Konsep:Tafakhur
Templat:Navbox Akhlak-Vertikal Tafakhur atau Pamer Kemegahan bermakna membanggakan diri,[1] saling membanggakan satu sama lain,[2] atau memamerkan kelebihan diri kepada orang lain.[3] Dari pandangan para pakar etika (akhlak), tafakhur termasuk salah satu jenis kesombongan[4] dan alasan-alasan tercelanya takabur juga berlaku untuk tafakhur.[5]
Menurut para sastrawan Arab, dalam Al-Qur'an, "fakhr" bermakna membanggakan harta, jabatan,[6] dan pamer (riya).[7] Dalam ayat-ayat Al-Qur'an, perilaku pamer kemegahan ini dicela, dan orang yang menganggap dirinya lebih unggul dari orang lain disebut sebagai orang yang sombong (khayyal).[8] Al-Qur'anul Karim menyatakan bahwa orang-orang yang termasuk golongan penyabar dan beramal saleh terbebas dari sifat pamer kemegahan ini.[9] Selain itu, disebutkan beberapa dampak negatif dari tafakhur seperti terhalang dari kecintaan Allah,[10] kekufuran, hubbud-dunya, mengingkari nikmat, kebakhilan, takabur, perasaan bangga diri (ghurur), kebutaan hati,[11] dan kehancuran.[12] Dalam berbagai tafsir, membanggakan kekayaan,[13] membanggakan kesukuan,[14] jumlah populasi,[15] kebanggaan nenek moyang,[16] dan jumlah anak[17] disebutkan sebagai jenis-jenis pamer kemegahan.
Berdasarkan riwayat-riwayat Islam, tafakhur dikenal sebagai hama bagi agama[18] dan menyombongkan ilmu atau pengetahuan di hadapan orang lain adalah hal yang tercela serta menyebabkan azab.[19] Meskipun demikian, dalam beberapa kasus, tafakhur dalam riwayat dianggap terpuji. Sebagai contoh, Allah membanggakan di hadapan para malaikat-Nya orang-orang yang menjamu makan orang lain,[20] atau Nabi Muhammad saw pada hari Akhirat akan membanggakan (banyaknya) umat beliau.[21] Syekh Thusi dalam Al-Amali-nya menukilkan sebuah hadis bahwa Jibril pada malam Lailatul Mabit berada di atas kepala Imam Ali as dan memberinya kabar gembira bahwa Allah membanggakan beliau di hadapan para malaikat.[22] Dinukilkan pula dari Rasulullah saw bahwa kefakiran di Akhirat dianggap sebagai sebuah kebanggaan (fakhr).[23] Demikian pula Allah membanggakan orang-orang yang melakukan wukuf di Arafah pada hari Arafah.[24]
Menurut para peneliti, tafakhur biasanya bersumber dari perasaan rendah diri (inferiority complex) dalam diri seseorang.[25] Ketika seseorang membandingkan hidupnya dengan orang lain, untuk menutupi kekurangannya, ia berusaha memamerkan apa yang dimilikinya.[26] Dalam Al-Qur'an,[27] kebodohan (jahil) dan ujub (bangga diri) juga diperkenalkan sebagai faktor penyebab tafakhur.[28] Faktor-faktor lain seperti posisi sosial,[29] kurangnya rasa syukur atas nikmat Ilahi, kekuasaan dan kekayaan yang besar, Riya, Syirik, dan keduniawian dapat memicu timbulnya tafakhur.[30]
Dalam ayat-ayat dan riwayat, disebutkan beberapa cara untuk mengobati sifat tafakhur: berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga, ibnu sabil, dan hamba sahaya,[31] serta memiliki sifat rendah hati.[32]
Catatan Kaki
- ↑ Dehkhoda dkk, Loghatnameh, di bawah kata tafakhur kardan, jld. 5, hlm. 6839.
- ↑ Moin, Loghatnameh, 1386 HS, di bawah kata tafakhur, jld. 1, hlm. 468.
- ↑ Naraghi, Mi'raj al-Sa'adah, 1378 HS, hlm. 304.
- ↑ Naraghi, Mi'raj al-Sa'adah, 1378 HS, hlm. 304; Imam Khomeini, Arba'un Haditsan, 1380 HS, hlm. 107; Syubbar, Akhlaq, 1374 HS, hlm. 289.
- ↑ Naraghi, Mi'raj al-Sa'adah, 1378 HS, hlm. 304; Imam Khomeini, Arba'un Haditsan, 1380 HS, hlm. 107; Syubbar, Akhlaq, 1374 HS, hlm. 289.
- ↑ Raghib Isfahani, Mufradat Alfadz al-Qur'an, 1412 H, hlm. 627.
- ↑ Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, 1414 H, jld. 5, hlm. 49.
- ↑ Surah An-Nisa, ayat 36; Surah Luqman, ayat 18; Surah Al-Hadid, ayat 23.
