Lompat ke isi

Konsep:Autopsi

Dari wikishia

c || || || || || - || || || editorial box

Autopsi atau Tasyrih bermakna membedah atau memotong bagian tubuh manusia yang telah meninggal untuk tujuan pendidikan kedokteran, penemuan dan pengobatan penyakit, atau investigasi kriminal. Masalah ini termasuk dalam masalah baru fikih (masalah mustahditsah). Menurut keyakinan banyak fukaha Syiah, membedah jasad seorang Muslim adalah Haram dan wajib membayar diyat. Para fukaha menganggap tasyrih (pembedahan) jasad Kafir sebagai hal yang boleh (mubah), namun dalam kasus di mana jenazah kafir tidak tersedia, terdapat perbedaan pendapat mengenai penggunaan jasad Muslim. Menurut sebagian fukaha seperti Imam Khomeini dan Luthfullah Shafi Golpaygani, autopsi jasad Muslim hanya dimungkinkan jika semata-mata demi menyelamatkan nyawa seorang Muslim. Sebaliknya, marja seperti Nashir Makarim Syirazi dan Ishaq Fayyadh dengan menjelaskan syarat-syarat tertentu, juga mengizinkan autopsi jasad Muslim dalam pendidikan kedokteran dan investigasi kriminal.

Menurut para fukaha, di mana pun autopsi Muslim dilakukan secara haram, maka diyatnya harus dibayarkan. Menurut mereka, diyat tersebut bukan milik ahli waris mayit; melainkan sebagian seperti Sayid Murtadha dan Ibnu Idris Hilli menganggap diyat tersebut sebagai hak Baitulmal, dan sebagian lain seperti Syekh Thusi menganggap penggunaan diyat tersebut adalah untuk amal dan ibadah demi kepentingan mayit itu sendiri.

Definisi dan Sejarah

Lembaran dari kitab "Tasyrih al-Abdan" karya Manshur bin Ilyas Syirazi

Autopsi adalah salah satu masalah fikih baru[1] dan bermakna membedah atau memotong bagian tubuh manusia yang telah meninggal yang dilakukan karena alasan-alasan seperti pendidikan kedokteran, penemuan penyakit dan pengobatannya, atau investigasi kriminal.[2] Para peneliti menganggap pentingnya masalah autopsi juga dari aspek-aspek ini.[3] Dalam ranah fikih, latar belakang pembahasan ini kembali pada masalah-masalah di mana hukum memotong kepala mayit Muslim dibahas dan disebut sebagai "Tankil al-Mayyit" (menyiksa mayit).[4]

Menurut laporan Da'irah al-Ma'arif al-Kubra al-Islamiyyah (Ensiklopedia Besar Islam), sejarah autopsi kembali pada abad keenam sebelum Masehi oleh Alcmaeon dari Croton, dokter Yunani terbesar sebelum Hippokrates.[5] Dengan diterjemahkannya sebagian karya Yunani pada abad kedua dan ketiga Hijriah ke dalam bahasa Arab, sumber-sumber anatomi Yunani masuk ke dalam budaya Islam.[6] Ilmuwan Muslim seperti Al-Asma'i, Ibnu Masawayh, Jabir bin Hayyan, dan Zakariya Razi memberikan perhatian pada hal ini dengan menulis buku-buku seperti "Khalq al-Insan" dan "Tasyrih", atau menyempurnakan karya-karya terdahulu.[7] Selain itu, salah satu karya Persia terkenal yang ditulis di bidang anatomi adalah kitab "Tasyrih al-Abdan" karya Manshur bin Ilyas Syirazi pada abad kedelapan Hijriah.[8]

Hukum Syar'i Autopsi

Fukaha Syiah dengan bersandar pada sebagian riwayat, tidak menganggap boleh (jaiz) membedah jenazah Muslim.[9] Sebagian fukaha menghukumi bolehnya tindakan ini dalam kondisi darurat (dharurah) untuk membedah mayit.[10] Pendapat para fukaha berbeda-beda dalam menentukan batas darurat dan konsekuensinya pada kebolehan autopsi.[11] Sebagian seperti Luthfullah Shafi Golpaygani[12] dan Imam Khomeini[13] membolehkan autopsi hanya jika untuk menyelamatkan nyawa seorang Muslim, sementara sebagian lain seperti Sayid Muhammad Shadiq Ruhani dan Ishaq Fayyadh, selain untuk kasus tersebut, juga membolehkan autopsi untuk pengajaran dan pendidikan bagi para dokter.[14]

