Lompat ke isi

Konsep:Ayat 143 Surah Al-A'raf

Dari wikishia
Ayat 143 Surah Al-A'raf
Informasi Ayat
SurahAl-A'raf
Ayat143
Juz9
Informasi Konten
Tempat
Turun
Mekkah
TentangPermintaan melihat Allah dari pihak Musa as di Miqat dan jawaban Allah melalui tajalli pada gunung hingga hancur lebur.
Ayat-ayat terkaitSurah Al-Baqarah:55, Surah Al-Baqarah:56, Surah An-Nisa:153, Surah Al-A'raf:155, Surah Al-An'am:103


Ayat 143 Surah Al-A'raf membahas kisah kehadiran Musa as di Gunung Thur, di mana Musa as di miqat mengajukan permohonan untuk melihat Allah, dan Allah menjawab bahwa engkau sekali-kali tidak akan bisa melihat-Ku kecuali jika gunung itu tetap berdiri di tempatnya setelah Aku menampakkan diri (tajalli). Musa as jatuh pingsan setelah tajalli tersebut, dan setelah kembali ke keadaan normal, ia bertobat dari permintaannya.

Dari sisi teologis, masalah melihat Allah, alasan tobat Musa as, serta kontradiksinya dengan derajat kemaksuman para nabi merupakan pembahasan inti dalam ayat ini. Sekelompok penganut Ahlusunnah wal Jamaah bersandar pada ayat ini untuk membuktikan kemungkinan Allah dapat dilihat, namun para ulama Syiah berdasarkan empat penggalan dari ayat ini membuktikan ketidakmungkinan penglihatan secara visual (basari). Beberapa mufasir juga menganggap permintaan melihat Allah tersebut dilakukan sebagai wakil dari Bani Israil. Allamah Thabathabai berpendapat bahwa maksud Musa as adalah penyaksian batin yang akan terealisasi di akhirat. Atas dasar inilah, para mufasir mendeskripsikan tobat Musa as bukan dari dosa, melainkan dari prasangka permintaan yang tidak layak.

Kedudukan Ayat

Ayat 143 Surah Al-A'raf meriwayatkan sepenggal kisah kehidupan Nabi Musa as dan kehadirannya di Gunung Thur. Musa as dalam pertemuan ini memohon kepada Allah agar menampakkan diri-Nya kepadanya sehingga Musa as dapat melihat-Nya. Jawaban Allah kepada Musa as dengan ungkapan "Lan Tarani" sangat masyhur dalam literatur keagamaan. Ayat ini menjadi landasan bagi berbagai pemahaman dan perbedaan mengenai masalah kemungkinan melihat Allah dengan mata telanjang.

Dan ketika Nabi Musa datang pada waktu yang Kami telah tentukan itu, dan Tuhannya berkata-kata dengannya, maka Nabi Musa (merayu dengan) berkata: "Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaku (ZatMu Yang Maha Suci) supaya aku dapat melihatMu". Allah berfirman: "Engkau tidak sekali-kali akan sanggup melihatKu, tetapi pandanglah ke gunung itu, maka kalau ia tetap berada di tempatnya, nescaya engkau akan dapat melihatKu", Setelah Tuhannya "Tajalla" (menzahirkan kebesaranNya) kepada gunung itu, (maka) "TajalliNya" menjadikan gunung itu hancur lebur dan Nabi Musa pun jatuh pengsan. Setelah ia sedar semula, berkatalah ia: "Maha Suci Engkau (wahai Tuhanku), aku bertaubat kepadaMu, dan akulah orang yang awal pertama beriman (pada zamanku).


Masalah Melihat Allah secara Zahir

Templat:Catatan Utama Permintaan untuk melihat Allah dari pihak Musa as dan jawaban "Lan Tarani" kepadanya telah menjadi landasan diskusi mengenai masalah kemungkinan melihat Allah secara zahir. Para peneliti berkeyakinan bahwa sejak pertengahan abad ketiga, sekelompok ulama Ahlusunnah mencoba membuktikan kemungkinan melihat Allah secara visual dengan berpegang pada ayat ini, di mana di antara mereka dapat disebutkan Dinawari (wafat 276/889-90), Abul Hasan al-Asy'ari (wafat 341/952-53), Baqillani (wafat 403/1012-13), dan Abdul Qadir al-Baghdadi (wafat 429/1037-38).[1] Muhammad bin Abdul Karim asy-Syahrastani, sejarawan dan mufasir abad kelima dan keenam, juga menganggap ayat yang sedang dibahas ini sebagai Dalil Naqli terkuat atas kemungkinan melihat Allah.[2]

