Konsep:Amir bin Fuhairah
Templat:Kotak info sahabat Amir bin Fuhairah adalah salah satu sahabat Nabi saw yang dibebaskan dari perbudakan dan siksaan kaum musyrikin oleh Nabi Muhammad saw atau Abu Bakar, dan menjadi teman seperjalanan beliau dalam hijrah Nabi ke Madinah.
Amir hadir dalam Perang Badar dan Perang Uhud, namun terdapat perbedaan pendapat mengenai cara dan waktu kesyahidannya. Sebagian menganggap kesyahidannya terjadi dalam Ekspedisi Bi'r Ma'unah, tetapi sebagian lain menganggap pandangan ini tidak benar mengingat laporan kehadirannya dalam Perang Tabuk.
زندگینامه
Abu Amru Amir bin Fuhairah al-Azdi lahir di Kabilah Azd sekitar dua puluh tahun sebelum Bi'tsah Nabi saw.[1] Pada masa kecilnya, ia menjadi budak Thufail bin Abdullah.[2]
Amir memeluk Islam sebelum dakwah Nabi dilakukan secara terang-terangan di rumah Ibnu Abi Arqam, saat ia masih berstatus sebagai budak.[3] Setelah beriman, karena keteguhannya pada Islam, ia banyak menerima siksaan dari kaum musyrikin agar kembali murtad, namun ia tetap teguh hingga akhirnya Abu Bakar membelinya[4] dan membebaskannya. Setelah merdeka, Amir bertugas menggembalakan kambing-kambing Abu Bakar.[5] Sebagian meyakini bahwa Nabi saw yang membeli dan membebaskannya.[6] Sayid Jafar Murtadha Amuli, dengan memperhatikan bahwa ia meyakini Abu Bakar masuk Islam pada tahun kelima Bi'tsah sementara Amir sudah Muslim sebelum tahun ketiga Bi'tsah, berpandangan bahwa Rasulullah saw telah membelinya dari Abu Bakar dan membebaskannya.[7]
همراهی با پیامبر(ص) در هجرت به مدینه
Dalam peristiwa hijrah Nabi saw ke Madinah, Amir bin Fuhairah menjadi teman seperjalanan Rasulullah bersama Abu Bakar.[8] Dalam laporan sejarah disebutkan bahwa setelah Nabi saw keluar dari Makkah dan berlindung di Gua Tsur, Abu Bakar meminta Amir untuk membawa kambing-kambingnya ke arah gua tersebut. Amir membawa kambing-kambing itu pada malam hari, dan keesokan harinya saat Abdullah putra Abu Bakar kembali dari menemui Nabi saw dan ayahnya, Amir mengiringkan kambing-kambing untuk menghapus jejak kaki Abdullah agar kaum musyrikin tidak dapat mengidentifikasi rute mereka.[9]
حضور در مدینه
Ketika Amir sampai di Madinah bersama Nabi saw, ia tinggal di rumah Sa'ad bin Khaitsamah. Dalam proses persaudaraan, ia dipersaudarakan dengan Harits bin Aus bin Muadz. Ia hadir dalam Perang Badar dan Perang Uhud.[10]
شهادت
Dalam beberapa sumber sejarah, kesyahidan Amir bin Fuhairah disebutkan terjadi dalam Ekspedisi Bi'r Ma'unah. Sarriyah ini terjadi pada Tahun 4 Hijriah di mana beberapa Sahabat di bawah komando Munzir bin Amru pergi ke wilayah Najd menemui kabilah Bani Sulaim untuk mendakwahkan Islam, namun mereka dibunuh oleh Amir bin Thufail dan sekelompok orang dari kabilah tersebut.[11] Sebaliknya, sebagian peneliti dengan merujuk pada laporan kehadiran Amir dalam Perang Tabuk (tahun 9 H), menganggap tidak benar berita kesyahidannya di Bi'r Ma'unah.[12]
Dalam sejumlah sumber sejarah disebutkan bahwa setelah Amir bin Fuhairah ditikam oleh Amir bin Thufail, ia terangkat ke langit dan para Malaikat memakamkannya.[13] Sayid Jafar Murtadha Amuli menilai pembuatan keutamaan (fadhilah) ini dilakukan sebagai bentuk ungkapan kecintaan kepada Abu Bakar.[14]
Catatan Kaki
- ↑ Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jil. 3, hlm. 32.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wal Muluk, 1387 H, jil. 2, hlm. 376.
- ↑ Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jil. 3, hlm. 32.
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jil. 1, hlm. 194.
- ↑ Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jil. 3, hlm. 32.
- ↑ Tustari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jil. 5, hlm. 621.
- ↑ Amuli, al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1427 H, jil. 3, hlm. 210.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, al-Isti'ab, 1412 H, jil. 1, hlm. 41.
- ↑ Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jil. 3, hlm. 32; Thabari, Tarikh al-Umam wal Muluk, 1387 H, jil. 2, hlm. 376.
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jil. 1, hlm. 194.
- ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wan Nihayah, 1407 H, jil. 4, hlm. 72; Ibnu Hajar, al-Ishabah, 1415 H, jil. 3, hlm. 482; Thabari, Tarikh al-Umam wal Muluk, 1387 H, jil. 2, hlm. 546.
- ↑ Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jil. 3, hlm. 33.
- ↑ Baihaqi, Dala'il al-Nubuwwah, 1405 H, jil. 3, hlm. 342; Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, jil. 2, hlm. 187.
- ↑ Amuli, Sirah Shahih Payambar-e A'zham(saw) (Sejarah Shahih Nabi Agung saw), 1391 HS, jil. 3, hlm. 334-337.
Daftar Pustaka
- Amuli, Sayid Jafar Murtadha. al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham. Beirut, al-Markaz al-Islami lid Dirasat, 1427 H.
- Amuli, Sayid Jafar Murtadha. Sirah Shahih Payambar-e A'zham(saw) (Sejarah Shahih Nabi Agung saw). Penerjemah: Mohammad Sepehri. Teheran, Lembaga Penelitian Budaya dan Pemikiran Islam, 1391 HS.
- Baihaqi, Ahmad bin Husain. Dala'il al-Nubuwwah. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1405 H.
- Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansab al-Asyraf. Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H.
- Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdullah. al-Isti'ab. Beirut, Dar al-Jil, 1412 H.
- Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Usd al-Ghabah. Beirut, Dar al-Fikr, 1409 H.
- Ibnu Hajar, Ahmad bin Ali. al-Ishabah. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
- Ibnu Hisyam, Abdul Malik. al-Sirah al-Nabawiyyah. Beirut, Dar al-Ma'rifah, Tanpa Tahun.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. al-Bidayah wan Nihayah. Beirut, Dar al-Fikr, 1407 H.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wal Muluk. Beirut, Dar al-Turats, 1387 H.
- Tustari, Muhammad Taqi. Qamus al-Rijal. Qom, Nasyr Eslami, 1410 H.