Lompat ke isi

Konsep:Ayat 30 Surah Al-Furqan

Dari wikishia

Templat:Tentang 2

Templat:Kotak info ayatAyat 30 Surah Al-Furqan menjelaskan pengaduan Nabi Akram saw dari kaumnya kepada Allah karena pemahaman yang tidak benar tentang Al-Qur'an dan tidak mengamalkannya. Menurut perkataan banyak mufasir, Rasulullah saw melakukan pengaduan ini di dunia; namun sebagian seperti Allamah Thabathaba'i meyakini waktu pengaduan tersebut di kiamat.

Para pemikir Syiah, menganggap dimensi-dimensi Mahjuriyah Al-Qur'an pada hal-hal seperti tidak bertadabur dan berpikir tentang Al-Qur'an, lebih mengutamakan selain Al-Qur'an daripada Al-Qur'an, kejumudan dan penjauhan dari akal dan tersebarnya hadis-hadis palsu. Dalam Khotbah Wasilah yang disampaikan tujuh hari setelah wafatnya Nabi saw, Imam Ali as memperkenalkan dirinya sebagai Al-Qur'an yang diabaikan.

Sejumlah riwayat Syiah menyebutkan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dalam salat atau membaca 50 ayat dalam sehari sebagai jalan-jalan untuk menghilangkan pengabaian (mahjuriyah) Al-Qur'an. Para mufasir menganggap jalan-jalan untuk menghilangkan pengabaian Al-Qur'an ada pada hal-hal seperti mempelajari qiraah dan menghafal Al-Qur'an, keakraban dengan terjemahan dan takwil serta Tafsir Al-Qur'an, pelaksanaan perintah-perintah Al-Qur'an dalam kehidupan dan penggunaan ilmiah dari Al-Qur'an dalam ilmu-ilmu kemanusiaan.

Dengan memperhatikan kandungan ayat ini mengenai tidak diabaikannya Al-Qur'an, sebagian gerakan reformasi oleh kaum muslimin seperti Sayid Jamaluddin Asadabadi dan Muhammad Abduh terbentuk dengan slogan kembali kepada Al-Qur'an.

Pengenalan Ayat

Ayat 30 Surah Al-Furqan menjelaskan pentingnya memperhatikan Al-Qur'an. Berdasarkan ayat ini, Nabi Akram mengeluh tentang kaumnya karena ketidakpedulian terhadap Al-Qur'an.[1] Ayat ini datang setelah ayat-ayat yang berkaitan dengan penyesalan sebagian musuh Nabi di kiamat.[2]

Templat:Quran jadid|Templat:Quran jadid

Para mufasir, menafsirkan pengabaian Al-Qur'an dalam ayat ini sebagai tidak mendengarkan Al-Qur'an dan tidak bertadabur dalam ayat-ayatnya.[3] Para peneliti Al-Qur'an mengenai maksud dari istilah pengabaian Al-Qur'an, di ayat 30 Al-Furqan, telah memberikan beberapa pandangan:

  • Sejumlah orang mengartikannya sebagai mengabaikan yang hasilnya adalah tidak mendengar, berpaling dan meninggalkan secara lahiriah Al-Qur'an[4] atau tidak beriman kepadanya.[5]
  • Sebagian juga dengan bersandar pada kata "ittakhadzu" dalam ayat, mengartikannya sebagai menjadikan terabaikan yang makna ayatnya menjadi: kaum muslimin meskipun mereka membaca Al-Qur'an; namun karena tidak memahami dengan benar, meninggalkan masalah-masalah pentingnya dan beramal bertentangan dengan ajaran-ajarannya, pada kenyataannya telah meninggalkannya dan menjadi asing darinya.[6] Berdasarkan asas ini, Hasan Musthafawi dalam buku Al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an, menganggap pengabaian Al-Qur'an sebagai meninggalkan Al-Qur'an tentu dengan adanya semacam hubungan lahiriah dengannya.[7]
  • Sejumlah orang juga dengan memperhatikan riwayat-riwayat seperti Hadis Tsaqalain dan tersebarnya ungkapan Hasbuna Kitabullah oleh khalifah kedua, mengartikannya sebagai pemisahan Al-Qur'an dari Ahlulbait as yang menyebabkan kesalahpahaman terhadap Al-Qur'an.[8]

