Lompat ke isi

Konsep:Tafsir Irfani

Dari wikishia

Tafsir Irfani adalah sebuah metode untuk memahami maksud-maksud batin Al-Qur'an berdasarkan takwil, intuisi (irfani), dan penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs). Metode ini, berbeda dengan tafsir lahiriah, menaruh perhatian pada makna-makna Al-Qur'an yang lebih dalam melalui kasyf dan syuhud internal tanpa mengabaikan aspek lahiriah lafaz. Para arif meyakini bahwa pemahaman sempurna terhadap sebagian ayat hanya mungkin dicapai melalui makrifat syuhudi, karena Al-Qur'an memiliki tingkatan makna yang beragam dan tak terbatas. Sebagian peneliti menganggap kemukjizatan irfani sebagai aspek terpenting dari Kemukjizatan Al-Qur'an dan meyakini bahwa metode ini menyingkap sisi-sisi tersembunyi dari ajaran Al-Qur'an. Selain itu, manusia dapat mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang Al-Qur'an dengan tazkiyah dan penyucian diri. Dari sudut pandang arif Syiah, Insan Kamil, yakni Para Maksum as sebagai penafsir sejati Al-Qur'an, memiliki kemampuan untuk mengenal Al-Qur'an secara sempurna.

Tafsir irfani dibagi menjadi dua jenis utama: pertama, tafsir faidhi-isyari yang berbasis pada kasyf dan syuhud praktis; kedua, tafsir berbasis Irfan Teoritis yang bersandar pada penerapan ajaran filosofis-irfani seperti Wahdatul Wujud pada Al-Qur'an. Selain itu, tafsir ramzi (simbolik), isyari, kasyfi, ilhami, dzauqi (rasa), dan tafsir berdasarkan asosiasi makna dianggap sebagai jenis lain dari tafsir irfani. Dasar-dasar tafsir irfani meliputi keyakinan pada tingkatan makna Al-Qur'an yang berlapis-lapis, urgensi melampaui aspek lahir menuju batin, bersandar pada tangkapan-tangkapan irfani, dan penekanan pada sifat personal dalam pemahaman makna Al-Qur'an. Sahl al-Tustari dianggap sebagai penafsir irfani pertama. Rasyiduddin Maibudi dan Ibnu Arabi juga termasuk tokoh terkemuka dalam bidang ini. Di antara pemikir Syiah, dapat disebutkan Sayid Haidar Amuli dengan kitab Tafsir al-Muhith al-A'dzam, Faidh Kasyani dengan Tafsir al-Safi, dan Mulla Sadra dengan berbagai karya tafsirnya.

Para pendukung tafsir irfani menganggap metode ini sebagai jalan yang berharga untuk menyingkap ajaran mendalam Al-Qur'an, dengan syarat tidak bertentangan dengan aspek lahiriah syariat. Sebaliknya, dikatakan bahwa metode ini dekat dengan Tafsir bi al-Ra'yi dan kurang memiliki kriteria metodis, serta karena bersandar pada selera pribadi (dzauq), berisiko menimbulkan penyimpangan. Sebagian pengkritik juga berpendapat bahwa metode ini lebih bersandar pada asosiasi makna dalam benak mufasir daripada argumentasi.

Hakikat dan Urgensi

Tafsir irfani Al-Qur'an, berdasarkan fondasi agama, kaidah inferensi, dan makrifat irfan teoritis, berupaya menyingkap maksud-maksud batin Tuhan dari aspek lahiriah lafaz Al-Qur'an.[1] Jenis tafsir ini dianggap bersifat takwili dan batini (esoteris)[2] yang menggunakan intuisi batin dan penyucian jiwa untuk memahami makna ayat-ayat.[3] Dalam pendekatan ini, dengan melampaui aspek lahir menuju batin, diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang ayat-ayat Al-Qur'an,[4] dan kasyf dan syuhud ini diperoleh melalui penghilangan penghalang serta hijab hati dan iluminasi internal.[5]

