Konsep:Sujud Malaikat kepada Adam

Sujud Malaikat kepada Adam adalah sebuah peristiwa yang disebutkan dalam berbagai ayat Al-Qur'an. Dalam peristiwa ini, Allah swt setelah penciptaan Adam, memerintahkan para malaikat atau menurut satu penafsiran seluruh makhluk untuk melakukan sujud kepada Adam. Di tengah peristiwa ini, Iblis menolak untuk mematuhi perintah tersebut dan menyebabkan dirinya terkena siksaan.
Sumber-sumber tafsir berbeda pendapat mengenai makna sujud, apakah bersifat nyata atau kiasan, apakah yang disujudi adalah pribadi Nabi Adam atau personifikasinya sebagai perwakilan dari seluruh manusia, serta alasan keutamaan Adam di atas malaikat yang menjadi penyebab perintah sujud tersebut. Di antara sumber tafsir, ada yang menganggap Adam sebagai kiblat dan ada yang mengklaim kebersamaan para malaikat dalam urusan sujud bersama Adam. Mayoritas sumber tafsir Syiah menganggap Adam sebagai objek sujud yang hakiki (bukan sebagai kiblat) dan sebagai perwakilan dari seluruh umat manusia, serta menganggap alasan keunggulan Adam adalah pengetahuannya tentang asma'ul husna (nama-nama Ilahi). Kebanyakan mufasir Syiah menganggap sujud malaikat kepada Adam adalah nyata dan menunjukkan ketundukan malaikat di hadapannya.
Di bawah ayat-ayat yang berkaitan dengan peristiwa ini, para mufasir menjelaskan pembahasan mengenai jenis Iblis dan alasan-alasan pembangkangannya terhadap perintah Ilahi. Di antara para sufi Muslim, beberapa tokoh seperti Bayazid Bastami dan Mansur al-Hallaj memuji Iblis karena penolakannya untuk bersujud kepada selain Allah.
Kedudukan dan Urgensi
Sujud kepada Adam termasuk ajaran khusus Al-Qur'an dan Islam dalam kisah penciptaan Adam yang tidak memiliki latar belakang dalam kitab-kitab agama sebelumnya.[1] Berdasarkan laporan Fathullah Mojtabai, peneliti agama dan mistisisme, hanya dalam beberapa kitab tidak resmi dan beberapa naskah Alkitab terdapat satu riwayat tentang perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam.[2] Perintah sujud malaikat kepada Adam dari sisi Allah, diulang dalam banyak ayat Al-Qur'an seperti ayat 34 Surah Al-Baqarah, ayat 61 Surah Al-Isra', ayat 116 Surah Thaha, ayat 50 Surah Al-Kahf, ayat 11 Surah Al-A'raf, dan ayat 72 Surah Shad.[3] Berdasarkan kisah ini, Allah setelah meniupkan ruh-Nya ke dalam Adam, memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya.[4]
Tantangan yang Muncul
Peristiwa sujud kepada Adam memicu diskusi seperti kebolehan sujud kepada selain Allah, alasan pembangkangan Iblis terhadap perintah ini, dan bahkan hakikat jati diri Iblis dalam kitab-kitab tafsir dan akidah umat Islam. Para mufasir Al-Qur'an mengemukakan pendapat berbeda mengenai "makna sujud", "sasaran perintah", dan apakah "maksud dari sujud kepada Adam" adalah sujud ke arah Adam atau hal lainnya.[5]
Dalam Riwayat
Banyak sumber Syiah mengenai hikmah dan filosofi sujud ini berkeyakinan bahwa keberadaan cahaya Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya dalam sulbi Adam menyebabkan keunggulannya atas makhluk lain dan dikeluarkannya perintah sujud dari sisi Allah.[6] Setelah perintah ini, Iblis menolak untuk bersujud kepada Adam yang menyebabkannya terusir dari hadirat Ilahi dan turun (hubut) ke bumi.[7] Berdasarkan ajaran Islam, setelah terusirnya Iblis, ia meminta kepada Allah umur panjang hingga hari Kiamat, namun ia diberi tangguh hingga waktu yang ditentukan. Ia bersumpah akan berusaha menyesatkan anak cucu Adam hingga hari terakhir kehidupannya.[8]
Ketundukan atau Ibadah
