Ibrahim bin Mahziyar

Prioritas: b, Kualitas: b
tanpa navbox
tanpa referensi
Dari wikishia
Ibrahim bin Mahziyar
Nama LengkapIbrahim bin Mahziyar Ahwazi
Sahabat dariImam Jawad asImam Hadi asImam Hasan Askari as
JulukanAbu Ishak
Kerabat termasyhurAli bin Mahziyar (saudara) • Muhammad bin Ibrahim Mahziyar
Lahir195 H/811
Wafat/Syahadah265 H/879
Guru-guru besarAli bin Mahziyar • Ibrahim bin Abi Umair •
Karya-karyaAl-Bisyarah


Ibrahim bin Mahziyar Ahwazi adalah seorang perawi (penukil hadis) Syiah pada abad ke-3 H. Ia adalah sahabat Imam Jawad as dan merupakan penukil riwayat-riwayat dari Imam Hadi as dan Imam Askari as. Sumber-sumber riwayat Syiah menukilkan hadis-hadis dari Ibrahim bin Mahziyar. Menurut perkataan Ayatullah Khui, namanya disebut di dalam 50 riwayat lebih. Para rijal Syiah berbeda pendapat dalam menilai kemuktabaran riwayat yang dinukilkan oleh Ibrahim bin Mahziyar. Untuk membuktikan kredibilitasnya, digunakan sanad sebagian riwayat-riwayat yang ada dalam kitab Kamil al-Ziyarat karena sebagian ahli rijal berkata bahwa penukilan dari salah satu perawi dalam kitab Kamil al-Ziyarat adalah dalil bagi ketsiqahan sebuah riwayat secara umum.

Biografi

Ibrahim adalah seorang penduduk dari Dauraq, Khuzestan. [1] Menurut perkataan Najasyi, ayahandanya sebelumnya merupakan penganut agama Kristen dan kemudian memeluk agama Islam. [2] Tidak diperoleh informasi yang terang mengenai tanggal kelahiran dan wafatanya. Meskipun demikian sebagian para peneliti dengan mendasarkan kepada dalil-dalil yang ada, periode kehidupannya berada pada rentang waktu antara 195 H/810 hingga 265 H/878. [3] Dalil-dalil yang digunakan diantaranya adalah bahwa ia termasuk sahabat yang hidup diantara waktu Imam Jawad as (Imam Jawad syahid pada tahun 229 H/843) [4] dan setelah syahadah Imam Hasan Askari as (syahid pada tahun 260 H/873). [5] Disamping itu dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa ia adalah sahabat Imam Mahdi as. [6] Ali dan Muhammad adalah putra-putra Ibrahim Mahziyar. Muhammad adalah sahabat Imam ke-11. [7] Berdasarkan sebuah riwayat, ia bertemu dengan Imam Zaman afs.[8] Menurut pendapat Ali Akbar Ghifari, [9] seorang peneliti pada zaman ini, nama Ali tidak disebutkan dalam kitab rijal. [10] Dalam sebagian sumber-sumber riwayat Syiah, julukan Ibrahim bin Mahziyar adalah Abu Ishaq. [11]

Sahabat Para Imam

Syaikh Thusi menyebut bahwa Ibrahim bin Mahziyar adalah sahabat Imam Jawad as [12] dan Imam Hadi as. [13] Berdasarkan sebuah riwayat yang dinukilkan oleh Muhammad bin Ibrahim Mahziyar dalam Kitab al-Kafi, ayahandanya, Ibrahim bin Mahziyar adalah wakil Imam ke-11 bagi para penganut Syiah. [14] Namun Ayatullah Khui menilai bahwa riwayat ini adalah dhaif. [15]

Bertemu dengan Imam Zaman afs

Berdasarkan riwayat yang dinukilkan oleh Syaikh Shaduq, Ibrahim bin Mahziyar bertemu dengan Imam Zaman afs di Mekah. [16] Namun Ayatullah Khui meragukan riwayat ini. [17] Demikian juga dalam sebuah riwayat diisyaratkan tentang hubungannya dengan para wakil Imam Zaman afs. [18] Fadhl bin Hasan Thabarsi menilai bahwa ia adalah termasuk duta Imam Mahdi. [19] Namun Allamah Hilli menilai bahwa riwayat ini adalah lemah. [20]

