Konsep:Tafsir Tartibi
Tafsir Tartibi atau Tafsir Tajzi'i (Tafsir Berurutan atau Tafsir Analitis) adalah metode umum dalam penafsiran Al-Qur'an di mana ayat-ayat Al-Qur'an ditafsirkan sesuai urutan surah dan ayat dalam Mushaf. Dalam karya-karya lengkap metode ini, ayat-ayat Al-Qur'an ditafsirkan ayat demi ayat dan surah demi surah dari awal Surah Al-Fatihah hingga akhir Surah An-Nas. Menurut Muhammad Hadi Ma'rifat, seorang peneliti ilmu Al-Qur'an, tafsir tartibi pertama yang secara urut dan berkesinambungan menjelaskan Al-Qur'an adalah Ma'ani al-Qur'an karya Al-Farra'.
Penguasaan ilmiah terhadap ayat-ayat, menjaga hubungan di antara mereka (konteks/siyaq), dan memanfaatkan spiritualitas yang melingkupi ayat-ayat, disebutkan sebagai kelebihan tafsir tartibi. Sebaliknya, ketidakmampuan mencapai pandangan akhir Al-Qur'an mengenai berbagai topik dan masalah merupakan kekurangan metode ini, yang dapat dikompensasikan dengan metode tafsir tematik.
Para mufasir pada abad ke-14 Hijriah, dengan menekankan susunan surah-surah dan ayat-ayat berdasarkan urutan turunnya (nuzul) dan perannya dalam memahami makna ayat, telah melakukan penafsiran berdasarkan urutan turunnya Al-Qur'an. Di sisi lain, sekelompok orang meyakini bahwa pengetahuan mufasir mengenai apakah suatu surah termasuk Makkiyah atau Madaniyah serta sebab-sebab turunnya ayat membuat mereka tidak perlu mematuhi urutan turunnya, dan metode ini tidak membantu pemahaman yang lebih baik terhadap makna ayat-ayat Al-Qur'an.
Tafsir-tafsir seperti Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, Tafsir Nemuneh, dan Tafsir Tasnim adalah kitab-kitab tafsir Syiah yang ditulis dengan metode tafsir tartibi.
Pengenalan dan Kedudukan
Tafsir tartibi adalah metode umum dalam penafsiran Al-Qur'an di mana Al-Qur'an ditafsirkan sesuai urutan susunan Mushaf, yaitu dari Surah Al-Fatihah hingga Surah An-Nas, ayat demi ayat dan surah demi surah.[1] Namun, menurut Muhammad Taqi Misbah Yazdi, pengarang tafsir Ma'arif al-Qur'an, terkadang seorang mufasir dalam proses tafsir tartibi mungkin membahas topik-topik yang terkait dengan surah atau ayat lain.[2]
Menurut Abdullah Jawadi Amuli, pengarang Tafsir Tasnim, dari segi pendidikan, tafsir tartibi didahulukan atas tafsir tematik Al-Qur'an; karena materi yang terkandung di dalamnya, seperti penguasaan ilmiah terhadap penafsiran ayat disertai pemahaman konteks (siyaq) dan karakteristiknya, merupakan kebutuhan seorang mufasir dalam tafsir tematik.[3] Menurut Misbah Yazdi, dampak maknawi atau spiritual ayat-ayat dengan menelitinya pada posisi yang tepat dan memanfaatkan nasihat serta ajaran-ajaran akhlak, merupakan keunggulan metode penyampaian tafsir ini.[4] Menurut Ja'far Subhani, metode tafsir ini bermanfaat bagi kebanyakan orang, meskipun tafsir tematik lebih komprehensif.[5]
Nama Lain
Tafsir tartibi juga dikenal dengan sebutan lain:
- Tafsir Tajzi'i (Tafsir Analitis): Karena mufasir menguraikan ayat menjadi beberapa kalimat, lalu menafsirkannya kata demi kata dan kalimat demi kalimat.[6]
- Tafsir Tahlili (Tafsir Analitis): Karena mufasir menganalisis setiap ayat secara luas, membahas berbagai topik dan pembahasan seperti akidah, linguistik, sastra, balaghah, akhlak, dan hukum.[7]
- Tafsir Maudu'i (Tafsir Tematik): Karena mufasir berhenti pada suatu ayat atau surah tertentu dan pada posisi khusus, dan tidak melanjutkan menafsirkan ayat lain sebelum penafsiran bagian tersebut selesai.[8]
Pengelompokkan Tafsir Tartibi Berdasarkan Volume (ukuran)
- Tafsir-tafsir Komprehensif, yang mencakup seluruh surah, seperti Jawami' al-Jami', yang mencakup semua ayat dan surah sesuai urutan Mushaf.
