Konsep:Ayat 9 Surah An-Najm
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | An-Najm |
| Ayat | 9 |
| Juz | 27 |
| Informasi Konten | |
| Deskripsi | Menjelaskan tahap terakhir dan terpenting dari Mikraj Nabi Muhammad (saw) |
Ayat 9 Surah An-Najm menjelaskan tahap terakhir dan terpenting dari Mikraj Nabi Muhammad (saw); sebuah kedudukan yang tidak pernah dicapai oleh malaikat maupun nabi mana pun sebelumnya. Dalam ayat ini, kedekatan Nabi Muhammad (saw) dengan Tuhan digambarkan dengan frasa "qaba qawsaini aw adna; sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi". "Qaba qawsaini" berarti ukuran jarak antara dua ujung busur panah, yang dianggap sebagai kiasan atas kedekatan spiritual yang sangat intens antara Nabi dan Tuhan. Beberapa peneliti meyakini bahwa bentuk busur yang terlihat pada struktur Mihrab diambil dari ungkapan Al-Qur'an ini.
Dalam sumber-sumber disebutkan bahwa Nabi Muhammad (saw) mengalami perubahan khusus di bawah pengaruh daya tarik spiritual dari pertemuan ini. Banyak riwayat dari Ahlulbait (as) yang menafsirkan ayat ini sebagai syuhud (penyaksian) batiniah yang istimewa bagi Nabi Muhammad (saw) terhadap Zat Ilahi. Sejumlah penafsir Syiah termasuk Syaikh Thusi dan Thabarsi menganggap ayat ini berkaitan dengan jarak antara Nabi Islam dan Jibril. Makarem Syirazi menyebutkan alasan dari penafsiran ini adalah kekhawatiran akan timbulnya bayangan jasmaniah bagi Tuhan, namun ia menolak alasan tersebut dan memberikan kritik terhadap pendekatan semacam itu.
Templat:Qur'an Baru|Templat:Qur'an Baru
Konsepologi
Kata "qaba" berarti ukuran dan "qaws" diartikan sebagai busur panah. Berdasarkan hal ini, frasa "qaba qawsaini" dimaknai sebagai jarak antara dua ujung satu busur panah.[1] Dalam Tafsir Majma' al-Bayan dinukil sebuah riwayat bahwa Nabi Muhammad (saw) menganggap jarak ini seukuran dua dzira';[2] "dzira'" adalah jarak dari siku hingga ujung jari tangan, yang diperkirakan sekitar 45 sentimeter.[3]
Tafsir umum tentang "qurb" (kedekatan) dalam ayat ini adalah kedekatan spiritual; artinya Nabi Muhammad (saw) dalam jalur kesempurnaan ruhani, mencapai kedudukan yang disebutkan dengan ungkapan "qaba qawsaini".[4] Oleh karena itu, ungkapan ini merupakan semacam kiasan untuk menjelaskan intensitas kedekatan dalam sebuah penyaksian batiniah, bukan kedekatan tempat maupun jasmani.[5] Pada kenyataannya, Tuhan menggunakan sebuah standar umum (urf) untuk memahamkan kedekatan spiritual ini dengan lebih baik.[6] Dari pandangan para penafsir, kedudukan ini sama sekali tidak menunjukkan kedekatan fisik; karena Tuhan tidak memiliki tubuh dan konsep kedekatan tempat tidak dapat dibayangkan bagi-Nya.[7]
Beberapa peneliti juga meyakini bahwa struktur busur pada Mihrab diambil dari ungkapan Al-Qur'an "qaba qawsain" ini.[8]
Kedudukan bagi Nabi
Ayat 9 Surah An-Najm dianggap menjelaskan tahap terakhir[9] dan terpenting dari Mikraj Nabi Muhammad (saw);[10] tahap di mana Nabi mencapai kedudukan yang tidak pernah dicapai oleh malaikat maupun nabi mana pun sebelumnya.[11] Dalam sumber-sumber disebutkan bahwa Nabi Islam (saw) sangat terpengaruh oleh daya tarik spiritual dari pertemuan ini.[12]
Abdul Qadir Jailani, sufi dan penyair Muslim, menggambarkan kedudukan ini demikian: Templat:Puisi
Dari sudut pandang kaum arif, perjalanan Nabi (saw) dalam mikraj adalah sebuah gerakan menanjak dari tingkatan eksistensi yang rendah menuju kedudukan yang paling tinggi, dan ayat 8 dan 9 surah ini merupakan tanda dari perjalanan makrifat dan batiniah tersebut.[13] Jamaluddin Abdul Razzaq, penyair Muslim abad keenam Hijriah, menyatakan makna ini demikian: Templat:Puisi