Di bawah ayat dan riwayat yang berkaitan dengan peristiwa sujud malaikat, muncul pembahasan mengenai alasan dan jenis sujud kepada Adam. Kebanyakan mufasir Syiah berkeyakinan bahwa sujud malaikat, sebagaimana sujud saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf dalam ayat 100 Surah Yusuf, adalah jenis sujud ketundukan.[9] Berseberangan dengan pandangan ini, sekelompok mufasir menganggapnya sebagai sujud ibadah dan ditujukan kepada Allah.[10]
Sifat Hakiki Sujud
Kebanyakan mufasir abad ke-14 menekankan pada sifat hakiki sujud ini.[11] Sayid Abu al-Qasim al-Khu'i menganggap sujud malaikat sebagai bentuk sujud yang lazim, yaitu meletakkan kepala di atas tanah, dan ia menyebutkan kekecewaan Iblis saat melihat sujud manusia setelah pembangkangannya sebagai bukti dari pemahaman ini.[12] Allamah Thabathabai tidak menganggap sujud sebagai ibadah dzati dan menganggap niat ibadah diperlukan untuk mewujudkan ibadah, oleh karena itu ia menafsirkan sujud kepada Adam sebagai hal yang hakiki namun dengan tujuan ketundukan.[13] Kelompok sufi juga menganggap sujud ini bersifat hakiki dan memuji Iblis karena tidak bersujud kepada selain Allah.[14] Di antara pemuji Iblis dapat disebutkan Mansur al-Hallaj[15], Hasan Bashri[16], Dzun Nun al-Mishri, Bayazid Bastami, Abu Bakar al-Wasithi, Sahl al-Tustari, Abu al-Qasim Gorgani, dan Abu al-Hasan al-Kharqani.[17]
Sifat Kiasan Sujud
Jawadi Amoli meyakini sifat kiasan (temtsili) dari perintah sujud.[18] Karena sifat tasyri'i dan hakiki dari perintah ini bertentangan dengan tidak adanya kewajiban (taklif) bagi para malaikat; sifat takwini dari perintah tersebut juga berarti kejadian pastinya dan tidak memiliki pahala maupun hukuman, sehingga perintah Ilahi tersebut harus dianggap sebagai kiasan.[19] Sebagaimana Sobhani juga berargumen bahwa Allah swt dalam Al-Qur'an memperkenalkan diri-Nya suci dari perintah kepada kekejian, dan perintah Allah untuk sujud ibadah kepada Adam tidak selaras dengan prinsip tersebut.[20] Menurut Sobhani, beberapa mufasir yang mendefinisikan sujud secara eksklusif dalam ibadah terpaksa menganggap huruf "lam" dalam ungkapan "usjudu li-Adama" sebagai "lam intifa'" atau "lam ghayab", sehingga mereka mengatakan maksudnya adalah "bersujudlah demi kemaslahatan Adam" atau "bersujudlah untuk Adam". Menurut pandangan Sobhani, kedua tafsiran ini menyalahi makna lahiriah.[21]
Adam Sebagai Kiblat dan Imam
Dijadikannya Adam sebagai kiblat (sebagai lawan dari objek sujud) adalah salah satu tafsiran dari kisah sujud kepada Adam. Bazyar, salah satu peneliti Hawzah Ilmiah, mengklaim dalam penelitiannya bahwa mufasir Ahlusunah Al-Mawardi (w. 450 H) adalah yang pertama kali menyatakan posisi Adam sebagai kiblat dalam Tafsir al-Nukat wa al-Uyun.[22] Keyakinan ini dikaitkan kepada Abu Ali al-Jubba'i dan Abu al-Qasim al-Balkhi, dari para teolog bermazhab Mu'tazilah,[23] dan juga kepada Mu'tazilah serta Ibnu Asakir.[24]
Dari kalangan Syiah, Syaikh Thusi dan Thabrasi menolak pandangan ini mengingat fakta bahwa dijadikan kiblat bukanlah sebuah keutamaan bagi Adam.[25] Abu al-Futuh Razi juga berkeyakinan bahwa sujud kepada Adam adalah sujud hakiki dan untuk penghormatan karena dalam ayat tersebut digunakan ungkapan "usjudu li-Adama". Jika Adam adalah kiblat maka seharusnya dikatakan "usjudu ila Adama" sebagaimana kita berkata "sajadtu ila al-qiblati" [aku bersujud ke arah kiblat] dan ungkapan "sajadtu lil-qiblati" [aku bersujud untuk kiblat] adalah tidak tepat.[26] Sayid Abu al-Qasim al-Khu'i juga melihat sujud ke arah Adam sebagai kiblat bertentangan dengan perkataan Iblis: "a-asjudu liman khalaqta thinan". Ia meyakini bahwa seandainya Adam adalah kiblat, perkataan seperti itu dari Iblis tidaklah masuk akal.[27] Fakhrurazi dengan merujuk pada ayat "aqimi-sh-shalata liduluki-sy-syamsi" dan juga kebolehan menggunakan ungkapan "aqimi-sh-shalata lil-qiblati" serta larangan menggunakan ungkapan "aqimi-sh-shalata ila al-qiblati", menganggap pendapat Abu al-Futuh salah.[28]