- Tafsir-tafsir Berfokus pada Topik, seperti tafsir-tafsir Ayat al-Ahkam (ayat-ayat hukum), yang menafsirkan ayat-ayat terkait hukum fikih sesuai urutan Mushaf.
- Tafsir-tafsir Berfokus pada Bagian, yang menafsirkan hanya bagian-bagian atau surah-surah tertentu secara berurutan; seperti Partowi az Qur'an karya Sayid Mahmud Thaleqani.
- Tafsir per-surah yang fokusnya hanya pada penafsiran satu surah.[9]
Meskipun kebanyakan mufasir membagi metode penyajian tafsir menjadi dua jenis, yaitu tafsir tartibi dan tafsir tematik,[10] namun Nashir Makarim Syirazi menambahkan tiga bagian lain di sampingnya, yaitu tafsir mufradat (kosa kata) Al-Qur'an, tafsir hubungan/relasional (interpretasi relasional), dan tafsir kulli atau pandangan dunia Al-Qur'an.[11]
Tafsir Al-Qur'an Berdasarkan Urutan Turunnya (Nuzul)
Berbeda dengan pendapat umum dalam tafsir tartibi, pada abad ke-14 Hijriah, beberapa mufasir menekankan pentingnya tafsir tartibi Al-Qur'an dengan standar urutan turunnya ayat-ayat. Menurut keyakinan mereka, memperhatikan susunan surah dan ayat berdasarkan urutan turunnya (nuzul) dalam menyampaikan materi tafsir, berperan dalam memahami makna dan tujuannya.[12] Abdulkarim Behjatpur dalam pengantar Tafsir Tanzili membahas keunggulan metode ini dan manfaatnya dalam pemahaman tafsir. Misalnya, ia meyakini bahwa pencapaian metode pendidikan bertahap untuk individu dan masyarakat hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan alur penafsiran berdasarkan urutan turunnya ayat. Ia menganggap dakwah bertahap kepada orang-orang terdekat dan masyarakat menuju Islam oleh Nabi Muhammad saw, serta deklarasi tahaddi (tantangan) dengan urutan dari yang sulit ke yang mudah, sebagai alasan dan bukti kebenaran metode ini.[13]
Tafsir Bayan al-Ma'ani 'ala Hasbi Tartibi al-Nuzul karya Abdul Qadir Malahwisi al-Ghazi adalah contoh tafsir semacam ini yang mengaitkan metode ini dengan Mushaf Imam Ali as.[14] Masyahid al-Qiyamah karya Sayid Quthub dan Pa be Pay-ye Wahy karya Mehdi Bazargan adalah contoh lain dari jenis tafsir ini.[15]
Sebaliknya, menurut beberapa peneliti, tidak ada perbedaan antara Mushaf Imam Ali as. dan Al-Qur'an yang ada sekarang dalam hal ayat dan urutannya, dan perbedaannya terletak pada adanya tafsir dan takwil serta hal-hal lainnya.[16] Mereka juga menganggap sanad riwayat-riwayat yang mengacu pada urutan turunnya tidak dapat diandalkan.[17] Beberapa lainnya, seperti Muhammad Hadi Ma'rifat, cendekiawan Syiah, meyakini bahwa pengetahuan mufasir tentang apakah suatu surah termasuk Makkiyah atau Madaniyah serta sebab-sebab turunnya ayat (asbabun nuzul) membuat mereka tidak perlu mematuhi urutan turunnya, dan metode ini tidak membantu pemahaman yang lebih baik terhadap makna ayat-ayat Al-Qur'an.[18] Allamah Thabathaba'i juga menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk mengetahui urutan turunnya adalah dengan merenungkan kandungan ayat dan meneliti apakah ayat tersebut Makkiyah atau Madaniyah.[19]
Latar Belakang Tafsir Tartibi
Metode tafsir tartibi telah umum di kalangan Muslim sejak periode awal Islam.[20] Mufasir metode ini, sejak awal, menggunakan dua pendekatan: naqli (riwayat) dan ijtihadi; hingga tafsir Majma' al-Bayan karya Fadhl bin Hasan Thabarsi pada abad ke-6 Hijriah, dan Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an karya Qurthubi, mufasir Ahlus Sunnah pada abad ke-7 Hijriah, dianggap sebagai tafsir yang bermanfaat dan komprehensif.[21]
