Konsep:Ayat 3 Surah At-Tahrim
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | At-Tahrim |
| Ayat | 3 |
| Juz | 28 |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Penjelasan rahasia Nabi Muhammad saw kepada salah satu istrinya |
| Tempat Turun | Madinah |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 1 Surah At-Tahrim, Ayat 2 Surah At-Tahrim, Ayat 4 Surah At-Tahrim, Ayat 5 Surah At-Tahrim |
Ayat 3 Surah At-Tahrim menceritakan tentang sebuah rahasia yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw kepada salah satu istrinya, namun istri tersebut menyebarkan rahasia itu.
Sebagian sumber menganggap rahasia ini adalah sumpah Nabi Muhammad saw untuk tidak memakan madu, dan sebagian lainnya menganggapnya sumpah beliau untuk meninggalkan hubungan suami istri dengan salah satu istrinya yang bernama Mariyah Qibtiyah. Dalam sebagian tafsir, rahasia ini disebutkan sebagai kabar tentang kepemimpinan Abu Bakar dan Umar setelah Nabi Muhammad saw. Selain itu, mayoritas mufasir menganggap istri yang menyebarkan rahasia Nabi Muhammad saw adalah Hafshah atau Aisyah.
Pengenalan
Ayat ketiga Surah At-Tahrim, yang tergolong sebagai ayat Madaniyah,[1] menceritakan tentang rahasia yang disampaikan Nabi Muhammad saw kepada salah satu istrinya, namun istri tersebut menyebarkan rahasia itu dan Nabi Muhammad saw mengingatkan kesalahannya kepadanya.[2]
| “ | وَوَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَىٰ بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ ۖ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَٰذَا ۖ قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ
|
” |
Dan (ingatlah) ketika Nabi memberitahu suatu perkara secara rahsia kepada salah seorang dari isteri-isterinya; kemudian apabila isteri itu menceritakan rahsia yang tersebut (kepada seorang madunya), dan Allah menyatakan pembukaan rahsia itu kepada Nabi, (maka Nabi pun menegur isteri itu) lalu menerangkan kepadanya sebahagian (dari rahsia yang telah didedahkannya) dan tidak menerangkan yang sebahagian lagi (supaya isteri itu tidak terlalu malu). Setelah Nabi menyatakan hal itu kepadanya, berkatalah isteri itu: "Siapakah yang memberitahu hal ini kepada kanda?" Nabi menjawab: "Aku diberitahu oleh Allah Yang Maha Mengetahui, lagi Amat Mendalam PengetahuanNya (tentang segala perkara yang tersembunyi)".
Rahasia Apa yang Disampaikan Nabi Muhammad saw kepada Istrinya?
Mengenai sebab turunnya ayat dan rahasia apa yang disampaikan Nabi Muhammad saw kepada salah satu istrinya, terdapat laporan-laporan dengan penukilan yang berbeda dalam tafsir Syiah dan Sunni;[3] Allamah Thabathaba'i meyakini bahwa laporan-laporan ini tidak sepenuhnya sesuai dengan ayat-ayat awal surah ini.[4]
Meninggalkan Makan Madu
Sebagian tafsir menganggap rahasia Nabi Muhammad saw adalah sumpah beliau untuk tidak memakan madu; dalam Majma' al-Bayan dinukil bahwa seseorang membawakan seguci madu untuk Hafshah, dan setiap kali Nabi Muhammad saw pergi menemuinya, Hafshah menjamu beliau dengan madu sehingga Rasulullah saw tinggal lebih lama bersamanya. Aisyah merasa kesal dengan hal ini; oleh karena itu ia merencanakan dengan istri-istri Nabi lainnya agar ketika Rasulullah saw mendatangi mereka, mereka mengatakan: "Kami mencium bau maghafir (getah pohon yang berbau tidak sedap) darimu." Maka setiap kali Nabi Muhammad saw mendatangi salah satu istrinya, beliau mendengar ucapan yang sama. Nabi Muhammad saw yang sangat menghindari bau tidak sedap, bersumpah di hadapan Aisyah untuk tidak memakan madu selamanya[5] dan memintanya untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun.[6] Sebagian mufasir menganggap makan madu terjadi di rumah Zainab binti Jahsy atau Ummu Salamah atau Saudah dan meyakini bahwa Aisyah dan Hafshah merencanakan hal ini bersama-sama dan Nabi Muhammad saw bersumpah di hadapan Hafshah.[7] Tafsir Nemuneh menilai laporan ini lebih masyhur dan lebih sesuai.[8]
Meninggalkan Hubungan dengan Mariyah