Menurut pendapat sebagian peneliti, tafsir ini berupaya menyingkap maksud-maksud batin Tuhan.[6] Imam Khomeini juga meyakini bahwa Al-Qur'an mengandung poin-poin irfani dan simbolik yang pemahamannya tidak dimungkinkan bagi semua orang, dan hanya Nabi Muhammad saw serta mereka yang dididik oleh beliau yang dapat menyingkap makna-makna tersebut.[7] Namun, sebagian peneliti berpendapat bahwa para arif mufasir tidak hanya percaya pada batin, tetapi juga pada urgensi lahiriah Al-Qur'an[8] dan meyakini bahwa mencapai batin dimungkinkan melalui aspek lahir.[9] Akhirnya, beberapa pemikir seperti Muhammad Hadi Ma'rifat berkeyakinan bahwa takwil irfani harus selaras dengan aspek lahiriah Al-Qur'an dan dalil-dalil kebenarannya harus disimpulkan dari Al-Qur'an itu sendiri agar memiliki akurasi dan validitas yang memadai.[10]

Berdasarkan sebagian peneliti, pemahaman yang benar terhadap beberapa ayat hanya mungkin dicapai melalui tafsir irfani, karena akal biasa tidak mampu memahaminya.[11] Kemukjizatan irfani adalah aspek terpenting dari kemukjizatan Al-Qur'an dan tafsir irfani menyingkap aspek ini.[12] Al-Qur'an adalah hakikat cahaya yang hanya bisa dipahami dengan hati yang bercahaya, dan penyucian jiwa membawa manusia pada ilmu hudhuri.[13] Para arif Syiah juga meyakini bahwa Insan Kamil yang maksum adalah penafsir sejati Al-Qur'an dan tafsir yang paling sempurna ada di sisinya.[14]

Jenis-jenis

Berdasarkan penelitian yang ada, tafsir irfani Al-Qur'an dibagi menjadi dua kategori utama:[15]

  • Tafsir Faidhi-Isyari: Yang didasarkan pada kasyf dan syuhud pribadi sang mufasir.
  • Tafsir Irfan Teoritis: Yang membahas penerapan ajaran filosofis-irfani seperti Wahdatul Wujud pada Al-Qur'an. Sebagian peneliti menganggap perbedaan keduanya terletak pada intensitas takwil.[16]

Selain itu, jenis lain dari tafsir irfani meliputi tafsir ramzi (dengan bahasa simbolik yang kompleks), tafsir isyari (berkaitan dengan lahiriah lafaz namun tanpa penegasan eksplisit), tafsir kasyfi (berbasis pengalaman intuisi), tafsir ilhami (munculnya makna secara tiba-tiba di hati), tafsir dzauqi (berdasarkan selera mufasir saat tilawah), dan tafsir asosiasi makna (bergantung pada kondisi irfani mufasir).[17]

Dari sudut pandang peneliti lain, metode praktis tafsir irfani juga bertumpu pada tiga landasan: penggunaan simbol dan isyarat, takwil batin Al-Qur'an (tanpa terikat pada penunjukan lafaz), dan kesesuaian makna (aspek ilustratif lebih besar daripada aspek referensial).[18]

Dasar-dasar

Para peneliti Al-Qur'an menganggap metode tafsir irfani bertumpu pada tiga dasar utama:

  • Keyakinan pada tingkatan makna Al-Qur'an yang berlapis: Al-Qur'an memiliki makna batin yang melampaui aspek lahiriahnya.[19] Para arif meyakini bahwa makna batin ayat-ayat harus diperhatikan dan kesimpulan-kesimpulan tersembunyi Al-Qur'an harus dimanfaatkan.[20]
  • Legitimasi kasyf dan syuhud dalam tafsir: Kasyf dan syuhud atau "takwil dengan isyarat"[21] adalah salah satu dasar utama tafsir irfani.[22] Para arif percaya pada makrifat kalbu melalui intuisi dan pengalaman irfani,[23] bukan melalui argumentasi dan diskusi.[24] Takwil irfani bersandar pada syuhud kalbu dan penyingkapan makna batin Al-Qur'an.[25]
  • Subjektivitas (personalitas) pemahaman Al-Qur'an: Penafsiran Al-Qur'an menurut para arif adalah sebuah pengalaman pribadi.[26] Setiap individu, sesuai dengan kondisinya, dapat memiliki tafsir yang berbeda tentang Al-Qur'an[27] yang mungkin berbeda di waktu yang berbeda atau oleh orang lain.[28] Tafsir ini senantiasa berubah dan tumbuh.[29]

