Konsep:Ayat 107 Surah Ash-Shaffat
Templat:Kotak info Ayat Ayat 107 Surah Ash-Shaffat menyatakan bahwa Allah mengirimkan sembelihan yang besar sebagai pengganti penyembelihan Nabi Ismail as. Berdasarkan perkataan para mufasir, setelah keridaan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as untuk melakukan penyembelihan, Allah mengirimkan seekor domba besar untuk dikurbankan sebagai pengganti Ismail agar menjadi Sunnah Ibrahim bagi generasi mendatang dalam haji dan di Mina.[1] Mayoritas mufasir Syiah dan Sunni berdasarkan riwayat, menganggap "Dzibhin 'Azhim" (sembelihan yang besar) sebagai domba yang dibawa oleh Jibril dari sisi Allah.[2] Kata "fadayna" juga bermakna menjadikan sesuatu sebagai tebusan dan penolak bala, serupa dengan fidyah yang dibayarkan untuk membebaskan tawanan atau kifarat puasa.[3]
Menurut laporan Nasir Makarem Syirazi, para mufasir memiliki berbagai pendapat mengenai keagungan sembelihan tersebut yang semuanya dapat dijamak dan dibayangkan.[4] Beliau menganggap perkembangan jumlah kurban setiap tahun hingga mencapai jutaan sebagai salah satu tanda keagungan sembelihan tersebut.[5] Allamah Thabathaba'i melihat keagungan sembelihan tersebut pada fakta bahwa domba itu dikirim dari sisi Allah dan Ismail terjaga darinya.[6] Teori lain mengenai keagungan sembelihan tersebut meliputi diterimanya kurban itu oleh Allah, ukurannya yang lebih besar dibandingkan domba lain, dan telah digembalakan di surga selama empat puluh tahun.[7]
Templat:Quran baruTemplat:SakhTemplat:Quran baru

Mengenai konsep dan rujukan kata ganti "dia" dalam ayat ini, di dalam Al-Qur'an hanya disebutkan anak Nabi Ibrahim as; "Qala ya bunayya; (Ibrahim) berkata: Wahai anakku".[8] Namun, apakah anak ini adalah Ismail atau Ishaq, terdapat perbedaan pendapat. Syiah menganggap Ismail sebagai Dzabihullah.[9] Untuk membuktikannya, mereka bersandar pada riwayat para maksum yang memperkenalkan Ismail sebagai Dzabih.[10] Selain itu, dalam Ayat 112 Surah Ash-Shaffat, kabar gembira kelahiran Ishaq diberikan setelah kisah Ismail.[11] Di sisi lain, mengenai Ishaq, telah diberikan kabar gembira atas nubuwah-nya, sehingga ia harus tetap hidup untuk menjalankan tugas kenabian, yang mana hal ini tidak selaras dengan masalah penyembelihan.[12]
Di pihak lain, sebagian Ahlusunah berdasarkan beberapa riwayat,[13] menganggap Ishaq sebagai Dzabih,[14] sementara kelompok lain tetap memperkenalkan Ismail sebagai Dzabih.[15]
Berdasarkan beberapa sumber tafsir Syiah dan sebuah hadis dari Imam Ridha as,[16] dalam tafsir batin ayat tersebut, Imam Husain as diperkenalkan sebagai Dzibhin 'Azhim dan pengganti Ismail.[17] Menurut hadis ini, setelah perintah kurban domba sebagai pengganti Ismail, Ibrahim as berharap seandainya ia sendiri yang menyembelih Ismail agar dapat merasakan kepedihan seorang ayah yang menyembelih anaknya. Kemudian Allah berfirman kepada Ibrahim bahwa sekelompok dari umat Muhammad saw akan membunuh Husain as dengan kezaliman dan permusuhan, yang mana perbuatan ini mengundang murka Allah. Ibrahim menjadi sangat gelisah mendengar hal ini, namun Allah berfirman kepadanya bahwa kesabarannya atas musibah ini setara dengan kesabaran atas pembunuhan Husain as, dan Allah menetapkan derajat tertinggi baginya.[18]
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 17, hlm. 152-153; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 116.
- ↑ Khorramsyahi, "Dzibhin 'Azhim", hlm. 48.
- ↑ Lihat: Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 8, hlm. 708; Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 116.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 116.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 116.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 17, hlm. 153.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 8, hlm. 708.
- ↑ Surah Ash-Shaffat, ayat 102.
- ↑ Mazandarani, Syarh Furu' al-Kafi, 1429 H, jld. 4, hlm. 402; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 8, hlm. 707.
- ↑ R.k. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 226; Syaikh Shaduq, 'Uyun Akhbar al-Ridha as, 1378 H, jld. 1, hlm. 210.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 129.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 19, hlm. 129.
- ↑ Suyuthi, Al-Durr al-Mantsur, 1404 H, jld. 5, hlm. 281-285.
- ↑ Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 16, hlm. 100.
- ↑ Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, 1364 HS, jld. 16, hlm. 100.
- ↑ Syaikh Shaduq, Al-Khishal, 1362 HS, jld. 1, hlm. 58-59; Syaikh Shaduq, 'Uyun Akhbar al-Ridha as, 1378 H, jld. 1, hlm. 209.
- ↑ Bahrani, Al-Burhan, 1416 H, jld. 4, hlm. 618-619; Faidh Kasyani, Tafsir al-Safi, 1415 H, jld. 4, hlm. 279; Arusi Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jld. 4, hlm. 429-430.
- ↑ Syaikh Shaduq, Al-Khishal, 1362 HS, jld. 1, hlm. 58-59; Syaikh Shaduq, 'Uyun Akhbar al-Ridha as, 1378 H, jld. 1, hlm. 209.
Daftar Pustaka
- Arusi Huwaizi, Abd Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Riset: Sayyid Hasyim Rasuli Mahallati. Qom, Penerbit Isma'iliyan, Cetakan Keempat, 1415 H.
- Bahrani, Sayyid Hasyim. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Bonyad-e Be'tsat, Cetakan Pertama, 1416 H.
- Faidh Kasyani, Mulla Muhsin. Tafsir al-Safi. Riset: Husain A'lami. Teheran, Penerbit Sadr, Cetakan Kedua, 1415 H.
- Khorramsyahi, "Dzibhin 'Azhim", dalam dwi-bulanan Besyarat, No. 28, Farvardin dan Ordibehesyt 1381 HS.
- Makarem Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Pertama, 1374 HS.
- Mazandarani, Muhammad Hadi bin Muhammad Shalih. Syarh Furu' al-Kafi. Riset dan Koreksi: Muhammad Javad Mahmoudi dan Muhammad Husain Darayati. Qom, Dar al-Hadits lil-Thiba'ah wa al-Nasyr, Cetakan Pertama, 1429 H.
- Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Riset dan Koreksi: Sayyid Thayyib Musawi Jaza'iri. Dar al-Kitab, Qom, Cetakan Ketiga, 1404 H.
- Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Teheran, Penerbit Nashir Khusraw, 1364 HS.
- Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Khishal. Riset: Ali Akbar Ghaffari. Qom, Jamiah Mudarrisin, Cetakan Pertama, 1362 HS.
- Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Riset: Mehdi Lajevardi. 'Uyun Akhbar al-Ridha as. Teheran, Nasyr-e Jahan, Cetakan Pertama, 1378 H.
- Suyuthi, Jalaluddin. Al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1404 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Sahl. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Penerbit Nashir Khusraw, 1372 HS.
- Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Daftar-e Intisyarat-e Eslami, Cetakan Kelima, 1417 H.
```