Dalam sebagian laporan, rahasia Nabi Muhammad saw disebutkan sebagai sumpah beliau untuk meninggalkan hubungan suami istri dengan Mariyah Qibtiyah; Syeikh Thabarsi menukil bahwa suatu hari Nabi Muhammad saw berhubungan dengan Mariyah Qibtiyah di rumah Hafshah saat Hafshah sedang tidak ada. Ketika Hafshah mengetahui hal itu, ia memprotes Nabi Muhammad saw, dan Nabi Muhammad saw demi mendapatkan kerelaannya bersumpah untuk tidak lagi berhubungan badan dengan Mariyah dan meminta Hafshah agar tidak memberitahukan sumpah ini kepada siapa pun.[9] Berdasarkan sebagian laporan, Nabi Muhammad saw mengharamkan hubungan dengan Mariyah atas dirinya karena permintaan Hafshah atau ancaman Aisyah yang tidak akan memandang Nabi Muhammad saw lagi.[10]
Kepemimpinan Abu Bakar dan Umar
Sebagian sumber menyebutkan rahasia Nabi Muhammad saw adalah kabar beliau tentang kepemimpinan Abu Bakar dan Umar; Ali bin Ibrahim al-Qummi, salah seorang muhadis dan mufasir Syiah, dalam kitab tafsirnya menulis: Nabi Muhammad saw setelah bersumpah untuk meninggalkan hubungan dengan Mariyah Qibtiyah, menceritakan sebuah rahasia kepada Hafshah, yaitu: bahwa setelah beliau, Abu Bakar dan kemudian Umar akan memegang kekhilafahan, dan beliau meminta Hafshah untuk tidak menyebarkan rahasia ini, namun saat itu juga ia memberitahu Aisyah, dan dengan demikian Abu Bakar dan Umar pun mengetahuinya lalu merencanakan untuk meracuni Nabi Muhammad saw, maka turunlah ayat-ayat ini.[11]
Sebagian mufasir mengenai "arrafa ba'dhahu wa a'radha 'an ba'dhin" (Nabi Muhammad saw memberitahukan sebagian dan menyembunyikan sebagian lainnya) berpendapat bahwa Nabi Muhammad saw mengingatkan Hafshah tentang penyebaran rahasia mengenai Mariyah Qibtiyah, namun menyembunyikan penyebaran rahasia tentang kekhilafahan, dan menganggap perilaku Nabi Muhammad saw ini sebagai tanda kemuliaan beliau.[12] Allamah Thabathaba'i tidak menerima tafsir ini dan menganggapnya bertentangan dengan kemuliaan; karena sebenarnya yang perlu disembunyikan adalah masalah Mariyah Qibtiyah [yang merupakan masalah pribadi] dan masalah kekhilafahan [yang merupakan masalah sosial] perlu diungkapkan.[13] Allamah meyakini bahwa laporan-laporan ini tidak sepenuhnya sesuai dengan ayat-ayat awal Surah At-Tahrim.[14]
Catatan Kaki
- ↑ Ma'rifat, Amuzesy-e Olum-e Qur'an, 1371 HS, jld. 2, hlm. 168.
- ↑ Surah At-Tahrim, ayat 3, Terjemahan Ansarian.
- ↑ Sebagai contoh, lihat: Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 10, hlm. 471; Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 4, hlm. 562-563; Suyuthi, Al-Durr al-Manthur, 1404 H, jld. 6, hlm. 239; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 24, hlm. 271.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 19, hlm. 337-338.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 10, hlm. 471.
- ↑ Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 24, hlm. 271.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 10, hlm. 471; Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 4, hlm. 563; Suyuthi, Al-Durr al-Manthur, 1404 H, jld. 6, hlm. 239; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 24, hlm. 271.
- ↑ Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 24, hlm. 271.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1382 HS, jld. 10, hlm. 471-472.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, Mansyurat Ismailiyan, jld. 19, hlm. 338.
- ↑ Qumi, Tafsir al-Qummi, 1404 H, jld. 2, hlm. 375-376.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 19, hlm. 338.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 19, hlm. 339.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 19, hlm. 337-338.
Daftar Pustaka
- Ma'rifat, Muhammad Hadi. Amuzesy-e Olum-e Qur'an. Qom, Markaz-e Chap va Nasyr Sazman-e Tablighat-e Eslami, Cetakan pertama, 1371 HS.
- Makarim Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan pertama, 1374 HS.
- Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Peneliti dan Korektor: Sayid Thayib Musavi Jazairi. Qom, Dar al-Kitab, Cetakan ketiga, 1404 H.
- Suyuthi, Abdurrahman. Al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Qom, Kitabkhaneh Umumi-ye Hazrat-e Ayatullah Mar'asyi Najafi (ra), Cetakan pertama, 1404 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Intisharat-e Eslami, Cetakan kelima, 1417 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Dengan mukadimah Muhammad Jawad Balaghi. Teheran, Nashir Khusro, Cetakan ketiga, 1382 HS.
- Zamakhsyari, Mahmud. Al-Kasysyaf 'an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil. Beirut, Dar al-Kitab al-'Arabi, Cetakan ketiga, 1407 H.