Aspek lainnya adalah pendapat yang dikaitkan dengan Ibnu Mas'ud bahwa perintah sujud adalah perintah untuk bermakmum kepada Adam dalam keadaan sujud, dan semuanya bersujud kepada Allah.[29] Abu al-Futuh Razi penulis Tafsir Rawdh al-Jinan dalam menjelaskan pandangan ini berkata: Sebagian lain mengatakan Adam adalah imam, Adam bersujud kepada Allah swt dan para malaikat bersujud kepada Allah mengikuti Adam, oleh karena bermakmum kepada Adam itulah maka sujud dikaitkan kepada Adam.[30]
Alasan Sujud Kepada Adam
Keunggulan Adam di atas malaikat sebagai alasan dan filosofi sujud kepada Adam telah disepakati oleh para mufasir Syiah.[31] Sebab, meskipun sujud itu karena tawadhu, maka tawadhu ini harus didasarkan pada Hikmah dan keunggulan agar tidak dianggap sia-sia dan batil.[32] Selain itu, selalu yang disujudi adalah lebih utama dibandingkan yang bersujud.[33] Allamah Thabathabai dalam Tafsir Al-Mizan bersandar pada keyakinan bahwa sujud malaikat kepada Adam menunjukkan kesiapan mereka untuk hidayah dan membimbing manusia mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan, sementara tidak bersujudnya Iblis menunjukkan posisinya sebagai penghalang bagi pencapaian kebahagiaan dan kesempurnaan tersebut.[34]
Penghormatan dan Pemuliaan Adam
Jawadi Amoli menganggap sujud tersebut untuk memuliakan dan menghormati kedudukan Adam.[35] Thabrasi mengaitkan sebuah pandangan dalam tafsirnya kepada para Imam as bahwa berdasarkan hal tersebut, sujud kepada Adam bertujuan untuk memuliakan dan menghormati kedudukannya.[36] Dalam tafsir Muharrar al-Wajiz karya Ibnu Athiyyah al-Andalusi (481-541 H) juga terdapat ungkapan "innama kana sujudu tahiyyatin kasujudi abaway Yusuf la sujudu 'ibadatin" (sujud untuk Adam adalah sujud sebagai penghormatan bukan sujud sebagai ibadah, seperti sujud ayah dan ibu Yusuf untuknya) dikaitkan kepada Imam Ali (as), Ibnu Mas'ud, dan Ibnu Abbas.[37] Sumber-sumber tafsir sepakat bahwa alasan keunggulan ini adalah pengetahuan Adam tentang nama-nama Ilahi, namun mereka berbeda pendapat mengenai jenis asma' tersebut dan karakteristik apa yang dimilikinya. Secara umum, beberapa pandangan mengenai alasan pemuliaan Adam meliputi:
- Manusia diciptakan dalam bentuk yang paling indah dan terbaik.[38]
- Penobatan pada kedudukan khalifah Ilahi di muka bumi dan pengkhususannya bagi manusia, bukan jenis lain.[39]
- Pengajaran "asma'" kepada Adam dari sisi Allah.[40]
- Penciptaan manusia dengan dua tangan Ilahi — apapun makna tangan dan tafsirannya — pada hari penciptaan.[41]
- Ditiupkannya ruh Allah ke dalam raga Adam.[42]
- Keberadaan cahaya atau ruh para hujah Ilahi dalam sulbi Adam.[43]
Penghormatan dan Pemuliaan Ahlulbait Nabi
Sebagian orang menganggap sujud kepada Adam pada hakikatnya adalah penghormatan dan pemuliaan kepada Nabi saw dan Ahlulbait (as). Atas dasar ini, karena cahaya Nabi dan para Imam berada dalam sulbi Adam, Allah memerintahkan semua pihak untuk bersujud kepada Adam. Sebuah riwayat dari Imam Shadiq (as) dalam kitab Kamal al-Din menyatakan ketika ruh Ahlulbait berada dalam sulbi Adam, Adam mengetahui nama-nama mereka, dan yang dimaksud dengan nama-nama yang diajarkan kepada Adam adalah nama-nama mereka.[44] Riwayat lain juga dinukil dari Imam Sajjad (as) dari Nabi Muhammad saw dengan kandungan yang sama.[45] Dalam Tafsir Nur al-Tsaqalain, dibawakan riwayat dari kitab Uyun Akhbar al-Ridha yang menyatakan bahwa sujud malaikat kepada Adam merupakan dalil keunggulan para Imam atas malaikat.[46]