Jawaban Allah dalam Ayat 143 Al-A'raf terhadap permintaan Musa as merupakan salah satu bahan terpenting bagi para penentang konsep melihat Allah, khususnya para teolog Imamiyah. Sebagai contoh, Sayid Murtadha, fakih dan teolog Syiah, dalam menafikan kemungkinan melihat Allah berargumen dengan ayat ini melalui empat tahap dan juga memberikan jawaban kepada para pengkritik.[3] Beberapa mufasir berkeyakinan bahwa kata "Lan" dalam ayat ini yang bermakna penafian selamanya (nafi al-abad), serta pernyataan penafian melihat tanpa syarat apa pun dalam ayat tersebut, menunjukkan fakta bahwa melihat Allah sama sekali tidak mungkin, baik di dunia ini maupun di dunia lain.[4] Demikian pula dalam sumber-sumber Syiah, banyak riwayat yang dinukil di bawah ayat ini. Seperti apa yang digunakan oleh Imam Shadiq as dari ayat ini untuk menafikan keterkaitan penglihatan visual terhadap Allah.[5] Alasan mengapa Musa as meminta untuk melihat Allah juga termasuk dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Ma'mun al-Abbasi kepada Imam Ridha as.[6]

Argumentasi dengan Ayat

Menurut penjelasan beberapa pihak, Ayat 143 Surah Al-A'raf dari beberapa sisi merujuk pada penafian melihat Allah secara visual; pertama jawaban Allah dengan ungkapan "Lan Tarani" yang merupakan struktur untuk penafian abadi. Lainnya adalah ungkapan "fa-inis-taqarra makānahu fasaufa tarānī" yang menggantungkan kemungkinan melihat pada sebuah perkara yang mustahil. Berdasarkan penjelasan Nashir Makarim Syirazi, fakih dan mufasir Syiah, ungkapan ini merupakan kiasan atas kemustahilan melihat Allah dan serupa dengan Ayat 40 Surah Al-A'raf di mana Allah menggantungkan masuknya kaum kafir ke surga pada masuknya unta ke lubang jarum.[7] Begitu pula pensucian (tanzih) Musa as dari melihat dengan ungkapan "Subhanaka" serta tobatnya dari permintaan melihat dengan kalimat "Tubtu Ilaik" termasuk di antara penggalan yang dijadikan sandaran atas ketidakmungkinan melihat-Nya.[8]

Mengapa Musa Meminta untuk Melihat Allah?

Pertanyaan mengapa nabi seperti Musa as mengajukan permintaan untuk melihat Allah sementara ia mengetahui kemustahilannya, telah menjadi perhatian para mufasir.[9]

Menurut pandangan Nashir Makarim Syirazi, jawaban paling terang adalah Musa as mengajukan permintaan ini melalui lisan kaumnya (Bani Israil) dan sebagai perwakilan dari mereka.[10] Beliau untuk membuktikan perkataan ini bersandar pada Ayat 153 Surah An-Nisa dan juga pada pertanyaan Musa as dalam Ayat 155 Surah Al-A'raf, serta menjadikan sebuah riwayat dalam Tafsir Nur al-Tsaqalain[11] sebagai bukti pendukung.[12] Fadhl bin Hasan Thabarsi, mufasir Syiah abad keenam, mengisyaratkan pada permintaan untuk melihat tanda-tanda akhirat dari pihak Musa as dan menganggap maksud beliau adalah demi sampainya Bani Israil pada makrifat sempurna atas keberadaan Allah; serupa dengan permintaan Ibrahim as untuk menghidupkan orang mati dalam Ayat 260 Al-Baqarah.[13]

Melihat Allah dengan Mata Batin

Allamah Thabathabai berkeyakinan bahwa masalah melihat Allah dalam Ayat 143 Al-A'raf dan beberapa ayat serupa lainnya (seperti Surah Al-Qiyamah:23, Surah An-Najm:11, Surah Al-Ankabut:5, Surah As-Sajdah:54) bukan bermakna melihat dengan indra zahir, melainkan bermakna tahapan ilmu yang paling pasti dan paling terang yang beliau istilahkan dengan ilmu dharuri (pengetahuan niscaya).[14] Oleh karena itu, permintaan Musa as adalah untuk dirinya sendiri dan maksud beliau adalah syuhud (penyaksian) Allah dengan mata batin.[15]

