Konsep:Tafsir Ilmiah
Tafsir Ilmiah, merupakan salah satu pendekatan dalam tafsir Al-Qur'an di mana ayat-ayat ditafsirkan dengan menggunakan temuan-temuan ilmu pengetahuan empiris. Kecenderungan tafsir ini memiliki sejarah panjang di kalangan Muslim dan pada abad ke-14 Hijriah, mendapat perhatian khusus karena respons terhadap tantangan konflik antara sains dan agama serta upaya untuk membuktikan aspek-aspek i'jaz ilmi Al-Qur'an.
Perjalanan sejarah tafsir ilmiah Al-Qur'an telah melalui tiga tahap; periode pertama dimulai dari akhir abad pertama hingga ke-5 Hijriah, dan Ibnu Sina pada abad ke-5 Hijriah berusaha menyelaraskan ayat-ayat Al-Qur'an dengan sistem Ptolemaik. Pada abad ke-6, Al-Ghazali mempengaruhi pembentukan periode kedua tafsir ini. Periode ketiga juga dimulai dengan munculnya mazhab empirisme di Eropa abad ke-18 Masehi.
Para ulama Syiah dan Ahlusunah memiliki tiga pandangan mengenai cakupan Al-Qur'an terhadap ilmu-ilmu lain; satu kelompok meyakini bahwa semua ilmu terdapat dalam Al-Qur'an, sebagian lainnya menganggap Al-Qur'an hanya sebagai kitab petunjuk, dan kelompok ketiga, dengan membedakan antara berbagai ilmu, memberikan pendapat secara terperinci. Kitab-kitab tafsir seperti Al-Islam wa al-Hai'ah, karya Sayid Hibatuddin Syahristani, Partuwi az Al-Qur'an, tulisan Sayid Mahmud Thaliqani, dari ulama Syiah, serta Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur'an karya Thanthawi Jauhari, seorang ulama Ahlusunah, adalah beberapa kitab yang disusun dengan kecenderungan tafsir ilmiah.
Pemahaman Konsep dan Kedudukan
Tafsir ilmiah adalah penjelasan makna ayat-ayat Al-Qur'an dengan menggunakan temuan-temuan ilmu pengetahuan empiris, namun menurut Muhammad Ali Rezai Isfahani, seorang peneliti Ulumul Quran, tafsir ilmiah Al-Qur'an memiliki definisi yang beragam dan setiap mufasir mendefinisikannya sesuai dengan metode mereka sendiri.[1] Yang dimaksud dengan "ilmu" dalam istilah "tafsir ilmiah" adalah ilmu-ilmu empiris.[2]
Banyak ayat dalam Al-Qur'an yang terkenal sebagai ayat-ayat ilmiah, di mana jumlah ayat-ayat ini disebutkan hingga 750 ayat.[3] Tafsir ilmiah sebagai salah satu kecenderungan tafsir Al-Qur'an memiliki sejarah yang panjang di kalangan Muslim; meskipun beberapa orang menyandarkan latar belakang kecenderungan ini kepada abad kedua Hijriah, namun dikatakan bahwa berdasarkan dokumen tertulis, contoh-contohnya dapat dilihat pada abad keempat Hijriah.[4]
Pada abad keempat belas Syamsiah, perhatian masyarakat Islam, khususnya di Mesir, Iran, dan India, terhadap metode tafsir ini meningkat[5] dan selain para mufasir Al-Qur'an, para ahli ilmu empiris juga terlibat dalam metode tafsir ini.[6] Umat Islam, dalam menghadapi arus konflik antara sains dan agama yang berasal dari Eropa, berusaha menunjukkan bahwa Islam tidak hanya tidak bertentangan dengan sains, tetapi bahkan mendukungnya.[7]