Imam Khumaini pendiri Republik Islam Iran, dengan pendekatan sosial-politik dan berbeda dari peneliti lain, meyakini bahwa volume ajaran sosial-politik Al-Qur'an jauh lebih banyak daripada materi ibadahnya,[9] karena alasan inilah pengabaian Al-Qur'an berarti mengabaikan hukum-hukum sosial-politik dan merasa cukup dengan ritual-ritual ibadahnya. Ia juga menganggap alasan masalah-masalah masyarakat Islam saat ini karena tidak mengamalkan hukum-hukum Al-Qur'an semacam ini.[10]

Menurut perkataan Sayid Muhammad Ali Ayazi, munculnya gerakan-gerakan reformasi oleh kaum muslimin seperti Sayid Jamaluddin Asadabadi dan Muhammad Abduh dengan slogan kembali kepada Al-Qur'an, bermula dari peringatan untuk tidak mengabaikan Al-Qur'an. Gerakan-gerakan ini di negara-negara muslim dilakukan dengan tujuan berjuang melawan serangan kolonialisme Barat ke dunia Islam dan menghidupkan kembali nilai-nilai besar Islam.[11]

Pengaduan di Dunia atau Hari Kiamat?

Mengenai waktu pengaduan Nabi, terdapat perbedaan pendapat. Dalam sebagian tafsir seperti Tafsir Nemuneh disebutkan banyak mufasir meyakini bahwa perkataan ini diucapkan di dunia dan mereka berargumen pada penggunaan fi'il madhi (qala) dan ayat selanjutnya yang berkaitan dengan penghiburan kepada Nabi saw.[12] Dalam sebagian lain seperti Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an dan Tafsir al-Furqan disebutkan bahwa dengan memperhatikan ayat-ayat sebelumnya yang berkaitan dengan penyesalan manusia di kiamat, pengaduan Nabi Akram dan keluhannya ini juga di hari kiamat.[13] Selain itu, sebagian riwayat sesuai dengan hal ini bahwa pada hari kiamat salah satu pertanyaan Nabi Muhammad saw dari pengikutnya adalah tentang amalan mereka terhadap Al-Qur'an.[14] Muhammad Shadiqi Tehrani dalam Tafsir al-Balagh menganggap tempat pengaduan ini di dunia dan juga akhirat.[15]

Mahjuriyah Al-Qur'an; Meninggalkannya dalam Berbagai Dimensi

! Artikel terkait untuk kategori ini adalah Mahjuriyah Al-Qur'an.

Para pemikir Syiah telah meneliti mahjuriyah (pengabaian) Al-Qur'an dalam berbagai dimensi, meliputi misdak-misdak (contoh-contoh), akibat-akibat dan sebab-sebabnya. Menurut keyakinan Ridhha'i Isfahani penulis Tafsir Quran Mehr, jalan-jalan untuk menghilangkan mahjuriyah dari Al-Qur'an adalah hal-hal berikut:

Misdak-misdak, Sebab-sebab dan Akibat-akibat

Para mufasir dan pemikir Syiah menyebutkan bentuk-bentuk yang berbeda untuk pengabaian dan peninggalan Al-Qur'an:

  • Misdak-misdak: Sayid Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, menganggap mahjuriyah Al-Qur'an sebagai pemisahan agama dari politik dan tidak adanya pemerintahan Al-Qur'an.[17] Menurut perkataan Muhsin Qira'ati seorang mufasir Al-Qur'an, tidak membaca Al-Qur'an, mengutamakan selain Al-Qur'an daripada Al-Qur'an, tidak menjadikannya poros, tidak bertadabur di dalamnya, tidak mengajarkannya kepada orang lain dan tidak mengamalkannya, termasuk misdak-misdak mengabaikan Al-Qur'an.[18]
  • Sebab-sebab: Menurut para peneliti, pemisahan Al-Qur'an dari Ahlulbait as, kebodohan terhadap peran Al-Qur'an dalam kehidupan, berpegang pada lahiriah Al-Qur'an, kejumudan dan penjauhan dari akal termasuk faktor-faktor pengabaian Al-Qur'an.[19]

