Konsep:Tafsir Muqatil bin Sulaiman
| Judul Asli | Tafsir Kabir |
|---|---|
| Penulis | Abu al-Hasan Muqatil bin Sulaiman bin Basyir al-Azdi al-Balkhi |
| Bahasa | Arab |
| Subyek | Tafsir Al-Qur'an |
| Diterbitkan oleh | Dar Ihya al-Turats |
| Tahun Disusun | Abad ke-2/Abad ke-8 |
| Tanggal Penerbitan | 1423/2002-03 |
| Tempat Penerbitan | Beirut |
| Cetakan | Pertama |
Tafsir Muqatil bin Sulaiman atau Tafsir Kabir ditulis oleh Muqatil bin Sulaiman pada abad ke-2/abad ke-8, yang dikenal sebagai tafsir lengkap Al-Qur'an pertama. Tafsir ini muncul sebagai pelopor tafsir-tafsir komprehensif dan utuh. Tafsir Muqatil merupakan perpaduan antara tafsir luhgawi (kebahasaan), naqli (riwayat), aqli (rasional), dan ijtihadi, dengan aspek kebahasaan yang lebih menonjol.
Penggunaan Israiliyat (kisah-kisah non-Qur'ani dan legendaris dari sumber Yahudi) menjadi salah satu kritik utama terhadap tafsir ini. Secara khusus, penyebutan Legenda Gharaniq sebagai contoh dari Israiliyat tersebut telah diprotes. Selain itu, keberadaan hadis-hadis tanpa sanad menjadi kelemahan lain yang diajukan terhadap tafsir ini sehingga mengurangi kredibilitasnya. Beberapa pihak juga meyakini bahwa atribusi materi tertentu kepada Muqatil diragukan dan mungkin merupakan tambahan dari para periwayah.
Tafsir Muqatil bin Sulaiman telah diterbitkan dengan koreksi (tashih), riset (tahqiq), dan catatan kaki (ta'liq) oleh Abdullah Mahmud Syahatah.
Pengenalan dan Kedudukan
Tafsir Muqatil bin Sulaiman atau Tafsir Kabir[1] adalah tafsir lengkap pertama yang tersisa dari Al-Qur'an.[2] Tafsir ini termasuk di antara tafsir-tafsir terpenting pada periode Tabiin.[3] Dikatakan bahwa tafsir ini memiliki pendekatan penyusunan yang khusus[4] dan lebih banyak membahas tujuan luhur Al-Qur'an.[5]
Tafsir yang dikenal sebagai tafsir komprehensif[6] dan berharga[7] ini telah dipuji oleh para ulama Ahlusunah.[8] Secara khusus, Muhammad bin Idris al-Syafi'i berkeyakinan bahwa seluruh mufasir berhutang budi pada Tafsir Muqatil.[9]
Mengenai penguasaan Muqatil terhadap Ilmu Al-Qur'an, dikatakan bahwa ia memiliki seluruh ilmu yang dibutuhkan untuk menafsirkan Al-Qur'an.[10] Mahmoud Syahatah, editor tafsir ini, mengisyaratkan kedudukan ilmiah Muqatil dan memuji tafsir tersebut,[11] meskipun ia menekankan perlunya ketelitian pada bagian-bagian yang dinukilkan.[12] Sebagian lain juga berpendapat bahwa Tafsir Muqatil tidak terlalu kredibel karena adanya daya khayal penulisnya.[13]
Muqatil memanfaatkan berbagai metode untuk menafsirkan Al-Qur'an seperti Tafsir Al-Qur'an dengan Al-Qur'an, riwayat, kebahasaan, rasional, teologis (kalam), dan Israiliyat.[14] Tafsir ini dikenal sebagai perpaduan tafsir kebahasaan, riwayat, rasional, dan ijtihadi, di mana aspek kebahasaan memiliki urgensi paling tinggi.[15]
Penulis
Abu al-Hasan Muqatil bin Sulaiman al-Azdi al-Balkhi adalah seorang Mufasir,[16] mutakallim,[17] muhaddis,[18] dan ilmuwan Ilmu Al-Qur'an pada abad ke-2/abad ke-8.[19] Ia lahir di Balkh, salah satu kota di Khorasan kuno, sekitar tahun 90/708-09,[20] dan menetap di Bashrah serta Bagdad.[21] Muqatil wafat pada tahun 150/767-68.[22]