Mufasir Irfani

Sahl al-Tustari

Sahl al-Tustari (wafat 283/896-97) dikenal sebagai mufasir irfani Al-Qur'an yang pertama.[30] Tafsirnya merupakan kumpulan dari ucapan-ucapan irfaninya yang kemudian dibukukan.[31] Tafsir ini, menurut banyak peneliti Al-Qur'an Syiah, termasuk tafsir irfani yang kredibel[32] dan tidak ditemukan tanda-tanda keyakinan non-Islam di dalamnya.[33]

Rasyiduddin Maibudi

Rasyiduddin Maibudi (abad ke-6 Hijriah) adalah penulis kitab Kasyf al-Asrar wa 'Uddat al-Abrar yang menafsirkan Al-Qur'an dengan metode irfani.[34] Ia menafsirkan ayat dalam tiga tahap: terjemahan Persia, tafsir makna, dan akhirnya penjelasan rahasia para arif serta isyarat kaum sufi.[35] Maibudi dalam bagian irfani tafsirnya, alih-alih menafsirkan ayat secara langsung, lebih banyak menyampaikan pemikiran pribadinya[36] dan meskipun ia termasuk mufasir Ahlusunah, ia juga bersandar pada perkataan para Imam Syiah.[37] Pada awalnya, nadanya bersifat analitis dan kontemplatif, namun pada jilid-jilid akhir tafsirnya, nadanya berubah menjadi nasihat dan khotbah.[38]

Ibnu Arabi

Muhyiddin Ibnu Arabi (wafat 638/1240-41) adalah penulis tafsir Rahmatun min al-Rahman fi Tafsir wa Isyarat al-Qur'an yang tergolong dalam tafsir irfani.[39] Menurut para peneliti, ia menganggap tafsir Al-Qur'an sebagai ilham dari Tuhan ke hati manusia[40] dan menyebut pemahamannya sebagai anugerah Ilahi.[41] Ibnu Arabi meyakini bahwa metode utama dan bahkan eksklusif dalam tafsir adalah kasyf dan syuhud yang diperoleh melalui sir dan suluk.[42] Dikatakan pula bahwa ia berpendapat ahli makrifat menggunakan kata "isyarat" alih-alih "tafsir" untuk menghindari pertentangan dengan para ulama lahiriah dan fukaha, serta sebagai bentuk taqiyyah.[43]

Tafsir al-Muhith al-A'dzam karya Sayid Haidar Amuli

Sayid Haidar Amuli

Sayid Haidar Amuli, arif Syiah abad ke-8 Hijriah, menyusun tafsirnya yang bernama Tafsir al-Muhith al-A'dzam sebanyak tujuh jilid pada tahun 777/1375-76.[44] Ia menganggap tafsir ini bukan hasil usaha pribadi, melainkan sebuah "curahan gaib" (ifadhah ghaibiyyah) melalui kasyf dari "Hadrat Rahman".[45] Tujuan Amuli dalam takwil adalah menjelaskan poin-poin dan kelembutan irfani, dan jika perlu, ia memberikan takwil yang sesuai untuk ayat-ayat yang telah ditakwil sebelumnya.[46] Ia menganggap tafsirnya terilhami dan menyebutnya serupa dengan kitab Fushush al-Hikam karya Ibnu Arabi.[47] Amuli menekankan bahwa takwil harus sesuai dengan Al-Kitab dan Sunnah, dan bahkan aspek lahiriah tafsir harus mengikuti metode Ahlulbait as.[48]

Faidh Kasyani

Faidh Kasyani (1070-1090/1659-1679) dikenal sebagai salah satu mufasir yang terpengaruh oleh metode irfani.[49] Ia menganggap takwil melampaui makna lahiriah lafaz dan menyebut lafaz hanya sebagai wadah bagi makna-makna sejati.[50] Menurut pandangannya, Al-Qur'an bertumpu pada empat pilar: 'ibarah (untuk orang awam), isyarah (untuk orang khusus), latha'if (untuk para wali), dan haqa'iq (untuk para nabi as).[51] Faidh Kasyani meyakini bahwa ayat-ayat Al-Qur'an adalah ungkapan dari hakikat Alam Malakut[52] dan untuk mencapai takwil diperlukan pelepasan akal dari hijab-hijab indrawi.[53] Ia berkeyakinan bahwa takwil yang benar hanya mungkin melalui "Rasikhuna fi al-'Ilm" (yakni para Maksum as)[54] dan dalam tafsirnya ia menggunakan riwayat-riwayat tafsir yang kredibel seperti Tafsir al-Qumi, Tafsir al-Ayyasyi, Al-Kafi, dan Majma' al-Bayan.[55]

