Konsep:Ayat 10 Surah Al-Fath
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Juz | 26 |
| Informasi Konten | |
| Tentang | Baiat Ridhwan |
Ayat 10 Surah Al-Fath mendeskripsikan baiat kepada Nabi (saw) sebagai baiat kepada Tuhan dan memperkenalkan tangan Tuhan berada di atas semua tangan. Selanjutnya, ayat ini menyatakan kerugian dari pelanggaran janji ditanggung oleh para pelanggar janji dan menyebut kesetiaan pada janji sebagai penyebab pahala yang besar. Maksud dari baiat dalam ayat ini dianggap sebagai Baiat Ridhwan dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. Dikatakan bahwa orang pertama yang berbaiat kepada Nabi (saw) adalah Imam Ali (as). Para mufasir menyebutkan baiat tersebut untuk kematian di jalan Allah, berjuang hingga titik darah penghabisan dan tidak melarikan diri.
Yadullah Fauqa Aydihim dianggap sebagai metafora imajinatif yang memperkenalkan baiat kepada Nabi (saw) sebagai baiat Ilahi dan baiat tanpa perantara dengan Tuhan. Keunggulan kekuasaan dan pertolongan Tuhan, keunggulan nikmat Tuhan dari pelayanan orang lain dan juga keunggulan Tuhan dalam menepati janji dibandingkan yang lain, dianggap sebagai makna lain dari Yadullah Fauqa Aydihim.
Sekte-sekte seperti Mujassimah dan Wahabisme dengan pemahaman lahiriah dari ungkapan Yadullah Fauqa Aydihim, meyakini jasmaniah Tuhan; namun Syiah dan mayoritas Ahlusunah menolaknya dan menganggap ayat ini bagian dari ayat-ayat mutasyabih serta menolak Tuhan sebagai jasmani dengan dalil-dalil akal seperti kemustahilan jasmaniah Tuhan dan juga ayat-ayat muhkam seperti Laisa Kamitslihi Syai'.
Pengenalan
Ayat 10 Surah Al-Fath mendeskripsikan baiat kepada Nabi (saw) sebagai baiat kepada Tuhan[1] dan ketaatan kepadanya sebagai ketaatan kepada Tuhan[2] dan memperkenalkan tangan Tuhan berada di atas semua tangan serta dengan peringatan terhadap pelanggaran janji dan mengingkari perjanjian[3] menganggap kerugiannya ditanggung oleh orang itu sendiri[4] dan membicarakan tentang ketiadaan kerugian pada Tuhan dan Rasul-Nya.[5] Selanjutnya menyebutkan kesetiaan pada baiat sebagai penyebab pahala yang agung[6] yaitu Surga[7] dan kenikmatan-kenikmatannya.[8] Dikatakan menurut ayat ini, pelanggar baiat dengan Nabi (saw) sama dengan pelanggar baiat Tuhan.[9]
Templat:Alquran Baru Templat:Alquran Baru
Kalimat Yadullah Fauqa Aydihim telah digunakan dalam berbagai kesempatan oleh kaum muslimin[10] dan juga muncul dalam seni dan arsitektur mereka.[11] Sebagaimana kalimat ini dirancang di Taj-e Khorsyidi (mahkota matahari) kubah Haram Imam Ali (as) bersama 14 pancaran cahaya.[12]

Asbabun Nuzul
Maksud dari baiat dalam ayat ini dianggap sebagai baiat kaum muslimin kepada Nabi (saw) dalam peristiwa Baiat Hudaibiyah[13] yang dikenal dengan Baiat Ridhwan dan dijelaskan secara rinci dalam ayat 18 surah ini.[14] Nabi (saw) pada tahun keenam Hijriah beserta sejumlah sahabat, keluar dari Madinah dengan niat umrah; namun kaum musyrik Quraisy mencegah mereka masuk ke Makkah. Nabi (saw) setelah adanya rumor terbunuhnya salah satu utusannya di tangan Quraisy, memanggil para sahabat untuk berbaiat dan mereka pun berjanji untuk membela Nabi (saw) hingga titik darah penghabisan. Setelah itu ayat ini turun.[15] Peristiwa ini pada akhirnya, berujung pada Perjanjian Hudaibiyah.[16] Dikatakan ayat ini turun setelah ayat 18 Surah Al-Fath.[17]
Dikatakan bahwa semua sahabat yang hadir dalam perjalanan ini, berbaiat kepada Nabi (saw) kecuali satu orang yang bernama Al-Jadd bin Qais.[18] Imam Ali (as) dianggap sebagai orang pertama yang berbaiat kepada Nabi (saw);[19] sebagaimana Umar bin Khaththab disebutkan sebagai orang terakhir yang berbaiat kepada Nabi (saw).[20]
Tujuan Baiat
Para mufasir menyebutkan berbagai pandangan tentang apa tujuan dari baiat tersebut. Baiat untuk menolong dalam perang,[21] baiat untuk kematian dan berperang hingga titik darah penghabisan dan tidak melarikan diri,[22] ketaatan,[23] melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Nabi (saw)[24] dan mengerahkan seluruh kekuatan serta kemampuan materi dan spiritual diri di jalan keridaan Tuhan[25] adalah termasuk pandangan-pandangan para mufasir mengenai jenis baiat.
