Konsep:Adnaniyun
| Nama | Adnaniyun (Arab Ma'adi, Arab Nizari, Arab Ismaili) |
|---|---|
| Nasab | Adnan bin Udd dari keturunan berjarak Hazrat Ismail as |
| Asal mula | Mekah, Yaman |
| Zaman | Jahiliah dan Islam |
| Tempat menetap | Mekah |
| Tokoh terkenal | Adnan bin Udd bin Udad |
Adnaniyun adalah keturunan Hazrat Ismail as dan bersama dengan Qahthaniyun, dianggap sebagai silsilah utama bangsa Arab. Silsilah seluruh bangsa Arab merujuk pada kedua kelompok ini. Adnan adalah kakek kedua puluh Rasulullah saw dan bapak dari orang-orang Arab Adnani. Keturunan Adnan memiliki karakteristik seperti kedermawanan, keramahtamahan, kejujuran, dan keberanian, serta menganggap pelanggaran janji sebagai dosa yang tidak terampuni.
Mohammad Ebrahim Ayati, sejarawan Syiah, menganggap peristiwa-peristiwa penting yang menjadi titik awal sejarah Adnaniyun meliputi kedatangan Hazrat Ismail as ke Mekah, dimulainya kepemimpinan Amr bin Luhay dan tersebarnya penyembahan berhala, perang-perang Fijar dan kehadiran Rasulullah saw di dalamnya, Hilf al-Fudhul, pembangunan kembali Ka'bah oleh Quraisy, dan hijrah Nabi Islam saw dari Mekah ke Madinah.
Suku-suku seperti Quraisy dan Bani Hasyim berasal dari Adnaniyun, dan banyak dari tokoh-tokoh besar pasukan serta sahabat Nabi Islam saw seperti Abu Thalib, Imam Ali as, dan Abbas bin Abdul Muthalib termasuk dalam kelompok ini. Selain itu, Suku Rabi'ah yang merupakan salah satu suku Adnani, mendapat perhatian khusus dari Imam Ali as dan banyak dari tentara Imam Ali as dalam perang Jamal, Siffin, dan Nahrawan berasal dari Adnaniyun.
Pengenalan dan Kedudukan
Adnaniyun atau Arab Musta'ribah[1] adalah keturunan Hazrat Ismail as[2] yang bersama Qahthaniyun merupakan salah satu silsilah jauh bangsa Arab yang menetap di Jazirah Arab, dan seluruh bangsa Arab merujuk pada kedua silsilah ini.[3]
Adnaniyun juga disebut sebagai Arab Ma'adi, Nizari, Mudhari, Ismaili, Syimali (Utara), Muta'arribah, Bani Ismail, Bani Masyriq, Bani Qaidzar, dan Qaidzar.[4] Mereka disebut sebagai Arab Baqiyah (yang tersisa) melalui perbandingan dengan Arab Ba'idah (yang telah punah).[5] Sebagian menganggap Arab Ba'idah sebagai Arab 'Aribah dan asli, sementara Adnaniyun bersama Qahthaniyun sebagai Arab Musta'ribah.[6]
Rasul Jafarian, peneliti sejarah Islam, berkeyakinan bahwa sejarah tepat pembagian Arab menjadi dua cabang Adnani dan Qahthani tidak jelas, namun keputusan Khalifah Kedua untuk memberikan tunjangan lebih besar kepada kaum Adnani karena hubungan mereka dengan Nabi saw, memperkuat posisi sosial mereka.[7] Ja'far Sobhani (lahir 1929-30), juga telah mendeskripsikan karakteristik keturunan Adnan; mereka adalah orang-orang yang dermawan, ramah tamu, amanah, berani, dan mahir dalam puisi, pidato, pacuan kuda, serta memanah. Meskipun demikian, kerusakan moral sempat meningkat di antara mereka dan jika Islam tidak menyinari hati mereka, mungkin tidak akan ada jejak yang tersisa dari Arab Adnani.[8]
Genealogi
Adnan adalah kakek kedua puluh Rasulullah saw dan bapak dari Arab Adnani.[9] Dalam beberapa sumber, namanya disebutkan sebagai 'Udtsan.[10]
Mengenai silsilah Adnan hingga Hazrat Ibrahim as terdapat banyak perbedaan pendapat.[11] Sebagian meyakini silsilah Adnan sampai kepada Hazrat Ibrahim as melalui empat,[12] enam,[13] tujuh,[14] sembilan,[15] sepuluh,[16] lima belas,[17] dua puluh,[18] tiga puluh[19] atau empat puluh[20] perantara; namun kebanyakan pakar genealogi[21] menganggap silsilah Adnan sebagai berikut: Adnan bin Udd bin Udad bin Yasya' bin Hamaisa' bin Salaman bin Nabt bin Hamal bin Qaidzar bin Ismail bin Ibrahim. Dikatakan bahwa karena perbedaan pada nenek moyang inilah, Rasulullah saw meminta agar penyebutan silsilah beliau berhenti pada Adnan.[22]
Peristiwa Penting Titik Awal Sejarah Adnaniyun
Mohammad Ebrahim Ayati, sejarawan Syiah, merinci peristiwa terpenting dari titik awal sejarah Adnaniyun sebagai berikut:
- Kedatangan Hazrat Ismail as ke Mekah.