Mulla Sadra

Mulla Sadra (wafat 1050/1640-41), filsuf, arif, dan pendiri Hikmah Muta'aliyah, telah menulis lebih dari lima belas karya di bidang tafsir,[56] termasuk Asrar al-Ayat, Tafsir al-Qur'an al-Karim, dan Mafatih al-Ghaib.[57] Meskipun Mulla Sadra adalah seorang filsuf rasionalis, ia tidak hanya berpangku pada akal untuk memahami makna batin Al-Qur'an, melainkan menganggap penyucian jiwa sebagai hal yang esensial.[58] Mulla Sadra meyakini bahwa hanya Tuhan yang dapat mencapai seluruh rahasia Al-Qur'an,[59] namun dengan penyucian dan kebersihan jiwa, manusia dapat mencapai sebagian dari rahasia tersebut.[60]

Ia menekankan bahwa tugas terpenting mufasir adalah memperhatikan makna dan batin ayat-ayat Al-Qur'an yang diperoleh melalui ilham-ilham Ilahi.[61] Salah satu kritik Mulla Sadra terhadap metode tafsir lainnya adalah banyak mufasir hanya membahas aspek lahiriah dan kebahasaan Al-Qur'an serta lalai memperhatikan makna batin.[62] Ia menganggap tafsir lahiriah tidak cukup untuk pemahaman penuh terhadap Al-Qur'an[63] dan meyakini bahwa tenggelam dalam ilmu sastra Arab dan detail lafaz adalah penghalang utama dalam memahami Al-Qur'an.[64]

Pandangan Penentang dan Pendukung

Berdasarkan penuturan para peneliti, tafsir irfani sepanjang sejarah terkadang diagungkan dan terkadang dikafirkan.[65]

  • Pendukung: Para pendukung tafsir irfani meyakini bahwa ajaran irfani Al-Qur'an adalah mukjizat terbesarnya dan para arif besar Islam mengambil pengetahuan mereka dari Al-Qur'an.[66] Sebagian pemikir Muslim meyakini bahwa ajaran-ajaran ini, selama tidak bertentangan dengan aspek lahiriah syariat, memiliki nilai dan validitas serta dapat mengandung kesimpulan yang indah dan kelembutan irfani.[67]
  • Penentang: Para penentang tafsir irfani menganggap metode ini serupa dengan Tafsir bi al-Ra'yi dan meyakini bahwa takwil-takwil irfani tidak memiliki kriteria tunggal[68] serta hanya didasarkan pada selera (dzauq) dan klaim penyingkapan batin. Mereka berpendapat bahwa dalam jenis tafsir ini, ayat-ayat muhkam dan hukum-hukum tidak diperhatikan, melainkan hanya ayat mutasyabih serta ayat yang berkaitan dengan kondisi manusia dan rahasia alam yang ditafsirkan.[69] Selain itu, tafsir-tafsir ini merujuk pada asosiasi makna yang bersifat hubungan mental (subjektif) dan bukan logis.[70]