Sayyid Muhammad Husaini Hamadani, penulis kitab tafsir Anwar Derakhsyan, menyebutkan baiat dan janji sebagai sarana untuk mengekspresikan iman dan ketaatan hati yang muncul dalam perbuatan dan hal itu ibarat komitmen ucapan dan komitmen perbuatan.[26] Dalam kitab Tafsir al-Qomi disebutkan bahwa ayat ini adalah syarat atas Baiat Ridhwan, dengan makna bahwa keridaan Tuhan dari orang-orang yang berbaiat disyaratkan pada kesetiaan mereka atas janji dan perjanjian dengan Tuhan, dengan syarat mereka tidak melanggarnya.[27]
Makna Yadullah Fauqa Aydihim
Para mufasir menyebutkan berbagai pandangan mengenai makna dan maksud kalimat Yadullah Fauqa Aydihim yang mana sebagian darinya adalah sebagai berikut:
- Ungkapan ini adalah metafora imajinatif[28] dan kiasan dari hal ini bahwa baiat kepada Nabi (saw) adalah baiat Ilahi dan seakan-akan tangan Tuhan berada di atas tangan mereka[29] dan mereka berbaiat kepada Tuhan[30] dan dengan kata lain baiat kaum muslimin akan menjadi baiat tanpa perantara dengan Tuhan.[31] Dikatakan kiasan-kiasan semacam ini sangat lazim dalam bahasa Arab.[32]
- Maksud dari ungkapan ini, adalah kekuasaan dan pertolongan Tuhan dan kekuasaan Tuhan lebih tinggi dari semua kekuasaan[33] dan Dia meminta Nabi (saw) untuk hanya bersandar pada pertolongan Tuhan.[34]
- Akad Tuhan dalam baiat ini lebih unggul dari akad baiat orang lain dan kekuasaan Tuhan dalam memberikan pertolongan, berada di atas pertolongan orang lain.[35]
- Maksud dari kata Yad adalah pemberian dan nikmat, yaitu nikmat Tuhan atas kaum muslimin yang berupa pahala atau taufik baiat, berada di atas nikmat dan pelayanan yang telah mereka berikan kepada Nabi (saw) dan berbaiat dengannya[36] atau nikmat Tuhan kepada masyarakat yang telah memberikan petunjuk kepada mereka lebih agung dari pelayanan dan ketaatan yang mereka berikan kepada Nabi (saw).[37]
- Tuhan dalam menepati janji lebih unggul dari kesetiaan janji orang lain.[38]
- Tangan Nabi (saw) adalah tangan Tuhan itu sendiri[39] atau kesucian tangan Nabi (saw) seperti kesucian tangan Tuhan.[40]
- Maksudnya, tangan Nabi (saw) berada di atas tangan orang lain dan Tuhan suci dari anggota badan serta sifat-sifat benda.[41]
Beberapa mufasir meyakini bahwa ayat ini juga menaruh perhatian pada kualitas baiat Nabi (saw) dan mengisyaratkan pada peletakan tangan beliau di atas tangan para sahabatnya.[42]
Tidak Terbuktinya Jasmaniah Tuhan
Beberapa sekte kaum muslimin seperti Mujassimah dan Wahabisme dengan bersandar pada ungkapan Yadullah Fauqa Aydihim, meyakini jasmaniah Tuhan; namun Syiah dan mayoritas Ahlusunah menolak jasmaniah Tuhan[43] dan menganggap ayat ini sebagai bagian dari ayat-ayat mutasyabih dan menolak Tuhan sebagai jasmani dengan dalil-dalil akal seperti kemustahilan jasmaniah Tuhan dan juga ayat-ayat muhkam seperti "Laisa Kamitslihi Syai'"[44].[45]
Catatan Kaki
- ↑ Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 16, hlm. 267.
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jld. 12, hlm. 203; Husaini Syah Abdul 'Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1404 H, jld. 12, hlm. 149; Sabzawari Najafi, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, hlm. 517.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemouneh, 1371 HS, jld. 22, hlm. 44-45.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 18, hlm. 275.
- ↑ Sabzawari Najafi, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, hlm. 517.
- ↑ Syaikh ath-Thusi, At-Tibyan, Beirut, jld. 9, hlm. 319; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 18, hlm. 276; Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 4, hlm. 335; Qara'ati, Tafsir Nur, 1388 HS, jld. 9, hlm. 122.