Berdasarkan laporan Allamah Thabathabai dari kitab Ihtijaj, Imam Ali dalam sebuah percakapan dengan seorang Yahudi menyatakan bahwa sujud malaikat kepada Adam bukan untuk ibadah kepadanya, melainkan untuk memberikan keunggulan kepadanya atas para malaikat; namun Nabi Islam dimuliakan dan disalami serta diberi Shalawat oleh Allah dan para malaikat-Nya, yang mana keunggulan ini lebih tinggi daripada sujud malaikat.[47]
Adam Sebagai Perwakilan Kemanusiaan
Berseberangan dengan para mufasir yang menganggap sujud ditujukan kepada pribadi Adam,[48] kelompok lain termasuk Thabathabai berkeyakinan bahwa sujud ditujukan kepada kedudukan manusia dan jenis manusia, bukan pribadi Adam, dan Nabi Adam menjadi perwakilan dari seluruh anak cucunya saat disujudi oleh malaikat.[49] Sebagaimana kekhalifahan Adam juga berlaku atas anak cucu dan keturunannya. Selain itu, upaya balas dendam Iblis terhadap anak cucu Adam juga menjadi alasan lain dalam hal ini.[50] Menurut pendapat Mahdavinour, dalam ayat 27 Surah Al-A'raf, seluruh anak cucu Adam diseru, yang dapat menjadi bukti bagi pendapat ini.[51]
Tidak Bersujudnya Iblis
Dalam ayat-ayat Al-Qur'an, sasaran perintah sujud kepada Adam adalah para malaikat; dan dalam ayat 12 Surah Al-A'raf, Iblis juga menjadi sasaran perintah Ilahi. Padahal berdasarkan ayat 50 Surah Al-Kahf, ia dideskripsikan dari golongan jin. Kejadian ini memicu beberapa pertanyaan.[52] Menurut laporan para mufasir Syiah dan penukilan beberapa riwayat, Iblis bukan dari golongan malaikat, namun karena banyaknya ibadahnya, ia masuk ke dalam barisan malaikat.[53] Di samping pandangan ini, kebanyakan mufasir Ahlusunah menganggap Iblis sebagai bagian dari malaikat. Pandangan ini, menurut mufasir Syiah, tidak selaras dengan ayat lain yang menyatakan bahwa malaikat terbebas dari pembangkangan terhadap perintah Ilahi.[54] Sujud dalam ayat-ayat di mana Iblis dikecualikan dari malaikat dianggap oleh sebagian mufasir sebagai istisna' munqathi'Templat:یاد, agar tidak mengganggu fakta bahwa Iblis adalah jin sebagaimana dalam ayat 50 Surah Al-Kahf.Templat:یادداشت[55] Di antara mereka, mufasir seperti Syaikh Thusi dalam Al-Tibyan[56] dan Thabrasi dalam Majma' al-Bayan mengatakan bahwa berdasarkan pendapat istisna' muttashil Iblis adalah dari golongan malaikat dan berdasarkan istisna' munqathi' ia bukan dari malaikat.[57] Ia juga mengabarkan adanya perbedaan di antara para mufasir mengenai apakah seluruh malaikat terkena hukum Ilahi atau hanya sebagian dari mereka.[58]
Catatan Kaki
- ↑ Lihat: Mojtabai, Adam, hlm. 172-175.
- ↑ Mojtabai, Adam, hlm. 175.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 69.
- ↑ Moqaddami, "Adam", hlm. 4–10.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 69.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 39.
- ↑ Sobhani Tabrizi, Mansyur-e Javid, 1390 HS, jil. 11, hlm. 63–64.
- ↑ Sobhani Tabrizi, Mansyur-e Javid, 1390 HS, jil. 11, hlm. 63–64.
- ↑ Sobhani Tabrizi, Mansyur-e Javid, 1390 HS, jil. 11, hlm. 58; Thabathabai, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, tanpa tahun, jil. 1, hlm. 122.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 72.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 42.
