Lompat ke isi

Konsep:Ayat 60 Surah Ghafir

Dari wikishia

Templat:Kotak info Ayat Ayat 60 Surah Ghafir mengajak umat manusia untuk berdoa dan menjanjikan pengabulan doa.[1] Selain itu, dalam ayat ini, doa diakui sebagai Ibadah dan bagi mereka yang menjauhkan diri dari ibadah dan penghambaan, dijanjikan akan dimasukkan ke dalam Neraka Jahanam.[2]

Templat:Quran baruTemplat:SakhTemplat:Quran baru

Menurut Tafsir Nemuneh, beberapa mufasir menganggap doa dalam ayat ini bermakna meminta hajat (kebutuhan),[3] dan frasa "astajib lakum" (Aku mengabulkanmu) serta beberapa hadis yang mengacu pada ayat tersebut menjadi bukti benarnya kemungkinan ini. Sebaliknya, kelompok lain dengan mengikuti Ibnu Abbas menganggap doa dalam ayat ini bermakna Tauhid dan beribadah kepada Allah. Berdasarkan hal ini, ayat tersebut memerintahkan: "Beribadahlah kepada-Ku dan akuilah keesaan-Ku."[4]

Para mufasir yang menganggap doa dalam ayat ini bermakna permintaan, menganggap pengabulan doa bergantung pada terpenuhinya syarat-syarat yang diperlukan[5] atau sesuai dengan kemaslahatan hamba tersebut.[6]

Mengenai ayat 60 Surah Ghafir, terdapat beberapa Hadis yang dinukil dari Nabi Muhammad saw dan Ahlulbait as;[7] sebagaimana Imam Muhammad Baqir as menganggap ibadah yang paling utama adalah doa dan memohon dari apa yang ada di sisi Allah, serta menganggap orang yang paling dibenci adalah seseorang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada Allah dan tidak meminta apa pun dari sisi-Nya.[8] Dalam sebuah riwayat juga Imam Shadiq as menyesuaikan kata Ibadah dalam ayat ini dengan doa dan selanjutnya bersabda: Berdoalah dan jangan katakan bahwa urusan telah selesai. Zurarah yang merupakan perawi hadis ini menjelaskan bahwa maksud Imam Shadiq as adalah iman kepada Qada dan Kadar tidak boleh menjadi penghalang untuk banyak berdoa dan bersungguh-sungguh dalam berdoa.[9]

Sekte Wahabi dengan berargumen pada ayat ini dan ayat-ayat lainnya menganggap semua jenis doa sebagai ibadah dan penyembahan. Kemudian mereka menganggap memanggil selain Allah seperti para wali saleh yang telah wafat dan Tawasul sebagai Syirik dalam ibadah.[10] Sebaliknya, para ulama Syiah dengan bersandar pada banyak ayat Al-Qur'an seperti Ayat 22 Surah Ibrahim dan Ayat 5 Surah Nuh menganggap penggunaan kata doa dan ajakan (da'wat) kepada selain ibadah juga benar dan tidak menganggap doa dan ibadah sebagai sinonim.[11] Menurut keyakinan Nasir Makarem Syirazi, dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an, kita memahami bahwa memanggil selain Allah jika disertai dengan keyakinan akan independensinya dari Allah adalah Kufur dan syirik, namun tanpa keyakinan tersebut, hal itu adalah benar. Beliau bersandar pada ayat 5 Surah Nuh dan Ayat 282 Surah Al-BaqarahTemplat:Y untuk membenarkan pemanggilan dan permintaan hajat dari selain Allah.[12]

Catatan Kaki

  1. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hlm. 34; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 20, hlm. 146.
  2. Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 2, hlm. 34.
  3. Syaikh Thusi, Tafsir al-Tibyan, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 9, hlm. 89; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 20, hlm. 146.
  4. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 20, hlm. 146.
  5. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 20, hlm. 146-147.
  6. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 8, hlm. 823; Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 11, hlm. 392.
  7. Sebagai contoh lihat: Bahrani, Tafsir al-Burhan, 1416 H, jld. 4, hlm. 765-767; Arusi Huwaizi, Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 4, hlm. 526-529; Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 17, hlm. 343.
  8. Faidh Kasyani, Tafsir al-Safi, 1415 H, jld. 4, hlm. 346.
  9. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 467.
  10. Subhani, Ayin-e Wahabiyyat, Jamiah Mudarrisin, hlm. 335-337; Mafhum-e Do'a az Didgah-e Wahabiyyat wa Naqd-e An Situs A'in-e Rahmat.
  11. Subhani, Ayin-e Wahabiyyat, Jamiah Mudarrisin, hlm. 338-343.
  12. Mafhum-e Do'a az Didgah-e Wahabiyyat wa Naqd-e An Situs A'in-e Rahmat.

Catatan

Daftar Pustaka

  • Allamah Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, Qom, Daftar-e Intisyarat-e Eslami, Cetakan Kelima, 1417 H.
  • Arusi Huwaizi, Abd Ali bin Jum'ah, Tafsir Nur al-Tsaqalain, Riset: Sayyid Hasyim Rasuli Mahallati, Qom, Intisyarat-e Esma'iliyan, 1415 H.
  • Bahrani, Sayyid Hasyim, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, Teheran, Bonyad-e Be'tsat, 1416 H.
  • Faidh Kasyani, Muhsin, Tafsir al-Safi, Riset: Husain A'lami, Teheran, Intisyarat-e al-Sadr, Cetakan Kedua, 1415 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, Al-Kafi, Riset: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Mafhum-e Do'a az Didgah-e Wahabiyyat wa Naqd-e An Situs A'in-e Rahmat, Tanggal Akses: 4 Ordibehesht 1403 HS.
  • Makarem Syirazi, Nasir, Tafsir Nemuneh, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
  • Subhani, Ja'far, Ayin-e Wahabiyyat, Qom, Jamiah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, tanpa tahun.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Teheran, Intisyarat-e Nashir Khusraw, 1372 HS.
  • Thayyib, Sayyid Abdul Husain, Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Teheran, Intisyarat-e Islam, Cetakan Kedua, 1378 HS.
```