Lompat ke isi

Konsep:Ayat 132 Surah Thaha

Dari wikishia

Templat:Kotak info ayat Ayat 132 Surah Thaha memerintahkan kepada Nabi saw agar menyuruh keluarganya untuk (mendirikan) salat dan bersabar dalam melaksanakannya. Mengenai makna ahl (keluarga) dalam ayat ini terdapat perbedaan pendapat: sebagian mufasir meyakini bahwa maksudnya adalah keluarga Nabi saw seperti Sayidah Khadijah, Imam Ali as dan putri-putri Nabi. Sebagian lain menganggapnya mencakup seluruh pengikut dan umat Nabi.

Dalam sumber-sumber Syiah dan Ahlusunah disebutkan bahwa setelah turunnya ayat ini, Nabi saw selama beberapa waktu pergi ke pintu rumah Ali as dan Fatimah sa dan mengajak mereka untuk salat. Sebagian mufasir dengan bersandar pada ayat ini menganggap salat sebagai faktor peningkatan rezeki dan keberkahan.

Para ulama seperti Murtadha Muthahhari dengan bersandar pada ayat ini mengatakan bahwa manusia selain bertanggung jawab atas salatnya sendiri, juga bertanggung jawab mengenai salat anggota keluarganya dan tidak boleh bersikap acuh tak acuh terhadap pelaksanaan salat mereka.

Anjuran Mendirikan Salat

Allah dalam ayat 132 Surah Thaha, menganjurkan kepada nabi-Nya agar menyuruh keluarganya untuk mendirikan salat dan dirinya beserta keluarganya bersabar terhadap pelaksanaan salat dan mendawamkannya dan Allah sendiri yang akan menanggung rezeki mereka.[1] Di akhir ayat disebutkan bahwa kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.[2] Mengenai hubungan salat dengan takwa sebagian mufasir mengatakan bahwa mendirikan salat menyebabkan terciptanya landasan-landasan ketakwaan.[3]

Templat:Quran jadidTemplat:SakhTemplat:Quran jadid

Siapakah yang Dimaksud dengan Ahl dalam Ayat Ini?

Mengenai maksud dari "ahl" dalam ayat ini, para mufasir memiliki berbagai pendapat yang berbeda.[4] Menurut keyakinan Allamah Thabathaba'i, yang dimaksud dengan ahl adalah Sayidah Khadijah, Imam Ali as dan sebagian putri-putri Nabi saw yang di Makkah merupakan satu-satunya keluarga Nabi.[5] Sebagian lain meyakini maksudnya adalah para istri, putri-putri Nabi dan kerabat-kerabatnya dari kabilah Bani Hasyim dan Bani Muththalib.[6] Selain itu sejumlah mufasir menafsirkan "ahl" sebagai para pengikut Nabi saw dan umatnya.[7]

Menurut perkataan Fakhrurrazi, seorang mufasir Sunni, ketika ayat ini turun Nabi saw hingga beberapa bulan setiap hari pergi ke pintu rumah Ali as dan Fatimah sa untuk salat Subuh dan bersabda: "Al-Shalah (Salat)".[8] Selain itu dalam sebagian sumber hadis dan tafsir Ahlusunah disebutkan bahwa Nabi saw hingga delapan bulan setelah turunnya ayat ini setiap hari di pagi hari pergi ke pintu rumah Ali as dan Fatimah sa dan bersabda: "Al-Shalah. Rahmat Allah atas kalian.", kemudian beliau membaca Ayat Tathir.[9] Kandungan perkataan semacam ini dalam sumber-sumber riwayat dan tafsir Syiah juga telah dinukil.[10]

Dalam Awali al-La'ali sebuah riwayat dari Imam Baqir as dinukil bahwa Allah selain memerintahkan Ahlulbait Nabi saw beserta seluruh manusia untuk mendirikan salat, dalam ayat ini secara khusus juga memerintahkan kepada Nabi saw agar menyuruh mereka untuk mendirikan salat agar masyarakat mengetahui bahwa bagi Ahlulbait Nabi terdapat kedudukan di sisi Allah yang tidak ada bagi selain mereka.[11]