Dikatakan bahwa arus ini di Barat, khususnya karena ketidakmampuan Alkitab umat Kristen dalam menjawab temuan-temuan ilmiah, terbentuk dan secara bertahap memasuki dunia Islam; dan karena itulah para ilmuwan Muslim berusaha membuktikan keselarasan Islam dengan ilmu pengetahuan kontemporer dengan mencocokkan zahir ayat-ayat dan riwayat dengan ilmu-ilmu empiris. Beberapa peneliti juga menyatakan bahwa puncak popularitas tafsir ilmiah di kalangan Syiah dan Ahlusunah disebabkan oleh upaya untuk membuktikan i'jaz ilmi Al-Qur'an.[8] Muhammad Hadi Ma'rifat, seorang ahli ilmu Al-Qur'an, menganggap i'jaz ilmi Al-Qur'an sebagai salah satu dimensi mukjizat dan termasuk dalam bagian tantangan-nya.[9]
Periode-Perode Tafsir Ilmiah
Disebutkan bahwa tafsir ilmiah Al-Qur'an telah melalui tiga periode sejarah; periode pertama dari akhir abad pertama hingga kelima Hijriah dimulai dengan penerjemahan karya-karya Yunani ke bahasa Arab dan futuhat (ekspansi) Islam, serta para ilmuwan seperti Ibnu Sina pada periode ini berusaha mencocokkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan model Ptolemaik.[10]
Berdasarkan hal tersebut, periode kedua terbentuk mulai abad ke-6 Hijriah; yaitu ketika Abu Hamid Al-Ghazali (W. 505 H)[11] dan sekelompok ilmuwan meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan terdapat dalam Al-Qur'an dan dapat digali dari ayat-ayatnya. Kedua pendekatan ini berlangsung selama berabad-abad.[12] Abu al-Futuh al-Razi (W. 556 H) dianggap sebagai mufasir Syiah pertama yang melakukan tafsir ilmiah Al-Qur'an.[13] Pada periode ini, Mulla Shadra (W. 1050 H) juga menyebutkan kecenderungan tafsir ini dalam sebagian bukunya Tafsir al-Qur'an al-'Azim.[14]
Periode ketiga kecenderungan terhadap tafsir ilmiah Al-Qur'an dianalisis sebagai hasil dari meluasnya pemikiran empirisisme di Eropa dan berkembangnya ilmu pengetahuan empiris di Barat pada abad ke-18 Masehi.[15] Pada periode ini, umat Islam berusaha menunjukkan bahwa tidak ada pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dengan memanfaatkan temuan-temuan ilmiah, mereka membuktikan i'jaz (mukjizat) ilmiah Al-Qur'an dan menggunakan ilmu pengetahuan empiris untuk memahami Al-Qur'an dengan lebih baik.[16]
Pandangan-Pandangan tentang Tafsir Ilmiah
Menurut beberapa peneliti, dengan memperhatikan pertanyaan "Apakah semua ilmu manusia terdapat dalam Al-Qur'an?", muncullah beberapa pandangan mengenai tafsir ilmiah;
Pandangan Pertama: Pihak yang Setuju
Sebagian kelompok meyakini bahwa semua ilmu manusia terdapat dalam Al-Qur'an. Menurut Rezai Isfahani, untuk pertama kalinya Abu Hamid Al-Ghazali, seorang ulama Ahlusunah pada abad ke-5 Hijriah, mengemukakan pendapat ini dalam "Ihya' Ulum al-Din" dan "Jawahir al-Qur'an".[17] Di antara ulama Syiah, dapat disebutkan Ibnu Sina (W. 428 H), Syekh Thusi, Abu al-Futuh al-Razi, Allamah Majlisi (W. 1111 H), Mulla Shadra, Faidh al-Kasyani (W. 1091 H), Sayid Hibatuddin Al-Syahrastani (W. 1386 H), serta Sayid Mahmud Thaliqani (W. 1358 HS), Muhammad Taqi Syari'ati (W. 1366 HS), dan Mahdi Bazargan (W. 1373 HS). Dari kalangan ulama Ahlusunah, Fakhrurazi (W. 606 H) dan Thanthawi Jauhari (L. 1862 M) adalah para penerus tafsir ilmiah.[18]
Beberapa alasan kelompok ini adalah sebagai berikut:
- Zhahir (makna lahiriah) beberapa ayat menunjukkan bahwa segala sesuatu terdapat dalam Al-Qur'an. Seperti ayat 89 Surah An-Nahl, نزلنا علیک الکتاب تبیانا لکل شیء yang artinya "Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu."