- ↑ Baidhawi, Anwar at-Tanzil, 1418 H, jld. 5, hlm. 127; Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 16, hlm. 268; Sabzawari Najafi, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, hlm. 517.
- ↑ Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 9, hlm. 210.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 18, hlm. 275.
- ↑ "Ruz Quds Ruz Gowahi Ayat Yadullah Fauqa Aydihim Ast", Kantor Berita Daneshju; "Hadeseh Sahraye Tabas Tafsir Riwayat "Yadullah Fauqa Aydihim" Ast", Kantor Berita Defa Moghaddas.
- ↑ "Katibeh-haye Ab Anbar Masjid Darwazeh Kashan", Bonyad Qompajoohi.
- ↑ "Bazsazi Taj Khorsyidi Gonbad Haram Alawi Tawassut Karsyenas-e Setad Atabat", Kantor Berita Fars.
- ↑ Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 4, hlm. 70; Syaikh ath-Thusi, At-Tibyan, Beirut, jld. 9, hlm. 319; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 172; Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 7, hlm. 88; Baidhawi, Anwar at-Tanzil, 1418 H, jld. 5, hlm. 127; Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 16, hlm. 267; Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 9, hlm. 210.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemouneh, 1371 HS, jld. 22, hlm. 46.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 7, hlm. 88.
- ↑ Waqidi, Kitab al-Maghazi, 1966 M, jld. 2, hlm. 603; Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, 1412 H, jld. 2, hlm. 782; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 2, hlm. 632.
- ↑ Qomi, Tafsir al-Qomi, 1404 H, jld. 2, hlm. 315.
- ↑ Ibnu Jauzi, Zad al-Masir, 1422 H, jld. 4, hlm. 130; Husaini Syah Abdul 'Azhimi, Tafsir Itsna 'Asyari, 1404 H, jld. 12, hlm. 150.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 38, hlm. 217; Ibnu Syahr Asyub al-Mazandarani, Manaqib, 1379 H, jld. 1, hlm. 303; Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jld. 12, hlm. 203.
- ↑ Farhang wa Ma'arif Qur'an, A'lam al-Qur'an, jld. 3, hlm. 533 menukil dari Fath al-Bari, jld. 7, hlm. 579.
- ↑ Syaikh ath-Thusi, At-Tibyan, Beirut, jld. 9, hlm. 319.
- ↑ Ibnu Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 4, hlm. 70; Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 4, hlm. 335; Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 9, hlm. 210; Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 13, hlm. 313.
- ↑ Mughniyah, Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 7, hlm. 88.
- ↑ Sabzawari Najafi, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, hlm. 517; Husaini Hamadani, Anwar Derakhsyan, 1404 H, jld. 15, hlm. 337.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 13, hlm. 313.
- ↑ Husaini Hamadani, Anwar Derakhsyan, 1404 H, jld. 15, hlm. 337.
- ↑ Qomi, Tafsir al-Qomi, 1404 H, jld. 2, hlm. 315.
- ↑ Baidhawi, Anwar at-Tanzil, 1418 H, jld. 5, hlm. 127; Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 4, hlm. 335.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 9, hlm. 172; Amili, Tafsir Amili, 1360 HS, jld. 8, hlm. 17.
- ↑ Fakhr ar-Razi, At-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 28, hlm. 73; Husaini Hamadani, Anwar Derakhsyan, 1404 H, jld. 15, hlm. 337; Amili, Tafsir Amili, 1360 HS, jld. 8, hlm. 17.
- ↑ Sabzawari Najafi, Irsyad al-Adzhan, 1419 H, hlm. 517.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemouneh, 1371 HS, jld. 22, hlm. 44-45.
- ↑ Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 13, hlm. 313.
- ↑ Fakhr ar-Razi, At-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 28, hlm. 73; Tustari, Tafsir at-Tustari, 1423 H, hlm. 147.
- ↑ Syaikh ath-Thusi, At-Tibyan, Beirut, jld. 9, hlm. 319.
- ↑ Fakhr ar-Razi, At-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 28, hlm. 73.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 18, hlm. 275. Menukil dari yang lain.
- ↑ Maibudi, Kasyf al-Asrar, 1371 HS, jld. 9, hlm. 210.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 18, hlm. 275.
- ↑ Mughniyah, At-Tafsir al-Mubin, Qom, hlm. 679.
- ↑ Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 4, hlm. 335.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 18, hlm. 275; Husaini Hamadani, Anwar Derakhsyan, 1404 H, jld. 15, hlm. 337.
- ↑ Shaburi, "Tajsim", Pazhouhesykadeh Baqir al-'Ulum.
- ↑ Surah Asy-Syura, ayat 11.
