Lompat ke isi

Konsep:Ayat 86 Surah Hud

Dari wikishia

Templat:Kotak info ayat Ayat 86 Surah Hud berbicara tentang lebih baiknya keuntungan dan modal halal daripada modal yang diperoleh melalui jalan kecurangan dalam menimbang. Berdasarkan penafsiran Baqiyatullah sebagai keuntungan dan modal halal, Allah berfirman dalam ayat ini bahwa jika kalian beriman kepada Allah, keuntungan dan modal halal dari harta yang kalian peroleh melalui kecurangan menimbang adalah lebih baik bagi kalian. Dalam ayat ini, iman diperkenalkan sebagai syarat untuk memahami kebenaran atau prinsip kebaikan Baqiyatullah. Di akhir ayat, disebutkan dari lisan Nabi Syu'aib bahwa aku tidak memiliki kewajiban selain menyampaikan dan aku bukanlah penjaga atas nikmat-nikmat atau amal perbuatan kalian.

Dalam beberapa riwayat dan juga Ziarah Jamiah Kabirah, para Imam Syiah diingat dengan gelar Baqiyatullah. Selain itu, berdasarkan hadis-hadis, Baqiyatullah digunakan sebagai gelar untuk Imam Mahdi (afj) dan salam diberikan kepadanya dengan ucapan "Assalamu 'alaika ya Baqiyatullah". Dalam sebuah hadis dari Imam Muhammad Baqir as dinukilkan bahwa ketika Al-Qaim kami bangkit, perkataan pertama yang diucapkannya adalah ayat 86 Surah Hud, dan kemudian ia berkata: "Akulah Baqiyatullah di bumi."

Teks dan Terjemahan

Ayat 86 Surah Hud, setelah Nabi Syu'aib mengajak kaumnya untuk menyembah Allah dan melarang mereka dari kecurangan dalam menimbang serta kerusakan, dan setelah mengisyaratkan pada pentingnya ekonomi yang sehat, ia memperingatkan mereka bahwa pertambahan kekayaan melalui jalan kezaliman dan penindasan tidak menyebabkan kecukupan; melainkan modal halal yang tersisa bagi kalian adalah lebih baik jika kalian beriman.[1] Templat:Quran jadidTemplat:SakhTemplat:Quran jadid

Berbagai Teori tentang "Baqiyatullah"

Mengenai maksud dari "Baqiyatullah" dalam ayat 86 Surah Hud, berbagai teori telah dikemukakan oleh para mufasir. Sebagian mufasir Syiah menafsirkan Baqiyatullah dengan makna keuntungan halal yang tersisa bagi penjual dalam transaksi,[2] yang dalam hal ini, ayat mengisyaratkan bahwa keuntungan halal lebih baik daripada harta yang diperoleh melalui kecurangan menimbang.[3] Sebagian lainnya menganggapnya bermakna nikmat atau rezeki Allah,[4] dan sebagian meyakini bahwa Baqiyatullah bermakna ketaatan kepada Allah yang pahalanya tetap abadi.[5]

Nashir Makarim Syirazi juga menyebutkan tiga aspek untuk penamaan keuntungan halal sebagai Baqiyatullah: pertama, keuntungan halal adalah atas perintah Allah; kedua, memperoleh keuntungan ini menyebabkan kelestarian nikmat-nikmat ilahi; dan ketiga, mengisyaratkan pada pahala-pahala maknawi yang tetap abadi selamanya.[6]