- Ayat-ayat yang menyinggung berbagai ilmu pengetahuan; sebagai contoh, Surah Al-Anbiya' ayat 47, وکفی بنا حاسبین menyinggung ilmu matematika.[19]
Pandangan Kedua: Pihak yang Menentang
Pihak yang menentang tafsir ilmiah menganggap Al-Qur'an hanya sebagai kitab petunjuk dan agama, serta meyakini bahwa Al-Qur'an tidak diturunkan untuk menjelaskan masalah-masalah empiris. Disebutkan bahwa pandangan ini tercantum dalam tulisan-tulisan Fadhl bin Hasan al-Thabrisi (W. 548 H) dari kalangan ulama Syiah dan Abu Ishaq al-Syathibi (W. 790 H), seorang fakih Maliki, yang merupakan penentang pertama terhadap teori Al-Ghazali dan lainnya.[20] Syekh Mahmud Syaltut (W. 1964 M), Muhammad Husain al-Dzahabi (W. 1397 H), dan Amin al-Khuli adalah di antara penentang tafsir ilmiah Al-Qur'an dari kalangan Ahlusunah.[21]
Beberapa alasan pandangan ini adalah sebagai berikut:
- Yang dimaksud dengan "kitab" dalam ayat 89 Surah An-Nahl yang menyatakan "segala sesuatu ada di dalamnya" adalah Lauhulmahfuz, dan dalam Al-Qur'an tidak terdapat semua ilmu rasional dan naqli.
- Menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan ilmu-ilmu seperti astronomi (hai'ah), perbintangan (nujum), ilmu alam (thabi'i), dan lainnya adalah merupakan pemaksaan dan sangat sulit diterima. Dimana hal ini tidak diketahui oleh bangsa Arab ummi (buta huruf) yang menjadi objek turunnya Al-Qur'an.[22]

Pandangan Ketiga: Pihak yang Membedakan (Tafshil)
Menurut keyakinan kelompok ini, Al-Qur'an adalah kitab petunjuk dan juga di dalamnya terdapat ayat-ayat tentang hal-hal ilmiah.[23] Di antara ulama Syiah, Allamah Thabathaba'i (W. 1360 HS),[24] Nashir Makarim Syirazi (L. 1305 HS),[25] Muhammad Taqi Misbah Yazdi (W. 1399 HS),[26] Muhammad Hadi Ma'rifat (W. 1385 HS), dan Ja'far Subhani (L. 1308 HS) adalah para pendukung pandangan ini. Di sisi lain, Zamakhsyari (W. 538 H),[27] Sayid Quthub (W. 1906 M), Rasyid Ridha (W. 1935 M)[28] dan Muhammad Musthafa al-Maraghi (W. 1945 M) adalah di antara para pendukung pandangan ini dari kalangan Ahlusunah.[29]
Beberapa alasan kelompok ini adalah sebagai berikut:
- Al-Qur'an adalah kitab petunjuk, akhlak, dan tarbiyah, untuk membimbing manusia menuju keutamaan dan pengenalan terhadap Tuhan (ma'rifatullah), dan oleh karena itu tidak perlu semua masalah ilmu eksperimental dijelaskan secara terperinci di dalamnya.
- Zhahir ayat-ayat yang menunjukkan bahwa segala sesuatu ada dalam Al-Qur'an tidak dapat dijadikan dalil; karena di satu sisi, beberapa mufasir secara tegas menolak makna zhahir untuk ayat-ayat tersebut dan hanya menganggapnya terkait dengan petunjuk bagi manusia, dan di sisi lain, pandangan ini bertentangan dengan hal-hal yang bersifat badihi (jelas sendiri), seperti banyak rumus fisika dan kimia yang tidak ditemukan dalam Al-Qur'an.
