Lompat ke isi

Konsep:Ayat 22 Surah an-Nur

Dari wikishia
Ayat 22 Surah an-Nur
Informasi Ayat
NamaAyat 22 Surah an-Nur
Surahan-Nur
Ayat22
Juz18
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madinah
TentangMemaafkan orang lain dan mendukung kerabat, orang miskin, dan muhajirin di jalan Allah.


Ayat 22 Surah an-Nur menyerukan untuk terus melakukan amal kebaikan dan membantu orang lain[1] serta menekankan pada pemaafan dan pengampunan.[2] Sayyid Mohammad Taqi Mudarrisi, mufasir Syiah, mengartikan afwu sebagai pengabaian hukuman dan shafh sebagai pengampunan yang menyebabkan rekonstruksi hubungan dan ikatan kekerabatan.[3] Beberapa mufasir menafsirkan afwu sebagai pengampunan dosa dan shafh sebagai pengabaian dendam.[4]

Beberapa mufasir dengan bersandar pada ayat ini menganggap orang-orang kaya bertanggung jawab terhadap orang-orang yang kurang mampu.[5] Dalam ayat ini, diperintahkan untuk membantu kerabat, orang-orang fakir, dan para muhajirin yang telah melakukan Hijrah dari tanah air mereka demi keridaan Ilahi dan tidak memiliki fasilitas penghidupan di negeri yang baru.[6] Beberapa mufasir menganggap maksud dari istilah ulul fadhl sebagai pemilik keutamaan dalam agama dan hidayah[7] atau orang-orang mukmin,[8] sementara yang lain mengartikannya sebagai orang-orang kaya.[9] Ayat ini juga dianggap berkaitan dengan keutamaan Sedekah.[10]

Dan janganlah orang-orang yang berharta serta lapang hidupnya dari kalangan kamu, bersumpah tidak mahu lagi memberi bantuan kepada kaum kerabat dan orang-orang miskin serta orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah; dan (sebaliknya) hendaklah mereka memaafkan serta melupakan kesalahan orang-orang itu; tidakkah kamu suka supaya Allah mengampunkan dosa kamu? Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani.


Menurut pandangan para mufasir, penggalan "tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu" mengajarkan kepada umat Islam bahwa jika mereka menginginkan ampunan Ilahi, maka mereka harus memaafkan kesalahan orang lain.[11] Imam Ali as juga dalam wasiatnya sebelum syahadat, berpesan untuk memberikan maaf dan bersandar pada bagian akhir ayat ini.[12]

Setelah Peristiwa Ifk, sekelompok Sahabat bersumpah untuk tidak lagi membantu orang-orang yang terlibat dalam pemberian tuduhan terhadap istri Nabi Muhammad saw. Ayat 22 surah an-Nur turun dan melarang mereka melakukan hal tersebut serta memerintahkan untuk memaafkan.[13] Sumber-sumber Ahlusunah[14] dan beberapa tafsir Syiah[15] mengatribusikan asbabun nuzul ayat ini kepada Abu Bakar, karena Misthah bin Atsatsah, salah seorang kerabatnya yang fakir dan muhajir, berpartisipasi dalam peristiwa Ifk dan Abu Bakar setelah itu bersumpah tidak akan membantunya lagi. Ayat ini turun dan mencegahnya dari perbuatan tersebut. Meskipun demikian, para mufasir menekankan bahwa ayat ini memiliki larangan umum[16] dan menyasar seluruh umat Islam[17] agar menghindari pengambilan keputusan emosional serta tidak memutus bantuan kepada kerabat dan orang-orang yang membutuhkan.[18] Tujuan ayat ini juga dianggap untuk memperkuat persatuan umat Islam setelah peristiwa Ifk.[19]

Fakhr Razi, mufasir Ahlusunah, menganggap ijmak para mufasir adalah atas turunnya ayat ini mengenai Abu Bakar[20] dan menganggapnya sebagai keutamaan bagi Abu Bakar, khususnya dengan bersandar pada ungkapan "ulul fadhl minkum" (orang-orang yang mempunyai kelebihan di antara kamu).[21] Pandangan ini telah dikritik; di antaranya bahwa kata ganti (dhamir) dalam ayat tersebut berbentuk jamak dan menunjukkan bahwa sekelompok Muslim telah memutuskan untuk memutus bantuan, bukan hanya satu individu tertentu.[22] Selain itu, atribusi asbabun nuzul kepada Abu Bakar tidak dinukil dari Nabi Muhammad saw, melainkan dilaporkan oleh para perawi seperti Kalbi, Muqatil, dan Dhahhak yang perkataannya tidak memiliki kredibilitas.[23] Ditambah lagi, bahkan jika asbabun nuzul ini diterima, ayat tersebut tidak menunjukkan keunggulan (afdhalitas) Abu Bakar dan tidak selaras dengan beberapa tindakannya, khususnya setelah wafatnya Nabi Muhammad saw.[24]

