ayat-ayat terkait | Ayat Istikhlaf |
Ayat Khalifah Manusia adalah ayat ke-30 dari Surah Al-Baqarah yang membahas tentang kekhalifahan manusia di bumi serta dialog antara Allah swt dan malaikat mengenai hal tersebut. Ayat ini berbicara tentang pengumuman kekhalifahan manusia, pertanyaan para malaikat mengenai alasan kekhalifahan ini, sumber pengetahuan mereka tentang sifat-sifat manusia, dan tujuan Allah menciptakan manusia.
Para mufasir menafsirkan maksud dari suksesi (penggantian) ini sebagai penggantian manusia atas malaikat yang pernah menghuni bumi, penggantian manusia atas umat dan makhluk sebelumnya, atau penggantian sebagai wakil Allah. Sebagian lainnya menganggap maksud dari kekhalifahan adalah kedaulatan dan pemerintahan manusia di bumi.
Mengenai sumber pengetahuan malaikat tentang kerusakan dan pertumpahan darah manusia di bumi, para mufasir mengemukakan beberapa kemungkinan, termasuk sifat material manusia, perbandingan dengan bangsa jin dan penghuni bumi sebelumnya, serta pemberitahuan Allah mengenai sifat-sifat manusia tersebut. Mereka menganggap pertanyaan malaikat bukanlah sebuah keberatan, melainkan upaya untuk memahami hakikat kekhalifahan ini.
Para peneliti Ilmu Al-Qur'an menafsirkan penggalan terakhir ayat ini sebagai penjelasan mengenai tujuan penciptaan Nabi Adam as dan menyebutkan beberapa contoh untuknya, termasuk ilmu pengetahuan, ketaatan yang hakiki, serta keberadaan manusia-manusia mulia dalam keturunan Nabi Adam as.
Pengenalan dan Teks Ayat
Ayat 30 Surah Al-Baqarah membahas tentang pengumuman kekhalifahan manusia dari sisi Allah swt di muka bumi serta tanya jawab malaikat dengan Allah mengenai kekhalifahan ini. Ayat ini adalah awal dari sepuluh ayat yang meneliti kedudukan manusia dalam sistem penciptaan, karakteristik, bakat, dan kemampuannya, penjelasan hakikat dan dampak kekhalifahan, serta peristiwa turunnya (hubut) manusia ke bumi.[1]
| “ | وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
|
” |
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi". Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): "Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu?". Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya".
Kandungan Ayat
Ayat ini dalam tiga bagian membahas dialog Allah dengan para malaikat. Bagian pertama tentang pengumuman kekhalifahan manusia oleh Allah, bagian kedua tentang pertanyaan malaikat mengenai alasan kekhalifahan ini, dan terakhir mengenai pengetahuan Allah atas penciptaan tersebut.
Pengumuman Kekhalifahan Manusia di Bumi
Allah swt dalam ayat ini berfirman kepada malaikat mengenai penggantian (suksesi) manusia di muka bumi. Para mufasir mengemukakan beberapa kemungkinan mengenai apa yang dimaksud dengan penggantian manusia dalam ayat tersebut: penggantian sebagai wakil Allah, penggantian umat dan makhluk masa lalu, penggantian atas malaikat, serta penafsiran kekhalifahan sebagai kedaulatan.
