Konsep:Ayat 42 Surah Yusuf
Templat:Kotak info ayat Ayat 42 Surah Yusuf dalam peristiwa takwil mimpi Nabi Yusuf di penjara, mengacu pada upaya beliau untuk bebas melalui saki (pembawa minuman) raja Mesir. Berdasarkan ayat ini, saki tersebut lupa akan pesan Yusuf, sehingga beliau tetap berada di dalam penjara selama beberapa tahun lagi.
Menurut pandangan mayoritas mufasir, dalam ayat ini sosok yang melupakan Tuhannya adalah Yusuf, dan karena alasan itulah Allah menahan beliau di penjara selama beberapa tahun lagi. Pandangan ini juga disimpulkan dari beberapa riwayat. Makarim Syirazi menganggap tindakan Yusuf ini bukan sebagai kesalahan, melainkan sebuah Tarku al-Ula, tetapi Allamah Thabathaba'i menyebut riwayat-riwayat tersebut bertentangan dengan nash Al-Qur'an dan meyakini bahwa sosok yang mengalami lupa adalah perantara tersebut (saki).
Kandungan Umum Ayat
Ayat 42 Surah Yusuf menjelaskan bagian dari kisah Yusuf dalam Al-Qur'an. Ayat ini merupakan kelanjutan dari kisah takwil mimpi dua narapidana oleh Nabi Yusuf as.[1] Berdasarkan ayat 41, Yusuf menakwilkan bahwa salah satu dari dua tahanan tersebut akan bebas dan mencapai kedudukan sebagai saki raja Mesir, lalu Yusuf memohon kepadanya: "Sebutkanlah keadaanku kepada 'Rabb' (tuan/raja) mu";[2] namun setan membuat saki itu lupa untuk "mengingat Rabb-nya" (menyebut nama Yusuf di depan tuannya), sehingga Yusuf tetap berada di penjara selama beberapa tahun.
Templat:Quran jadidTemplat:SakhTemplat:Quran jadid
Tahun-tahun Yusuf di Penjara
Dalam ayat 42 Surah Yusuf, disebutkan bahwa Nabi Yusuf as tetap berada di penjara selama "bidh'a sinin" (beberapa tahun).[3] Para mufasir menukil pendapat yang berbeda mengenai angka pasti dari bidh'a sinin. Sebagian mufasir Syiah menyebutkan maksud dari bidh'a sinin adalah tujuh tahun.[4] Menurut pandangan Allamah Thabathaba'i, bidh'u mengacu pada angka kurang dari sepuluh tahun.[5] Alusi, salah satu mufasir Ahlusunah, juga menyebutkan bidh'u antara tiga sampai sembilan tahun, meskipun ia juga mengemukakan pendapat lainnya.[6]
Lupa yang Dialami Yusuf atau Saki?
Dalam ayat 42 Surah Yusuf disebutkan bahwa "fa-ansyāhu al-syaythānu dzikra rabbih" (maka setan menjadikan dia lupa mengingat Tuhannya); para mufasir memberikan dua jenis pendapat mengenai kata ganti (dhamir) dalam kalimat ini dan siapa yang mengalami lupa tersebut: Menurut Nashir Makarim Syirazi,[7] mayoritas mufasir menisbatkan lupa tersebut kepada Yusuf,[8] sementara kelompok lain menganggap orang yang lupa adalah sang saki.[9]
1. Menisbatkan lupa kepada Yusuf: Thabarsi dalam Majma' al-Bayan menukil sebuah riwayat bahwa berdasarkan hal itu, Nabi Islam saw merasa heran atas tindakan saudaranya, Yusuf as, yang berlindung dan mencari bantuan kepada selain Allah. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa jika Yusuf as tidak mengajukan permohonan tersebut, masa penjaranya tidak akan berlangsung selama itu.[10] Suyuthi dalam Al-Durr al-Mantsur juga menukil riwayat ini dari Nabi Islam saw melalui Ibnu Abbas.[11] Menurut pandangan Makarim Syirazi, Nabi Yusuf as bertawasul kepada selain Allah dan melakukan Tarku al-Ula, sehingga beliau tetap berada di penjara selama beberapa tahun.[12]