Sebagian mufasir meyakini bahwa syarat "IN KUNTUM MU'MININ; Jika kalian beriman", adalah untuk pemahaman yang benar akan kebaikan Baqiyatullah, yakni orang-orang mukminlah yang menyadari bahwa firman Allah adalah benar dan Baqiyatullah adalah baik bagi mereka.[7] Nashir Makarim Syirazi juga menganggap syarat ini untuk memahami prinsip perkataan tersebut dan meyakini hanya orang-orang mukmin yang dapat memahami bahwa Baqiyatullah adalah baik.[8] Ibnu Arabi juga mengatakan bahwa maksud dari Baqiyatullah adalah apa yang tersisa bagi manusia di hadirat ilahi, seperti kesempurnaan dan kebahagiaan ukhrawi, adalah lebih baik daripada pendapatan duniawi yang fana dan melelahkan.[9] Syamsuddin al-Qurthubi juga meyakini bahwa ayat ini ditujukan kepada kaum Syu'aib dan mengisyaratkan bahwa apa yang Allah sisakan setelah menjaga keadilan dan menunaikan hak-hak orang lain memiliki berkah yang lebih besar.[10]

Tafsir "WA MA ANA 'ALAIKUM BI HAFIZH" dan Misdak-misdak "Baqiyatullah"

Dalam tafsir-tafsir Al-Tibyan dan Majma' al-Bayan, potongan ayat "WA MA ANA 'ALAIKUM BI HAFIZH" bermakna bahwa Nabi Syu'aib bukanlah penjaga nikmat-nikmat Allah dan hanya Allah-lah pelindung mereka. Maka untuk kelestarian nikmat-nikmat tersebut harus menaati Allah dan jika terjadi pembangkangan, nikmat-nikmat tersebut akan diambil dari manusia.[11] Allamah Thabathaba'i juga mengatakan bahwa kalimat ini menjelaskan bahwa nikmat-nikmat dan rezeki manusia tidak bergantung pada kekuatan Nabi; Nabi hanya memiliki kewajiban untuk menyampaikan.[12] Nashir Makarim Syirazi juga meyakini bahwa Nabi Syu'aib hanya bertugas memberi peringatan dan tidak bertanggung jawab atas amal perbuatan orang-orang.[13]

Makarim Syirazi juga menyatakan bahwa "Baqiyatullah" tidak hanya untuk keuntungan halal, melainkan untuk segala sesuatu yang tersisa dari sisi Allah bagi manusia dan menyebabkan kebaikan serta berkah. Oleh karena itu, para nabi dan pemimpin agama, khususnya Imam Mahdi (afj), termasuk misdak-misdak nyata dari Baqiyatullah.[14]Kaligrafi ayat 86 Hud dengan Khat Tsuluth, karya Muhammad Kasyani Azad tahun 1389 HS.

Baqiyatullah dan Imam-imam Syiah

Templat:Utama Dalam beberapa riwayat, gelar Baqiyatullah digunakan untuk para Imam Syiah dan khususnya Imam Mahdi (afj).[15] Dalam Ziarah Jamiah Kabirah juga para Imam Syiah diingat dengan gelar Baqiyatullah (Assalamu 'alal aimmatid du'ati, wal qadatil hudati, was sadatil wulati, wadz dzadatil humati, wa ahlidz dzikri wa ulil amri, wa Baqiyatillahi wa khiyaratih).[16] Kaligrafi ayat 86 Hud dengan Khat Nastaliq karya Muhammad Abbasi dari Masyhad. Dalam sebuah hadis dari Imam Muhammad Baqir as disebutkan bahwa ketika Al-Qaim kami bangkit, perkataan pertama yang diucapkannya adalah ayat 86 Hud dan kemudian ia berkata: "Akulah Baqiyatullah di bumi." Dalam kelanjutan hadis disebutkan bahwa orang-orang yang memberi salam kepadanya mengucapkan demikian: "Assalamu 'alaika ya Baqiyatullah fi ardhih."[17] Dalam sebuah riwayat dari Imam Syadiq as dinukilkan bahwa ia bersabda: "Ucapkanlah salam kepada Imam Mahdi (afj) demikian: 'Assalamu 'alaika ya Baqiyatullah'", kemudian ia membacakan ayat 86 Surah Hud.[18] Dari Ahmad bin Ishaq al-Qummi juga diriwayatkan bahwa Imam Mahdi memperkenalkan dirinya sebagai "Baqiyatullahi fi ardhih".[19]