- ↑ Khu'i, Olum wa Masa'el-e Kolli-ye Qur'an, 1382 HS, hlm. 620.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, tanpa tahun, jil. 1, hlm. 122.
- ↑ Mojtabai dkk, "Iblis", 1367 HS, jil. 3, hlm. 255.
- ↑ Hallaj, Thawasin, 1913 M, hlm. 53.
- ↑ Ain al-Qudhat, Tamhidat, hlm. 211.
- ↑ Mojtabai dkk, "Iblis", 1367 HS, jil. 3, hlm. 255.
- ↑ Jawadi Amoli, Tafsir Tasnim, 1388 HS, jil. 3, hlm. 286.
- ↑ Lihat: Jawadi Amoli, Tafsir Tasnim, 1388 HS, jil. 3, hlm. 286–288.
- ↑ Sobhani Tabrizi, Mansyur-e Javid, 1390 HS, jil. 11, hlm. 59–60.
- ↑ Sobhani Tabrizi, Mansyur-e Javid, 1390 HS, jil. 11, hlm. 60.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 38–39.
- ↑ Thusi, Al-Tibyan, tanpa tahun, jil. 1, hlm. 150; Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jil. 1, hlm. 162.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 38–39.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 38–39; Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jil. 1, hlm. 163.
- ↑ Razi, Rawdh al-Jinan, 1408 H, jil. 1, hlm. 210.
- ↑ Khu'i, Olum wa Masa'el-e Kolli-ye Qur'an, 1382 HS, hlm. 620.
- ↑ Fakhrurazi, Tafsir al-Kabir, 1420 H, jil. 2, hlm. 427.
- ↑ Mahdavi Nour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 78–79.
- ↑ Razi, Rawdh al-Jinan wa Ruh al-Jinan, 1376 HS, jil. 1, hlm. 210.
- ↑ Syuja'i, "Insan", 1387 HS, jil. 1, hlm. 90; Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 80–81.
- ↑ Syuja'i, "Insan", 1387 HS, jil. 1, hlm. 90.
- ↑ Syuja'i, "Insan", 1387 HS, jil. 1, hlm. 90.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, tanpa tahun, jil. 12, hlm. 232.
- ↑ Tafsir Tasnim, 1388 HS, jil. 3, hlm. 273.
- ↑ Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jil. 1, hlm. 161–162.
- ↑ Ibnu Athiyyah, Al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-Aziz, 1413 H, jil. 1, hlm. 124.
- ↑ Mojtabai dkk, "Iblis", 1367 HS, jil. 3, hlm. 255.
- ↑ Mojtabai dkk, "Iblis", 1367 HS, jil. 3, hlm. 255.
- ↑ Shadruddin Syirazi, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HS, jil. 2, hlm. 308.
- ↑ Shadruddin Syirazi, Tafsir al-Qur'an al-Karim, 1366 HS, jil. 2, hlm. 308.
- ↑ Mojtabai dkk, "Iblis", 1367 HS, jil. 3, hlm. 255.
- ↑ Shaduq, Kamal al-Din, 1395 H, jil. 1, hlm. 13–14.
- ↑ Shaduq, Kamal al-Din, 1395 H, jil. 1, hlm. 13–14.
- ↑ Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jil. 11, hlm. 150.
- ↑ Al-Arusi al-Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jil. 1, hlm. 58.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, tanpa tahun, jil. 1, hlm. 124.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 82.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, tanpa tahun, jil. 12, hlm. 158.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 82.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 82.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 73–74.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 75–76; Al-Arusi al-Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, 1415 H, jil. 1, hlm. 55-56.
- ↑ Mahdavinour, "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Adam", 1397 HS, hlm. 77.
- ↑ Mojtabai dkk, "Iblis", 1367 HS, jil. 3, hlm. 255.
- ↑ Thusi, Al-Tibyan, tanpa tahun, jil. 1, hlm. 151–152.
- ↑ Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jil. 1, hlm. 161.
- ↑ Thabrasi, Majma' al-Bayan, 1415 H, jil. 1, hlm. 161.
Daftar Pustaka
- Al-Arusi al-Huwaizi, Abd Ali bin Jumu'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Riset oleh Sayid Hasyim Rasuli Mahallati. Qom, Isma'iliyan, 1415 H.
- Al-Dinawari, Muhammad Anwar. Faidh al-Bari 'ala al-Bukhari. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1429 H.