- Terpencarnya keturunan Ma'ad bin Adnan.
- Kepemimpinan Amr bin Luhay al-Khuza'i dan perluasan penyembahan berhala di Mekah.
- Serangan Abrahah ke Ka'bah.
- Perang-perang Fijar antara suku Qais 'Ailan dengan Quraisy dan Bani Kinanah.
- Hilf al-Fudhul.
- Pembangunan kembali Ka'bah oleh Quraisy.
- Hijrah Nabi saw dari Mekah ke Madinah.[23]
Suku-suku Adnani dan Hubungan Mereka dengan Qahthaniyun di Semenanjung Arab
Suku-suku Mudhar, Rabi'ah, Anmar, Khats'am, Bajilah,[24] Tamim, Kinanah, dan Khuzaimah[25] serta cabang-cabang yang terpecah dari mereka, termasuk dalam kelompok Adnaniyun, di mana suku Quraisy dan Bani Hasyim adalah yang paling terkenal di antaranya.[26] Berdasarkan laporan sejarah, pengurusan Ka'bah pada suatu periode sejarah berada di tangan kaum Adnaniyun,[27] termasuk tokoh-tokoh seperti Adnan, Ma'ad bin Adnan, Nizar bin Ma'ad, Iyad bin Nizar[28] dan Amr bin Luhay.[29]
Tempat tinggal awal Adnaniyun adalah Mekah, namun sebagian dari mereka bermigrasi ke berbagai wilayah seperti Yaman, dataran rendah dan lembah Efrat di Irak, Yamamah, Tihamah, Himyar,[30] Najd, Hijaz, dan Syam.[31] Selain itu, Kisra raja Sasaniyah mengasingkan sekelompok dari mereka ke Tikrit di tepi sungai Tigris dan kemudian mengusir mereka dari Tikrit serta mengirim mereka ke Ankara, yang berada di bawah kekuasaan Romawi.[32]
Adnaniyun dan Qahthaniyun sebagai dua kelompok utama dalam kabilah-kabilah di Semenanjung Arab,[33] memiliki hubungan yang baik satu sama lain. Beberapa peneliti berkeyakinan bahwa hubungan ini membantu pemantapan dan perluasan negara Nabi Islam saw di Madinah.[34] Meskipun demikian, terdapat persaingan dalam hal kebanggaan kesukuan di antara mereka[35] serta perselisihan dan peperangan yang dilaporkan terjadi, termasuk bentrokan suku Khuza'ah dengan Quraisy untuk menguasai Mekah[36] dan perang Khazzaz.[37]
Islam dan Syiah
Banyak tokoh besar sahabat Nabi Islam saw seperti Abu Thalib,[38] Imam Ali as[39] dan Abbas bin Abdul Muthalib[40] berasal dari suku-suku Adnani, seperti Quraisy[41] dan Bani Hasyim,[42]. Berdasarkan laporan sejarah, Suku Rabi'ah, salah satu suku Adnani,[43] memiliki kedudukan istimewa di sisi Imam Ali as.[44] Menurut Mohammad Javad Maghniyeh, banyak dari tentara Imam Ali as dalam perang Jamal, Siffin, dan Nahrawan adalah orang-orang Adnani.[45] Sebaliknya, Suku Bani Tamim yang merupakan orang Arab Adnani dan menetap di Basrah, adalah pendukung Utsman dan menyertai Aisyah dalam Perang Jamal.[46]
Catatan Kaki
- ↑ Ayati, Tarikh-e Payambar-e Eslam (Sejarah Nabi Islam), 1378 HS, hlm. 1-2.
- ↑ Sobhani, Forugh-e Abadiyat (Cahaya Keabadian), 1385 HS, hlm. 30.
- ↑ Maqrizi, Imta' al-Asma', 1420 H, jld. 9, hlm. 66.
- ↑ Ayati, Tarikh-e Payambar-e Eslam (Sejarah Nabi Islam), 1378 HS, hlm. 1-2.
- ↑ Gregorius al-Malati, Tarikh Mukhtashar al-Duwal, 1992 M, hlm. 93.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 2, hlm. 156.