Thabathabai, dengan memperhatikan pembuktian melihat Allah secara batin dalam beberapa ayat Al-Qur'an pada hari kiamat, berkeyakinan bahwa kalimat "Lan Tarani" hanya merujuk pada dunia saja.[16] Begitu pula menurut pandangan Thabathabai, ungkapan "lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya niscaya engkau dapat melihat-Ku" yang tercantum dalam ayat, menunjukkan bahwa tajalli Allah dan melihat-Nya tidaklah dianggap mustahil, melainkan Musa as tidak memiliki kapasitas untuk tajalli tersebut.[17] Nashir Makarim Syirazi menganggap tafsir ini bertentangan dengan lahiriah ayat dan mengharuskan penggunaan majas, serta menganggapnya tidak selaras dengan beberapa riwayat dalam bab ini.[18]

Masalah Tobat Musa as

Mengenai tobat Musa as setelah mengajukan permintaan melihat Ilahi, Makarim Syirazi berkeyakinan bahwa tobat ini bisa jadi sebagai perwakilan dari Bani Israil yang meminta untuk melihat Allah, dan bisa juga dikatakan bahwa Musa as perlu untuk kembali ke keadaan semula setelah tugasnya berakhir dan mengekspresikan imannya agar tidak terjadi kesalahpahaman bagi siapa pun.[19] Sebagaimana Thabathabai juga meyakini bahwa tobat tidak selalu harus muncul dari kemaksiatan, melainkan tobat bermakna kembali kepada Allah yang dapat dilakukan bahkan pada misdaq-misdaq parsial yang di dalamnya terdapat prasangka jauh dari Allah.[20]

Takwil Sufistik dari Ayat

Para urafa Muslim memberikan perhatian khusus pada Ayat 143 Surah Al-A'raf ini dan menggunakan banyak takwil, simbol, serta isyarat darinya.[21] Sebagai contoh, hancurnya gunung dan pingsannya Musa as melalui tajalli keperkasaan dan keagungan Allah, ditafsirkan sebagai maqam fana bagi keduanya. Dengan perbedaan bahwa gunung tidak lagi tersisa, namun Musa as mencapai maqam baqa' ba'da al-fana' yang merupakan tingkatan lebih tinggi dari maqam fana di sisi para urafa.[22]

Abu Sulaiman ad-Darani (wafat 215/830-31), salah seorang masyaikh sufistik akhir abad kedua, menganggap tujuan ahli makrifat adalah sama dengan tujuan Musa as dalam melihat Allah,[23] dan Imam Khomeini berkeyakinan bahwa yang dimaksud dengan "gunung" adalah ke-akuan (ananiyah)Templat:Yad Musa as yang mana selama tidak dihancurkan dengan bantuan Allah, maka kondisi fana tidak akan tercapai baginya.[24]

Manifestasi Ayat dalam Puisi Persia

Menurut keyakinan para peneliti, di antara berbagai peristiwa kehidupan Musa as, insiden miqat dan kisah "arini" serta jawaban "lan tarani" lebih banyak menarik perhatian para penyair berbahasa Persia dibandingkan peristiwa lainnya.[25] Menurut pernyataan mereka, poin-poin seperti "meninggalkan eksistensi diri demi mencari perjumpaan dengan al-Haq", "harapan, penyesalan, adab, dan kerinduan berjumpa al-Haq", serta "perbandingan Musa as dengan Nabi Akram saw dalam berjumpa al-Haq" dapat dianggap sebagai tema yang paling sering diulang dalam puisi-puisi Persia di bidang ini.[26]

Sebagai contoh, Sanai Ghaznawi, penyair dan arif Syiah abad kelima, melantunkan demikian:[27] Templat:Puisi baru