- Wakil Allah: Sebagian mufasir menganggap maksud kekhalifahan dalam ayat ini adalah perwakilan manusia atas nama Allah di muka bumi[2] dan mendasarkan pendapat mereka pada pengajaran asma' (nama-nama) kepada Nabi Adam as serta ketundukan dan sujud malaikat di hadapannya yang disebutkan dalam ayat-ayat berikutnya.[3]
- Pengganti Manusia dan Makhluk Masa Lalu: Banyak mufasir meyakini bahwa kemungkinan penggantian Allah bagi manusia tidak ada, bahkan bagi para nabi; karena menggantikan Allah berarti menggantikan ketuhanan-Nya dan meniscayakan ketiadaan Allah di bumi. Selain itu, manusia yang disifati dengan pertumpahan darah dan kerusakan tidak memiliki kelayakan untuk menggantikan Allah. Oleh karena itu, mereka menganggap maksud kekhalifahan dalam ayat ini adalah penggantian manusia atas umat dan makhluk-makhluk yang pernah hidup di bumi sebelumnya.[4]
- Pengganti Malaikat: Penulis Tafsir Makhzan al-Irfan dengan merujuk pada sebuah riwayat dari Ibnu Abbas meyakini bahwa sebelum manusia, terdapat malaikat bernama Nasnas yang menghuni bumi dan Allah menjadikan manusia sebagai pengganti mereka di bumi.[5]
- Khalifah Bermakna Kedaulatan: Beberapa mufasir menafsirkan maksud kekhalifahan manusia di bumi sebagai kedaulatan dan pemerintahannya.[6]
Pertanyaan Malaikat Tentang Alasan Kekhalifahan Manusia
Dalam dialog antara Allah swt dan malaikat, muncul pertanyaan dari pihak malaikat mengenai mengapa Allah menjadikan makhluk yang akan melakukan kerusakan dan pertumpahan darah sebagai khalifah-Nya di bumi? Para mufasir menyebutkan beberapa kemungkinan mengenai sumber pengetahuan malaikat tentang karakteristik manusia, antara lain sifat material manusia, perbandingan dengan bangsa jin dan penghuni bumi sebelumnya, serta pemberitahuan Allah mengenai sifat-sifat manusia tersebut. Mereka menganggap pertanyaan malaikat bukanlah bentuk protes, melainkan upaya memahami hakikat kekhalifahan ini.[7]
- Perbandingan dengan Jin dan Penghuni Sebelumnya: Beberapa mufasir meyakini bahwa sebelum Nabi Adam as, bangsa jin telah hidup di bumi dan kerusakan serta pertumpahan darah merupakan karakteristik mereka. Oleh karena itu, dengan membandingkan antara perbuatan jin dan manusia, mereka sampai pada kesimpulan tersebut.[8]
- Sifat Material Manusia: Berdasarkan pendapat beberapa mufasir termasuk Allamah Thabathabai, malaikat dikarenakan pengetahuan mereka tentang fitrah material manusia (campuran amarah dan syahwat) serta keterbatasan dunia material yang memicu kerusakan dan pertumpahan darah, mengajukan pertanyaan kepada Allah untuk memahami alasan kekhalifahan makhluk semacam itu di bumi.[9] Pertanyaan ini bertujuan untuk memahami hakikat dan bukan bentuk keberatan terhadap kehendak Allah.[10]
- Pemberitahuan Allah kepada Malaikat: Sebagian mufasir menganggap sumber pengetahuan malaikat tentang sifat-sifat manusia berasal dari tanya jawab yang mereka lakukan dengan Allah, di mana Allah mengumumkan bahwa dalam wujud manusia telah diletakkan sifat-sifat tersebut. Para malaikat setelah mendapatkan pengetahuan ini dari sisi Allah kemudian bertanya tentang alasan kekhalifahan tersebut.[11]
Tujuan Penciptaan Adam
Para peneliti Ilmu Al-Qur'an menafsirkan penggalan terakhir ayat ini sebagai penjelasan mengenai tujuan penciptaan Nabi Adam as dan menyebutkan beberapa contoh untuknya. Ilmu pengetahuan, ketaatan yang hakiki, serta keberadaan manusia-manusia luhur dalam keturunan Nabi Adam as dapat disebut sebagai contoh-contoh tersebut.
