Konsep:Ayat 23 Surah Al-Baqarah
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Surah Al-Baqarah |
| Ayat | 23 |
| Juz | Pertama |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Pembuktian mukjizatnya Al-Qur'an |
| Tempat Turun | Madani |
| Tentang | Tahaddi; para pengingkar kenabian Nabi Akram saw |
| Ayat-ayat terkait | Surah At-Thur:34; Surah Al-Qashash:49; Surah Al-Isra':88; Surah Hud:13; Surah Yunus:38 |
Ayat 23 Surah Al-Baqarah termasuk dalam Ayat-ayat Tahaddi yang mengajak para pengingkar penurunan wahyu Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad saw untuk membawakan sebuah surah semisal Al-Qur'an. Berdasarkan beberapa riwayat, syan nuzul ayat ini adalah untuk membuktikan kemukjizatan Al-Qur'an, keutamaan Imam Ali as di sisi Nabi Muhammad saw dibandingkan dengan sahabat lainnya, serta suksesi beliau setelah Nabi saw.
Ayat-ayat tahaddi terkadang menantang untuk membawakan semisal seluruh Al-Qur'an, dalam beberapa kasus sepuluh surah, dan dalam beberapa ayat menantang untuk membawakan satu surah. Para mufasir berkeyakinan bahwa ayat-ayat tahaddi tidak terbatas pada waktu dan tempat tertentu saja, melainkan menantang para pengingkar Al-Qur'an untuk selamanya.
Tantangan bagi Para Pengingkar Al-Qur'an
Ayat 23 Surah Al-Baqarah ditujukan kepada para pengingkar aspek wahyu Al-Qur'an.[1] Berdasarkan beberapa riwayat dari para Imam Syiah, syan nuzul ayat ini dianggap sebagai pembuktian kemukjizatan Al-Qur'an dan nubuwwah Nabi saw serta keunggulan Imam Ali as di sisi Nabi Muhammad saw dibandingkan dengan sahabat lainnya.[2] Menurut pernyataan para peneliti, di dalam Al-Qur'an untuk membuktikan masalah ini, para penentang diajak untuk bertanding dan sebagaimana Ayat 23 Surah Al-Baqarah, mereka diminta jika tidak menganggap Al-Qur'an berasal dari sisi Allah, maka bawakanlah tandingan dan yang semisal dengannya.[3] Hal ini disebut sebagai tahaddi kepada Al-Qur'an.[4]
Al-Qur'an dalam enam ayat telah mengajak untuk melakukan tahaddi, yang mana ayat-ayat tersebut dinamakan sebagai Ayat-ayat Tahaddi;[5] ayat-ayat ini terdiri dari tiga kelompok: tantangan semisal Al-Qur'an,[6] tantangan sepuluh surah,[7] dan tantangan satu surah.[8] Menurut tulisan Nashir Makarim Syirazi dalam Tafsir Nemuneh, ayat-ayat tahaddi tidak terbatas pada waktu dan tempat tertentu serta mengajak seluruh penduduk dunia dan pusat-pusat ilmiah dunia untuk melakukan pertandingan ini, dan tidak ada pengecualian sedikit pun di dalamnya, serta hingga saat ini tantangan tersebut terus berlanjut.[9]
Konsep Tahaddi
Templat:Tentang Tahaddi bermakna menuntut tandingan dan menantang lawan bertanding agar ketidakberdayaannya menjadi tampak nyata.[10] Tahaddi adalah sebuah istilah dalam Ilmu Al-Qur'an[11] dan Kalam Islam,[12] serta merupakan salah satu syarat dari Mukjizat,[13] yang mana berdasarkan hal tersebut, para nabi menantang para pengingkar kenabian mereka untuk membawakan semisal mukjizatnya.[14]
Teks dan Terjemahan
Ayat 23 Surah Al-Baqarah mengisyaratkan pada Tahaddi, dan Allah menuntut kepada kaum kafir serta para pengingkar kenabian jika mereka mampu maka bawakanlah sebuah surah yang semisal dengan surah ini dari Al-Qur'an.[15] Menurut tulisan Sayid Muhammad Husain Thabathabai dalam Al-Mizan, ayat ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa seluruh isi Al-Qur'an adalah mukjizat, bahkan surah yang paling pendek sekalipun, seperti surah Al-Kautsar dan Al-'Ashr.[16]
| “ | وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
|
” |
Dan kalau kamu ada menaruh syak tentang apa yang Kami turunkan (Al-Quran) kepada hamba kami (Muhammad), maka cubalah buat dan datangkanlah satu surah yang sebanding dengan Al-Quran itu, dan panggilah orang-orang yang kamu percaya boleh menolong kamu selain dari Allah, jika betul kamu orang-orang yang benar.