Catatan Kaki

  1. Asadi Nasab, "Masyrū'iyyat wa Dharūrat-e Tafsīr-e 'Irfānī", hlm. 79.
  2. Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun fi Tsaubih al-Qasyib, 1418 H, jld. 2, hlm. 373 dan 536; Alawi, "Jaryān-syenāsī-ye Tafsīr-e 'Irfānī dar Andalus", hlm. 249.
  3. Alawi, "Jaryān-syenāsī-ye Tafsīr-e 'Irfānī dar Andalus", hlm. 253.
  4. Alawi, "Jaryān-syenāsī-ye Tafsīr-e 'Irfānī dar Andalus", hlm. 253.
  5. Alawi, "Jaryān-syenāsī-ye Tafsīr-e 'Irfānī dar Andalus", hlm. 253.
  6. Gorjian Arabi dan Jafarian, "Tahlīl-e Ravesy-syenākhtī-ye Tafsīr-e 'Irfānī wa Mabānī-ye Ān az Manzar-e...", hlm. 3.
  7. Khomeini, Kasyf al-Asrar (Menyingkap Rahasia-rahasia), 1378 HS, hlm. 322.
  8. Mazra'i, "Ta'wīl wa Tafsīr-e 'Irfānī dar Negāh-e Andīsyemandān-e Sadeh-ye Akhīr-e Hauzah-ye 'Ilmiyyeh-ye Qom", hlm. 131.
  9. Al-Zarqani, Manahil al-'Irfan, 1416 H, jld. 2, hlm. 87; Atasy, Maktab-e Tafsīr-e Isyārī, 1381 HS, hlm. 16-17.
  10. Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun fi Tsaubih al-Qasyib, 1418 H, jld. 2, hlm. 370.
  11. Asadi Nasab, "Masyrū'iyyat wa Dharūrat-e Tafsīr-e 'Irfānī", hlm. 96.
  12. Asadi Nasab, "Masyrū'iyyat wa Dharūrat-e Tafsīr-e 'Irfānī", hlm. 95.
  13. Asadi Nasab, "Masyrū'iyyat wa Dharūrat-e Tafsīr-e 'Irfānī", hlm. 94.
  14. Rudgar, "Mabānī wa Marāhel-e Tafsīr-e 'Irfānī-ye Qur'ān-e Karīm...", hlm. 6.
  15. Asadi Nasab, "Masyrū'iyyat wa Dharūrat-e Tafsīr-e 'Irfānī", hlm. 79.
  16. Qasempour, "Tafsīr-e 'Irfānī", hlm. 654-655.
  17. Hoseinzadeh dan Syarifi, "Gūneh-syenāsī-ye Tafāsīr-e 'Irfānī wa Tahlīl-e Ānhā", hlm. 754-761.
  18. Miri, "Darāmadī bar Gerāyesy-e Tafsīr-e 'Irfānī", hlm. 170-171.
  19. Hoseini Mir-safi, "Āsīb-syenāsī-ye Mabnāyī, Ravesy-syenākhtī wa Ghāyī-ye Tafsīr-e 'Irfānī...", hlm. 185.
  20. Thusi, Al-Luma', 1380 H, hlm. 147-149.
  21. Hoseini Mir-safi, "Āsīb-syenāsī-ye Mabnāyī, Ravesy-syenākhtī wa Ghāyī-ye Tafsīr-e 'Irfānī...", hlm. 182.
  22. Hoseini Mir-safi, "Āsīb-syenāsī-ye Mabnāyī, Ravesy-syenākhtī wa Ghāyī-ye Tafsīr-e 'Irfānī...", hlm. 178.
  23. Hoseini Mir-safi, "Āsīb-syenāsī-ye Mabnāyī, Ravesy-syenākhtī wa Ghāyī-ye Tafsīr-e 'Irfānī...", hlm. 185.
  24. Hoseini Mir-safi, "Āsīb-syenāsī-ye Mabnāyī, Ravesy-syenākhtī wa Ghāyī-ye Tafsīr-e 'Irfānī...", hlm. 181.
  25. Hoseini Mir-safi, "Āsīb-syenāsī-ye Mabnāyī, Ravesy-syenākhtī wa Ghāyī-ye Tafsīr-e 'Irfānī...", hlm. 180.
  26. Kasyani, Ta'wilat al-Qur'an, 1978 M, jld. 1, hlm. 4.
  27. Hoseini Mir-safi, "Āsīb-syenāsī-ye Mabnāyī, Ravesy-syenākhtī wa Ghāyī-ye Tafsīr-e 'Irfānī...", hlm. 185.
  28. Hoseini Mir-safi, "Āsīb-syenāsī-ye Mabnāyī, Ravesy-syenākhtī wa Ghāyī-ye Tafsīr-e 'Irfānī...", hlm. 185.
  29. Hoseini Mir-safi, "Āsīb-syenāsī-ye Mabnāyī, Ravesy-syenākhtī wa Ghāyī-ye Tafsīr-e 'Irfānī...", hlm. 185.
  30. Asadi Nasab, "Masyrū'iyyat wa Dharūrat-e Tafsīr-e 'Irfānī", hlm. 83.
  31. Asadi Nasab, "Masyrū'iyyat wa Dharūrat-e Tafsīr-e 'Irfānī", hlm. 83.
  32. Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun fi Tsaubih al-Qasyib, 1418 H, jld. 1, hlm. 319.
  33. Asadi Nasab, "Masyrū'iyyat wa Dharūrat-e Tafsīr-e 'Irfānī", hlm. 83.