Berdasarkan riwayat Ali bin Ibrahim al-Qummi dan Ayyasyi dari Imam Shadiq as, setelah Nabi Yusuf meminta teman penjaranya untuk menyebutkan namanya kepada raja demi kebebasannya, Allah memberikan Wahyu kepada Yusuf as. Setelah menyebutkan berbagai karunia dan nikmat Allah kepada Nabi Yusuf sepanjang hidupnya, Allah berfirman bahwa karena ia menaruh harapan kepada selain Allah, ia harus tetap berada di penjara beberapa tahun lagi sebagai hukuman.[13] Riwayat-riwayat lain mengenai kesalahan Nabi Yusuf as juga dinukil oleh Ayyasyi dalam tafsirnya.[14]
2. Menisbatkan lupa kepada saki: Menurut keyakinan Allamah Thabathaba'i, riwayat-riwayat yang menisbatkan kesalahan kepada Nabi Yusuf as bertentangan dengan nash (teks) tegas Al-Qur'an;[15] karena Allah menganggap Yusuf as termasuk golongan orang-orang yang mukhlas (ikhlas) di mana setan tidak memiliki jalan masuk ke dalamnya; selain itu tidak ada indikasi dalam ayat ini yang menunjukkan Nabi Yusuf bergantung kepada selain Allah; sebagaimana disebutkan dalam ayat 45 dari Surah Yusuf bahwa saki tersebut (teman di penjara) teringat kepada Nabi Yusuf as, yang mana kalimat ini menunjukkan bahwa saki-lah yang lupa, bukan Yusuf as.[16]
Sebelum Thabathaba'i, Syarif Lahiji, mufasir Syiah abad ke-11, juga menulis bahwa penyebaran sifat lupa dalam ayat tersebut berkaitan dengan sang saki, di mana Setan menjadikannya lupa untuk berbicara tentang Yusuf as kepada raja, dan poin inilah yang menjadi alasan berlanjutnya masa penjara Nabi Yusuf as selama beberapa tahun.[17] Dalam hal ini, "dzikra rabbih" dalam ayat tersebut bermakna "dzikra Yusuf 'inda rabbih" (mengingatkan Yusuf di sisi tuannya/raja), bukan mengingat Allah.[18] Sayid Quthb, salah satu mufasir Ahlusunah, juga setuju dengan pandangan ini.[19]
Zhann Yusuf (as) atau Tahanan Lainnya
Di awal ayat 42 Surah Yusuf, digunakan ungkapan zhann (menduga/menyakini) yang mana di antara mufasir Syiah terjadi perbedaan pendapat mengenai makna dan subjeknya (fa'il); sebagian menganggap subjek zhann adalah Nabi Yusuf as, yang mana makna ayat berdasarkan hal ini adalah keyakinan (yakin) Yusuf akan bebasnya sang saki (tahanan lainnya).[20] Menurut Allamah Thabathaba'i, zhann di sini bermakna keyakinan, karena selain kepercayaan Yusuf as akan terjadinya takwil mimpi ini dan dipelajarinya ilmu takwil mimpi dari Allah, berdasarkan bukti-bukti Al-Qur'an seperti Ayat 46 Surah Al-Baqarah, kata zhann digunakan untuk keyakinan mutlak.[21] Thabarsi menganggap pandangan ini sebagai pendapat mayoritas.[22] Sebagaimana Alusi, salah satu mufasir Ahlusunah, juga menerima pendapat ini.[23]
Alusi juga mengemukakan kemungkinan lain bahwa zhann di sini bermakna prasangka atau dugaan dan subjeknya adalah tahanan lainnya (saki). Berdasarkan pendapat ini, ayat tersebut bermakna prasangka dan dugaan saki akan kebebasan dirinya sendiri.[24] Menurut Sayid Muhammad Husain Thabathaba'i, pendapat ini tidak memiliki masalah jika disertai dengan konteks ayat-ayat (siyak).[25]
Catatan Kaki
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 9, hlm. 411.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 9, hlm. 413.