Poin-poin Tafsir
Dalam riwayat-riwayat dari para Imam Syiah as dan buku-buku tafsir, dinukil beberapa poin mengenai ayat ini:
- WWA IN KUNTUM FĪ RAIBIN MIMMĀ NAZZALNĀ: Imam Hasan al-Askari as dalam sebuah riwayat menyebutkan beberapa mukjizat yang atas perintah Allah menjadi penyebab keselamatan nyawa Nabi saw, dan Allah menuntut kepada para pengingkar kenabian yang telah melihat mukjizat-mukjizat tersebut agar membawakan sesuatu yang serupa dengan apa yang telah Allah turunkan kepada Muhammad saw.[17] Menurut pernyataan Mulla Sadra, mufasir Syiah, ungkapan "mimmā nazzalnā" merupakan penekanan Allah dan dalil yang terang atas kenabian Nabi saw di hadapan para penentang masalah ini.[18]
- FA'TŪ BISŪRATIN MIN MITS-LIHĪ: Menurut tulisan al-Mizan, bagian ayat ini mengisyaratkan pada kemukjizatan Al-Qur'an hingga hari Kiamat dan fakta bahwa tidak ada seorang pun yang mampu membawakan semisalnya; sebagaimana hal ini ditegaskan pula dalam Ayat 88 Surah Al-Isra' "Katakanlah: 'Sesungguhnya jika manusia dan Jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia'."[19] Menurut tulisan Muhammad Muhsin Faidh Kasyani dalam Tafsir al-Shafi, yang dimaksud dengan "mitslihi" adalah sosok semisal Nabi Muhammad saw yang tidak tahu baca tulis namun membawakan kitab semacam ini dari sisi Allah untuk kalian, maka bawakanlah satu surah yang serupa.[20]
Allamah Thabathabai dalam menjawab keberatan bahwa "kata-kata adalah ciptaan manusia, lantas bagaimana manusia tidak bisa membawakan yang semisal Al-Qur'an?", berkeyakinan bahwa Kehendak Ilahi telah menetapkan demi menjaga kemukjizatan serta tanda kenabian Al-Qur'an dan menjaga kehormatan risalah, setiap kali ada manusia yang bermaksud untuk menandingi Al-Qur'an, ia akan ditimpa keraguan atas perintah Allah dan pada akhirnya akan mengurungkan niatnya tersebut.[21]
- WAD'Ū SYUHADĀ'AKUM MIN DŪNILLĀH: Berdasarkan sebuah riwayat dari Imam Sajjad as, ungkapan "saksi-saksi selain Allah" adalah mengenai orang-orang yang membayangkan bahwa para pengingkar kenabian di sisi Allah akan memberikan kesaksian atas kebenaran mereka dan keserupaan ucapan mereka dengan ucapan Nabi saw.[22]
- IN KUNTUM SHĀDIQĪN: Dalam beberapa riwayat, bagian ayat ini (jika kalian orang-orang yang benar) berkaitan dengan ayat-ayat yang turun mengenai Imam Ali as dan dianggap mengisyaratkan pada Keutamaan Imam Ali as serta suksesi beliau setelah Nabi saw.[23]
Catatan Kaki
- ↑ Hosseini-zadeh, "Tahaddi", hal. 275.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 9, hal. 175 dan jld. 17, hal. 214; Astarabadi, Ta'wil al-Ayat al-Zhahirah, 1409 H, hal. 45.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1353 HS, jld. 1, hal. 57; Khorramshahi, Danisynamah Qur'an wa Qur'an-pazhuhesi, 1377 HS, jld. 1, hal. 481.