- Ilmu Pengetahuan: Dalam beberapa tafsir, salah satu tujuan Allah menciptakan Nabi Adam as adalah ilmu pengetahuan yang diajarkan Allah kepada Nabi Adam as; ilmu pengetahuan yang tidak mampu diterima oleh malaikat dan mempelajarinya hanya mungkin bagi Nabi Adam as. Ilmu ini memiliki nilai yang sangat luhur bahkan lebih penting daripada ibadah. Para mufasir ini menjadikan ayat-ayat setelahnya yang berkaitan dengan penerimaan asma'ul husna oleh Nabi Adam as dari sisi Allah sebagai dasarnya.[12]
- Ketaatan yang Hakiki: Sebagian mufasir dengan membedakan antara ibadah serta ketaatan malaikat dan manusia, meyakini bahwa manusia karena berada dalam paparan waswas setan, maka ketaatan dan kepatuhannya jauh lebih berharga daripada ibadah malaikat yang tidak menghadapi keterbatasan semacam itu.[13]
- Keberadaan Manusia-manusia Suci dalam Keturunan Adam: Beberapa mufasir menganggap keberadaan para nabi seperti Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim as, Nabi Nuh as, Nabi Musa as, Nabi Isa as, serta para Imam Syiah, para syuhada, dan shadiqin sebagai contoh dari penggalan terakhir ayat ini; mereka adalah orang-orang yang layak mendapatkan kekhalifahan Ilahi di muka bumi.[14]
Catatan Kaki
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jil. 1, hlm. 114; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil. 1, hlm. 171.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jil. 1, hlm. 115; Qurasyi, Tafsir Ahsan al-Hadits, 1375 HS, jil. 1, hlm. 91.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil. 1, hlm. 172.
- ↑ Shadiqi Tehrani, Al-Furqan, 1406 H, jil. 1, hlm. 280-283; Modarresi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jil. 1, hlm. 129.
- ↑ Amin, Tafsir Makhzan al-Irfan, 1336 HS, jil. 1, hlm. 236.
- ↑ Ja'fari, Tafsir Kawsar, 1376 HS, jil. 1, hlm. 122.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil. 1, hlm. 173.
- ↑ Sabzawari, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, jil. 1, hlm. 11; Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jil. 1, hlm. 158.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jil. 1, hlm. 115; Fakhrurazi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jil. 2, hlm. 385-390.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jil. 1, hlm. 115.
- ↑ Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1360 HS, jil. 1, hlm. 177; Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 HS, jil. 1, hlm. 87.
- ↑ Ansyari, "Khalifat dar Zamin", hlm. 999; Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jil. 1, hlm. 117.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil. 1, hlm. 174.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jil. 1, hlm. 175.
Daftar Pustaka
- Amin, Nusrat Begum. Tafsir Makhzan al-Irfan dar Olum-e Qur'an (Tafsir Makhzan al-Irfan dalam Ilmu-Ilmu Al-Qur'an). Tanpa tempat, tanpa penerbit, 1336 HS.
- Ansyari, Mas'ud. "Khalifat dar Zamin" (Kekhalifahan di Bumi). Dalam Danysyenam-e Qur'an wa Qur'an-syenasi. Teheran, Penerbit Dustan dan Penerbit Nahid, 1377 HS.
- Fakhrurazi, Muhammad bin Umar. Mafatih al-Ghaib. Beirut, Penerbit Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H.
- Ja'fari, Ya'qub. Tafsir Kawsar. Qom, Hijrat, 1376 HS.
- Makarem Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS.
- Modarresi, Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran, Penerbit Muhibbi al-Husain, 1419 H.
- Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Teheran, Pusat Kebudayaan Darshayi az Qur'an, 1383 HS.
- Qurasyi Bonabi, Ali Akbar. Tafsir Ahsan al-Hadits. Teheran, Yayasan Bi'tsat, 1375 HS.
- Sabzawari Najafi, Muhammad bin Habibullah. Irsyad al-Adzhan ila Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Ta'aruf lil-Mathbu'at, 1419 H.
- Shadiqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an wa al-Sunnah. Qom, Farhang-e Islami, 1406 H.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
- Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1390 H.
- Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Nasir Khosrow, 1372 HS.