Terdapat penilaian yang bertentangan mengenai Muqatil:[23] sebagian menganggap Muqatil sebagai orang yang berilmu dalam Ilmu Al-Qur'an dan termasuk tokoh besar tafsir,[24] serta termasuk sahabat Imam Baqir as dan Imam Shadiq as;[25] namun dalam banyak riset mengenai karakter Muqatil dikatakan bahwa ia adalah sosok yang diterima dalam Tafsir namun dicela, tidak kredibel, dan pemalsu dalam menukil Riwayat.[26] Dikatakan bahwa seandainya ia bersifat Tsiqah dalam Hadis, maka tafsirnya akan memiliki nilai yang sangat tinggi.[27] Ia menulis banyak karya di bidang Ilmu Al-Qur'an dan tafsir.[28]
Mengenai mazhab Muqatil terdapat perbedaan pendapat:[29] Aqa Buzurg Tehrani[30] dan Abdullah Mahmoud Syahatah menganggap Muqatil bin Sulaiman sebagai Syiah Zaidiyah;[31] namun sebagian pihak meragukan ke-Zaidiyah-annya.[32] Sebagian menganggapnya sebagai Ahlusunah berdasarkan penegasannya terhadap kekhalifahan Abu Bakar[33] dan pujiannya terhadap Abu Bakar serta Umar dengan gaya Ahlusunah.[34][35] Dilaporkan bahwa meskipun ia mencintai Ahlulbait as,[36] namun terdapat kesepakatan bahwa ia bukan Syiah Imamiyah.[37] Beberapa tokoh seperti Syekh Thusi[38] menganggapnya termasuk golongan Batriyah [39][40] dan sebagian lain memasukkannya ke dalam golongan Murji'ah.[41]
Karakteristik Tafsir Muqatil
Tafsir Muqatil bin Sulaiman dianggap sebagai kombinasi antara akal dan naql (riwayat dan dirayat).[42] Dikatakan bahwa tafsir ini menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an secara berkesinambungan dan ringkas serta lebih menekankan pada Tafsir Al-Qur'an dengan Al-Qur'an.[43] Sebagian menganggapnya sebagai tafsir ijtihadi karena Muqatil memberikan penafsiran untuk ayat-ayat berdasarkan ijtihadnya sendiri.[44] Metode Muqatil adalah pertama-tama membawakan bagian dari ayat, kemudian menjelaskannya dan menyebutkan riwayat-riwayat Nabi saw atau sahabat serta terkadang sebab turunnya ayat, tanpa memperhatikan penyebutan sanad.[45] Ia mengkritik pendapat orang lain dan mengemukakan pendapatnya sendiri.[46]
Di antara karakteristik Tafsir Muqatil adalah usia karyanya yang sangat tua, volume yang proporsional, gaya bahasa yang sederhana dan lancar,[47] menjauhi sikap berlebihan (ghuluw) dan pembahasan polemik,[48] serta mengumpulkan ayat-ayat yang serupa.[49] Ia juga menggunakan ilmu-ilmu Al-Qur'an seperti asbabun nuzul serta Nasikh dan Mansukh.[50] Syahatah, editor tafsir ini, menganggap kesederhanaan dan kejelasan ungkapan sebagai karakteristik menonjol dari buku ini.[51] Dalam menerjemahkan kosakata, Muqatil juga berijtihad dan menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an untuk menjelaskan kata-kata.[52]
Muqatil dalam mukadimah tafsirnya menyebutkan tiga puluh tokoh besar yang ia manfaatkan dalam menafsir, di mana dua belas orang di antaranya berasal dari ulama Tabiin; Atha, Athiyyah, Mujahid, dan Dhahhak.[53] Imam Baqir as dan Imam Shadiq as termasuk di antara orang-orang yang riwayatnya dibawakan oleh Muqatil dalam bukunya.[54]
Intervensi Periwayah