Dalil-dalil Keharaman Membedah Mayat

Mengenai hukum awal (primer) membedah jasad Muslim dan fatwa atas keharamannya, para fukaha bersandar pada beberapa riwayat, di antaranya:[15]

  1. Riwayat-riwayat yang menunjukkan keharusan menghormati jenazah Muslim.[16]
  2. Riwayat-riwayat yang mengharamkan mutsla (mutilasi) dan memotong sesuatu dari tubuh mayit atau memotong-motongnya.[17]
  3. Riwayat-riwayat yang menganggap pemotongan bagian jasad mewajibkan pembayaran diyat.[18]

Fatwa-fatwa mengenai autopsi jenazah Kafir berbeda-beda.[19] Sebagian fukaha Syiah seperti Muhammad Shadiq Ruhani dan Muhammad Sanad, dengan mencakupkan riwayat-riwayat terhadap Muslim dan kafir, menganggap membedah jasad non-Muslim termasuk Kafir Harbi juga haram.[20] Husain Ali Muntazheri juga membolehkan autopsi Kafir Harbi, namun ia berhati-hati (ihtiyath) dalam kasus Ahlu Dzimmah.[21] Sebagian lain seperti Sayid Khui dan Imam Khomeini membolehkan autopsi setiap non-Muslim.[22]

Dalil-dalil Kebolehan Autopsi Muslim

Para fukaha membolehkan membedah jasad Muslim dalam kondisi darurat.[23] Untuk menentukan kadar darurat, mereka bersandar pada kebolehannya dengan memperhatikan dalil-dalil berikut:

  • Riwayat-riwayat yang mengklaim bahwa membedah tubuh Muslim demi menjaga dan menyelamatkan orang lain adalah boleh, dan keharaman berlaku di tempat yang tidak bertentangan dengan kemaslahatan yang lebih kuat.[24] Seperti riwayat tentang seorang ibu hamil yang meninggal dunia sedangkan bayi di dalam perutnya masih hidup. Dalam riwayat ini diperintahkan untuk membedah tubuh ibu dan mengeluarkan bayinya. Demikian pula riwayat-riwayat yang memerintahkan membedah tubuh seseorang yang menelan harta berharga yang merugikan ahli warisnya.[25] Sebagian fukaha dengan bersandar pada riwayat-riwayat ini meyakini kebolehan autopsi dalam rangka menyelamatkan nyawa orang lain.[26]
  • Dalil-dalil yang mewajibkan penyelamatan kaum Muslimin dan menunjukkan pentingnya menjaga kehidupan mereka, dengan tambahan bahwa autopsi pada akhirnya mengarah pada hal ini. Menurut Muhammad Shadiq Rohani, alasan ini dapat menjadi pembenar bagi autopsi pendidikan (akademis) serta autopsi forensik yang menyebabkan teridentifikasinya penjahat dan penyelamatan nyawa manusia. Dan juga tujuan-tujuan darurat lainnya dapat menjadi pembenar bagi autopsi tubuh mayit.[27]
  • Keharusan menjaga akidah dan budaya Islam dari tangan orang asing. Ishaq Fayyadh meyakini bahwa autopsi adalah salah satu masalah yang jika diabaikan dalam masyarakat Islam akan menyebabkan ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan dan akibatnya membutuhkan orang asing serta masuknya budaya dan pemikiran sesat mereka ke dalam masyarakat Muslim. Oleh karena itu, ia meyakini bahwa bagi seorang Muslim yang memiliki perhatian serius terhadap kejayaan Islam, penyembuhan kaum Muslimin dari penyakit, dan memiliki bakat analisis masalah medis, mempelajari ilmu anatomi adalah boleh atau bahkan wajib.[28]

Sekilas tentang Sebagian Fatwa

Fatwa para fukaha Syiah mengenai autopsi jasad Muslim berbeda-beda. Beberapa di antaranya adalah:

  • Menurut Sayid Muhammad Shadiq Ruhani, di mana ada kemaslahatan yang lebih kuat seperti menyelamatkan nyawa orang lain atau mengungkap kejahatan atau kemajuan medis, maka autopsi diperbolehkan. Selain itu, meskipun dalam kasus pemotongan kepala mayit diwajibkan diyat, namun hukum ini tidak relevan dalam kasus-kasus di mana autopsi diperbolehkan, dan diyat tidak wajib.[29]
  • Luthfullah Shafi membolehkan autopsi Muslim hanya jika nyawa Muslim lain dalam bahaya dan tidak ada jenazah kafir, dan jika tidak demikian, bahkan jika ia telah berwasiat, ia tidak membolehkan tindakan ini. Ia meyakini bahwa autopsi dalam standar peradilan syar'i dengan tujuan mengenali penjahat tidak diperbolehkan, dan terdakwa jika tidak terbukti kejahatannya melalui cara-cara yang sah dan logis, harus dibebaskan.[30]
  • Menurut keyakinan Husain Ali Muntazheri, seorang Muslim yang meninggal jika telah berwasiat, maka autopsinya diperbolehkan dan tidak memerlukan izin walinya, serta tidak wajib membayar diyat. Namun jika ia tidak berwasiat, tindakan ini hanya diperbolehkan semata-mata untuk menyelamatkan nyawa Muslim lain dan ketiadaan jasad non-Muslim untuk diautopsi.[31]
  • Nashir Makarim Syirazi menganggap autopsi Muslim boleh dan terkadang wajib jika terdapat beberapa syarat berikut: 1. Tujuannya adalah untuk belajar dan menyempurnakan informasi medis demi menyelamatkan nyawa Muslim, dan tanpa autopsi tujuan ini tidak tercapai. 2. Tidak ada akses ke jasad non-Muslim. 3. Cukup dilakukan sekadar darurat dan kebutuhan, dan tidak boleh lebih dari itu.[32]
  • Menurut Ali Akbar Saifi Mazandarani, autopsi diperbolehkan karena alasan-alasan rasional. Dengan menyebutkan kaidah yang berjudul "keharusan menghormati jenazah Muslim", ia meyakini bahwa membedah jasad mayit dengan niat menghinanya adalah haram.[33]

Diyat Autopsi

Jika autopsi itu haram, maka pembayaran diyat adalah wajib, namun dalam kasus di mana autopsi diperbolehkan, terdapat perbedaan pendapat mengenai pembayaran diyat.[34] Sebagian fukaha tidak menganggap diyat wajib jika autopsi diperbolehkan.[35] Oleh karena itu, dalam fikih terkait membedah tubuh ibu yang meninggal dan mengeluarkan janin yang hidup dari perutnya, tidak ada perintah untuk membayar diyat.[36] Menurut Husain Ali Muntazhari, jika seseorang berwasiat untuk diautopsi sebelum meninggal, maka diyatnya gugur.[37] Berdasarkan riwayat dan fatwa para fukaha, jumlah diyat jasad manusia adalah seratus dinar, setara dengan diyat janin sebelum ditiupkan roh. Dengan demikian, jika dilakukan tindakan pada jasad yang jika ia hidup akan menyebabkan kematian orang tersebut, maka seluruh seratus dinar harus dibayarkan sebagai diyat, dan untuk luka-luka lainnya dihitung secara proporsional dari seratus dinar sesuai dengan rasio diyat orang hidup untuk anggota tubuh tersebut.[38]

Syekh Thusi dalam kitab Al-Nihayah berdasarkan sebuah riwayat meyakini bahwa diyat yang dibayarkan dalam kasus autopsi harus dibelanjakan di jalan (kebaikan untuk) mayit dan tidak berpindah kepada ahli waris seperti warisan atau diyat pembunuhan. Namun sebaliknya, Sayid Murtadha dan Ibnu Idris, dengan memandang jumlah ini sebagai denda, menganggapnya sebagai milik Baitulmal.[39] Selain itu, dalam sebuah riwayat, diyat ini dianggap sebagai hak Imam Maksum.[40]