  34. Jabri, "Chālesy-hā-ye Matnī dar Bakhsy-e Tafsīr-e 'Irfānī-ye Kasf al-Asrār...", hlm. 47; Syahrokhi, Mahmoud, "Negāhī be Tafsīr-e Kasf al-Asrār wa 'Uddat al-Abrār", hlm. 23.
  35. Syahrokhi, Mahmoud, "Negāhī be Tafsīr-e Kasf al-Asrār wa 'Uddat al-Abrār", hlm. 23.
  36. Jabri, "Chālesy-hā-ye Matnī dar Bakhsy-e Tafsīr-e 'Irfānī-ye Kasf al-Asrār...", hlm. 49.
  37. Syahrokhi, Mahmoud, "Negāhī be Tafsīr-e Kasf al-Asrār wa 'Uddat al-Abrār", hlm. 24-25.
  38. Jabri, "Chālesy-hā-ye Matnī dar Bakhsy-e Tafsīr-e 'Irfānī-ye Kasf al-Asrār...", hlm. 65-66.
  39. Alawi, "Jaryān-syenāsī-ye Tafsīr-e 'Irfānī dar Andalus", hlm. 258.
  40. Asadi Nasab, "Masyrū'iyyat wa Dharūrat-e Tafsīr-e 'Irfānī", hlm. 79.
  41. Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyyah, Muassasah Alu al-Bait as, jld. 1, hlm. 280.
  42. Alawi, "Jaryān-syenāsī-ye Tafsīr-e 'Irfānī dar Andalus", hlm. 258.
  43. Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyyah, Muassasah Alu al-Bait as, jld. 1, hlm. 280.
  44. Amuli, Tafsir al-Muhith al-A'dzam, 1422 H, jld. 1, hlm. 11.
  45. Muwahhidi, "Negāh-e Sayyid Haydar Āmolī be Tafsīr-e 'Irfānī-ye Najm al-Dīn Rāzī", hlm. 61.
  46. Muwahhidi, "Negāh-e Sayyid Haydar Āmolī be Tafsīr-e 'Irfānī-ye Najm al-Dīn Rāzī", hlm. 64.
  47. Khorramsyahi, Danesy-nameh Qur'an va Qur'an-pajouhi (Ensiklopedia Al-Qur'an dan Studi Al-Qur'an), 1377 HS, jld. 1, hlm. 752; Muwahhidi, hlm. 63.
  48. Khorramsyahi, jld. 1, hlm. 752.
  49. Syayanfar, "Mabānī, Qawā'id wa Ravesy-hā-ye Tafsīrī-ye Feyz-e Kāsyānī", Situs Rasekhoon.
  50. Khari Arani dan Abdullāhzādeh Arani, "Barresī-ye Tathbīqī-ye Ta'wīl dar Tafsīr al-Sāfī wa Tafsīr al-Qur'ān al-'Adzīm", hlm. 31.
  51. Khari Arani dan Abdullāhzādeh Arani, hlm. 31.
  52. Khari Arani dan Abdullāhzādeh Arani, hlm. 32.
  53. Khari Arani dan Abdullāhzādeh Arani, hlm. 35.
  54. Ayazi, "Feyz-e Kāsyānī wa Mabānī wa Ravesy-hā-ye Tafsīrī-ye Ō", hlm. 54; Khari Arani dan Abdullāhzādeh Arani, hlm. 43.
  55. Fahimittabar, Tafsir-e Safi va Zamineh-ha-ye Ejtehad dar An, 1387 HS, hlm. 73.
  56. Dehqan Mangabadi, "Sabk wa Sīveh-ye Sadrolmote'allehīn dar Tafsīr-e Qur'ān", hlm. 6 dan 16.
  57. Dehqan Mangabadi, hlm. 17.
  58. Gharawi Na'ini dan Mir-ahmadi Solukroni, "Ravesy-e Sadrolmote'allehīn dar Tafsīr-e Qur'ān-e Karīm", hlm. 5.
  59. Dehqan Mangabadi, hlm. 12-13.
  60. Dehqan Mangabadi, hlm. 10.
  61. Gharawi Na'ini dan Mir-ahmadi Solukroni, hlm. 5.
  62. Dehqan Mangabadi, hlm. 10.
  63. Dehqan Mangabadi, hlm. 10.
  64. Dehqan Mangabadi, hlm. 8.
  65. Muthahhari, Asynayi ba Ulum-e Eslami (Mengenal Ilmu-ilmu Islam), 1381 HS, hlm. 192-193.
  66. Asadi Nasab, "Masyrū'iyyat wa Dharūrat-e Tafsīr-e 'Irfānī", hlm. 95.
  67. Thusi, Al-Luma', 1380 H, hlm. 105-106; Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun fi Tsaubih al-Qasyib, 1418 H, jld. 1, hlm. 24 dan 28.
  68. Ma'rifat, Al-Tafsir wa al-Mufassirun fi Tsaubih al-Qasyib, 1418 H, jld. 3, hlm. 333-337.
  69. Zarrinkoub, Sarnay, 1394 HS, jld. 2, hlm. 349.
  70. Mazra'i, "Barresī-ye Enteqādī-ye Dīdgāh-e Āyatullah Ma'rifat Pīrāmūn-e Tafsīr-e 'Irfānī", hlm. 245.