Menurut Muhammad Hadi Ma'rifat, tafsir pertama yang menjelaskan Al-Qur'an secara urut (tertib) dan berkesinambungan adalah Ma'ani al-Qur'an karya Al-Farra', sementara tafsir-tafsir sebelumnya tidak berkesinambungan dan hanya menafsirkan ayat-ayat yang ambigu dan sulit.[22] Sebagian besar tafsir klasik, kecuali yang membahas Ayat al-Ahkam (ayat-ayat hukum), kisah-kisah Al-Qur'an, dan tamtsilat Qur'aniyah (perumpamaan Al-Qur'an), ditulis dengan metode ini.[23]
Muhammad Baqir Shadr menilai bahwa dominannya pendekatan riwayat (naqli) dalam ilmu tafsir menjadi penyebab meluasnya penerimaan metode tafsir tartibi selama berabad-abad. Hal ini disebabkan oleh hakikat tafsir yang pada dasarnya merupakan cabang dari ilmu hadis yang berfokus pada penjelasan makna frasa, sehingga tidak mampu menghadirkan tafsir ijtihadi yang kreatif.[24] Sementara itu, perkembangan utama tafsir dengan pendekatan urutan pewahyuan (nuzul) baru dimulai pada abad ke-14 Hijriah, yang juga menghadapi berbagai tantangan dalam ranah ilmu tafsir dan ilmu-ilmu Al-Qur'an.[25]
Kritik
Para mufasir dan pakar telah mengidentifikasi beberapa kelemahan dalam metode tafsir tartibi ketika membandingkannya dengan tafsir tematik. Ja'far Subhani dan Sayid Muhammad Baqir Shadr menilai tafsir tartibi sebagai kumpulan ajaran Al-Qur'an yang tersebar yang tidak mampu menyajikan pandangan utuh Al-Qur'an mengenai persoalan kehidupan. Keterpencilan ini menyebabkan mufasir dari berbagai mazhab cenderung melakukan referensi parsial terhadap ayat-ayat, sehingga memunculkan kontradiksi dalam topik-topik seperti jabar dan ikhtiar. Kelemahan ini dapat diatasi melalui penguasaan komprehensif terhadap ayat-ayat dalam metode tafsir tematik.[26]
Muhammad Hadi Ma'rifat menambahkan bahwa kelemahan metode tartibi terletak pada pemahaman yang dangkal terhadap ajaran Al-Qur'an, kurang memperhatikan kebutuhan audiens, serta tidak responsif terhadap perkembangan hipotesis dan capaian ilmiah manusia. Semua kelemahan ini dapat dikompensasi melalui pendekatan tafsir tematik.[27]
Karya Penting
Mufasir Syiah telah menghasilkan banyak karya tafsir dengan pendekatan tartibi. Beberapa contoh karya yang menafsirkan seluruh surah dan ayat secara lengkap adalah:
- Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an (bahasa Arab) karya Syekh Thusi - diakui sebagai kitab tafsir lengkap dan komprehensif pertama dalam mazhab Syiah.[28]
- Tafsir Majma' al-Bayan (bahasa Arab) karya Fadhl bin Hasan Thabarsi
- Tafsir Nemuneh (bahasa Persia) disusun oleh Nashir Makarim Syirazi bersama tim penulis dari Hauzah Ilmiah Qom
- Tafsir Al-Mizan (bahasa Arab) karya Allamah Thabathaba'i - Murtadha Muthahhari menilai tafsir ini sebagai yang terbaik dalam tradisi tafsir Syiah dan Sunni dari masa awal Islam hingga abad ke-14 Hijriah.[29]
- Tafsir Tasnim (bahasa Persia) karya Abdullah Jawadi Amuli - mengembangkan pembahasan tematik Al-Qur'an dengan mengadopsi gaya Al-Mizan
Topik Terkait
Catatan Kaki
- ↑ Subhani Tabrizi, Mansyur-e Jawid, 1390 HS, jil. 2, hlm. 42; Shalehi, ["Mabadi 'Ulum al-Qur'ani wa Tafsir Tartib Nuzuli"](https://quran.isca.ac.ir/fa/Article/Detail/12995/), Portal Komprehensif Ilmu dan Pengetahuan Al-Qur'an.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an Syenasi, 1392 HS, jil. 2, hlm. 163.