Catatan Kaki

  1. Thaheri, "Tasyrih-e Jasad az Didgah-e Eslam" (Autopsi Jenazah dari Sudut Pandang Islam), hlm. 21.
  2. Saifi Mazandarani, Halaqat Fiqh Fa'al, 1435 H, jil. 3, hlm. 107; Sanad dan Ridhawi, Fiqh al-Thibb wa al-Tadhkhim al-Naqdi, 1389 HS, hlm. 7.
  3. Setudeh dan Ahmadi, "Kalbod-syekafi-ye Jena'i; Pardazyesy-e Fiqhi-Huquqi" (Autopsi Forensik; Analisis Fikih-Hukum), hlm. 102; Allahdadi dkk, "Barresi-ye Elmi, Fiqhi Tasyrih-e Jasad-e Mayyit-e Mosalman" (Kajian Ilmiah dan Fikih Autopsi Jenazah Mayit Muslim), hlm. 17.
  4. Ebrahimzadeh dan Rabbani Birjandi, "Kalbod-syekafi-ye Jasad-e Mosalman az Didgah-e Foqaha-ye Syi'eh" (Autopsi Jenazah Muslim dari Sudut Pandang Fukaha Syiah), hlm. 131.
  5. Keramati, "Tasyrih" (Anatomi), hlm. 363.
  6. Keramati, "Tasyrih" (Anatomi), hlm. 367-368.
  7. Keramati, "Tasyrih" (Anatomi), hlm. 367-368.
  8. Keramati, "Tasyrih" (Anatomi), hlm. 369.
  9. Khalaji, "Negaresyi No bar Mabani-ye Fiqhi-ye Hukm-e Kalbod-syekafi bar Asas-e Ara-e Imam Khomeini (ra)" (Pandangan Baru tentang Dasar Fikih Hukum Autopsi Berdasarkan Pendapat Imam Khomeini ra), hlm. 108; Muntazhari, Al-Ahkam al-Syar'iyyah 'ala Madzhab Ahl al-Bait, 1413 H, hlm. 572; Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Dar al-Ilm, jil. 2, hlm. 624; Khoei, Munyah al-Sa'il, hlm. 215.
  10. Qiblah-i Khoei, "Tasyrih" (Anatomi), hlm. 343.
  11. Sebagai contoh lihat: Makarem Shirazi, Ahkam-e Pezesyki (Hukum-hukum Medis), 1429 H, hlm. 27; Shafi Golpaygani, Estefta'at-e Pezesyki (Fatwa-fatwa Medis), hlm. 55-57; Muntazhari, Ahkam-e Pezesyki (Hukum-hukum Medis), 1427 H, hlm. 73.
  12. Shafi Golpaygani, Estefta'at-e Pezesyki (Fatwa-fatwa Medis), hlm. 55-57.
  13. Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Dar al-Ilm, jil. 2, hlm. 624.
  14. Rohani, Al-Masail al-Mustahditsah, 1414 H, hlm. 158; Fayyadh, Al-Masail al-Mustahditsah, 1426 H, hlm. 216.
  15. Lihat: Sanad dan Ridhawi, Fiqh al-Thibb wa al-Tadhkhim al-Naqdi, 1389 HS, hlm. 7-29.
  16. Sanad dan Ridhawi, Fiqh al-Thibb wa al-Tadhkhim al-Naqdi, 1423 H, hlm. 7; Syekh Shaduq, Man La Yahduruhu al-Faqih, 1412 H, jil. 4, hlm. 157.
  17. Amili, Wasail al-Syi'ah, 1409 H, jil. 29, hlm. 328; Syekh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, 1407 H, jil. 10, hlm. 274.
  18. Amili, Wasail al-Syi'ah, 1409 H, jil. 29, hlm. 327.