- Almasi, Ali dan Marzieh Mohammadian Syirmard. "Melak-haye Hirim-e Khushusi dar Feqh-e Imamiyah wa Hoquq-e Asasi-ye Iran: Tathbiq ba Khodro-ye Syakhshi". Jurnal Motale'at-e Feqhi Hoquqi-ye Zan wa Khanevadeh, nomor 3, 1398 HS.
- Anshari, Baqir. Hoquq-e Hirim-e Khushusi. Teheran, Penerbit Samt, 1386 HS.
- Anshari, Murtadha. Al-Makasib. Qom, Kongres Global Peringatan Syaikh Anshari, 1415 H.
- Bazyar, Maryam dkk. "Barrasi-ye Seyr-e Tathawwur-e Ara'-e Mofasseran dar Ayat-e Sajdeh bar Hazrat-e Adam (as)". Jurnal Pazhuhesy wa Motale'at-e Islami, Universitas Azad Islam, nomor 31, Bahman 1400 HS.
- Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Riset oleh Muhammad Zuhair bin Nashir al-Nashir. Beirut, Dar Thauq al-Najah, cetakan pertama, 1422 H.
- Elhaminiya, Ali Ashghar. Ushul-e Akhlaqi. Riset oleh Pusat Penelitian Islam Perwakilan Wali Fiqih. Qom, Sepehr-e Andisyeh, 1383 HS.
- Fakhrurazi, Muhammad bin Umar. Tafsir al-Kabir. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H.
- Hallaj, Husain bin Mansur. Thawasin. Riset oleh Louis Massignon. Terjemahan Mahmoud Behforuzi. Paris, Penerbit Hikmat, 1913 M.
- Ibnu Athiyyah, Abdul Haq. Al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-Aziz. Riset oleh Abdulsalam Abdulsyafi Muhammad. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1413 H.
- Imam Hasan Askari. Tafsir al-Imam al-Askari. Qom, Madrasah al-Imam al-Mahdi af, 1409 H.
- Jawadi Amoli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Riset oleh Ahmad Qodsi. Qom, Isra', 1388 HS.
- Khu'i, Sayid Abu al-Qasim. Olum wa Masa'el-e Kolli-ye Qur'an. Teheran, Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, 1382 HS.
- Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
- Mahdavinour, Sayid Hatem. "Barrasi-ye Tarikhi-ye Sajdeh-ye Mala'ikeh bar Hazrat-e Adam (as) wa Tamarrud-e Iblis". Jurnal Motale'at-e Tarikhi-ye Qur'an wa Hadits, Teheran, Universitas Azad Islam, musim semi dan panas 1397 HS.
- Mojtabai, Fathullah dkk. "Iblis". Dalam Da'irat al-Ma'arif-e Bozorg-e Islami. Teheran, Pusat Da'irat al-Ma'arif-e Bozorg-e Islami, 1367 HS.
- Mojtabai, Fathullah. "Adam". Dalam Da'irat al-Ma'arif-e Bozorg-e Islami, jil. 1. Teheran, Pusat Da'irat al-Ma'arif-e Bozorg-e Islami, 1369 HS.
- Moqaddami, Mahmoud. "Adam". Dalam Danysyenam-e Kalam-e Islami. Qom, Lembaga Imam Shadiq as, 1387 HS.
- Qadardan Qaramaleki, Muhammad Hasan. "Iblis". Dalam Danysyenam-e Kalam-e Islami. Qom, Lembaga Imam Shadiq as, 1387 HS.
- Qumi, Muhammad Hasan. Tafsir-e Qomi. Riset oleh Tayyib Jazairi. Qom, Dar al-Kutub, 1404 H.
- Razi, Abu al-Futuh. Rawdh al-Jinan wa Ruh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an. Masyhad, Yayasan Penelitian Islam, 1408 H.
- Syaduq, Muhammad bin Babuyeh. Kamal al-Din wa Tamam al-Ni'mah. Riset oleh Ali Akbar Ghaffari. Teheran, Islamiyeh, 1395 H.
- Shadruddin Syirazi, Muhammad bin Ibrahim. Tafsir al-Qur'an al-Karim. Qom, Bidar, 1366 HS.
- Sobhani Tabrizi, Ja'far. Mansyur-e Javid. Qom, Lembaga Imam Shadiq as, 1390 HS.
- Syuja'i, Ahmad. "Insan". Dalam Danysyenam-e Kalam-e Islami. Qom, Lembaga Imam Shadiq as, 1387 HS.
- Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Isma'iliyan, tanpa tahun.
- Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Matbu'at, 1415 H.
- Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
```