- ↑ Rezaei Isfahani, Ravesy-haye Tafsiri, Portal Jami' Ulum wa Ma'arif Qur'an.
Daftar Pustaka
- Ibnu Syahr Asyub al-Mazandarani, Muhammad bin Ali. Manaqib Al Abi Thalib Alaihim as-Salam. Qom, Allamah, 1379 H.
- Ibnu Hisyam, Abdul Malik bin Hisyam. As-Sirah an-Nabawiyyah. Riset: Suhail Zakkar. Beirut, Dar al-Fikr, 1412 H.
- Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Zad al-Masir fi 'Ilm at-Tafsir. Beirut, Dar al-Kitab al-'Arabi, 1422 H.
- Ibnu Sulaiman, Muqatil. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, 1423 H.
- "Bazsazi Taj Khorsyidi Gonbad Haram Alawi Tawassut Karsyenas-e Setad Atabat", Kantor Berita Fars, Tanggal Publikasi: 25 Aban 1395 HS, Tanggal Akses: 28 Azar 1402 HS.
- Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta'wil. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, 1418 H.
- Tustari, Sahl bin Abdullah. Tafsir at-Tustari. Beirut, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1423 H.
- "Hadeseh Sahraye Tabas Tafsir Riwayat 'Yadullah Fauqa Aydihim' Ast", Kantor Berita Defa Moghaddas, Tanggal Publikasi: 5 Ordibehesht 1394 HS, Tanggal Akses: 28 Azar 1402 H.
- Husaini Syah Abdul 'Azhimi, Husain bin Ahmad. Tafsir Itsna 'Asyari. Teheran, Intisyarat Miqat, 1363 HS.
- Husaini Hamadani, Sayyid Muhammad. Anwar Derakhsyan. Riset: Muhammad Baqir Behboudi. Teheran, Toko Buku Luthfi, 1404 H.
- Rezaei Isfahani, Ravesy-haye Tafsiri, Portal Jami' Ulum wa Ma'arif Qur'an, Tanggal Akses: 28 Azar 1402 H.
- "Ruz Quds Ruz Gowahi Ayat Yadullah Fauqa Aydihim Ast", Kantor Berita Daneshju, Tanggal Publikasi: 25 Farwardin 1402 HS, Tanggal Akses: 28 Azar 1402 H.
- Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasysyaf 'an Haqa'iq Ghawamidh at-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta'wil. Beirut, Dar al-Kitab al-'Arabi, Cetakan Ketiga, 1407 H.
- Sabzawari Najafi, Muhammad. Irsyad al-Adzhan ila Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar at-Ta'aruf li al-Mathbu'at, 1419 H.
- Syaikh ath-Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, T.t.
- Shaburi, "Tajsim", Pazhouhesykadeh Baqir al-'Ulum, Tanggal Akses: 28 Azar 1402 H.
- Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, Cetakan Kedua, 1390 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Nashir Khosrow, Cetakan Ketiga, 1372 HS.
- Thabari, Muhammad bin Jarir bin Yazid. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset: Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim. Beirut, Dar at-Turats, 1387 H.
- Thayyib, Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Intisyarat Islam, Cetakan Kedua, 1369 HS.
- Amili, Ibrahim. Tafsir Amili. Teheran, Intisyarat Shaduq, 1360 HS.
- Fakhr ar-Razi, Muhammad bin Umar. At-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, Cetakan Ketiga, 1420 H.
- Farhang wa Ma'arif Qur'an. A'lam al-Qur'an. Qom, Bustan Kitab, 1385 HS.
- Qara'ati, Muhsin. Tafsir Nur. Teheran, Markaz Farhangi Darshayi az Qur'an, 1388 HS.
- Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Teheran, Nashir Khosrow, 1364 HS.
- Qomi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qomi. Qom, Dar al-Kitab, Cetakan Ketiga, 1363 HS.
- "Katibeh-haye Ab Anbar Masjid Darwazeh Kashan", Bonyad Qompajoohi, Tanggal Akses: 28 Azar 1402 H.
- Majlisi, Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li Durar Akhbar al-A'immah al-Athar. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, Cetakan Kedua, 1403 H.
- Mudarrisi, Sayyid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran, Dar Muhibbi al-Husain, 1419 H.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. At-Tafsir al-Mubin. Qom, Bonyad Bi'tsat, Cetakan Ketiga, T.t.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. At-Tafsir al-Kasyif. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemouneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan Kesepuluh, 1371 HS.
- Maibudi, Ahmad bin Muhammad. Kasyf al-Asrar wa 'Uddah al-Abrar. Teheran, Amirkabir, Cetakan Kelima, 1371 HS.
- Waqidi, Muhammad bin Umar. Kitab al-Maghazi. Riset: Marsden Jones. London, Tanpa Penerbit, 1966 M.