Kesabaran untuk Salat

Kata "ishthabir" dalam ungkapan "washthabir 'alaiha" dianggap bermakna "kesabaran yang kuat".[12] Abdullah Jawadi Amuli, seorang mufasir Syiah, meyakini maksud dari salat yang diperintahkan untuk didirikan dan bersabar atasnya dalam ayat ini, adalah salat untuk pertama kalinya atau salat-salat yang di awal risalah Nabi saw baru saja diajukan sebagai syariat. Oleh karena itu, diminta dari Nabi saw agar memiliki kesabaran yang kuat dalam melaksanakannya dan menanggung kesulitan-kesulitannya.[13] Dalam tafsir Thabari disebutkan bahwa maksud dari ungkapan ini, adalah bersabar atas pendirian salat dan menjaga batasan-batasan serta adab-adabnya.[14] Sebagian mufasir juga mengatakan bahwa bersabar atas salat bermakna mendawamkan pelaksanaannya.[15]

Tanggung Jawab Manusia terhadap Pelaksanaan Salat Keluarganya

Murtadha Muthahhari dengan bersandar pada ayat 132 Surah Thaha, mengatakan bahwa manusia bertanggung jawab atas salatnya sendiri dan juga bertanggung jawab atas salat istri serta anak-anaknya dan tidak boleh bersikap acuh tak acuh terhadap pelaksanaan salat istri dan anak-anaknya.[16] Muhsin Qira'ati, seorang rohaniwan Syiah dan mufasir Al-Qur'an, juga dengan menggunakan penggalan ayat "wa'mur ahlaka; dan perintahkanlah keluargamu", mengambil kesimpulan seperti ini bahwa seorang pria bertanggung jawab terhadap nasib pemikiran dan agama keluarganya dan tidak boleh hanya merasa cukup dengan memenuhi kebutuhan materi mereka.[17]

Salat dan Melimpahnya Rezeki

Alusi, seorang mufasir dan fakih Syafi'i abad ketiga belas Hijriah, dalam tafsir bagian ayat "la nas'aluka rizqan nahnu narzuquka; Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.", mengatakan bahwa perhatian terhadap salat menyebabkan mengalirnya rezeki.[18] Sayid Muhammad Taqi Mudarrisi dalam Tafsir Min Huda al-Qur'an, di bawah bagian ini mengatakan salat adalah salah satu pintu dari pintu-pintu rezeki yang manfaatnya sampai kepada orang yang mendirikannya.[19] Dinukil dari tafsir Qurthubi, kapan pun kemiskinan (kesulitan) menimpa Nabi saw beserta keluarga dan kerabatnya, beliau memerintahkan mereka untuk salat[20] dan menilawahkan ayat ini.[21]

Untuk tafsir bagian ayat ini, pandangan-pandangan lain juga telah dinukil.[22] Sebagai contoh Allamah Thabathaba'i meyakini bahwa bagian ayat ini ingin menyampaikan hal ini secara kinayah bahwa Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan Nabi sementara Nabi membutuhkan-Nya.[23] Sebagian juga meyakini bahwa Allah dalam ayat ini berfirman kepada nabi-Nya agar masalah mencari rezeki dan penghidupan, tidak menghalanginya dari urusan salat dan Allah sendiri yang akan menanggung rezeki dirinya beserta keluarganya.[24]