- ↑ Mulla Sadra, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HS, jld. 1, hal. 202; Mohaqqeq Sabzwari, Asrar al-Hikam, 1383 HS, hal. 472.
- ↑ Khorramshahi, Danisynamah Qur'an wa Qur'an-pazhuhesi, 1377 HS, hal. 46-47.
- ↑ Surah Al-Qashash, ayat 49; Surah Al-Isra', ayat 88; Surah At-Thur, ayat 33-34.
- ↑ Surah Hud, ayat 13.
- ↑ Surah Al-Baqarah, ayat 23; Surah Yunus, ayat 38.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 133.
- ↑ Kelompok Penulis, Syarh al-Musthalahat al-Kalamiyyah, 1415 H, hal. 64.
- ↑ Jawaheri, "Vakavi-ye Melak-e Tahaddi dar Qur'an wa Naqd-e Mantheq-e Tanazzuli", hal. 112.
- ↑ Kelompok Penulis, Syarh al-Musthalahat al-Kalamiyyah, 1415 H, hal. 64.
- ↑ Baqillani, I'jaz al-Qur'an, 1421 H, hal. 161.
- ↑ Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah, Syarh al-Musthalahat al-Kalamiyyah, 1415 H, hal. 64; Mo'addeb, I'jaz-e Qur'an dar Nazhar-e Ahlulbait, 1379 HS, hal. 17.
- ↑ Mulla Sadra, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HS, jld. 2, hal. 125; Abul Futuh Razi, Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan, 1376 HS, jld. 1, hal. 161.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1353 HS, jld. 1, hal. 58.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 9, hal. 175.
- ↑ Sadruddin Syirazi, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HS, jld. 2, hal. 125.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1353 HS, jld. 1, hal. 57-58.
- ↑ Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 1, hal. 102.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1353 HS, jld. 1, hal. 69.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 17, hal. 217.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 36, hal. 114 dan jld. 17, hal. 217.
Daftar Pustaka
- Abul Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Mohammad Jafar Yahaghi. Masyhad, Astan Qods Razavi, 1376 HS.
- Astarabadi, Ali. Ta'wil al-Ayat al-Zhahirah. Riset dan koreksi: Hossein Ustad Vali. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, Cetakan Pertama, 1409 H.
- Baqillani, Muhammad bin Thayyib. I'jaz al-Qur'an. Koreksi: Shalah Muhammad Uwidhah. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1421 H.
- Jawaheri, Sayid Mohammad Hossein. "Vakavi-ye Melak-e Tahaddi dar Qur'an wa Naqd-e Mantheq-e Tanazzuli". Dalam Pazhuhesy-haye Qur'ani, Nomor 2, Tahun 21, Musim Panas 1395 HS.
- Hosseini-zadeh, Sayid Abd al-Rasul. "Tahaddi". Dalam Dairat al-Ma'arif-e Qur'an-e Karim. Qom, Bustan-e Ketab, 1382 HS.
- Khorramshahi, Bahauddin. Danisynamah Qur'an wa Qur'an-pazhuhesi. Teheran, Nasyr Nahid-Dustan, 1377 HS.
- Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1353 HS.
- Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir al-Shafi. Riset: Husain A'lami. Teheran, Entesyarat al-Sadr, Cetakan Kedua, 1415 H.
- Mo'addeb, Sayid Reza. I'jaz-e Qur'an dar Nazhar-e Ahlulbait Ismat wa Bist Nafar az Ulama-ye Bozorg-e Eslam. Qom, Ahsan al-Hadits, 1379 HS.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. t.p., Muassasah al-Wafa', 1403 H.
- Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah. Syarh al-Musthalahat al-Kalamiyyah. Masyhad, Astanah al-Radhawiyyah al-Muqaddasah, 1415 H.
- Mohaqqeq Sabzwari, Mohammad Baqer. Asrar al-Hikam. Qom, Mathbu'at-e Dini, Cetakan Pertama, 1383 HS.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
- Sadruddin Syirazi, Muhammad bin Ibrahim. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Qom, Nasyr Bidar, Cetakan Kedua, 1366 HS.