Lompat ke isi

Konsep:Ayat 2 Surah At-Tahrim

Dari wikishia
Ayat 2 Surah At-Tahrim
Ayat 2 surah At-Tahrim
Ayat 2 surah At-Tahrim
Informasi Ayat
SurahAt-Tahrim
Ayat2
Juz28
Informasi Konten
Sebab
Turun
Sumpah Nabi Muhammad saw untuk meninggalkan beberapa hal yang halal
Tempat
Turun
Madinah
TentangPembolehan membatalkan sumpah Nabi Muhammad saw
Ayat-ayat terkaitAyat 1 Surah At-Tahrim, Ayat 3 Surah At-Tahrim,
Ayat 4 Surah At-Tahrim, Ayat 5 Surah At-Tahrim


Ayat 2 Surah At-Tahrim membolehkan pembatalan Sumpah dalam kondisi di mana perkara yang disumpahkan tidak memiliki keunggulan (untuk ditinggalkan). Menurut pernyataan sebagian fukaha, dalam kasus-kasus seperti ini, demi menjaga kehormatan sumpah, lebih baik membayar kifarat. Ayat ini turun ketika Nabi Muhammad saw dengan bersumpah, mengharamkan suatu perbuatan yang halal atas dirinya. Berdasarkan apa yang disebutkan dalam sebab turunnya ayat, Nabi Muhammad saw demi menarik keridaan sebagian istrinya, mengharamkan memakan madu atau berhubungan dengan salah seorang istrinya yang bernama Mariyah al-Qibthiyah atas dirinya, dan Allah dengan menurunkan ayat-ayat pertama Surah At-Tahrim, melarang Nabi Muhammad saw dari perbuatan ini dan membolehkan pembatalan sumpah dalam kasus-kasus seperti ini.

Poin-poin Umum dan Teks Ayat

Ayat kedua Surah At-Tahrim yang tergolong sebagai ayat madaniyah, berbicara mengenai pensyariatan dan pembukaan jalan Sumpah. Dengan memperhatikan ayat pertama surah, yang dimaksud dengan sumpah adalah sumpah yang dengannya Nabi Muhammad saw mengharamkan perbuatan halal atas dirinya.

Menurut pernyataan Raghib al-Isfahani, setiap kali kata "fardh" disertai dengan "ala", maka bermakna kewajiban, dan setiap kali dengan "lam" -seperti fardhallāhu lakum- maka bermakna kebolehan (jawaz). Maksud dari "tahillah" juga dianggap sebagai perbuatan yang membuka ikatan sumpah, yaitu dengan membayar kifarat sumpah.

Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi kamu (cara) melepaskan diri dari sumpah kamu (dengan membayar kaffarah); dan Allah ialah Pelindung kamu, dan Dia lah Yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.


Sebab Turunnya

Mengenai sebab turunnya ayat dan tentang apa sumpah Nabi Muhammad saw tersebut, terdapat dua laporan umum -dengan nukilan yang berbeda- dalam tafsir-tafsir Syiah dan Ahlusunah. Allamah Thabathaba'i meyakini bahwa kedua laporan ini secara jelas tidak selaras dengan ayat-ayat pertama surah ini.

Sumpah untuk Tidak Memakan Madu

Dalam sebagian tafsir disebutkan tentang sumpah Nabi Muhammad saw untuk tidak memakan madu; dalam Majma' al-Bayan dinukil bahwa seseorang membawakan wadah madu untuk Hafshah dan setiap kali Nabi Muhammad saw menemuinya, Hafshah menjamu dengan madu tersebut sehingga Rasulullah saw tinggal lebih lama bersamanya. Aisyah merasa tidak senang dengan hal ini; oleh karena itu ia bersekongkol dengan istri-istri Nabi lainnya bahwa ketika Rasulullah saw menemui mereka, mereka akan berkata bahwa mereka mencium aroma maghafir (getah berbau tidak sedap dari sejenis pohon) dari beliau. Maka Nabi Muhammad saw ketika menemui setiap istrinya, beliau mendengar hal yang sama. Nabi Muhammad saw yang sangat menghindari bau tidak sedap, bersumpah di depan Aisyah untuk tidak memakan madu selamanya dan mengharamkannya atas dirinya. Sebagian mufasir menyebutkan kejadian memakan madu tersebut terjadi di rumah Zainab binti Jahsy atau Ummu Salamah atau Saudah dan meyakini Aisyah dan Hafshah yang bersekongkol bersama. Tafsir Nemuneh menilai laporan ini lebih masyhur dan lebih sesuai.