Tafsir Muqatil bin Sulaiman mendapat perhatian dari para ulama segera setelah disusun pada masa hidup penulisnya;[55] namun pada periode belakangan kurang mendapat perhatian. Kurangnya perhatian ini disebabkan oleh intervensi yang salah dari para periwayah dalam tafsir tersebut dan penambahan materi ke dalamnya.[56] Tafsir ini sampai ke tangan kita melalui rangkaian riwayat yang mencakup Abdullah bin Tsabit Muqri, Tsabit bin Ya'qub Tauzi, Abu Shalih Hudzail bin Habib Dandani, dan akhirnya Muqatil.[57]
Sebagian mengeklaim bahwa Abu Shalih telah menambahkan materi dan riwayat ke dalam tafsir ini.[58] Terdapat beberapa hal mencurigakan dalam Tafsir Muqatil yang mungkin merupakan hasil intervensi periwayah.[59] Walaupun demikian, tafsir ini secara umum tetap menjadi sumber yang berharga dan salah satu khazanah warisan Islam yang paling kuno dan kaya.[60]
Penggunaan Israiliyat dan Pandangan Teologis Muqatil
Tafsir Muqatil bin Sulaiman dikritik karena keberadaan Israiliyat,[61] termasuk penyebutan Legenda Gharaniq[62] dan pengabaian terhadap ishmah (kemaksuman) para nabi as.[63] Muqatil dalam tafsirnya menukil hadis-hadis tanpa menyebutkan sanad, yang menyebabkan tercampurnya hadis sahih dan palsu.[64] Dikatakan bahwa masalah ini menyebabkan penurunan kredibilitas sanad Tafsir Muqatil[65] dan mempersulit pemisahan antara pemahaman pribadinya dengan riwayat.[66] Hadis-hadis dalam tafsir ini terbagi menjadi mursal dan marfu',[67] dan beberapa di antaranya termasuk dha'if serta Israiliyat.[68]
Pendapat teologis (kalam) Muqatil dalam masalah seperti irja', tasybih (antropomorfisme), dan keutamaan sahabat menunjukkan perhatiannya pada diskusi teoretis dalam akidah.[69] Salah satu karakteristik Tafsir Muqatil adalah penyampaian pandangan teologisnya secara singkat di bawah ayat-ayat,[70] di mana ia mengemukakan pendapatnya dalam tema-tema seperti penciptaan langit, bumi, Arsy, dan manusia.[71] Ia dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabih, meyakini kehadiran Tuhan dan kemungkinan melihat-Nya di kiamat sebagai hal yang pasti, namun merusak konsep Kemaksuman Para Nabi as dan Nabi Muhammad saw, serta dituduh melontarkan pernyataan yang kontradiktif mengenai imamah para Imam Syiah as.[72]
Koreksi dan Penerbitan
Tafsir Muqatil bin Sulaiman diterbitkan dengan koreksi, riset, dan catatan kaki oleh Abdullah Mahmoud Syahatah (wafat 2002 M).[73] Ia menerbitkan tafsir ini dalam empat jilid bersama dengan teks Al-Qur'an; Syahatah juga menambahkan jilid kelima pada tafsir asli yang membahas tentang biografi, keyakinan, dan metode tafsir Muqatil bin Sulaiman.[74]
Catatan Kaki
- ↑ Nawsyaki, "Ravesy-ha-ye Tafsiri-ye Muqatil bin Sulaiman", hlm. 60.
- ↑ Nawsyaki, "Ravesy-ha-ye Tafsiri-ye Muqatil bin Sulaiman", hlm. 60; Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 102.
- ↑ Paktchi, "Tafsir", jld. 15, entri terkait.
- ↑ Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 148.
- ↑ Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 148.
- ↑ Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 103; Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 148.
- ↑ Nawsyaki, "Ravesy-ha-ye Tafsiri-ye Muqatil bin Sulaiman", Jurnal Forough-e Vahdat, No. 19, musim semi 1389 HS, hlm. 69.
- ↑ Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 103.