Kedudukan Rijal

Menurut Ayatullah Khui, para rijal Syiah memiliki pandangan yang berbeda tentang Ibrahim bin Mahziyar. Allamah Majlisi menilai bahwa ia adalah seorang perawi yang tsiqah [21], Ibnu Daud Hilli menilai bahwa ia adalah mamduh (terpuji) [22] sedangkan Syaikh Abdul Nabi Jazairi [23] dalam kitab Hawi al-Aqwal menggolongkan ia ke dalam kelompok rijal yang dhaif. [24] Mamaqani, salah seorang rijal terkemuka dan para rijal terkemuka yang lain mempercayai ke-tsiqah-an dan kemuliaan Ibrahim bin Mahziyar dengan mendasarkan kepada suatu dalil, di antaranya dengan mendasarkan bahwa ia adalah washi Ali bin Mahziyar dan kedudukannya sebagai duta Imam Mahdi [25]. Sayid Abul Qasim Khui, penulis kitab Mu'jam Rijal al-Hadis yang ditulis dalam 23 jilid menjelaskan bahwa ketsiqahan dan kemuliaan ini adalah lemah dan ia berdalil tentang ke-tsiqah-an Ibrahim bin Mahziyar dengan pertimbangan bahwa namanya tercantum dalam sanad riwayat kitab Kamil al-Ziyarah [26]. [27]

Sebagian peneliti pada masa sekarang menilai bahwa penukilan riwayat dari kitab Kamil Ziyarah merupakan ke-tsiqah-an yang bersifat umum [28] karena Ibnu Qaulawaih dalam kitab Mukadimah Kamil Ziyarah mengatakan bahwa hanya perawi yang tsiqah saja yang dituliskan dalam kitab ini. [29]

Riwayat

Dalam sumber-sumber riwayat Syiah diantaranya Kutub Arba'ah terdapat hadis-hadis yang dinukilkan oleh Ibrahim bin Mahziyar [30]. Menurut perkataan Ayatullah Khui, nama Ibrahim bin Mahziyar tertulis dalam lebih dari 50 riwayat. [31] Ibrahim bin Mahziyar menukilkan hadis dari Imam ke-10 dan ke-11 [32]secara langsung [33] dan menukilkan dari saudaranya Ali, [34] Salih bin Sanadi, Ibnu Abu Umari, Husain bin Ali bin Bilal, Khalilan bin Hisyam dan saudaranya, Dawud bin Mahziyar secara tidak langsung. [35] Para perawi yang menukilkan hadis dari Ibrahim bin Mahziyar diantaranya adalah Abdullah bin Ja'far Humairi [36], Sa'ad bin Abdullah Asy'ari, [37] Muhammad bin Ahmad bin Yahya dan Muhammad bin Ali Mahbub. [38] Ibrahim bin Mahziyar meriwayatkan tema-tema yang berkaitan dengan waktu syahadah dan umur para imam [39], keutamaan mengerjakan salat di Masjid Nabi saw [40] dan Masjid Kufah [41], pahala ziarah Imam Husain as [42] dan juga riwayat-riwayat yang berkaitan dengan hukum-hukum salat [43] dan haji. [44] Sebagian para fakih seperti penulis kitab Jawahir menurut riwayat darinya dalam hal hukum-hukum salat. [45] Najasyi menilai bahwa kitab berjudul al-Bisyarah adalah karya Ibrahim bin Mahziyar. [46] Namun sebagian peneliti mengatakan bahwa kitab ini adalah karya saudaranya, Ali bin Mahziyar [47] dan Ibrahim bin Mahziyar menukilkan darinya [48] dan Najasyi menisbatkan kitab ini kepadanya. [49]