Mahjuriyah dalam Riwayat-riwayat

Masalah mahjuriyah Al-Qur'an telah direfleksikan dalam sebagian riwayat Syiah. Berdasarkan sebuah riwayat dari Imam Ridhha as, alasan membaca Al-Qur'an dalam salat adalah untuk mengeluarkan Al-Qur'an dari mahjuriyah (pengabaian).[21] Berdasarkan sebagian riwayat, membaca 50 ayat Al-Qur'an setiap hari merupakan janji dari sisi Allah atas kaum muslimin.[22] Dalam Khotbah Wasilah yang disampaikan tujuh hari setelah wafatnya Nabi saw, Imam Ali as menyebut dirinya sebagai Al-Qur'an yang diabaikan.[23]

Catatan Kaki

  1. Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1390 H, jld. 15, hlm. 205; Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 8, hlm. 423.
  2. Makarim Syirazi, Tarjumeh-e Quran, 1373 HS, hlm. 362.
  3. Sabzawari, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, hlm. 367; Sabzawari, Al-Jadid fi Tafsir al-Qur'an al-Majid, 1406 H, jld. 5, hlm. 145; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 263.
  4. Thusi, Al-Tibyan, jld. 7, hlm. 486; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 263; Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, jld. 3, hlm. 277.
  5. Faidh Kasyani, Al-Syafi, 1415 H, jld. 4, hlm. 11; Fakhrurrazi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 24, hlm. 455.
  6. Ghaffari, "Mahjuriyat-e Quran", hlm. 89-90; Mukmini, "Daramadi bar Mahjuriyat-e Quran-e Karim", hlm. 60-61.
  7. Musthafawi, Al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an, 1369 HS, jld. 11, hlm. 240.
  8. Akhwan Muqaddam, "Negahi Naw be Ma'nay-e Mahjuriyat-e Quran dar Ayeh 30 Sureh-ye Furqan, Bar Asas-e Wazheh-haye Hamnesyin wa Siyaq", hlm. 23-28.
  9. Imam Khumaini, Shahifah-e Imam, 1385 HS, jld. 2, hlm. 255; jld. 5, hlm. 188.
  10. Imam Khumaini, Shahifah-e Imam, 1385 HS, jld. 16, hlm. 34; Fiqhizadeh dan Asyrafi Amin, "Awamil wa Zamineh-haye Mahjuriyat-e Quran dar Bu'd Siyasi wa Ijtima'i dar Andisyeh-e Imam Khumaini", hlm. 58-59.
  11. Ayazi, "Mahjuriyat-e Quran", hlm. 633; Asyrafi Amin, "Wahdat-e Musalmanan wa Rabitheh-e an ba Mahjuriyat-e Quran az Didgah-e Muslihan-e Dini", hlm. 69.
  12. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 15, hlm. 76.
  13. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 15, hlm. 205; Shadiqi Tehrani, Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an wa al-Sunnah, 1406 H, jld. 21, hlm. 299.
  14. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 600.
  15. Shadiqi Tehrani, Al-Balagh, 1419 H, hlm. 362.
  16. Ridhha'i Isfahani, Tafsir Mehr, 1387 HS, jld. 14, hlm. 270.
  17. Khamenei, "Fisy-haye Murtabith ba Ayeh 30 Sureh-ye Furqan", Situs Daftar-e Hifzh wa Nasyr-e Atsar Hadhdharat Ayatullah Khamenei.
  18. Qira'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 6, hlm. 250.
  19. Akbari, "Awamil-e Mahjuriyat-e Quran wa Rah-haye Muqabaleh ba An", hlm. 55-57; Asyrafi, "Mahjuriyat-e Amuzeh-haye Dini wa Qurani az Didgah-e Allamah Syekh Muhammad Abduh", hlm. 282-283; lihat: Fiqhizadeh, Asyrafi Amin, "Awamil wa Zamineh-haye Mahjuriyat-e Quran dar Bu'd Siyasi wa Ijtima'i dar Andisyeh-e Imam Khumaini".
  20. Ayazi, "Mahjuriyat-e Quran", hlm. 637.
  21. Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridhha (a), 1378 H, jld. 2, hlm. 107.
  22. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 609.
  23. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 8, hlm. 28.