Catatan Kaki

  1. Fadhlullah, Tafsir min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 16, hlm. 272.
  2. Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 211.
  3. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 8, hlm. 284.
  4. Hosseini Syah-Abdul Azhimi, Tafsir Itsna Asyari, 1363 HS, jld. 9, hlm. 216.
  5. Qara'ati, Tafsir Nur, 1383 H, jld. 8, hlm. 165.
  6. Fadhlullah, Tafsir min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 16, hlm. 272.
  7. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 8, hlm. 284.
  8. Fadhlullah, Tafsir min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 16, hlm. 272.
  9. Faidh Kasyani, Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 3, hlm. 426.
  10. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 93, hlm. 111.
  11. Mazandarani, Syarh al-Kafi, 1382 H, jld. 6, hlm. 142; Hosseini Syirazi, Tabyin al-Qur'an, 1423 H, hlm. 364.
  12. Sayyid Radhi, Nahj al-Balaghah, 1414 H, hlm. 378.
  13. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 14, hlm. 414.
  14. Fakhr Razi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 23, hlm. 348; Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1412 H, jld. 4, hlm. 2504.
  15. Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 5, hlm. 409.
  16. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 14, hlm. 414.
  17. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 7, hlm. 421.
  18. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 7, hlm. 421.
  19. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 8, hlm. 285.
  20. Fakhr Razi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 23, hlm. 349.
  21. Fakhr Razi, Mafatih al-Ghaib, 1420 H, jld. 23, hlm. 349.
  22. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 14, hlm. 414.
  23. Syekh Mufid, Al-Ifshah fi al-Imamah, 1413 H, hlm. 176.
  24. Syekh Mufid, Al-Ifshah fi al-Imamah, 1413 H, hlm. 177.

Daftar Pustaka

  • Fadhlullah, Sayyid Muhammad Husain. Tafsir min Wahy al-Qur'an. Beirut: Dar al-Malak lil-Thiba'ah wa al-Nasyr. Cetakan kedua, 1419 H.
  • Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir al-Shafi. Riset: Hossein A'lami. Tehran: Entesharat al-Sadr. Cetakan kedua, 1415 H.
  • Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. Mafatih al-Ghaib. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi. Cetakan ketiga, 1420 H.
  • Hosseini Syah-Abdul Azhimi, Husain bin Ahmad. Tafsir Itsna Asyari. Tehran: Entesharat Miqat. Cetakan pertama, 1363 HS.
  • Hosseini Syirazi, Sayyid Muhammad. Tabyin al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ulum. Cetakan kedua, 1423 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi. Cetakan kedua, 1403 H.
  • Makarem Shirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah. Cetakan pertama, 1374 HS.
  • Mazandarani, Muhammad Shalih bin Ahmad. Syarh al-Kafi (al-Ushul wa al-Raudhah). Riset dan koreksi: Abul Hasan Sya'rani. Tehran: Al-Maktabah al-Islamiyah. Cetakan pertama, 1382 H.
  • Mudarrisi, Sayyid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Tehran: Dar Muhibbi al-Husain. Cetakan pertama, 1419 H.
  • Mughniyah, Muhammad Javad. Al-Tafsir al-Kasyif. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah. Cetakan pertama, 1424 H.
  • Qara'ati, Mohsen. Tafsir Nur. Tehran: Pusat Kebudayaan Dars-ha-i az Qur'an. Cetakan kesebelas, 1383 HS.
  • Sayyid Quthb, Ibrahim Husain. Fi Zhilal al-Qur'an. Beirut, Kairo: Dar al-Syuruq. Cetakan ketujuh belas, 1412 H.
  • Syarif Radhi, Muhammad bin Husain. Nahj al-Balaghah (versi Subhi Shalih). Qom: Nasyr Hijrat. Cetakan pertama, 1414 H.
  • Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Ifshah fi al-Imamah. Qom: Kongres Syekh Mufid. Cetakan pertama, 1413 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi. Tanpa tahun.
  • Tabataba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom: Daftar Entesharat-e Eslami. Cetakan kelima, 1417 H.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Tehran: Nasser Khosrow. Cetakan ketiga, 1372 HS.