Konsep:Ayat Isar
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Nama | Ayat Isar |
| Surah | Al-Hasyr |
| Ayat | 9 |
| Juz | 28 |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Isar Anshar dalam mendonasikan harta dan ganimah Bani Nadhir kepada Muhajirin |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Anshar |
Ayat Isar (bahasa Arab:آیه ایثار) adalah ayat kesembilan dari Surah Al-Hasyr yang dianggap turun berkenaan dengan kaum Anshar.[1] Sebagian mufasir meyakini bahwa tidak ada perbedaan pendapat mengenai turunnya ayat ini tentang kaum Anshar.[2] Di awal ayat, Allah menyifati kaum Anshar sebagai orang-orang yang telah menetap di Madinah sebelum kaum Muhajirin berhijrah ke sana, dan mereka menjamu Nabi serta kaum Muhajirin dengan cara terbaik.[3] Mereka telah beriman sebelum kaum Muhajirin datang ke Madinah.[4]
Pada kelanjutan ayat, disebutkan tiga sifat bagi kaum Anshar: "mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka", "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada orang-orang Muhajirin", serta "mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan".[5] Dengan demikian, ayat ini menghitung "mahabbah" (kecintaan), "pandangan yang luas" (kelapangan hati), dan "Isar" (mengutamakan orang lain) sebagai tiga karakteristik kaum Anshar.[6]
۞ وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(Terjemahan: Dan (juga) orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak merasakan dalam hati mereka keinginan (yang lain) terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam keadaan kekurangan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.) [ Al-Hasyr-9 ]
Sumber-sumber tafsir menyebutkan beberapa sebab turun bagi Ayat Isar, di antaranya adalah:
- Nabi Muhammad saw dalam pembagian ganimah (harta rampasan perang) dari kabilah Bani Nadhir, memberikan pilihan kepada kaum Anshar: jika kalian menginginkan, kalian membagi harta dan rumah-rumah kalian dengan kaum Muhajirin lalu kalian berserikat dengan mereka dalam ganimah ini; atau harta dan rumah-rumah kalian tetap menjadi milik kalian, akan tetapi kalian tidak mendapatkan bagian dari ganimah. Kaum Anshar menjawab bahwa kami akan membagi harta kami dengan kaum Muhajirin dan kami juga tidak menginginkan bagian dari ganimah.[7] Menurut Muhammad Muhammadi Reysyahri dalam Daneshnameh Quran wa Hadith (Ensiklopedia Al-Qur'an dan Hadis), kebanyakan mufasir menerima sebab turun ini dan menganggapnya sesuai dengan lahiriah ayat.[8]
- Seseorang yang kelaparan datang kepada Nabi saw dan meminta makanan. Setelah Nabi mengetahui ketidaktersediaan makanan di rumahnya, beliau bertanya kepada para sahabatnya, siapa yang bisa menjamu orang ini? Dalam sumber-sumber tafsir disebutkan nama seorang Anshar yang menerima untuk membawa tamu tersebut ke rumahnya, sementara ia hanya memiliki makanan seukuran (jatah) anak-anaknya. Ia dan istrinya mematikan lampu rumah dan menidurkan anak-anak, lalu meletakkan makanan di hadapan tamu dan duduk bersamanya di sufreh (taplak makan). Mereka menemani tamu tersebut tanpa memasukkan sedikit pun makanan ke mulut mereka agar tamu itu mengira mereka juga sedang makan bersamanya, padahal mereka tidur dalam keadaan lapar.[9]
- Dalam sumber-sumber riwayat, kisah lelaki Anshar tersebut juga dinukil untuk Imam Ali as dan Fatimah sa;[10] namun sebagian mufasir meyakini bahwa ayat ini turun mengenai kaum Anshar, dan apa yang dinukil mengenai Imam Ali as dan Fatimah sa lebih bersifat tathbiq (penerapan/aplikasi) ayat; artinya peristiwa tersebut terjadi setelah turunnya ayat dan kandungan ayat dapat diterapkan pula pada mereka.[11]
Allamah Thabathaba'i menganggap kisah-kisah ini sebagai bentuk penerapan (tathbiq), yang mana ayat tersebut membenarkan kisah mereka juga, namun itu bukan sebab turun (asbabun nuzul) utama ayat tersebut.[12]
Catatan Kaki
- ↑ Zamakhsyari, Al-Kusyysyaf, 1407, jld.4, hlm.504.
- ↑ Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Quran, 1364 HS, jld.19, hlm.20.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424, jld.7, hlm.290.
- ↑ Syekh Thusi, At-Tibyan, jld.9, hlm.565.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld.23, hlm.517-518.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld.23, hlm.518.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld.9, hlm.390.
- ↑ Muhammadi Reysyahri, Daneshnameh Quran va Hadith, 1391 HS, jld.1, hlm.194.
- ↑ Wahidi Naisaburi, Asbab Nuzul al-Quran, 1411, hlm.439.
- ↑ Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib (as), 1379, jld.2, hlm.74.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld.23, hlm.519.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417, jld.19, hlm.209.
Daftar Pustaka
- Ibnu Syahr Asyub Mazandarani. Manaqib Al Abi Thalib (as). Qom, Penerbit Allamah, Cetakan pertama, 1379.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Nemuneh (Tafsir Contoh). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan pertama, 1374 HS.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan pertama, 1424.
- Muhammadi Reysyahri, Muhammad. Daneshnameh Quran va Hadith (Ensiklopedia Al-Qur'an dan Hadis). Penerjemah: Hamidridha Azhir, Hamidridha Syikhi, Qom, Darul Hadits, 1391 HS.
- Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Quran. Teheran, Penerbit Nashir Khusro, Cetakan pertama, 1364 HS.
- Suyuthi, Jalaluddin. Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir al-Ma'tsur. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asye Najafi, 1404.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyan fi Tafsir al-Quran. Pengantar: Syekh Agha Bozorg Tehrani, Riset: Ahmad Qashir Amili, Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, Tanpa Tanggal.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Quran. Pengantar: Muhammad Jawad Balaghi, Teheran, Nashir Khusro, Cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Quran. Qom, Penerbit Publikasi Islam, Cetakan kelima, 1417.
- Wahidi Naisaburi, Ali bin Ahmad. Asbab an-Nuzul. Beirut, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1411.
- Zamakhsyari, Mahmud. Al-Kusyysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh at-Tanzil. Beirut, Dar al-Kutub al-Arabi, 1407.
Templat:Ayat-ayat Masyhur Al-Qur'an Templat:Ayat-ayat Akhlak