- ↑ Dawudi, Thabaqat al-Mufassirin, Beirut, jld. 2, hlm. 331; Aqa Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 4, hlm. 316.
- ↑ Hasyemi, "Tahqiq/ Tafsir Muqatil Jam' baina Ma'tsur va Ma'qul", hlm. 29.
- ↑ Syahatah, "Muqaddimah", Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 5, hlm. 52.
- ↑ Syahatah, "Muqaddimah", Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 5, hlm. 52.
- ↑ Sezgin, Tarikh al-Turats al-Arabi, 1412 H, jld. 1, hlm. 85.
- ↑ Nawsyaki, "Mu'arrefi-ye Muqatil bin Sulaiman (Shahib-e Tafsir Kabir)", Jurnal Forough-e Vahdat, No. 21, musim gugur 1389 HS, hlm. 69.
- ↑ Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 148; Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 95.
- ↑ Dzahabi, Mizan al-I'tidal fi Naqd al-Rijal, Beirut, jld. 4, hlm. 173.
- ↑ Sezgin, Tarikh al-Turats al-Arabi, 1412 H, jld. 1, hlm. 85.
- ↑ Nawsyaki, "Ravesy-ha-ye Tafsiri-ye Muqatil bin Sulaiman", hlm. 60.
- ↑ Nawsyaki, "Mu'arrefi-ye Muqatil bin Sulaiman (Shahib-e Tafsir Kabir)", hlm. 60.
- ↑ Nawsyaki, "Mu'arrefi-ye Muqatil bin Sulaiman (Shahib-e Tafsir Kabir)", hlm. 60.
- ↑ Sezgin, Tarikh al-Turats al-Arabi, 1412 H, jld. 1, hlm. 85.
- ↑ Zarkali, Al-A'lam, 1989, jld. 7, hlm. 271; Aqa Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 4, hlm. 315.
- ↑ Dzahabi, Mizan al-I'tidal fi Naqd al-Rijal, Beirut, jld. 4, hlm. 173; Heidarinezhad, "Bazsyenasi-ye Syakhshiyyat-e Haditsi-ye Muqatil bin Sulaiman Balkhi", hlm. 54.
- ↑ Gholam-ali, Tarikh-e Hadits-e Syiah dar Ma Vara' al-Nahr va Balkh, 1393 HS, hlm. 264; Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, 1414 H, jld. 7, hlm. 201.
- ↑ Khoei, Mu'jam Rijal al-Hadits, 1372 HS, jld. 19, hlm. 337; Namazi Syahrudi, Mustadrakat 'Ilm Rijal al-Hadits, 1414 HS, jld. 7, hlm. 485.
- ↑ Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 95; Heidarinezhad, "Bazsyenasi-ye Syakhshiyyat-e Haditsi-ye Muqatil bin Sulaiman Balkhi", hlm. 53; Gholam-ali, Tarikh-e Hadits-e Syiah dar Ma Vara' al-Nahr va Balkh, 1393 HS, hlm. 264; Zarkali, Al-A'lam, 1989, jld. 7, hlm. 271.
- ↑ Dzahabi, Mizan al-I'tidal fi Naqd al-Rijal, Beirut, jld. 4, hlm. 173.
- ↑ Aqa Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 4, hlm. 315; Gholam-ali, Tarikh-e Hadits-e Syiah dar Ma Vara' al-Nahr va Balkh, 1393 HS, hlm. 264.
- ↑ Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 95; Nawsyaki, "Mu'arrefi-ye Muqatil bin Sulaiman (Shahib-e Tafsir Kabir)", hlm. 68.
- ↑ Aqa Buzurg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 4, hlm. 315.
- ↑ Syahatah, "Muqaddimah", Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 5, hlm. 246.
- ↑ Nawsyaki, "Mu'arrefi-ye Muqatil bin Sulaiman (Shahib-e Tafsir Kabir)", hlm. 68.
- ↑ Nawsyaki, "Mu'arrefi-ye Muqatil bin Sulaiman (Shahib-e Tafsir Kabir)", hlm. 68.
- ↑ Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 99.
- ↑ Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 96; Namazi Syahrudi, Mustadrakat 'Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 7, hlm. 485.
