Konsep:Pemberontakan Ibnu Thabathaba
| Waktu | 199/814-15 |
|---|---|
| Tempat | Kufah, Hijaz, Basrah, Ahvaz |
| Sebab | Kezaliman pemerintahan Abbasiyah, klaim kekhalifahan Ahlulbait as |
| Hasil | Kegagalan pemberontakan Ibnu Thabathaba |
| Korban | Gugurnya Ibnu Thabathaba dan Abu al-Saraya |
Pemberontakan Ibnu Thabathaba, yang dipimpin oleh Muhammad bin Ibrahim Thabathaba pada tahun 199 H/814-815 M, merupakan gerakan perlawanan bersenjata terhadap Kekhalifahan Abbasiyah, khususnya pada era pemerintahan Khalifah al-Makmun. Secara historis, gerakan ini dipicu oleh ajakan Nashr bin Syabib kepada Ibnu Thabathaba untuk memimpin perlawanan terhadap penindasan Abbasiyah dan membela hak-hak politik Ahlulbait as. Namun, setelah Nashr bin Syabib menarik dukungannya, Ibnu Thabathaba justru bersekutu dan menerima baiat dari Abu al-Saraya, seorang mantan komandan yang membelot dari pasukan al-Makmun.
Menurut catatan historiografi, pusat pemberontakan ini bermula di Kufah. Di kota tersebut, Ibnu Thabathaba menyerukan kepada masyarakat luas agar berbaiat kepada Ahlulbait as serta kembali mengamalkan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Nabi saw. Kendati berhasil meraih serangkaian kemenangan awal, Ibnu Thabathaba wafat secara mendadak. Sejumlah sumber historis mengindikasikan bahwa ia tewas akibat diracun oleh Abu al-Saraya. Spekulasi ini didasarkan pada ambisi politik Abu al-Saraya yang ingin menyingkirkan Ibnu Thabathaba guna mengambil alih kendali dan kepemimpinan absolut atas gerakan tersebut.
Pasca-wafatnya Ibnu Thabathaba, faksi pemberontak dipimpin sepenuhnya oleh Abu al-Saraya yang berhasil mengekspansi wilayah kekuasaannya ke berbagai daerah. Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama. Gerakan ini mulai mengalami rentetan kekalahan militer, yang berujung pada penangkapan dan eksekusi mati Abu al-Saraya. Peristiwa ini menandai berakhirnya pemberontakan, sekaligus mengukuhkan kembali otoritas Khalifah al-Makmun dalam memulihkan stabilitas negara melalui serangkaian strategi politik dan militernya.
Berdasarkan analisis para pakar sejarah, salah satu faktor krusial di balik kegagalan pemberontakan ini adalah absennya dukungan dari Imam Ridha as. Sikap tersebut didasarkan pada kalkulasi politik sang Imam yang tajam serta prediksinya mengenai kebuntuan gerakan tersebut. Di samping itu, kematian prematur Ibnu Thabathaba, rendahnya loyalitas Abu al-Saraya terhadap kelompok Alawiyin, serta tindak kekerasan yang dilakukan oleh sebagian milisi pemberontak, telah mendegradasi simpati publik dan mempercepat kejatuhan mereka di hadapan bala tentara Abbasiyah.
Latar Belakang dan Motivasi
Pemberontakan Ibnu Thabathaba meletus akibat konvergensi berbagai faktor politik dan sosial. Salah satu pemicu utamanya adalah permintaan Nashr bin Syabib[1] kepada Ibnu Thabathaba untuk bertolak menuju wilayah Jazirah guna mengambil alih tampuk kepemimpinan dan mengobarkan perlawanan terhadap penindasan[2] Dinasti Abbasiyah.[3] Walaupun Ibnu Thabathaba telah menyanggupi tawaran tersebut, keraguan mendadak melanda Ibnu Syabib yang kemudian menarik kembali dukungannya.[4] Kondisi ini mendesak Ibnu Thabathaba untuk mengalihkan rutenya menuju Hijaz.