Sumpah untuk Meninggalkan Hubungan dengan Mariyah

Beberapa laporan menjelaskan tentang sumpah Nabi Muhammad saw untuk meninggalkan hubungan badan dengan Mariyah al-Qibthiyah; Thabarsi menukil bahwa suatu hari Nabi Muhammad saw di saat ketidakhadiran Hafshah dan di rumahnya, beliau berhubungan dengan Mariyah al-Qibthiyah. Ketika Hafshah mengetahui hal tersebut, ia melayangkan protes kepada Nabi Muhammad saw dan beliau demi menarik keridaannya bersumpah untuk tidak lagi berhubungan badan dengan Mariyah. Allah menetapkan agar Nabi-Nya dengan membayar kifarat, membatalkan sumpah tersebut dan kembali kepada Mariyah; maka beliau memerdekakan seorang budak dan kembali kepada Mariyah.

Allamah Thabathaba'i tidak menganggap laporan-laporan ini selaras secara jelas dengan ayat-ayat pertama Surah At-Tahrim; meskipun demikian, beliau menukil sebuah Hadis dari Tafsir al-Qummi dari Imam Shadiq as yang mirip dengan laporan kedua dan tidak memberikan kritikan terhadapnya.

Apakah Membatalkan Sumpah Dibolehkan?

Para fukaha tidak membolehkan pembatalan sumpah dan jika dilanggar, maka wajib membayar Kifarat Sumpah. Menurut pernyataan Nashir Makarem, fakih dan mufasir Syiah, jika sumpah adalah untuk meninggalkan suatu perbuatan yang mana tidak melakukannya adalah lebih baik, maka mengamalkan sumpah tersebut adalah wajib dan pembatalannya terkena kifarat. Namun jika meninggalkan perbuatan tersebut tidak memiliki keunggulan -seperti apa yang disebutkan dalam ayat ini- maka membatalkan sumpah adalah boleh, tetapi demi menjaga kehormatan sumpah, lebih baik kifarat tetap dibayarkan.

Catatan Kaki

Daftar Pustaka

  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Qom, Dar al-Ilm, jld. 2, tanpa tahun.
  • Muassasah Dairat al-Ma'arif Fiqh Islami. Farhang-e Fiqh Mathabiq ba Madzhab-e Ahlul Bait (as). Di bawah pengawasan: Sayid Mahmoud Hashemi Shahroudi. Qom, Muassasah Dairat al-Ma'arif Fiqh Islami, 1426 H.
  • Ma'rifat, Muhammad Hadi. Amuzeysy-e 'Ulum-e Qur'an. Qom, Markaz al-Thab' wa al-Nasyr al-Sazeman al-Tablighat al-Islami, cetakan pertama, 1371 HS.
  • Makarem Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Qummi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Riset dan koreksi: Sayid Thayyib Musawi Jaza'iri. Qom, Dar al-Kitab, cetakan ketiga, 1404 H.
  • Raghib al-Isfahani, Husain. Al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an. Riset: Dawudi, Safwan Adnan. Beirut, Al-Dar al-Syamiyyah, cetakan pertama, 1412 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Ahmad Qashir Amili. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Suyuthi, Abdurrahman. Al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Perpustakaan Umum Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, Qom, cetakan pertama, 1404 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar Entesyarat-e Islami, cetakan kelima, 1417 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Dengan pendahuluan Muhammad Jawad Balaghi. Teheran, Naser Khosrow, cetakan ketiga, 1382 HS.
  • Zamakhsyari, Mahmud. Al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh al-Tanzil. Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, cetakan ketiga, 1407 H.