- ↑ Hashemi Rafsanjani, Farhang-e Qur'an, 1385 HS, jld. 8, hlm. 251.
- ↑ Surah An-Nisa, ayat 36.
- ↑ Salimi, "Tafakhur; Ghalabeh-ye Takhyyolat-e Vahi", Situs Harian Kayhan.
- ↑ Balaghi, Hujjat al-Tafasir, 1386 HS, jld. 4, hlm. 154.
- ↑ Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Dar al-Fikr, jld. 20, hlm. 98.
- ↑ Makarem Syirazi, Bargozideh-ye Tafsir-e Nemuneh, 1382 HS, jld. 1, hlm. 183.
- ↑ Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, Penerbit Isma'iliyan, jld. 20, hlm. 350.
- ↑ Makarem Syirazi, Bargozideh-ye Tafsir-e Nemuneh, 1382 HS, jld. 1, hlm. 183.
- ↑ Allamah Thabathaba'i, Al-Mizan, Penerbit Isma'iliyan, jld. 20, hlm. 350.
- ↑ Syubbar, Akhlaq, 1374 HS, hlm. 341.
- ↑ Kulaini, Ushul al-Kafi, jld. 1, hlm. 47.
- ↑ Dailami, Irsyad al-Qulub, 1371 HS, jld. 1, hlm. 137.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1367 HS, jld. 5, hlm. 334.
- ↑ Thusi, Al-Amali, 1414 H, hlm. 469.
- ↑ Dailami, Irsyad al-Qulub, 1371 HS, jld. 1, hlm. 194.
- ↑ Nuri, Mustadrak al-Wasail, 1408 H, jld. 8, hlm. 36.
- ↑ Salimi, "Tafakhur; Ghalabeh-ye Takhyyolat-e Vahi", Situs Harian Kayhan.
- ↑ Salimi, "Tafakhur; Ghalabeh-ye Takhyyolat-e Vahi", Situs Harian Kayhan.
- ↑ Surah At-Takatsur, ayat 3-7.
- ↑ Hashemi Rafsanjani, Farhang-e Qur'an, 1385 HS, jld. 8, hlm. 249.
- ↑ Balaghi, Hujjat al-Tafasir, 1386 HS, jld. 4, hlm. 153.
- ↑ Hashemi Rafsanjani, Farhang-e Qur'an, 1385 HS, jld. 8, hlm. 247-249.
- ↑ Hashemi Rafsanjani, Farhang-e Qur'an, 1385 HS, jld. 8, hlm. 250.
- ↑ Syubbar, Akhlaq, 1374 HS, hlm. 167.
Daftar Pustaka
- Al-Salimi, Mohammad Reza. "Tafakhur; Ghalabeh-ye Takhyyolat-e Vahi" (Pamer Kemegahan; Dominasi Imajinasi Sia-sia). Situs Harian Kayhan. 30 Tir 1396 HS.
- Balaghi, Sayid Abdul Hujjah. Hujjat al-Tafasir wa Balagh al-Iksir. Qom, Penerbit Hikmat, cetakan pertama, 1386 HS.
- Dehkhoda, Ali Akbar. Loghatnameh. Teheran, Penerbit Universitas Teheran, cetakan pertama, 1373 HS.
- Dzailami, Hasan bin Muhammad. Irsyad al-Qulub. Qom, Penerbit Syarif Radhi, 1371 HS.
- Hashemi Rafsanjani, Ali Akbar dkk. Farhang-e Qur'an (Budaya Al-Qur'an). Qom, Penerbit Bustan-e Ketab, cetakan pertama, 1385 HS.
- Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-Arab. Beirut, Dar al-Fikr, cetakan ketiga, 1414 H.
- Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Syarh Arba'un Haditsan. Qom, Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, cetakan ke-24, 1380 HS.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Penerbit Islamiya, cetakan ketiga, 1367 HS.
- Makarem Syirazi, Naser dkk. Bargozideh-ye Tafsir-e Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan ke-13, 1382 HS.
- Maraghi, Ahmad Mushthafa. Tafsir al-Maraghi. Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
- Moin, Mohammad. Loghatnameh. Teheran, Adena, cetakan keempat, 1386 HS.
- Naraghi, Ahmad bin Muhammad Mahdi. Mi'raj al-Sa'adah. Qom, Penerbit Hijrat, 1378 HS.
- Nuri, Mirza Husain. Mustadrak al-Wasail. Beirut, Muassasah Alu al-Bait as, 1408 H.
- Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradat Alfadz al-Qur'an. Damaskus, Dar al-Qalam, cetakan pertama, 1412 H.
- Syubbar, Abdullah. Al-Akhlaq. Qom, Penerbit Hijrat, cetakan pertama, 1374 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Penerbit Isma'iliyan, cetakan kelima, 1371 HS.
- Thusi, Muhammad bin al-Hasan. Al-Amali. Qom, Dar al-Tsaqafah lil Thiba'ah, 1414 H.