- Tujuan ayat-ayat yang menyinggung ilmu-ilmu alam bukanlah untuk mengungkap rumus geometri atau kimia; melainkan singgungan ini bersifat sampingan dan untuk menyebutkan contoh, bukan tujuan pengajaran.[30]
Metode-Metode
Tafsir ilmiah memiliki pembagian dan metode-metode yang dijelaskan sebagai berikut:[31]
Menyimpulkan Semua Ilmu dari Al-Qur'an
Dalam metode menyimpulkan ilmu-ilmu dari Al-Qur'an, beberapa mufasir berusaha untuk menyimpulkan seluruh ilmu dari zhahir ayat-ayat Al-Qur'an.[32] Keyakinan kelompok ini, seperti Al-Ghazali dan Ibn Abi al-Fadhl al-Marsi (W. 655 H),[33] didasarkan pada prinsip bahwa segala sesuatu ada dalam Al-Qur'an. Sebagai contoh, dari ayat 80 Surah Asy-Syu'ara', وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ یَشْفِینِ ("Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku"), mereka menyimpulkan ayat tersebut dengan ilmu kedokteran.[34] Menurut para peneliti ilmu-ilmu Al-Qur'an, dalam metode ini, para mufasir melakukan penakwilan (ta'wil) terhadap ayat-ayat.[35]
Menyesuaikan Teori-teori Ilmiah dengan Al-Qur'an
Pendekatan penyesuaian (tathbiq), yang populer pada abad ke-20 Masehi di negara-negara seperti Mesir dan Iran, berusaha untuk menyelaraskan teori-teori dan penemuan-penemuan ilmiah yang telah terbukti dari ilmu-ilmu eksperimental dengan zhahir ayat-ayat Al-Qur'an. Namun, pendekatan ini oleh sebagian peneliti disebut sebagai "pemaksaan" (tahmil), bukan sekadar "penyesuaian" (tathbiq).[36] Abdul Razzaq Naufal (W. 1984 M) adalah salah satu mufasir semacam ini yang dalam ayat 189 Surah Al-A'raf (هُوَ الَّذِی خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا; "Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan darinya Dia menciptakan pasangannya (Hawa)"), menafsirkan kata "nafs" sebagai "proton" dan "zauj" sebagai elektron, dan mengklaim bahwa Al-Qur'an merujuk pada penciptaan manusia dari partikel positif dan negatif atom.[37] Menurut Allamah Thabathaba'i, metode ini tidak dapat disebut sebagai "tafsir", melainkan adalah penyesuaian (tathbiq) dan merupakan hal yang tidak baik.[38]
Penggunaan Ilmu Pengetahuan untuk Memahami Al-Qur'an
Dalam metode penggunaan ilmu pengetahuan (sains), beberapa mufasir berusaha memberikan pemahaman yang lebih baik tentang ayat-ayat Al-Qur'an dengan memanfaatkan berbagai ilmu pengetahuan. Dalam metode ini, ilmu pengetahuan digunakan untuk menjelaskan, mengungkap makna, dan memahami ayat-ayat dengan lebih baik.[39] Sebagai contoh, hukum umum keberpasangan (zawjiyyah) pada tumbuhan ditemukan pada abad ke-17 Masehi; sementara Al-Qur'an sekitar seribu tahun sebelumnya dalam ayat 36 Surah Yasin (سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ; "Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui") telah menyinggung masalah ini.[40]
Disebutkan bahwa metode ini dianggap sebagai metode terbaik dan satu-satunya metode yang benar untuk tafsir ilmiah, dan juga disebut sebagai tafsir moderat (i'tidali).[41] Dalam metode ini, seorang mufasir harus menghindari segala bentuk takwil yang tidak tepat dan penafsiran berdasarkan pendapat pribadi (tafsir bi al-ra'yi) dan hanya berbicara tentang makna yang mungkin (muhtamal) dari Al-Qur'an; karena ilmu-ilmu eksperimental bersifat zhanni (dugaan) dan tidak pasti.[42] Juga dikatakan bahwa dengan menggunakan metode ini, kemukjizatan ilmiah Al-Qur'an (i'jaz ilmi) juga terbukti.[43]

Contoh-contoh Tafsir Ilmiah
Berbagai tafsir telah ditulis dengan pendekatan tafsir ilmiah. Beberapa buku yang disusun sepenuhnya dengan kecenderungan ilmiah adalah sebagai berikut:
- Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur'an, karya Thanthawi Jauhari, seorang ulama Ahlusunah dari Tunisia
- Al-Qur'an huwa al-Huda wa al-Furqan, karya Sir Sayid Ahmad Khan (W. 1898 M), seorang intelektual India.[44]
Beberapa buku lain yang ditulis sebagai monografi dalam bidang ilmu-ilmu tafsir yang berbeda, atau menyelipkan masalah-masalah ilmiah di dalam tafsir-tafsir mereka, antara lain:
- Tafsir Nemuneh karya Nashir Makarim Syirazi yang memuat paling banyak masalah tafsir ilmiah
- Al-Qur'an wa al-'Ilm al-Hadits, karya Abdul Rahman Nawfal, orang Mesir
- Al-Islam wa al-Hai'ah karya Sayid Hibatuddin al-Syahristani, sebuah monografi tentang ayat-ayat astronomi
- Partui az Qur'an (Percikan Cahaya Al-Qur'an) karya Sayid Mahmud Thaleghani
- Tafsir Nuvin (Tafsir Modern) karya Muhammad Taqi Syari'ati
- Bad wa Baran dar Qur'an (Angin dan Hujan dalam Al-Qur'an) karya Mahdi Bazargan.[45]
Monografi
Tentang tafsir ilmiah Al-Qur'an, banyak buku yang telah ditulis, di antaranya:
- Daramadi bar Tafsir-e 'Ilmi-ye Qur'an-e Karim, karya Muhammad Ali Rezai Esfahani, diterbitkan oleh Penerbit Osveh pada tahun 1375 HS. Buku ini adalah sebuah karya tentang tafsir ilmiah Al-Qur'an, serta kriteria, alasan-alasan pihak yang setuju dan menentang kecenderungan tafsir ini.[46]
- Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an, karya lain dari Muhammad Ali Rezai Esfahani yang diterbitkan oleh Penerbit Kitabin Mubin pada tahun 1383 HS. Penulis dalam buku ini, setelah menyampaikan pengantar tentang tafsir ilmiah Al-Qur'an, membahas secara khusus tentang hal-hal dan contoh-contoh ilmu eksperimental yang sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur'an.[47]
- Sair Tadwin wa Tathawwur Tafsir Ilmi Qur'an, karya Nashir Rafiei, diterbitkan pada tahun 1386 HS oleh Markaz Jahani Ulum Islami (Pusat Global Ilmu-Ilmu Islam). Penulis dalam buku ini membahas sejarah tafsir ilmiah dan mufasir-mufasir ilmiah dari kalangan Syiah dan Sunni, serta mengkaji alasan-alasan pihak yang setuju dan menentang metode ini.[48]
Topik Terkait
Catatan Kaki
- ↑ Rezai Isfahani, Daramadi bar Tafsir-e 'Ilmi-ye Qur'an-e Karim, 1375 HS, hlm.274.
- ↑ Muaddab, Mabani Tafsir-e Qur'an, Qom, Universitas Qom, 1386 HS, hlm.244; Rafi'i Muhammadi dan Rezai Isfahani, Asyena-i ba Tafsir-e 'Ilmi-ye Qur'an, 1381 HS, hlm.8.
- ↑ Mazhahiri dan Bahrami, Sayr-e Tatawwur-e Tafsir-e 'Ilmi-e Qur'an-e Karim dar Bastar-e Tarikh, hlm.105.
- ↑ Rezai Isfahani, Daramadi bar Tafsir-e 'Ilmi-ye Qur'an-e Karim, 1375 HS, hlm.289.
- ↑ Rezai Isfahani, Pazhuhesyi dar I'jaz-e 'Ilmi-ye Qur'an, 1383 HS, jil.1, hlm.28.
- ↑ Rezai Isfahani, Daramadi bar Tafsir-e 'Ilmi-ye Qur'an-e Karim, 1375 HS, hlm.289.
- ↑ Rezai Isfahani, Pazhuhesyi dar I'jaz-e 'Ilmi-ye Qur'an, 1383 HS, jil.1, hlm.28.
- ↑ Rezai Isfahani, Daramadi bar Tafsir-e 'Ilmi-ye Qur'an-e Karim, 1375 HS, hlm.282-286.
- ↑ Rezai Isfahani, I'jaz-e 'Ilmi-e Qur'an, hlm.575.
- ↑ Mazahiri dan Bahrami, "Sair Tathawwur Tafsir Ilmi Qur'an Karim dar Bastar Tarikh", hlm. 105; Rezai Isfahani, "I'jaz Ilmi Al-Qur'an", hlm. 584.
- ↑ Mazahiri dan Bahrami, "Sair Tathawwur Tafsir Ilmi Qur'an Karim dar Bastar Tarikh", hlm. 105.
- ↑ Rezai Isfahani, Daramadi bar Tafsir-e 'Ilmi-ye Qur'an-e Karim, 1375 H, hlm. 22.
- ↑ Rezai Isfahani, Tafsir Ilmi Qur'an az Didgah Mufasiran Syi'ah, hlm. 158-160.
- ↑ Rafi'i Muhammadi, "Sair Tadwin wa Tathawwur Tafsir Ilmi Qur'an al-Karim", hlm. 38.