- ↑ Jawadi Amuli, Zan dar Ayineh-ye Jalal va Jamal, 1380 HS, hlm. 59-60.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an Syenasi, 1392 HS, jil. 2, hlm. 159-160.
- ↑ Subhani Tabrizi, Mansyur-e Jawid, 1390 HS, jil. 1, hlm. 11.
- ↑ Shadr, Al-Madrasah al-Qur'aniyah, Dar al-Ta'aruf, hlm. 9-13; Khalidi, Al-Tafsir al-Mawdu'i, 1433 H, hlm. 47.
- ↑ Khalidi, Al-Tafsir al-Mawdu'i, 1433 H, hlm. 31.
- ↑ Khalidi, Al-Tafsir al-Mawdu'i, 1433 H, hlm. 46-47.
- ↑ Dasyti, "Tafsir/ Tafsir Tartibi", hlm. 217-218.
- ↑ Misbah Yazdi, Qur'an Syenasi, 1392 HS, jil. 2, hlm. 159 dan 161.
- ↑ Makarim Syirazi, Payam-e Qur'an, 1381 HS, jil. 1, hlm. 19.
- ↑ Ma'rifat, Tafsir wa Mufassiran, 1379 HS, jil. 2, hlm. 519.
- ↑ Behjatpur, Hamgam ba Vahy, 1390 HS, hlm. 49, 52, dan 72.
- ↑ Al-Ghazi, Bayan al-Ma'ani, 1382 H, jil. 1, hlm. 3-4.
- ↑ Sayid Quthub, Masyahid al-Qiyamah, 1423 H, hlm. 10; Ma'rifat, Tafsir wa Mufassiran, 1379 HS, jil. 2, hlm. 521.
- ↑ Mahdawi Rad, Afaq-e Tafsir, 1382 HS, jil. 1, hlm. 103.
- ↑ Jauhari, "Naqd-e Nazariyeh-ye Tafsir bar Payeh-ye Nuzul", hlm. 44 dan 60.
- ↑ Ma'rifat, Tafsir wa Mufassiran, 1379 HS, jil. 2, hlm. 519-520; Shalehi, ["Mabadi 'Ulum al-Qur'ani wa Tafsir Tartib Nuzuli"](https://quran.isca.ac.ir/fa/Article/Detail/12995/), Portal Komprehensif Ilmu dan Pengetahuan Al-Qur'an.
- ↑ Thabathaba'i, Qur'an dar Islam, 1388 HS, hlm. 145.
- ↑ Akrami wa Murtazawi, "Mabani wa Pish-farz-ha-ye Ruykard-e Tafsir-e Nuzuli-ye Qur'an", hlm. 110-111.
- ↑ Ma'rifat, Tafsir wa Mufassiran, 1379 HS, jil. 2, hlm. 15.
- ↑ Ma'rifat, Tafsir wa Mufassiran, 1379 HS, jil. 2, hlm. 11.
- ↑ Rajabi, "Tafsir Mawdu'i-ye Qur'an az Manzareh Ostad Muhammad Taqi Misbah Yazdi", hlm. 113 dan 115.
- ↑ Shadr, Al-Madrasah al-Qur'aniyah, Dar al-Ta'aruf, hlm. 13-14.
- ↑ Akrami wa Murtazawi, "Mabani wa Pish-farz-ha-ye Ruykard-e Tafsir-e Nuzuli-ye Qur'an", hlm. 111.
- ↑ Subhani, Mansyur-e Jawid, 1390 HS, jil. 2, hlm. 42-43; Shadr, Al-Madrasah al-Qur'aniyah, Dar al-Ta'aruf, hlm. 11-12.
- ↑ Ma'rifat, Tafsir wa Mufassiran, 1379 HS, jil. 2, hlm. 528-529.
- ↑ Kariminiya, "Syekh Thusi wa Manabe'-e Tafsiri-ye Vi dar al-Tibyan", hlm. 82; Ma'rifat, Tafsir wa Mufassiran, 1379 HS, jil. 2, hlm. 247.