- ↑ Rezayi, "Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e Tafsiri-ye O", hlm. 108; Gholam-ali, Tarikh-e Hadits-e Syiah dar Ma Vara' al-Nahr va Balkh, 1393 HS, hlm. 265.
- ↑ Gholam-ali, Tarikh-e Hadits-e Syiah dar Ma Vara' al-Nahr va Balkh, 1393 HS, hlm. 265; Nawsyaki, "Mu'arrefi-ye Muqatil bin Sulaiman (Shahib-e Tafsir Kabir)", hlm. 68.
- ↑ Syekh Thusi, Rijal al-Thusi, 1373 HS, hlm. 146.
- ↑ Batriyah adalah kelompok yang meyakini Imamah dan kekhalifahan Imam Ali as, namun berpendapat bahwa Imam atas keinginannya sendiri melepaskan haknya dan menyerahkannya kepada para khalifah. (Gholam-ali, Tarikh-e Hadits-e Syiah dar Ma Vara' al-Nahr va Balkh, 1393 HS, hlm. 265.)
- ↑ Namazi Syahrudi, Mustadrakat 'Ilm Rijal al-Hadits, 1414 H, jld. 7, hlm. 485.
- ↑ Gilliot, "Muqatil: Mufasir-e Bozorg, Muhaddis va Mutakallim-e Matrud", hlm. 54.
- ↑ Hasyemi, "Tahqiq/ Tafsir Muqatil Jam' baina Ma'tsur va Ma'qul", hlm. 29.
- ↑ Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 149.
- ↑ Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 98.
- ↑ Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 104.
- ↑ Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 148; Nawsyaki, "Ravesy-ha-ye Tafsiri-ye Muqatil bin Sulaiman", hlm. 60.
- ↑ Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 103-104.
- ↑ Syahatah, "Muqaddimah", Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 5, hlm. 57; Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 149.
- ↑ Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 148.
- ↑ Nawsyaki, "Mu'arrefi-ye Muqatil bin Sulaiman (Shahib-e Tafsir Kabir)", hlm. 67.
- ↑ Syahatah, "Muqaddimah", Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 1423 H, jld. 5, hlm. 57.
- ↑ Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 105-107.
- ↑ Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil, 1423 H, jld. 1, hlm. 27; Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 148.
- ↑ Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil, 1423 H, jld. 1, hlm. 27; Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 148.
- ↑ Paktchi, "Tafsir", jld. 15, entri terkait.
- ↑ Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 150.
- ↑ Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 150.
- ↑ Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 151-152.
- ↑ Sezgin, Tarikh al-Turats al-Arabi, 1412 H, jld. 1, hlm. 85.
- ↑ Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, 1379 HS, jld. 2, hlm. 155.
- ↑ Sezgin, Tarikh al-Turats al-Arabi, 1412 H, jld. 1, hlm. 85; Hasyemi, "Tahqiq/ Tafsir Muqatil Jam' baina Ma'tsur va Ma'qul", hlm. 29.
- ↑ Nawsyaki, "Mu'arrefi-ye Muqatil bin Sulaiman (Shahib-e Tafsir Kabir)", hlm. 66.
- ↑ Hasyemi, "Tahqiq/ Tafsir Muqatil Jam' baina Ma'tsur va Ma'qul", hlm. 29.
- ↑ Hasyemi, "Tahqiq/ Tafsir Muqatil Jam' baina Ma'tsur va Ma'qul", hlm. 29.
- ↑ Uqaili, Al-Dhu'afa' al-Kabir, 1404 H, jld. 4, hlm. 240.
- ↑ Hasyemi, "Tahqiq/ Tafsir Muqatil Jam' baina Ma'tsur va Ma'qul", hlm. 29.
- ↑ Paktchi, "Tafsir", Dairatul Ma'arif-e Bozorg-e Eslami, jld. 15, entri terkait.
- ↑ Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 118.
- ↑ Paktchi, "Tafsir", jld. 15, entri terkait.
- ↑ Nawsyaki, "Mu'arrefi-ye Muqatil bin Sulaiman (Shahib-e Tafsir Kabir)", hlm. 64.
- ↑ Nawsyaki, "Mu'arrefi-ye Muqatil bin Sulaiman (Shahib-e Tafsir Kabir)", hlm. 64.