Daftar Pustaka

  • Al-Zarqani, Muhammad Abdul Azhim. Manahil al-'Irfan fi 'Ulum al-Qur'an. Editor: Ahmad Syamsuddin. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1416 H.
  • Alawi, Sayid Muhammad. "Jaryān-syenāsī-ye Tafsīr-e 'Irfānī dar Andalus" (Aliran Tafsir Irfani di Andalusia). Jurnal Nasim-e Kotsar, No. 11, Th. 3, musim dingin 1402 HS.
  • Amuli, Sayid Haidar. Tafsir al-Muhith al-A'dzam. Teheran, Organisasi Percetakan dan Penerbitan Kementerian Bimbingan Islam, 1422 H.
  • Asadi Nasab, Mohammad Ali. "Masyrū'iyyat wa Dharūrat-e Tafsīr-e 'Irfānī" (Legitimasi dan Urgensi Tafsir Irfani). Jurnal Th. ke-26, No. 102, musim dingin 1400 HS.
  • Atasy, Sulaiman. Maktab-e Tafsīr-e Isyārī (Mazhab Tafsir Isyari). Terj. Ja'far Subhani. Teheran, Nasyr-e Danesygahi, 1381 HS.
  • Ayazi, Sayid Mohammad Ali. Syinakht-nameh Tafasir (Buku Pengenalan Tafsir). Kitab-e Mobin, 1378 HS.
  • Ayazi, Sayid Mohammad Ali. "Feyz-e Kāsyānī wa Mabānī wa Ravesy-hā-ye Tafsīrī-ye Ō" (Faidh Kasyani dan Dasar-dasar serta Metode Tafsirnya). Jurnal Rahnamun, No. 23 & 24, 1386 HS.
  • Dehqan Mangabadi, Baman-ali. "Sabk wa Sīveh-ye Sadrolmote'allehīn dar Tafsīr-e Qur'ān" (Gaya dan Cara Mulla Sadra dalam Menafsirkan Al-Qur'an). Jurnal Pajouhesy-ha-ye Falsafi Kalami, No. 5 & 6, musim gugur dan dingin 1379 HS.
  • Fahimittabar, Hamidreza. Tafsir-e Safi va Zamineh-ha-ye Ejtehad dar An (Tafsir Safi dan Latar Belakang Ijtihad di Dalamnya). Jurnal Pajouhesy-nameh Kasyan, No. 4 & 5, musim gugur dan dingin 1387 HS.
  • Gharawi Na'ini, Nahleh; Mir-ahmadi Solukroni, Abdullah. "Ravesy-e Sadrolmote'allehīn dar Tafsīr-e Qur'ān-e Karīm". Jurnal Tahqiqat-e Ulum-e Qur'an va Hadits, No. 17, 1391 HS.
  • Gorjian Arabi dan Jafarian. "Tahlīl-e Ravesy-syenākhtī-ye Tafsīr-e 'Irfānī wa Mabānī-ye Ān az Manzar-e...".
  • Hoseini Mir-safi, Sayidah Fatimah. "Āsīb-syenāsī-ye Mabnāyī, Ravesy-syenākhtī wa Ghāyī-ye Tafsīr-e 'Irfānī-ye Qur'ān-e Karīm" (Patologi Fondasi, Metodologi, dan Teleologi Tafsir Irfani Al-Qur'an al-Karim). Jurnal Irfan-e Eslami, Periode 20, No. 75, Farvardin 1402 HS.
  • Hoseinzadeh dan Syarifi. "Gūneh-syenāsī-ye Tafāsīr-e 'Irfānī wa Tahlīl-e Ānhā" (Tipologi Tafsir-tafsir Irfani dan Analisisnya).