- ↑ Jafarian, Sirah-ye Rasul-e Khoda (saw) (Sirah Rasulullah saw), 1383 HS, hlm. 164.
- ↑ Sobhani, Forugh-e Abadiyat (Cahaya Keabadian), 1385 HS, hlm. 32.
- ↑ Ayati, Tarikh-e Payambar-e Eslam (Sejarah Nabi Islam), 1378 HS, hlm. 1-2.
- ↑ Wasithi Zabidi, Taj al-'Arus, 1414 H, jld. 3, hlm. 236.
- ↑ Ibnu 'Inabah Hasani, Umdah al-Thalib, 1417 H, hlm. 29.
- ↑ Ibnu Katsir Dimasyqi, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 2, hlm. 193.
- ↑ Ibnu 'Inabah Hasani, Umdah al-Thalib, 1417 H, hlm. 29.
- ↑ Ibnu Katsir Dimasyqi, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 2, hlm. 193.
- ↑ Ibnu Katsir Dimasyqi, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 2, hlm. 193.
- ↑ Ibnu Katsir Dimasyqi, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 2, hlm. 193.
- ↑ Ibnu Katsir Dimasyqi, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 2, hlm. 193.
- ↑ Ibnu Katsir Dimasyqi, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 2, hlm. 193.
- ↑ Ibnu Katsir Dimasyqi, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 2, hlm. 193.
- ↑ Ibnu Katsir Dimasyqi, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 2, hlm. 193.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu 'Inabah Hasani, Umdah al-Thalib, 1417 H, hlm. 29; Ibnu Syahr Asyub Mazandarani, Manaqib Ali Abi Thalib, 1379 H, jld. 1, hlm. 155; Thabrasi, I'lam al-Wara, 1390 H, hlm. 6.
- ↑ Thabrasi, Taj al-Mawalid, 1422 H, hlm. 69.
- ↑ Ayati, Tarikh-e Payambar-e Eslam (Sejarah Nabi Islam), 1378 HS, hlm. 28-29.
- ↑ Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, Port Said, jld. 4, hlm. 107.
- ↑ Maqdisi, Al-Bad' wa al-Tarikh, Port Said, jld. 4, hlm. 108.
- ↑ Sobhani, Forugh-e Abadiyat (Cahaya Keabadian), 1385 HS, hlm. 30.
- ↑ Yusufi Gharawi, Mausu'ah al-Tarikh al-Islami, 1417 H, jld. 1, hlm. 186.
- ↑ Yusufi Gharawi, Mausu'ah al-Tarikh al-Islami, 1417 H, jld. 1, hlm. 222.
- ↑ Yusufi Gharawi, Mausu'ah al-Tarikh al-Islami, 1417 H, jld. 1, hlm. 222.
- ↑ Yusufi Gharawi, Mausu'ah al-Tarikh al-Islami, 1417 H, jld. 1, hlm. 219-225.
- ↑ Ayati, Tarikh-e Payambar-e Eslam (Sejarah Nabi Islam), 1378 HS, hlm. 1.
- ↑ Yusufi Gharawi, Mausu'ah al-Tarikh al-Islami, 1417 H, jld. 1, hlm. 221.
- ↑ Ali, Al-Mufasshal fi al-Tarikh al-'Arab qabl al-Islam, 1976 H, hlm. 354.
- ↑ Hosseinian Moqaddam, "Monasabat-e Makkeh wa Madineh pish az Eslam dar Cheshm-andaz-e Ravabet-e Qahthani-Adnani" (Hubungan Mekah dan Madinah sebelum Islam dalam Perspektif Hubungan Qahthani-Adnani), 1381 HS, hlm. 45.
- ↑ Ali, Al-Mufasshal fi al-Tarikh al-'Arab qabl al-Islam, 1976 H, hlm. 356.
- ↑ Hosseinian Moqaddam, "Monasabat-e Makkeh wa Madineh pish az Eslam dar Cheshm-andaz-e Ravabet-e Qahthani-Adnani" (Hubungan Mekah dan Madinah sebelum Islam dalam Perspektif Hubungan Qahthani-Adnani), 1381 HS, hlm. 45.
- ↑ Untuk informasi lebih lanjut lihat: Hosseinian Moqaddam, "Monasabat-e Makkeh wa Madineh pish az Eslam dar Cheshm-andaz-e Ravabet-e Qahthani-Adnani" (Hubungan Mekah dan Madinah sebelum Islam dalam Perspektif Hubungan Qahthani-Adnani), 1381 HS, hlm. 45.
- ↑ Ibnu Katsir Dimasyqi, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 7, hlm. 222.