- ↑ Syayesteh-nezhad, "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An", hlm. 111-113.
- ↑ Rezayi, "Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e Tafsiri-ye O", hlm. 103.
- ↑ Rezayi, "Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e Tafsiri-ye O", hlm. 103; Nawsyaki, "Mu'arrefi-ye Muqatil bin Sulaiman (Shahib-e Tafsir Kabir)", hlm. 60.
Daftar Pustaka
- Aqa Buzurg Tehrani, Mohammad Mohsen. Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah. Beirut, Dar al-Adhwa', 1403 H.
- Dawudi, Muhammad bin Ali. Thabaqat al-Mufassirin. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tanpa tahun.
- Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Mizan al-I'tidal fi Naqd al-Rijal. Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
- Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Siyar A'lam al-Nubala. Beirut, Muassasah al-Risalah, 1414 H.
- Gholam-ali, Mahdi. Tarikh-e Hadits-e Syiah dar Ma Vara' al-Nahr va Balkh. Qom, Dar al-Hadits, 1393 HS.
- Gilliot, Claude. "Muqatil: Mufasir-e Bozorg, Muhaddis va Mutakallim-e Matrud". Terjemahan: Fatemeh Tahami. Jurnal Ayeneh-ye Pazhouhesh, No. 76, 1381 HS.
- Heidarinezhad, Alireza. "Bazsyenasi-ye Syakhshiyyat-e Haditsi-ye Muqatil bin Sulaiman Balkhi". Jurnal Muthala'at-e Syebh-e Qarreh, No. 36, 1398 HS.
- Hasyemi, Mohsen. "Tahqiq/ Tafsir Muqatil Jam' baina Ma'tsur va Ma'qul". Jurnal Golestan-e Qur'an, No. 75, 1380 HS.
- Khoei, Abu al-Qasim. Mu'jam Rijal al-Hadits wa Tafshil Thabaqat al-Ruwah. Tanpa kota, tanpa penerbit, 1372 HS.
- Ma'rifat, Mohammad Hadi. Tafsir va Mufassiran. Qom, Muassasah Farhangi-ye Al-Tamhid, 1379 HS.
- Muqatil bin Sulaiman. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Riset dan Koreksi: Abdullah Mahmoud Syahatah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1423 H.
- Namazi Syahrudi, Ali. Mustadrakat 'Ilm Rijal al-Hadits. Teheran, tanpa penerbit, 1414 H.
- Nawsyaki, Rasul. "Mu'arrefi-ye Muqatil bin Sulaiman (Shahib-e Tafsir Kabir)". Jurnal Forough-e Vahdat, No. 21, 1389 HS.
- Nawsyaki, Rasul. "Ravesy-ha-ye Tafsiri-ye Muqatil bin Sulaiman". Jurnal Forough-e Vahdat, No. 19, 1389 HS.
- Paktchi, Ahmad. "Tafsir". Dairatul Ma'arif-e Bozorg-e Eslami, jld. 15. Teheran, Pusat Ensiklopedia Islam Besar, tanpa tahun.
- Rezayi, Hasanalie. "Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e Tafsiri-ye O". Jurnal Bayyinat, No. 69, 1390 HS.
- Sezgin, Fuat. Tarikh al-Turats al-Arabi. Qom, Perpustakaan Umum Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, 1412 H.
- Syahatah, Abdullah Mahmoud. "Muqaddimah". Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1423 H.
- Syayesteh-nezhad, Ali Akbar. "Tafsir Muqatil bin Sulaiman va Jaygah-e An". Jurnal Muthala'at-e Qur'an va Hadits, No. 1, 1387 HS.
- Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Rijal al-Thusi. Qom, Jama'ah al-Mudarrisin fi al-Hauzah al-Ilmiyyah bi Qom, 1373 HS.
- Uqaili, Muhammad bin Amru. Al-Dhu'afa' al-Kabir. Koreksi: Abdul Mu'thi Amin Qal'aji. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1404 H.
- Zarkali, Khairuddin. Al-A'lam. Beirut, Dar al-Ilm, 1989.