  19. Lihat: Khoei, Minhaj al-Shalihin, 1410 H, jil. 1, hlm. 426; Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Dar al-Ilm, jil. 2, hlm. 624; Muntazhari, Al-Ahkam al-Syar'iyyah 'ala Madzhab Ahl al-Bait as, 1413 H, hlm. 572; Sanad dan Ridhawi, Fiqh al-Thibb wa al-Tadhkhim al-Naqdi, 1389 HS, hlm. 7-29; Rohani, Al-Masail al-Mustahditsah, 1414 H, hlm. 155.
  20. Sanad dan Ridhawi, Fiqh al-Thibb wa al-Tadhkhim al-Naqdi, 1389 HS, hlm. 7-29; Rohani, Al-Masail al-Mustahditsah, 1414 H, hlm. 155.
  21. Muntazhari, Al-Ahkam al-Syar'iyyah 'ala Madzhab Ahl al-Bait as, 1413 H, hlm. 572.
  22. Khoei, Minhaj al-Shalihin, 1410 H, jil. 1, hlm. 426; Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Dar al-Ilm, jil. 2, hlm. 624.
  23. Ebrahimzadeh dan Rabbani Birjandi, "Kalbod-syekafi-ye Jasad-e Mosalman az Didgah-e Foqaha-ye Syi'eh" (Autopsi Jenazah Muslim dari Sudut Pandang Fukaha Syiah), hlm. 148.
  24. Thaheri, "Tasyrih-e Jasad az Didgah-e Eslam" (Autopsi Jenazah dari Sudut Pandang Islam), hlm. 25.
  25. Thaheri, "Tasyrih-e Jasad az Didgah-e Eslam" (Autopsi Jenazah dari Sudut Pandang Islam), hlm. 26.
  26. Rohani, Al-Masail al-Mustahditsah, 1414 H, hlm. 116.
  27. Rohani, Al-Masail al-Mustahditsah, 1414 H, hlm. 116.
  28. Fayyadh, Al-Masail al-Mustahditsah, 1426 H, hlm. 216.
  29. Rohani, Al-Masail al-Mustahditsah, 1414 H, hlm. 158.
  30. Shafi Golpaygani, Estefta'at-e Pezesyki (Fatwa-fatwa Medis), hlm. 55-57.
  31. Muntazhari, Ahkam-e Pezesyki (Hukum-hukum Medis), 1427 H, hlm. 73.
  32. Makarem Shirazi, Ahkam-e Pezesyki (Hukum-hukum Medis), 1429 H, hlm. 27.
  33. Saifi Mazandarani, Mabani al-Fiqh al-Fa'al fi al-Qawa'id al-Fiqhiyyah al-Asasiyyah, 1425 H, jil. 1, hlm. 167-175.
  34. Setudeh dan Ahmadi, "Kalbod-syekafi-ye Jena'i; Pardazyesy-e Fiqhi-Huquqi" (Autopsi Forensik; Analisis Fikih-Hukum), hlm. 125.
  35. Muntazhari, Al-Ahkam al-Syar'iyyah 'ala Madzhab Ahl al-Bait, hlm. 572; Rohani, Al-Masail al-Mustahditsah, 1414 H, hlm. 158; Makarem Shirazi, Ahkam-e Pezesyki (Hukum-hukum Medis), 1429 H, hlm. 30.
  36. Thaheri, "Tasyrih-e Jasad az Didgah-e Eslam" (Autopsi Jenazah dari Sudut Pandang Islam), hlm. 27.
  37. Muntazhari, Ahkam-e Pezesyki (Hukum-hukum Medis), 1427 H, hlm. 73.
  38. Amili, Wasail al-Syi'ah, jil. 29, hlm. 325-326; Thusi, Al-Nihayah fi Mujarrad al-Fiqh wa al-Fatawa, 1400 H, hlm. 779.
  39. Al-Sara'ir al-Hawi li Tahrir al-Fatawi (wa al-Mustathrafat), 1410 H, jil. 3, hlm. 419.
  40. Amili, Wasail al-Syi'ah, 1409 H, jil. 29, hlm. 327.