- ↑ Ibnu Katsir Dimasyqi, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 7, hlm. 222.
- ↑ Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 4, hlm. 3.
- ↑ Sam'ani, Al-Ansab, 1382 H, jld. 1, hlm. 16.
- ↑ Sam'ani, Al-Ansab, 1382 H, jld. 1, hlm. 16.
- ↑ Kahhalah, Mu'jam Qaba'il al-'Arab, 1414 H, jld. 2, hlm. 424.
- ↑ Nashr, Waq'ah Siffin, 1404 H, hlm. 308-309.
- ↑ Maghniyeh, Al-Jawami' wa al-Fawariq bayn al-Sunnah wa al-Syi'ah, 1414 H, hlm. 313.
- ↑ Syahidi, terjemahan Nahj al-Balaghah, 1378 HS, hlm. 517.
Daftar Pustaka
- Ayati, Mohammad Ebrahim, Tarikh-e Payambar-e Eslam (Sejarah Nabi Islam), Tehran, Universitas Tehran, cetakan keenam, 1378 HS.
- Ibnu Sa'ad Katib Waqidi, Muhammad bin Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, riset 'Atha, Muhammad Abdul Qadir, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, cetakan pertama, 1410 H.
- Ibnu Syahr Asyub Mazandarani, Manaqib Ali Abi Thalib 'alaihimus-salam, Qom, Penerbit Allamah, cetakan pertama, 1379 H.
- Ibnu 'Inabah Hasani, Sayid Ahmad bin Ali, Umdah al-Thalib fi Ansab Ali Abi Thalib, Qom, Penerbit Ansariyan, cetakan pertama, 1417 H.
- Ibnu Katsir Dimasyqi, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, 1407 H.
- Jafarian, Rasul, Sirah-ye Rasul-e Khoda (saw) (Tarikh Siyasi-ye Eslam) (Sirah Rasulullah saw: Sejarah Politik Islam), Qom, Dalil-e Ma, cetakan ketiga, 1383 HS.
- Hosseinian Moqaddam, Hossein, "Monasabat-e Makkeh wa Madineh pish az Eslam dar Cheshm-andaz-e Ravabet-e Qahthani-Adnani" (Hubungan Mekah dan Madinah sebelum Islam dalam Perspektif Hubungan Qahthani-Adnani), majalah Nameh-ye Olum-e Ensani, nomor 6 & 7, musim dingin 1381 HS.
- Sobhani, Ja'far, Forugh-e Abadiyat (Cahaya Keabadian), Qom, Bustan-e Ketab, cetakan ke-21, 1385 HS.
- Sam'ani, Abu Sa'id Abdul Karim bin Muhammad, Al-Ansab, riset Abdurrahman Mu'allimi Yamani, Hyderabad, Majlis Da'irah al-Ma'arif al-Utsmaniyah, cetakan pertama, 1382 H.
- Syahidi, Ja'far, terjemahan Nahj al-Balaghah, Tehran, Syirkat-e Entesharat-e Elmi wa Farhangi, cetakan ke-14, 1378 HS.
- Thabrasi, Fadhl bin Hasan, I'lam al-Wara bi-A'lam al-Huda, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan ketiga, 1390 H.
- Thabrasi, Fadhl bin Hasan, Taj al-Mawalid, Dar al-Qari, Beirut, cetakan pertama, 1422 H.
- Gregorius al-Malati (Ibnu 'Ibri), Tarikh Mukhtashar al-Duwal, riset Antoun Salhani Yasu'i, Beirut, Dar al-Syarq, cetakan ketiga, 1992 M.
- Mas'udi, Ali bin Husain, Itsbat al-Washiyah lil-Imam Ali bin Abi Thalib, Qom, Penerbit Ansariyan, cetakan ketiga, 1384 HS.
- Maghniyeh, Muhammad Javad, Al-Jawami' wa al-Fawariq bayn al-Sunnah wa al-Syi'ah, Beirut, Muassasah Izzuddin, cetakan pertama, 1414 H.
- Nashr bin Muzahim, Waq'ah Siffin, riset dan koreksi Abdussalam Muhammad Harun, Qom, Maktabah Ayatullah al-Mar'ashi al-Najafi, cetakan kedua, 1404 H.
- Wasithi Zabidi, Muhibbuddin Sayid Muhammad Murtadha, Taj al-'Arus min Jawahir al-Qamus, riset dan koreksi Ali Syiri, Beirut, Dar al-Fikr lil-Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi', cetakan pertama, 1414 H.
- Yusufi Gharawi, Muhammad Hadi, Mausu'ah al-Tarikh al-Islami, Qom, Majma' Andisheh-ye Eslami, cetakan pertama, 1417 H.