- ↑ Surah Yusuf, ayat 42.
- ↑ Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 2, hlm. 178; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 5, hlm. 359; Mughniyah, Al-Tafsir al-Mubin, 1425 H, hlm. 309.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 HS, jld. 11, hlm. 181.
- ↑ Alusi, Tafsir Ruh al-Ma'ani, 1415-1416 H, jld. 6, hlm. 437.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 9, hlm. 414.
- ↑ Ibn Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 2, hlm. 335; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 5, hlm. 359; Syekh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, jld. 6, hlm. 144; Abu al-Futuh Razi, Raudh al-Janan, 1366-1378 HS, jld. 11, hlm. 81; Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 5, hlm. 209.
- ↑ Syarif Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 2, hlm. 520; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 HS, jld. 11, hlm. 181; Mughniyah, Al-Tafsir al-Mubin, 1425 H, hlm. 309.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 5, hlm. 359.
- ↑ Suyuthi, Tafsir al-Durr al-Mantsur, 1414 H, jld. 4, hlm. 20.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 9, hlm. 414.
- ↑ Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 2, hlm. 176; Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 1, hlm. 345.
- ↑ Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 H, jld. 2, hlm. 177-178.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 HS, jld. 11, hlm. 183.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 HS, jld. 11, hlm. 181.
- ↑ Syarif Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 2, hlm. 520; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 HS, jld. 11, hlm. 181; Mughniyah, Al-Tafsir al-Mubin, 1425 H, hlm. 309.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 HS, jld. 11, hlm. 181.
- ↑ Sayid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1408 H, jld. 4, hlm. 1992.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 5, hlm. 359; Syekh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, jld. 6, hlm. 144; Abu al-Futuh Razi, Raudh al-Janan, 1366-1378 HS, jld. 11, hlm. 81; Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 5, hlm. 208; Syarif Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, 1373 HS, jld. 2, hlm. 520; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371-1374 HS, jld. 9, hlm. 413.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 HS, jld. 11, hlm. 180-181.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 5, hlm. 359.
- ↑ Alusi, Tafsir Ruh al-Ma'ani, 1415-1416 H, jld. 6, hlm. 437.
- ↑ Alusi, Tafsir Ruh al-Ma'ani, 1415-1416 H, jld. 6, hlm. 437.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1350-1353 HS, jld. 11, hlm. 181.
Daftar Pustaka
- Alusi, Mahmud bin Abdullah. Tafsir Ruh al-Ma'ani. Koreksi oleh Ali Abdul Bari Athiyah. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415-1416 H.
- Ibn Sulaiman, Muqatil. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Koreksi oleh Abdullah Mahmud Syahatah. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1423 H.
- Abu al-Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Janan. Disusun oleh Muhammad Mehdi Naseh dan Muhammad Jafar Yahaghi. Masyhad, Astan Quds Razavi, 1366-1378 HS.
- Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakr. Tafsir al-Durr al-Mantsur. Beirut, Dar al-Fikr, 1414 H.
- Syarif Lahiji, Muhammad bin Ali. Tafsir Syarif Lahiji. Teheran, Daftar Nasyr-e Dad, 1373 HS.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi oleh Hasyim Rasuli dan lainnya. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan. Disusun oleh Ahmad Habib Amili. Beirut, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, tanpa tahun.
- Shadiqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan. Qom, Farhang-e Islami, 1406-1410 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan. Beirut, Mu'assasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1350-1353 HS/ 1390-1394 H/ 1971-1974 M.
- Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-Ayyasyi. Koreksi oleh Hasyim Rasuli. Teheran, Maktabah al-Ilmiyyah al-Islamiyyah, 1380 H.
- Sayid Quthb, Ibrahim Husain Syadzili. Fi Zhilal al-Qur'an. Beirut, Dar al-Syuruq, 1408 H.
- Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Koreksi oleh Thayyib Jazairi. Qom, Dar al-Kitab, 1404 H.
- Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran, Dar Muhibbi al-Husain alaihis salam, 1419 H.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Mubin. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1425 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371-1374 HS.