Catatan Kaki

  1. Razi, Raudh al-Jinan, 1376 HS, jld. 13, hlm. 199; Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 18, hlm. 405; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 7, hlm. 68.
  2. Syekh Thusi, Al-Tibyan, Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, jld. 7, hlm. 224; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jld. 7, hlm. 59.
  3. Hasyimi Rafsanjani, Rahnama, 1386 HS, jld. 11, hlm. 210.
  4. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 14, hlm. 239.
  5. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 14, hlm. 239.
  6. Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 8, hlm. 592; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 14, hlm. 239.
  7. Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 8, hlm. 592; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 14, hlm. 239.
  8. Suyuthi, Al-Durr al-Mantsur, Penerbit: Dar al-Fikr - Beirut, jld. 5, hlm. 613; Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 22, hlm. 115.
  9. Sebagai contoh lihat: Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 8, hlm. 592.
  10. Sebagai contoh lihat: Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 67; Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 3, hlm. 409.
  11. Ibnu Abi Jumhur, Awali al-La'ali, 1403 H, jld. 2, hlm. 22-23.
  12. Thuraihi, Majma' al-Bahrain, 1362 HS, jld. 3, hlm. 359.
  13. Jawadi Amuli, "Tafsir Ayat 129 ta 132 Sureh Thaha" (Tafsir Ayat 129 hingga 132 Surah Thaha), Situs Pangkalan Pidato "Suara Republik Islam Iran".
  14. Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 16, hlm. 216.
  15. Razi, Raudh al-Jinan, 1376 HS, jld. 13, hlm. 199; Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 4, hlm. 43; Farmawi, Al-Sahl al-Mufid, 1430 H, jld. 2, hlm. 337.
  16. Muthahhari, Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya), 1390 HS, jld. 23, hlm. 529.
  17. Qira'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 5, hlm. 412.
  18. Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 8, hlm. 592.
  19. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 7, hlm. 258-259.
  20. Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 1364 HS, jld. 11, hlm. 263.
  21. Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 8, hlm. 592.
  22. Sebagai contoh lihat: Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 22, hlm. 116-117.
  23. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 14, hlm. 239.
  24. Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, 1364 HS, jld. 11, hlm. 263.

Daftar Pustaka

  • Abu al-Futuh Razi, Husain bin Ali. Raudh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Koreksi: Muhammad Ja'far Yahaqqi. Astan Quds Razawi, 1376 HS.
  • Alusi, Mahmud bin Abdullah. Ruh al-Ma'ani. Beirut, Penerbit Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1415 H.
  • Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1418 H.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1420 H.
  • Farmawi, Abdul Hayy. Al-Sahl al-Mufid fi Tafsir al-Qur'an al-Majid. Beirut, Penerbit Dar al-Ma'rifah, 1430 H.
  • Hasyimi Rafsanjani, Akbar. Rahnama. Qom, Daftar-e Tablighat-e Islami, 1386 HS.
  • Huwaizi, Abdul Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Qom, Penerbit Dar al-Kitab, 1415 H.
  • Ibnu Abi Jumhur, Muhammad bin Zainuddin. Awali al-La'ali al-'Aziziyyah fi al-Ahadits al-Diniyyah. Koreksi: Mujtaba Iraqi. Qom, Mu'assasah Sayyidusy Syuhada', 1403 H.
  • Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Taheran, Penerbit Dar Muhibbi al-Husain alaihis salam, 1419 H.
  • Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Atsar (Kumpulan Karya). Qom, Entisyarat-e Shadra, 1390 HS.
  • Qira'ati, Muhsin. Tafsir Nur (Tafsir Nur). Taheran, Markaz-e Farhangi-e Dars-hayi az Quran, 1388 HS.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Penerbit Dar al-Kitab, 1404 H.
  • Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Tafsir al-Qurthubi. Taheran, Penerbit Nashir Khusraw, 1364 HS.
  • Suyuthi, Jalaluddin. Al-Durr al-Mantsur. Beirut, Penerbit: Dar al-Fikr, t.t.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar Ihya' al-Turats al-'Arabi, t.t.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Ma'rifah, 1412 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Mu'assasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1415 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Mu'assasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1393 H.
  • Thuraihi, Fakhruddin. Majma' al-Bahrain. Taheran, Entisyarat-e Murtadhawi, 1362 HS.