Daftar Pustaka

  • Akbari, Abbas. "Awamil-e Mahjuriyat-e Quran wa Rah-haye Muqabaleh ba An" (Faktor-faktor Pengabaian Al-Qur'an dan Cara-cara Menghadapinya). Gam-e Awwal, tahun ketujuh, nomor 13, 1399 HS.
  • Asyrafi, Yunus. "Mahjuriyat-e Amuzeh-haye Dini wa Qurani az Didgah-e Allamah Syekh Muhammad Abduh" (Pengabaian Ajaran-ajaran Agama dan Al-Qur'an dari Pandangan Allamah Syekh Muhammad Abduh). Majmu'eh Maqalat Hamayesy-e 'Ilmi Buzurgdasyat-e Allamah Syekh Muhammad Abduh wa Allamah Syekh Muhammad Ridhha Muzhaffar.
  • Asyrafi Amin, Yunus. "Wahdat-e Musalmanan wa Rabitheh-e an ba Mahjuriyat-e Quran az Didgah-e Muslihan-e Dini" (Persatuan Kaum Muslimin dan Hubungannya dengan Pengabaian Al-Qur'an dari Pandangan Para Reformis Agama). Muthala'at Taqribi Madzahib-e Islami, nomor 23, musim semi 1390 HS.
  • Ayazi, Sayid Muhammad Ali. "Mahjuriyat-e Quran" (Pengabaian Al-Qur'an). Dalam Kumpulan Artikel Ensiklopedia Imam Khumaini, 1400 HS.
  • Fiqhizadeh, Abdul Hadi, dan Yunus Asyrafi Amin. "Awamil wa Zamineh-haye Mahjuriyat-e Quran dar Bu'd Siyasi wa Ijtima'i dar Andisyeh-e Imam Khumaini" (Faktor-faktor dan Latar Belakang Pengabaian Al-Qur'an dalam Dimensi Politik dan Sosial dalam Pemikiran Imam Khumaini). Faslnameh Matin, nomor 49, nomor berurut 49, 1389 HS.
  • Ghaffari, Mahdi. "Mahjuriyat-e Quran" (Pengabaian Al-Qur'an). Bayyinat (Mu'assaseh-ye Ma'arif-e Islami-e Imam Ridhha alaihis salam), nomor 30, 1380 HS.
  • Imam Khumaini, Sayid Ruhullah. Shahifah-e Imam (Lembaran Imam). Kumpulan Karya Imam Khumaini. Taheran, Mu'assaseh-ye Tanzhim wa Nasyr-e Atsar-e Imam Khumaini, 1378 HS.
  • Khamenei, Sayid Ali. "Fisy-haye Murtabith ba Ayeh 30 Sureh-ye Furqan" (Catatan Terkait Ayat 30 Surah Al-Furqan). Situs Daftar-e Hifzh wa Nasyr-e Atsar Hadhdharat Ayatullah Khamenei.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1407 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Taheran, Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tarjumeh-e Quran (Terjemahan Al-Qur'an). Qom, Daftar-e Muthala'at-e Tarikh wa Ma'arif-e Islami, cetakan kedua, 1373 HS.
  • Mudarrisi, Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Taheran, Penerbit Dar Muhibbi al-Husain, cetakan pertama, 1419 H.
  • Mukmini, Ali Akbar. "Rabitheh-e Mahjuriyat-e Quran wa Mahjuriyat-e Ahl-e Bait (a)" (Hubungan Pengabaian Al-Qur'an dan Pengabaian Ahlulbait as). Farhang Kausar, nomor 64, 1384 HS.
  • Qira'ati, Muhsin. Tafsir Nur (Tafsir Nur). Taheran, Markaz-e Farhangi-e Dars-hayi az Quran, cetakan pertama, 1388 HS.
  • Ridhha'i Isfahani, Muhammad Ali. Tafsir Mehr (Tafsir Mehr). Qom, Pazhuhesyhay-e Tafsir wa Ulum-e Quran, cetakan pertama, 1387 HS.
  • Sabzawari, Muhammad. Al-Jadid fi Tafsir al-Qur'an al-Majid. Beirut, cetakan pertama, 1406 H.
  • Sabzawari, Muhammad. Irsyad al-Adzhan ila Tafsir al-Qur'an. Beirut, cetakan pertama, 1419 H.
  • Shadiqi Tehrani, Muhammad. Al-Balagh fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an. 1419 H.
  • Shadiqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an wa al-Sunnah. 1406 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Uyun Akhbar al-Ridhha (a). Taheran, Nasyr-e Jahan, 1378 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Mu'assasah al-A'lami li al-Mathbu'at, cetakan kedua, 1390 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Iran, Penerbit Nashir Khusraw, cetakan ketiga, 1372 HS.