- ↑ Muthahhari, Majmu'eh Atsar, 1389 HS, jil. 25, hlm. 429.
Daftar Pustaka
- Al-Ghazi, Sayid Abdul Qadir, Bayan al-Ma'ani, Dimasyq, Mathba'ah al-Taraqqi, 1382 Q.
- Akrami, Ayyub, wa Sayid Muhammad Murtadhawi, "Mabani wa Pish-farzha-ye Ruykard-e Tafsir-e Nuzuli-ye Qur'an", dar Faslnameh-ye Motale'at-e Tafsiri, Shomareh-ye 11, Pa'iz 1391 HS.
- Behjat-Pur, Abdul Karim, Hamgam ba Wahy: Tafsir-e Tanzili, Mu'asseseh-ye Tamhid, Qom, 1390 HS.
- Jawadi Amuli, Abdullah, Zan dar Ayine-ye Jalal wa Jamal, Qom, Markaz-e Nashr-e Asra', cetakan ke-6, 1380 HS.
- Jauhari, Sayid Muhammad Hasan, "Naqd-e Nazariyeh-ye Tafsir bar Payeh-ye Nuzul", dar Pajuheshnameh-ye Ma'aref-e Qur'ani, Shomareh-ye 33, Tabestan 1397 HS.
- Khalidi, Salah Abdul Fattah, al-Tafsir al-Madhu'i bain al-Nazariyyah wa al-Tathbiq, Urdun, Dar al-Nafa'is, 1433 Q/ 2012 M.
- Dasyti, Sayid Habib, "Tafsir/ Tafsir-e Tartibi", dar Da'irat al-Ma'arif-e Qur'an-e Karim, Jeld-e 8, Qom, Mu'asseseh-ye Bustan-e Ketab, 1383 HS.
- Rajabi, Mahmud, "Tafsir-e Mawdu'i-ye Qur'an az Manzareh-ye ustad Muhammad Taqi Misbah Yazdi", dar Qur'an-syenakht, Shomareh-ye 4, Pa'iz wa Zemestan 1388 HS.
- Sobhani Tabrizi, Ja'far, Manshur-e Javid, Qom, Mu'asseseh-ye Emam Shadiq as, 1390 HS.
- Salehi, Sayid Abbas, ["Mabadi-ye 'Ulum-e Qur'ani wa Tafsir-e Tartib-e Nuzuli"](https://quran.isca.ac.ir/fa/Article/Detail/12995/), Portal-e Jame'-e 'Olum wa Ma'aref-e Qur'an, Tarikh-e Darj-e Matlab: 21 Ordibehesht 1390 HS, Tarikh-e Bazdid: 14 Ordibehesht 1404 HS.
- Sadr, Sayid Muhammad Baqir, al-Madrasah al-Qur'aniyyah, be Kushesh-e Lajneh-ye Tahqiq, Beirut, Dar al-Ta'arof lel-Matbu'at, tanpa tahun.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain, Qur'an dar Eslam, Qom, Mu'asseseh-ye Bustan-e Ketab, 1388 HS.
- Sayid Quthub, Ibrahim Husain Syadhili, Mashahid al-Qiyamah, Beirut, Dar al-Syoruq, 1423 Q.
- Karimi-Niya, Murtadha, "Syekh Thusi wa Manabe'-e Tafsiri-ye Vi dar al-Tibyan", dar Faslnameh-ye Daneshkadeh-ye Elahiyyat wa Ma'aref-e Masyhad, Shomareh-ye 74, 1385 HS.
- Misbah Yazdi, Muhammad Taqi, Qur'an-Syenasi, Jeld-e 2, Tahqiq-e Gholam-Ali Azizi Kiya, Qom, Mu'asseseh-ye Emam Khomeini, 1392 HS.
- Mutahhari, Murtadha, Majmu'eh-ye Atsar, Tehran, Entesyarat-e Sadhra, 1389 HS.
- Ma'rifat, Muhammad Hadi, Tafsir wa Mufassiran, Qom, al-Tamhid, 1379 HS.
- Makarim Syirazi, Nashir, Payam-e Qur'an, Tehran, Dar al-Kutub al-Eslamiyyah, 1381 HS.
- Mahdawi-Rad, Muhammad Ali, Afaq-e Tafsir, Tehran, Hasti-Nama, 1382 HS.