Dalam sebuah hadis, Imam Baqir (as) menyebut dirinya sebagai Baqiyatullah dan kemudian membacakan ayat 86 Hud.[20] Imam Hadi as juga dalam sebuah hadis setelah membacakan ayat tersebut bersabda: "Baqiyatullah adalah kami."[21]

Dalam Manaqib Ibn Syahrasyub dinukilkan bahwa ayat ini turun tentang Ali (as) dan anak keturunannya.[22]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 9, hlm. 200-203.
  2. Lihat: Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 286; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 10, hlm. 364; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 9, hlm. 203.
  3. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 10, hlm. 364.
  4. Lihat: Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 286.
  5. Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, jld. 6, hlm. 48; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 286.
  6. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 9, hlm. 203.
  7. Lihat: Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, jld. 6, hlm. 48-49; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 286; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 10, hlm. 364.
  8. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 9, hlm. 203.
  9. Ibn al-'Arabi, Tafsir Ibn al-'Arabi, 1422 H.
  10. Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 1405 H, jld. 9, hlm. 86.
  11. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 5, hlm. 286.
  12. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 10, hlm. 365.
  13. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 9, hlm. 205.
  14. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 9, hlm. 203-204.
  15. Untuk contoh lihat: Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 24, hlm. 211-212.
  16. Ibn Masyhadi, Al-Mazar al-Kabir, 1419 H, hlm. 526.
  17. Syekh Shaduq, Kamaluddin, 1395 H, jld. 1, hlm. 331.
  18. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 411-412; Furat Kufi, Tafsir Furat al-Kufi, 1410 H, hlm. 193.
  19. Syekh Shaduq, Kamaluddin, 1395 H, jld. 2, hlm. 384.
  20. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 472.
  21. Mas'udi, Itsbat al-Washiyyah, 1426 H, hlm. 266.
  22. Lihat: Ibn Syahrasyub, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 3, hlm. 102 dan 255.

Daftar Pustaka

  • Ibn Syahrasyub, Muhammad bin Ali. Manaqib Ali Abi Thalib. Qom, Allamah, cetakan pertama, 1379 H.
  • Ibn al-'Arabi, Muhyiddin. Tafsir Ibn Arabi. Riset, koreksi dan pengantar: Abdul Warits Muhammad Ali. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1422 H/2001 M.
  • Ibn Masyhadi, Muhammad bin Ja'far. Al-Mazar al-Kabir. Koreksi: Jawad Qayumi Isfahani. Qom, Daftar Entisyarat Eslami berafiliasi dengan Jame'eh Mudarrisin Hauzeh Ilmiyah Qom, 1419 H.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawayh. Kamaluddin wa Tamam al-Ni'mah. Riset: Ali Akbar Ghaffari. Teheran, Islamiyah, cetakan kedua, 1395 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Mu'assasah al-A'lami, cetakan kedua, 1390 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Fadhlullah Yazdi Thabathaba'i dan Sayid Hasyim Rasuli Mahallati. Teheran, Nashir Khusraw, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Ahmad Habib Amili. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, tanpa tahun.
  • Furat Kufi, Furat bin Ibrahim. Tafsir Furat al-Kufi. Koreksi: Muhammad Kazhim. Teheran, Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, 1410 H.
  • Al-Qurthubi, Syamsuddin. Tafsir al-Qurthubi (Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an). Riset: Ibrahim Athfisy. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1405 H/1985 M.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Riset: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-Aimmah al-Athhar (as). Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan kedua, 1403 H.
  • Mas'udi, Ali bin Husain. Itsbat al-Washiyyah lil Imam Ali bin Abi Thalib (as). Qom, Anshariyan, cetakan ketiga, 1426 H/1386 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.

```