Daftar Pustaka

  • Amili, Muhammad bin Hasan. Wasail al-Syi'ah ila Tahshil Masail al-Syari'ah. Qom, Muassasah Alu al-Bait as li Ihya al-Turats, 1409 H.
  • Allahdadi, Reza dkk. "Barresi-ye Elmi Fiqhi Tasyrih-e Jasad-e Mayyit-e Mosalman" (Kajian Ilmiah Fikih Autopsi Jenazah Mayit Muslim). Majallah Qur'an va Tebb, No. 10, Musim Semi 1399 HS.
  • Beheshti, Muthahharah dan Abbas Samavati. "Barresi-ye Ahkam-e Kalbod-syekafi-ye Mayyit dar Kasyf-e Jorm va Ehqaq-e Haq" (Kajian Hukum Autopsi Mayit dalam Pengungkapan Kejahatan dan Penegakan Hak). Fashlnameh Ilmi Pajuhesyi Fiqh va Mabani Huquq Eslami, Tahun ke-8, No. 4, 1394 HS.
  • Ebrahimzadeh, Kazim dan Sayid Muhammad Hasan Rabbani Birjandi. "Kalbod-syekafi-ye Jasad-e Mosalman az Didgah-e Foqaha-ye Syi'eh" (Autopsi Jenazah Muslim dari Sudut Pandang Fukaha Syiah). Dofashlnameh Mishbah al-Faqahah, No. 2, Musim Gugur dan Dingin 1398 HS.
  • Fayyadh, Muhammad Ishaq. Al-Masail al-Mustahditsah. Kuwait, Muassasah Marhum Muhammad Rafi' Husain, Cetakan pertama, 1426 H.
  • Hilli, Ibnu Idris. Al-Sara'ir al-Hawi li Tahrir al-Fatawi. Qom, Nashr-e Jame'eh Modarresin Howzeh Ilmiyeh Qom, Cetakan kedua, 1410 H.
  • Keramati, Yunus. "Tasyrih" (Anatomi). Artikel dari Da'irat al-Ma'arif al-Kubra al-Islamiyyah (Ensiklopedia Besar Islam) Jilid 15. Diupayakan oleh Kazem Mousavi Bojnourdi. Teheran, Markaz Da'irat al-Ma'arif al-Kubra al-Islamiyyah, Cetakan pertama, 1387 HS.
  • Khalaji, Hasan Reza. "Negaresyi No bar Mabani-ye Fiqhi-ye Hukm-e Kalbod-syekafi bar Asas-e Ara-e Imam Khomeini (ra)" (Pandangan Baru tentang Dasar Fikih Hukum Autopsi Berdasarkan Pendapat Imam Khomeini ra). Fashlnameh Matin, Periode 16, No. 65, 1393 HS.
  • Khoei, Sayid Abul Qasim. Minhaj al-Shalihin. Qom, Nashr-e Madinah al-Ilm, Cetakan kedua puluh delapan, 1410 H.
  • Khoei, Sayid Abul Qasim. Munyah al-Sa'il. (Buku ini adalah kumpulan istifta/fatwa).
  • Khomeini, Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Qom, Nashr-e Mathbu'at Dar al-Ilm, Cetakan pertama, Tanpa tahun.
  • Makarem Shirazi, Nashir. Ahkam-e Pezesyki (Hukum-hukum Medis). Qom, Entesharat-e Madreseh Imam Ali bin Abi Thalib as, Cetakan pertama, 1429 H.
  • Muntazhari, Husain Ali. Ahkam-e Pezesyki (Hukum-hukum Medis). Qom, Nashr-e Sayeh, Cetakan ketiga, 1427 H.
  • Muntazhari, Husain Ali. Al-Ahkam al-Syar'iyyah 'ala Madzhab Ahl al-Bait as. Qom, Nashr-e Tafakkur, Cetakan pertama, 1413 H.
  • Qiblah-i Khoei, Khalil. "Tasyrih" (Anatomi). Dalam Daneshnameh Jahan-e Eslam (Ensiklopedia Dunia Islam). Diupayakan oleh Gholamali Haddad Adel. Teheran, Cetakan pertama, 1382 HS.
  • Rohani, Sayid Shadiq. Al-Masail al-Mustahditsah. Qom, Muassasah Dar al-Kitab, Cetakan keempat, 1414 H.
  • Saifi Mazandarani, Ali Akbar. Halaqat Fiqh Fa'al. Qom, Bustan-e Kitab, 1435 H.
  • Saifi Mazandarani, Ali Akbar. Mabani al-Fiqh al-Fa'al fi al-Qawa'id al-Fiqhiyyah al-Asasiyyah. Qom, Jame'eh Modarresin Howzeh Ilmiyeh Qom, Cetakan pertama, 1425 H.
  • Sanad, Muhammad. Fiqh al-Thibb wa al-Tadhkhim al-Naqdi. Tahqiq: Sayid Muhammad Hasan Ridhawi. Beirut, Muassasah Umm al-Qura li al-Tahqiq wa al-Nasyr, Cetakan pertama, 1423 H.
  • Setudeh, Hamid dan Ahmad Ahmadi. "Kalbod-syekafi-ye Jena'i; Pardazyesy-e Fiqhi-Huquqi" (Autopsi Forensik; Analisis Fikih-Hukum). Fashlnameh Fiqh Pezesyki, Tahun ketiga dan keempat No. 9 dan 10, Musim Dingin 1390 HS dan Semi 1391 HS.
  • Shafi Golpaygani, Luthfullah. Estefta'at-e Pezesyki (Fatwa-fatwa Medis). Qom, Dar al-Qur'an al-Karim, Cetakan pertama, 1415 H.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Man La Yahduruhu al-Faqih. Qom, Jame'eh Modarresin, Cetakan kedua, 1413 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Tahdzib al-Ahkam. Qom, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Cetakan keempat, 1407 H.
  • Syahroudi, Sayid Mahmud Hasyemi. Minhaj al-Shalihin. Qom, Bonyad-e Fiqh va Ma'arif Ahlulbait as, 1433 H.
  • Thaheri, Habibullah. "Tasyrih-e Jasad az Didgah-e Eslam" (Autopsi Jenazah dari Sudut Pandang Islam). Majallah Mojtame' Amuzyesh Ali Qom, No. 2, 1378 HS.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Nihayah fi Mujarrad al-Fiqh wa al-Fatawa. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, Cetakan pertama, 1400 H.