- ↑ Rezai Isfahani, "I'jaz Ilmi Al-Qur'an", hlm. 585-586; Rezai Isfahani, Daramadi bar Tafsir-e 'Ilmi-ye Qur'an-e Karim, 1375 H, hlm. 22.
- ↑ Mazahiri dan Bahrami, "Sair Tathawwur Tafsir Ilmi Qur'an Karim dar Bastar Tarikh", hlm. 105; Rezai Isfahani, Daramadi bar Tafsir-e 'Ilmi-ye Qur'an-e Karim, 1375 H, hlm. 22-23.
- ↑ Rezai Isfahani, Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an, 1383 H, jilid 1, hlm. 35.
- ↑ Rezai Isfahani, Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an, 1383 H, jilid 1, hlm. 36; Rezai Isfahani, Tafsir Ilmi Qur'an az Didgah Mufasiran Syi'ah, hlm. 158-160; Rezai Isfahani, I'jaz-e Ilmi-ye Qur'an, hlm. 587-591; Rafi'i Muhammadi, Sair Tadwin wa Tathawwur Tafsir Ilmi Qur'an, 1386 H, hlm. 101-121 dan 138 dan 187 dan 273-286.
- ↑ Qasimi, I'jaz Tafsir Ilmiah Al-Qur'an al-Karim, hlm. 97.
- ↑ Qasimi, I'jaz Tafsir Ilmiah Al-Qur'an al-Karim, hlm. 98.
- ↑ Rezai Isfahani, I'jaz-e Ilmi-ye Qur'an, hlm. 593-595.
- ↑ Rafi'i Muhammadi, Sair Tadwin wa Tathawwur Tafsir Ilmi Qur'an, 1386 H, hlm. 320.
- ↑ Qasimi, I'jaz Tafsir Ilmiah Al-Qur'an al-Karim, hlm. 98.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jilid 12, hlm. 324.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jilid 11, hlm. 361-362.
- ↑ Misbah Yazdi, Ma'arif Al-Qur'an, 1368 HS, hlm. 228-229.
- ↑ Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jilid 2, hlm. 628; Rezai Esfahani, Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an, 1383 H, jilid 1, hlm. 38.
- ↑ Rasyid Ridha, Tafsir Al-Qur'an al-Hakim, 1414 H, jilid 7, hlm. 394-395.
- ↑ Rezai Esfahani, "I'jaz Ilmi Al-Qur'an", hlm. 595-600.
- ↑ Rezai Esfahani, Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an, 1383 H, jilid 1, hlm. 38-39.
- ↑ Rezai Esfahani, Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an, 1383 H, jilid 1, hlm. 46-47.
- ↑ Rafi'i Muhammadi dan Rezai Esfahani, Asyenai ba Tafsir-e Ilmi-ye Quran 1381 HS, hlm. 16.
- ↑ Rezai Esfahani, Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an, 1383 H, jilid 1, hlm. 47.
- ↑ Rezai Esfahani, Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an, 1383 H, jilid 1, hlm. 47.
- ↑ Rezai Esfahani, Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an, 1383 H, jilid 1, hlm. 47.
- ↑ Rafi'i Muhammadi dan Rezai Esfahani, Asyenai ba Tafsir-e Ilmi-ye Quran 1381 HS, hlm. 17.
- ↑ Naufal, Al-Qur'an wa al-'Ilm al-Hadits, 1404 H, hlm. 156-157.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1352 HS, jilid 1, hlm. 6-9.
- ↑ Rafi'i Muhammadi dan Rezai Esfahani, Asyenai ba Tafsir-e Ilmi-ye Quran 1381 HS, hlm. 18.
- ↑ Rezai Esfahani, Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an, 1383 H, jilid 1, hlm. 48-49.
- ↑ Rafi'i Muhammadi dan Rezai Esfahani, Asyenai ba Tafsir-e Ilmi-ye Quran 1381 HS, hlm. 15.
- ↑ Rezai Esfahani, Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an, 1383 H, jilid 1, hlm. 48.
- ↑ Rezai Esfahani, Daramadi bar Tafsir-e 'Ilmi-ye Qur'an-e Karim, 1375 HS, hlm. 105-106.
- ↑ Alawi Mehr dan Tim Peneliti, Naqsy-e Syi'ah dar Tafsir wa Ulum Qur'ani, 1397 HS, hlm. 245.
- ↑ Rezai Esfahani, Tafsir Ilmi Qur'an az Didgah Mufasiran Syi'ah, hlm. 157; Rezai, Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an (1) , hlm. 33-34.
