Lompat ke isi

Konsep:Ayat 12 Surah Al-A'raf

Dari wikishia

Templat:Infobox Ayat Ayat 12 Surah Al-A'raf adalah khitab Allah kepada Iblis mengenai alasan mengapa ia membangkang terhadap perintah Sujud kepada Adam. Catatan kaki[1] Ayat 11 hingga 18 surah ini menyebutkan kisah pembangkangan Iblis. Catatan kaki[2] Dalam ayat-ayat ini, awalnya diisyaratkan tentang penciptaan manusia dari tanah dan sujudnya para malaikat kepadanya serta pembangkangan Iblis, kemudian dijelaskan sikap setan terhadap jenis manusia. Catatan kaki[3]

Menurut Naser Makarem Shirazi, salah satu mufasir Al-Qur'an, dialog setan dengan Allah bisa melalui ilham batini atau dengan perantara sebagian Malaikat. Catatan kaki[4] Abdullah Jawadi Amuli juga meyakini bahwa setan, dikarenakan pembangkangannya terhadap perintah Allah, tidak dapat mendengar firman Tuhan secara langsung. Catatan kaki[5]

Ayat 12 Surah Al-A'raf tergolong sebagai ayat Makkiyah Catatan kaki[6] dan isinya dianggap mirip dengan Ayat 75 Surah Shad. Catatan kaki[7]

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ ﴿۱۲﴾

Allah berfirman, "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Iblis menjawab, "Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." (12)

Para mufasir Al-Qur'an menafsirkan sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam as sebagai bentuk penghormatan dan salam, bukan ibadah. Catatan kaki[8] Allamah Thabathabai juga menganggap perintah Allah untuk bersujud ini sebagai perkara takwini, artinya Iblis terjatuh dari kedudukannya karena takabur dan ketiadaan kerendahan hati di hadapan hakikat kemanusiaan. Catatan kaki[9]

Menurut para mufasir, dalam ayat 12 Surah Al-A'raf, setan membandingkan penciptaannya dengan penciptaan Adam dan menganggap api lebih unggul daripada tanah, oleh karena itu ia menolak bersujud kepada Adam. Catatan kaki[10] Dalam banyak tafsir disebutkan bahwa Iblis adalah orang pertama yang menggunakan qiyas (analogi) untuk berargumentasi. Catatan kaki[11] Dalam mazhab Syiah, qiyas tidaklah valid, Catatan kaki[12] namun Ahlusunah menerimanya. Catatan kaki[13] Beberapa mufasir meyakini bahwa argumentasi setan adalah batil, karena keunggulan jenis penciptaan bukanlah alasan keunggulan moral dan iman. Catatan kaki[14]

Akar dan kembalinya dosa-dosa dianggap berasal dari Takabur dan keegoisan. Catatan kaki[15] Dalam Tafsir al-Mizan disebutkan bahwa jawaban setan kepada Allah dalam ayat ini menunjukkan bahwa setan terjangkit keegoisan dan merasa diri lebih unggul, dan kesombongannya itu pada hakikatnya berada di hadapan kedudukan Tuhan yang Maha Agung. Catatan kaki[16] Imam Ali as dalam Khutbah Qashiah juga memperkenalkan kesombongan Setan sebagai penyebab lenyapnya seluruh amal dan ibadahnya yang selama ribuan tahun. Catatan kaki[17] Beberapa orang juga, dengan bersandar pada Ayat 40 Surah Al-A'raf, menyebutkan istikbar dan merasa diri besar sebagai akar dari semua dosa. Catatan kaki[18]

Menurut keyakinan sebagian mufasir, kesombongan dan tindakan tidak bersujudnya Setan bukanlah sebuah pembangkangan biasa dan dosa yang sederhana; melainkan sebuah pembangkangan yang bercampur dengan protes dan pengingkaran terhadap kedudukan Tuhan; Catatan kaki[19] karena ketika ia mengatakan tentang alasan tidak bersujud: "Saya lebih baik darinya", hal ini berarti bahwa perintah Allah mengenai Sujud kepada Adam bertentangan dengan Hikmah dan Keadilan Ilahi. Catatan kaki[20]


Catatan Kaki

  1. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 99.
  2. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 98.
  3. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 98.
  4. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 105.
  5. Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1392 HS, jld. 28, hlm. 185.
  6. Borujerdi, Tafsir Jami', 1366 HS, jld. 2, hlm. 386.
  7. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 619.
  8. Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 3, hlm. 307.
  9. Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hlm. 23.
  10. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 105.
  11. Qumi, Tafsir al-Qummi, 1404 H, jld. 1, hlm. 42; Tafsir Nur al-Tsaqalayn, 1415 H, jld. 2, hlm. 6; Thabari, Jami' al-Bayan, 1412 H, jld. 8, hlm. 98; Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, jld. 8, hlm. 331.
  12. Ibnu Syu'bah al-Harrani, Tuhaf al-'Uqul, 1404 H, hlm. 105.
  13. Syaikh Thusi, al-Rasa'il al-'Asyar, 1414 H, hlm. 48.
  14. Thayyib, Athyab al-Bayan, 1378 HS, jld. 7, hlm. 283.
  15. Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hlm. 24.
  16. Thabathabai, Al-Mizan, 1417 H, jld. 8, hlm. 24-25.
  17. Nahjul Balaghah, Tashih Subhi Shalih, Khutbah 192, hlm. 287.
  18. Takabur adalah Akar Semua Dosa, Kantor Berita Rasa.
  19. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 105.
  20. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 6, hlm. 105.

Daftar Pustaka

  • Borujerdi, Muhammad Ibrahim. Tafsir Jami'. Teheran, Perpustakaan Sadr, cetakan keenam, 1366 HS.
  • Huwaizi, Abd Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalayn. Tashih: Hasyim Rasuli. Qom, Isma'iliyan, cetakan keempat, 1415 H.
  • Ibnu Syu'bah al-Harrani, Hasan bin Ali. Tuhaf al-'Uqul. Riset dan Tashih: Ali Akbar Ghaffari. Qom, Jama'ah Mudarrisin, cetakan kedua, 1404 H.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Riset: Husain Syafi'i. Qom, Penerbit Isra, cetakan pertama, 1392 HS.
  • Makarem Shirazi, Naser. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan pertama, 1374 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan pertama, 1424 H.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Riset dan Tashih: Sayyid Thayyib Musawi Jaza'iri. Qom, Dar al-Kitab, cetakan ketiga, 1404 H.
  • Rasyid Ridha, Muhammad. Tafsir al-Qur'an al-Hakim (Tafsir al-Manar). Beirut, Dar al-Ma'rifah, cetakan pertama, 1414 H.
  • Sayyid Radhi, Muhammad bin Husain. Nahjul Balaghah. Riset: Subhi Shalih. Qom, Hijrat, cetakan pertama, 1414 H.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Rasa'il al-'Asyar. Qom, Kantor Penerbitan Islami, cetakan kedua, 1414 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an (Tafsir al-Thabari). Beirut, Dar al-Ma'rifah, cetakan pertama, 1412 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Pengantar: Muhammad Jawad Balaghi. Teheran, Nashr Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
  • Thabathabai, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Kantor Penerbitan Islami, cetakan kelima, 1417 H.
  • Thayyib, Sayyid Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Penerbit Islam, cetakan kedua, 1378 HS.