Catatan Kaki

  1. Najasyi, Rijāl al-Najāsyi, 1365 S, hlm. 253.
  2. Najasyi, Rijāl al-Najāsyi, 1365 S, hlm. 253.
  3. Gudzasytih, Ibrahim bin Mahziyar, jld. 2, hlm. 458.
  4. Thusi, Rijāl al-Thusi, 1373 S, hlm. 373.
  5. Kulaini, al-Kāfi, 1407 H, jld. 1, hlm. 518.
  6. Shaduq, Kamal al-Din, 1395 H, hlm. 445-453.
  7. Thusi, Rijāl al-Thusi, 1373 S, hlm. 402.
  8. Shaduq, Kamal al-Din, jld. 2, hlm. 442.
  9. Shaduq, Kamal al-Din, 1395 H, jld. 2, hlm. 466.
  10. Shaduq, Kamal al-Din, 1385 H, jld. 2, hlm. 466.
  11. Najasyi, Rijāl al-Najasyi, 1365 S, hlm. 16, Mamaqani, Tanqih al-Maqal, 1431 H, jld. 5, hlm. 17.
  12. Thusi, Rijāl al-Thusi, 1373 S, hlm. 374.
  13. Thusi, Rijāl al-Thusi, 1373 S, hlm. 383.
  14. Kulaini, al-Kāfi, 1407 H, jld. 1, hlm. 518.
  15. Khui, Mu'jam Rijāl al-Hadits, 1410 H, jld. 1, hlm. 305.
  16. Shaduq, Kamal al-Din, 1395 H, hlm. 445-453.
  17. Kasyi, Rijāl al-Kasyi, 1409 H, hlm. 531-532.
  18. Kasyi, Rijāl Kasyi, 1409 H, hlm. 531-532.
  19. Thabarsi, I'lām al-Wara, 1390 H, hlm. 416.
  20. Allamah Hilli, Khulashah al-Aqwal, 1417 H, hlm. 71.
  21. Allamah Majlisi, al-Wajizah fi al-Rijāl, hlm. 16; Mamaqani, Tanqih al-Maqal, 1431 H, jld. 5, hlm. 31.
  22. Ibnu Daud Hilli, Kitab al-Rijāl, 1342 S, hlm. 19.
  23. Khui, Mu'jam Rijāl al-Hadist, 1410 H, jld. 1, hlm. 304.
  24. Jazairi, Hawi al-Aqwa, 1418 H, jld. 2, hlm. 249.
  25. Mamaqani, Tanqih al-Maqāl, 1431 H, jld. 5, hlm. 18-31; Nuri, Mustadrak al-Wasail, 1408 H, jld. 4, Khatamah, hlm. 26-29.
  26. Silahkan lihat: Ibnu Qaulawiyah, Kāmil al-Ziyārah, 1356 H, hlm. 21, 25, 31, 49, 85, 155 dan 191.
  27. Khui, Mu’jam Rijāl al-Hadis, 1410 H, 1410 H, jld. 1, hlm. 307.
  28. Irwani, Durus Tamhidiyyah al-Qawad al-Rijāliyyah, 1431 H, hlm. 35.
  29. Ibnu Qaulawiyah, Kāmil al-Ziyārah, 1356 S, hlm. 4.
  30. Sebagai contoh silahkan lihat: Kulaini, al-Kāfi, 1407 H, jld. 1, hlm. 457, 461, 463; Shaduq, Man La Yakhdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 1, hlm. 263, jld. 2, hlm. 444.
  31. Khui, Mu'jam Rijāl Hadis, 1410 H, jld. 1, hlm. 307.
  32. Sebagai contoh silahkan lihat: Shaduq, Man Lā Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 1, hlm. 263.
  33. Khui, Mu'jam Rijāl Hadis, 1410 H, jld. 1, hlm. 307.
  34. Kulaini, al-Kāfi, 1407 H, jld. 1, hlm. 457, 461, 463.
  35. Khui, Mu'jam Rijāl al-Hadis, 1410 H, jld. 1, hlm. 457.
  36. Silahkan lihat: Kulaini, al-Kāfi, 1407 H, jld. 1, hlm. 307.
  37. Kulaini, al-Kāfi, 1407 H, jld. 1, hlm. 457.
  38. Khui, Mu'jam Rijal Hadis, 1410 H, jld. 1, hlm. 307.
  39. Sebagai contoh, silahkan lihat: al-Kāfi, 1407 H, jld. 1, hlm. 457, 461, 463, 472, 475, 486, 491, 497, 518.
  40. Ibnu Qaulawiyah, Kāmil al-Ziyārah, 1356 S, hlm. 21.
  41. Ibnu Qaulawiyah, Kāmil al-Ziyārah, 1356 S, hlm. 31-32.
  42. Ibnu Qaulawiyah, Kāmil al-Ziyārah, 1356 S, hlm. 155.
  43. Shaduq, Man Lā Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 1, hlm. 263.
  44. Shaduq, Man Lā Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 2, hlm. 444.
  45. Najafi, Jawāhir al-Kalām, jld. 8, hlm. 63; Amili, Miftah al-Karamah, 1419 H, jld. 5, hlm. 458.
  46. Najasyi, Rijāl al-Najasyi, 1365 S, hlm. 16.
  47. Thusi, Fehrest Kitāb al-Syiah, 1420 H, hlm. 265.
  48. Najasyi, Rijāl al-Najasyi, 1365 S, hlm. 254.
  49. Gudzasytih, Ibrahim bin Mahziyar, jld. 2, hlm. 458.