Beberapa ulama menganggap kedudukan "aw adna" sebagai tahapan yang lebih tinggi dari "qaba qawsain"; tempat di mana penyaksian dan kedekatan spiritual mencapai puncaknya.[14] Dari pandangan sufistik, "qaba qawsain" adalah tajali kedudukan "Wahidiyat" Tuhan dan "aw adna" merujuk pada kedudukan "Ahadiyat" Zat Ilahi.[15] Beberapa mufasir juga menganalisis ayat 9 ini dalam keterkaitannya dengan konsep filsafat "Wujub" (Kewajiban) dan "Imkan" (Kemungkinan) serta meyakini bahwa Nabi Islam pada tahap ini mencapai derajat kemungkinan eksistensial yang tertinggi.[16]
Isyarat pada jarak antara Nabi dengan Tuhan
Beberapa penafsir Syiah seperti Makarem Syirazi,[17] Sayyid Muhammad Taqi Mudarrisi[18] dan Jawadi Amuli,[19] menganggap ayat 9 Surah An-Najm menjelaskan hubungan yang mendalam dan khusus antara Nabi Muhammad (saw) dan Tuhan. Berdasarkan banyak riwayat dari Ahlulbait (as), yang dimaksud dari ayat-ayat ini adalah sejenis penyaksian internal dan ruhani yang istimewa terhadap hakikat Tuhan, bukan pertemuan indrawi atau jasmani.[20] Dalam salah satu riwayat ini dinukil bahwa Nabi Islam (saw) bersabda: Ketika aku dinaikkan ke langit, aku menjadi begitu dekat dengan Tuhanku sehingga jarak antara aku dan Dia adalah seukuran "qaba qawsaini aw adna; dua ujung busur panah atau kurang dari itu".[21]
Isyarat pada jarak antara Nabi dengan Jibril
Beberapa penafsir Syiah[22] termasuk Syaikh Thusi dalam kitab At-Tibyan[23] dan Thabarsi dalam kitab Majma' al-Bayan[24] menganggap ayat 9 Surah An-Najm menjelaskan jarak antara Nabi Muhammad (saw) dan Jibril. Terdapat dalil-dalil yang disebutkan dalam mengkritik dan menolak pandangan ini:
- Ayat-ayat setelah ayat 9 dengan jelas merujuk pada kedudukan Tuhan dan tidak dapat diterapkan pada Jibril.
- Banyak riwayat dari Ahlulbait (as) menganggap ayat tersebut merujuk pada penyaksian dan kedekatan Nabi terhadap Zat Ilahi, bukan Jibril.[25]
- Dalam Surah An-Najm, kedudukan istimewa disebutkan bagi pertemuan ini, sementara melihat Jibril tidak memiliki kedudukan dan kepentingan yang demikian.[26]
Menurut pandangan Makarem Syirazi, alasan dari penafsiran ini adalah bahwa menafsirkan ayat ini pada hubungan antara Tuhan dan Nabi Islam mungkin menimbulkan bayangan jasmaniah bagi Tuhan dalam benak audiens; kekhawatiran inilah yang menyebabkan beberapa mufasir menganggap ayat tersebut merujuk pada hubungan antara Nabi dan Jibril.[27]
Catatan Kaki
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 486.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 262.
- ↑ Syaikh Anshari, Al-Makasib, 1410 H, jld. 5, hlm. 365.
- ↑ Haidari, Al-Tauhid, 1427 H, jld. 2, hlm. 444.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 492.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 14, hlm. 151.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 12, hlm. 324.
- ↑ Syajari, "Mikraj Nabi (saw) wa Arsy-e an ba Mihrab-e Masajid", hlm. 66.
- ↑ Syajari, "Mikraj Nabi (saw) wa Arsy-e an ba Mihrab-e Masajid", hlm. 63.
- ↑ Syajari, "Mikraj Nabi (saw) wa Arsy-e an ba Mihrab-e Masajid", hlm. 66.
- ↑ Haidari, Al-Tauhid, 1427 H, jld. 2, hlm. 444.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 489.
- ↑ Syajari, "Mikraj Nabi (saw) wa Arsy-e an ba Mihrab-e Masajid", hlm. 66.
- ↑ Haidari, Al-Rasikhun fi al-'Ilm, 1429 H, hlm. 131.
- ↑ Assar, Majmu'ah Atsar Assar, 1376 HS, hlm. 515.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 12, hlm. 324.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 489.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 14, hlm. 151.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Surah An-Najm, sesi 4, situs Esra.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 489.
- ↑ Syaikh Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 352.
- ↑ Lihat: Husaini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 54; Gunabadi, Tafsir Bayan al-Sa'adah, 1408 H, jld. 4, hlm. 121.
- ↑ Syaikh Thusi, At-Tibyan, Beirut, jld. 9, hlm. 423.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 262.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 489.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 488.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 22, hlm. 490.