Lompat ke isi

Konsep:Ayat 107 Surah Hud

Dari wikishia

Templat:Kotak info ayatAyat 107 Surah Hud mengisyaratkan pada keabadian siksaan bagi penghuni neraka, kecuali jika Allah menghendaki agar mereka diselamatkan dari api neraka. Masalah ini menyebabkan perbedaan dalam berbagai tafsir mengenai keabadian[1] atau bersyaratnya[2] siksa neraka.

Ayat ini dianggap sebagai salah satu dalil naqli bagi mereka yang tidak menerima keabadian siksa.[3] Orang-orang seperti Ibnu Qayyim al-Jauzi dari ayat-ayat yang disebutkan tersebut telah menyimpulkan ketidakabadian api dan ketiadaan kekekalan (khulud) di neraka.[4] Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar meyakini bahwa berbeda dengan janji keabadian penghuni surga, kekekalan penghuni neraka bergantung pada kehendak (masyiat) Ilahi, yakni jika Allah menghendaki mereka akan diselamatkan dari api neraka.[5]

Dinukil dari Tafsir Tasnim sebagian orang seperti penulis Tafsir Kanz al-Daqa'iq menganggap langit dan bumi sebagai langit dan bumi dunia ini, dan maksud dari surga serta neraka adalah surga dan neraka barzakh yang akan tetap ada hingga tegaknya kiamat dan dihancurkannya sistem langit dan bumi saat ini.[6]

Templat:Quran jadid|Templat:Quran jadid

Thabarsi (wafat 548 H) seorang mufasir Syiah, menilai ayat ini termasuk dari ungkapan-ungkapan sulit Al-Qur'an di mana para ulama berselisih pendapat dalam menafsirkannya.[7] Kesulitan tafsir ayat ini dari dua sisi: pertama, dibatasinya siksa abadi pada keabadian langit dan bumi, dan kedua makna pengecualian dalam ungkapan "illa ma sya Allah", dan terbatasnya keabadian siksa pada kehendak (masyiat) Allah.[8] Pembahasan dan kesulitan yang serupa dengan kesulitan ayat ini juga telah dikemukakan di bawah Ayat 108 Surah Hud.[9]

Allamah Thabathaba'i dengan bersandar pada Ayat 167 Surah Al-Baqarah dan hadis-hadis Syiah, menekankan pada keabadian siksa dan menolak sebagian riwayat yang bertentangan dikarenakan bertentangan dengan Al-Qur'an.[10] Ia dalam menjelaskan ungkapan "ma damat al-samawati wa al-ardh" mengatakan bahwa langit dan bumi kiamat berbeda dengan langit dan bumi duniawi dan tidak akan fana, oleh karena itu kekekalan (khulud) siksa tetap berlaku.[11] Jawadi Amuli juga meyakini bahwa penyebutan keabadian langit dan bumi dalam ayat ini bermakna keabadian siksa[12] dan tidak ada seorang pun selain Allah yang mampu menyelamatkan penghuni neraka.[13]

Catatan Kaki

  1. Thabathaba'i, Al-Mizan, di bawah Surah Hud: Ayat 107-108.
  2. Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, 1371 H, jld. 8, hlm. 69.
  3. Jawadi Amuli, Tasnim, 1395 HS, jld. 39, hlm. 387.
  4. Ibnu Qayyim al-Jauzi, Hadi al-Arwah, 1392 H, hlm. 404.
  5. Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, 1371 H, jld. 8, hlm. 69.
  6. Jawadi Amuli, Tasnim, 1395 HS, jld. 39, hlm. 415.
  7. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1408 H, jld. 5, hlm. 296.
  8. Jawadi Amuli, Tasnim, 1395 HS, jld. 39, hlm. 400.
  9. Jawadi Amuli, Tasnim, 1395 HS, jld. 39, hlm. 447.
  10. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 1, hlm. 412-413.
  11. Thabathaba'i, Al-Mizan, di bawah Surah Hud: Ayat 107-108.
  12. Jawadi Amuli, Tasnim, 1395 HS, jld. 39, hlm. 387.
  13. Jawadi Amuli, Tasnim, 1395 HS, jld. 39, hlm. 387.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah. Cetakan Sayid Jamili. Beirut Syakir, Kairo, 1392 H/ 1972 M, jld. 22; cetakan Ahmad Muhammad Syakir dan Ahmad Umar Hasyim, Kairo, 1989 M.
  • Jawadi Amuli, Abdullah. Tasnim fi Tafsir al-Qur'an (Tafsir Tasnim). Qom, Entisyarat-e Asra', 1395 HS.
  • Rasyid Ridha, Muhammad. Tafsir al-Qur'an al-Hakim al-Syahir bi Tafsir al-Manar. [Catatan pelajaran] Syekh Muhammad Abduh, jld. 8. Kairo, 1371 H/ 1952 M.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Mu'assasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1393 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Penerbit Dar al-Ma'rifah, 1408 H.