  • Ibnu Arabi, Muhyiddin. Al-Futuhat al-Makkiyyah. Qom, Muassasah Alu al-Bait as, tanpa tahun.
  • Jabri, Susan. "Chālesy-hā-ye Matnī dar Bakhsy-e Tafsīr-e 'Irfānī-ye Kasf al-Asrār wa 'Uddat al-Abrār". Jurnal Pajouhesy-ha-ye Adabi, No. 45, musim gugur 1393 HS.
  • Kasyani, Abdurrazaq. Ta'wilat al-Qur'an. Teheran, Naser Khusru, 1978 M.
  • Khomeini, Ruhullah. Kasyf al-Asrar. 1378 HS.
  • Khorramsyahi, Bahauddin. Danesy-nameh Qur'an va Qur'an-pajouhi. Teheran, Penerbit Dustan - Nahid, 1377 HS.
  • Ma'rifat, Mohammad Hadi. Al-Tafsir wa al-Mufassirun fi Tsaubih al-Qasyib. Masyhad, Al-Jami'ah al-Radhawiyyah lil Ulum al-Islamiyyah, 1418 H.
  • Mazra'i, Rasul. "Ta'wīl wa Tafsīr-e 'Irfānī dar Negāh-e Andīsyemandān-e Sadeh-ye Akhīr-e Hauzah-ye 'Ilmiyyeh-ye Qom". Jurnal Anwar-e Ma'rifat, No. 22, 1401 HS.
  • Mazra'i, Rasul. "Barresī-ye Enteqādī-ye Dīdgāh-e Āyatullah Ma'rifat Pīrāmūn-e Tafsīr-e 'Irfānī". Jurnal Amouzesy-ha-ye Qur'ani Danesy-gah Ulum-e Eslami-ye Razavi, No. 33, musim semi dan panas 1400 HS.
  • Miri. "Darāmadī bar Gerāyesy-e Tafsīr-e 'Irfānī".
  • Muthahhari, Murtadha. Asynayi ba Ulum-e Eslami. Teheran, Sadra, 1381 HS.
  • Muwahhidi, Mohammad Reza. "Negāh-e Sayyid Haydar Āmolī be Tafsīr-e 'Irfānī-ye Najm al-Dīn Rāzī". Jurnal Spesialis Fakultas Sastra dan Ilmu Manusia Universitas Qom, No. 1, musim gugur 1385 HS.
  • Qasempour. "Tafsīr-e 'Irfānī".
  • Rudgar, Mohammad Javad. "Mabānī wa Marāhel-e Tafsīr-e 'Irfānī-ye Qur'ān-e Karīm (ba Rūykardī be Ārā-ye 'Allāmeh Javādī Āmolī)". Jurnal Pajouhesy-nameh Irfan, Th. 15, musim gugur 1389 HS.
  • Syahrokhi, Mahmoud. "Negāhī be Tafsīr-e Kasf al-Asrār wa 'Uddat al-Abrār". Jurnal Waqf-e Miras-e Javidan, No. 4, musim dingin 1372 HS.
  • Syayanfar, Syahnaz. "Mabānī, Qawā'id wa Ravesy-hā-ye Tafsīrī-ye Feyz-e Kāsyānī". Situs Rasekhoon.
  • Thusi, Abu Nashr al-Sarraj. Al-Luma'. Editor: Abdul Halim, Taha Abdul Baqi. Mesir, Dar al-Kutub al-Haditsah, 1380 H.
  • Zarkasyi, Badruddin. Al-Burhan fi 'Ulum al-Qur'an. Editor: Jamal Hamdi Dzahabi. Beirut, 1410 H/1389 HS.
  • Zarrinkoub, Abdolhosein. Sarnay. Teheran, 1394 HS.