Konsep:Ayat 28 Surah Al-Anfal
Templat:Infobox Ayat Ayat 28 Surah Al-Anfal memperkenalkan harta dan anak-anak sebagai sarana ujian Ilahi[1] dan menganggap pahala dan ganjaran Ilahi diperuntukkan bagi mereka yang menaati Allah dalam melakukan jihad dan tidak melakukan pengkhianatan.[2] Semua ungkapan dan kata-kata dalam ayat ini kecuali frasa "wa'lamu" (dan ketahuilah) juga diulang dalam Ayat 15 Surah At-Taghabun.
Bahrani dalam Tafsir Al-Burhan menukil sebuah riwayat dari Imam Ali (as) di mana beliau, dengan bersandar pada ayat 28 Surah Al-Anfal, bersabda: Tidak seorang pun boleh berkata, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ujian dan cobaan", karena semua orang terkena ujian. Melainkan harus berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan, karena Allah berfirman: "Wa'lamu annama amwalukum wa ...".[3]
Menurut Nasir Makarim Syirazi, salah seorang mufasir Syiah, setelah ayat 27 Surah Al-Anfal turun terkait larangan berkhianat kepada Nabi (saw) dan larangan membocorkan rahasia militer;[4] ayat 28 memperkenalkan kecintaan terhadap harta dan anak serta menjaga kepentingan pribadi sebagai penyebab pengkhianatan sebagian sahabat Nabi (saw).[5] Allamah Thabathaba'i juga tidak menganggap ayat 28 Surah Al-Anfal terpisah dari ayat 27.[6]
Sebagian mufasir dengan bersandar pada riwayat-riwayat dari Imam Baqir (as) dan Imam Shadiq (as), menyebutkan sebab turun yang sama untuk kedua ayat tersebut. Menurut riwayat-riwayat ini, dalam peristiwa Perang Bani Quraizhah, orang-orang Yahudi mengusulkan agar Nabi (saw) meninggalkan Madinah dan pergi ke Syam, namun Nabi menolak usulan mereka dan menuntut penerimaan keputusan hukum Sa'ad bin Muadz. Orang-orang Yahudi meminta agar Abu Lubabah dikirim kepada mereka, dan dia dengan isyarat ke lehernya, berkhianat dan memahamkan kepada mereka bahwa jika mereka menerima keputusan hukum tersebut, mereka akan dibunuh. Menyusul pengkhianatan ini, ayat 27 dan 28 Surah Al-Anfal turun. Abu Lubabah setelah menyesal, mengikat dirinya ke tiang masjid untuk bertobat.[7]
Namun sebagian mufasir lain, tidak menganggap peristiwa ini sebagai sebab turunnya ayat 28 dan hanya menganggapnya sebagai salah satu contoh dari ayat tersebut, sementara Surah Al-Anfal lebih banyak berkaitan dengan peristiwa Perang Badar dan tidak berhubungan dengan Bani Quraizhah.[8].
Catatan Kaki
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1393 HS, jld. 32, hlm. 332.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1372 HS, jld. 4, hlm. 824.
- ↑ Bahrani, Al-Burhan, 1415 H, jld. 2, hlm. 723.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 7, hlm. 136.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 7, hlm. 137.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 9, hlm. 56.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 7, hlm. 134.
- ↑ Jawadi Amuli, Tasnim, 1393 HS, jld. 32, hlm. 345; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 9, hlm. 64; Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 10, hlm. 363.
Daftar Pustaka
- Bahrani, Sayid Hasyim. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Bunyad-e Bi'tsat, Cetakan pertama, 1415 H.
- Fadhlullah, Muhammad Husain. Min Wahy al-Qur'an. Beirut, Dar al-Malak, Cetakan pertama, 1419 H.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Tasnim. Qom, Markaz-e Nasyr-e Isra', Cetakan kedua, 1393 HS.
- Makarim Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan pertama, 1374 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, Cetakan kedua, 1390 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Intisharat-e Nashir Khusro, Cetakan ketiga, 1372 HS.