Catatan Kaki

  1. Tavakoli, "Naqd wa Barresi-ye Didgah-e Sayid Murtadha darbareh-ye Ta'wil-e Ayah-ye Rabbi Arini Anzhur Ilaik", hal. 196.
  2. Syahrastani, Nihayah al-Iqdam, 1425 H, hal. 206–207.
  3. Sayid Murtadha, Tanzih al-Anbiya, 1998 M, jld. 2, hal. 215–230.
  4. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hal. 360.
  5. Khazzaz Razi, Kifayah al-Atsar, 1401 H, hal. 261–262.
  6. Syaikh Shaduq, Kamaluddin, 1398 HS, hal. 121.
  7. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hal. 357.
  8. Rezwani, Syiah-syenasi wa Pasokyguyi beh Syobahat, 1384 HS, hal. 210.
  9. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hal. 356.
  10. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hal. 356.
  11. Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 2, hal. 65.
  12. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hal. 356.
  13. Thabarsi, Majma' al-Bayan, t.t, jld. 4, hal. 731.
  14. Allamah Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hal. 238.
  15. Allamah Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hal. 238.
  16. Allamah Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hal. 242.
  17. Allamah Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hal. 242.
  18. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hal. 359.
  19. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hal. 360.
  20. Allamah Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hal. 243.
  21. Lihat Hosseini Ishaq-nia, "Syarh-e Waqe'eh 'Lan Tarani' dar Andisheh-ye 'Urafa", hal. 15–42.
  22. Hosseini Ishaq-nia, "Syarh-e Waqe'eh 'Lan Tarani' dar Andisheh-ye 'Urafa", hal. 35.
  23. Abu Nu'aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya, t.t, hal. 120.
  24. Imam Khomeini, Adab al-Shalat, 1370 HS, hal. 253 dan Tafsir Surah Hamd, 1375 HS, hal. 31.
  25. Mohammad-nezhad, "Tahlil-e Maudhu'i-ye Karbord-e 'Arini' wa 'Lan Tarani' dar Sye'r-e Sya'eran-e Parsi-guy ba Takid bar Asy'ar-e 'Irfani", hal. 8.
  26. Mohammad-nezhad, "Tahlil-e Maudhu'i-ye Karbord-e 'Arini' wa 'Lan Tarani' dar Sye'r-e Sya'eran-e Parsi-guy ba Takid bar Asy'ar-e 'Irfani", hal. 1–25.
  27. Sanai Ghaznawi, Diwan-e Hakim Sanai Ghaznawi, 1391 HS, hal. 446.

Daftar Pustaka

  • Abu Nu'aim al-Isfahani, Ahmad bin Abdullah. Hilyah al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya. Kairo: Dar Umm al-Qura lil-Thiba'ah wa al-Nasyr, tanpa tahun.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Adab al-Shalat. Teheran: Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar-e Imam Khomeini, 1370 HS.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Tafsir Surah Hamd. Teheran: Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar-e Imam Khomeini, 1375 HS.
  • Tavakoli, Mohammad Hadi. "Naqd wa Barresi-ye Didgah-e Sayid Murtadha darbareh-ye Ta'wil-e Ayah-ye 'Rabbi Arini Anzhur Ilaik'". Ma'rifat-e Kalami, No. 26, Musim Semi dan Musim Panas 1400 HS.
  • Hosseini Ishaq-nia, Sayid Reza. "Syarh-e Waqe'eh 'Lan Tarani' dar Andisheh-ye 'Urafa". Pazhuhesynamah-ye 'Irfan, No. 4, Musim Semi dan Musim Panas 1390 HS.
  • Huwaizi, Abd Ali bin Jumu'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Qom: Nasyr-e Esma'iliyan, 1415 H.
  • Khazzaz Razi, Ali bin Muhammad. Kifayah al-Atsar fi al-Nash 'ala al-Aimmah al-Itsna 'Asyar. Qom: Bidar, 1401 H.
  • Rezwani, Ali-Asghar. Syiah-syenasi wa Pasokyguyi beh Syobahat. Teheran: Nasyr-e Masya'ar, 1384 HS.
  • Sanai Ghaznawi, Majdud bin Adam. Diwan-e Hakim Sanai Ghaznawi. Koreksi: Parviz Babai, Mohammad Hossein Foruzanfar. Teheran: Negah, 1391 HS.
  • Sayid Murtadha, Ali bin Husain. Tanzih al-Anbiya. Qom: al-Syarif al-Radhi. 1250 H.
  • Syahrastani, Muhammad bin Abdul Karim. Nihayah al-Iqdam fi 'Ilm al-Kalam. Riset: Ahmad Farid Mazidi. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1425 H.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Kamaluddin wa Tammam al-Ni'mah. Teheran: Islamiyah, 1398 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran: Maktabah al-Ilmiyyah al-Islamiyyah, tanpa tahun.
  • Ubudiyat, Abdul Rasul. Hasti-syenasi. Qom: Muassasah Imam Khomeini, 1380 HS.
  • Allamah Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Cetakan Kelima. Qom: Maktabah al-Nasyr al-Islami, 1417 H.
  • Mohammad-nezhad, Yusef. "Tahlil-e Maudhu'i-ye Karbord-e 'Arini' wa 'Lan Tarani' dar Sye'r-e Sya'eran-e Parsi-guy ba Takid bar Asy'ar-e 'Irfani". Kohan-nameh Adab-e Parsi, No. 1, Musim Semi dan Musim Panas 1398 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
  • Penulis. Raqsh-e Kuh. Teheran: Muassasah Farhangi Mothale'ati Syams al-Syumus, 1393 HS.