- ↑ Rezai Esfahani, Daramadi bar Tafsir-e 'Ilmi-ye Qur'an-e Karim, 1375 HS, hlm. 4.
- ↑ Rezai Esfahani, Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an, 1383 H, jilid 1, hlm. 4-14.
- ↑ Rafi'i Muhammadi, Sair Tadwin wa Tathawwur Tafsir Ilmi Qur'an, 1386 HS, hlm. 4-13.
Daftar Pustaka
- Alawi Mehr, Husain, wa Jami'i az Muhaqqiqin (dan Tim Peneliti). Naqsy-e Syi'ah dar Tafsir wa Ulum Qur'ani. Qom: Intisyarat Imam Ali bin Abi Thalib (as), 1397 HS.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1374 HS.
- Mazahiri, Muhammad Mahdi, wa Jamilah Bahrami. "Sair Tathawwur Tafsir Ilmi Qur'an Karim dar Bastar Tarikh". dalam Nasyriyah Nameh Ilahiyat, Nomor 8, Paiz 1388 HS.
- Misbah Yazdi, Muhammad Taqi. Ma'arif Qur'an. Qom: Mu'assasah Dar Rahe Haq, 1368 HS.
- Muaddib, Reza. Mabani Tafsir Qur'an. Qom: Danesygah Qom (Universitas Qom), 1386 HS.
- Naufal, Abdurrazzaq. Al-Qur'an wa al-Ilm al-Hadits. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1404 H/ 1984 M.
- Qasimi, Khadam-Ali. "I'jaz Tafsir Ilmi Qur'an Karim". dalam Majalah Ma'arif Islami wa Muthala'at Ijtima'i, Nomor 13, Bahar wa Tabistan 1401 HS.
- Rafi'i Muhammadi, Nashir, "Sair Tadwin wa Tathawwur Tafsir Ilmi Qur'an Karim", dalam Golestan Qur'an, Nomor 93, Azar 1380 HS.
- Rafi'i Muhammadi, Nashir, wa Muhammad Ali Rezai Esfahani. Asyena-i ba Tafsir Ilmi Qur'an. Hasan-Reza Rezai, Qom: Markaz Muthala'at wa Pazuhesy-ha-ye Farhangi Hauzah Ilmiyah Qom (Pusat Kajian dan Penelitian Budaya Hauzah Ilmiah Qom), 1381 HS.
- Rafi'i Muhammadi, Nashir. Sair Tadwin wa Tathawwur Tafsir Ilmi Qur'an. Qom: Markaz Jahani Ulum Islami (Pusat Global Ilmu-ilmu Islam), 1386 HS.
- Rasyid Ridha, Muhammad. Tafsir Al-Qur'an al-Hakim: Tafsir Al-Manar. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1414 H/ 1993 M.
- Rezai Esfahani, Muhammad Ali. "I'jaz Ilmi Qur'an". dalam Majalah Ma'rifat Qur'ani, Kongres Besar Ayatullah Ma'refat, Teheran: Pazuhesygah Farhang wa Andisyeh Islami, Cet. Pertama, 1387 HS.
- Rezai Esfahani, Muhammad Ali. Daramadi bar Tafsir Ilmi Qur'an Karim. Teheran: Uswah, Cet. Pertama, 1375 HS.
- Rezai Esfahani, Muhammad Ali. Mantiq Tafsir Qur'an. Qom: Markaz Bain al-Milali Tarjumah wa Nashr al-Musthafa (saw), 1393 HS/ 1436 H.
- Rezai Esfahani, Muhammad Ali. Pazhuhesyi dar I'jaz Ilmi Qur'an. Rasyt: Kitab-e Mubin, 1383 HS.
- Rezai Esfahani, Muhammad Ali. Tafsir Ilmi Qur'an az Didgah Mufasiran Syi'ah. dalam Majalah Syi'ah Syenasi, Nomor 26, Tabistan 1388 HS.
- Rezai, Muhammad Ali. 'Pazhuhesyi dar Tafsir Ilmi-ye Qur'an (1)". dalam Majalah Pazhuhesy Nameh Hikmat wa Falsafeh Islami, Nomor 1, Bahar 1381 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an. Beirut: Mu'assasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1352 HS/ 1393 H/ 1973 M.
- Zamakhsyari,. Al-Kasysyaf. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1407 H.