Berdasarkan literatur sejarah, dalam perjalanannya menuju Hijaz, tepatnya saat melintasi kawasan Raqqah,[5] Ibnu Thabathaba bersua dengan Abu al-Saraya,[6] seorang komandan militer yang membelot dari pasukan al-Makmun akibat sengketa finansial.[7] Momentum ini dimanfaatkan dengan baik oleh Ibnu Thabathaba yang kemudian secara klandestin (rahasia) menerima baiat dari Abu al-Saraya[8] untuk menginisiasi pemberontakan dari Kufah.[9] Beberapa historiografer menempatkan Abu al-Saraya sebagai arsitek utama di balik gerakan ini,[10] sedangkan sumber lain beranggapan bahwa baiat tersebut murni merupakan inisiatif yang ditawarkan oleh Ibnu Thabathaba.[11]
Para akademisi mengemukakan bahwa dinamika politik pada masa kekhalifahan al-Makmun memunculkan persepsi di kalangan masyarakat Irak bahwa Fadhl bin Sahal telah memonopoli kekuasaan negara secara de facto. Realitas politik ini memantik eskalasi ketidakpuasan, terutama di kalangan Bani Hasyim dan para elite Irak, yang kemudian berujung pada pembangkangan terbuka terhadap otoritas pusat Abbasiyah.[12] Memanfaatkan momentum instabilitas ini, Ibnu Thabathaba tampil sebagai pionir perlawanan dan berhasil menggalang dukungan masif dari penduduk Irak.[13]
Dimulainya Pemberontakan di Kufah
Setibanya di Kufah dan setelah menyatukan kekuatan bersama Abu al-Saraya, Ibnu Thabathaba mendeklarasikan pemberontakannya secara terbuka. Di hadapan kerumunan massa, ia menyampaikan orasi politik yang mengusung slogan al-Ridha min Ali Muhammad (saw).[14] Melalui khotbah tersebut, ia memobilisasi masyarakat untuk memberikan sumpah setia (baiat) kepada Ahlulbait as, sekaligus menyerukan kemurnian pengamalan Kitabullah dan Sunnah Nabi saw.[15] Seruan ini disambut antusias oleh penduduk Kufah yang berbondong-bondong membaiatnya di Istana Dharratin.[16] Dalam struktur kepemimpinan, Ibnu Thabathaba menempati posisi sebagai otoritas spiritual dan ideologis, sementara Abu al-Saraya didapuk sebagai panglima tertinggi militer.[17]
Kabar mengenai gejolak ini segera terdengar oleh Hasan bin Sahal, yang bereaksi keras dengan menegur Sulaiman bin Mansyur, gubernur Kufah.[18] Merespons eskalasi ancaman, Hasan bin Sahal memobilisasi sepuluh ribu prajurit kavaleri di bawah komando Zuhair bin Musayyib untuk menumpas faksi Ibnu Thabathaba. Pertemuan kedua kubu meletus di desa Syahi,[19] di mana pasukan Zuhair secara tak terduga menderita kekalahan telak dari laskar Abu al-Saraya dan terpaksa memukul mundur barisannya.[20] Namun, tepat pasca-kemenangan strategis tersebut, pada hari Kamis tanggal 1[21] atau 3 Rajab 199 H / 814-815 M,[22] Ibnu Thabathaba dilaporkan wafat secara misterius dan mendadak.[23]
Kematian Ibnu Thabathaba
Penyebab pasti di balik wafatnya Ibnu Thabathaba masih menjadi subjek perdebatan historiografis. Sejumlah referensi klasik mencatat bahwa kematiannya merupakan proses alami akibat penyakit,[24] sementara narasi alternatif mengisyaratkan kemungkinan pembunuhan melalui racun, kendati pelakunya tidak disebutkan secara definitif.[25] Lebih jauh, segelintir sejarawan mengarahkan telunjuk kepada Abu al-Saraya sebagai dalang di balik insiden tersebut.[26] Menurut kesaksian al-Thabari, langkah drastis ini diambil oleh Abu al-Saraya demi menetralisasi dominasi Ibnu Thabathaba dan mengonsolidasikan kekuasaan absolut atas laju pemberontakan. Menyusul kekosongan kepemimpinan itu, Abu al-Saraya mengangkat seorang pemuda belia, Muhammad bin Muhammad Thalibi, sebagai figur boneka untuk menggantikan peran formal Ibnu Thabathaba, sementara ia sendiri bertindak sebagai penguasa de facto yang mengendalikan seluruh instrumen pergerakan.[27]
Terdapat dokumentasi yang menyebutkan bahwa menjelang ajalnya, Ibnu Thabathaba menunjuk Ali bin Ubaidillah bin Husain sebagai wasi pelaksana mandatnya.[28] Durasi kepemimpinannya, terhitung sejak inisiasi pemberontakan hingga kematiannya, diperkirakan berlangsung singkat, yakni sekitar dua bulan.[29] Prosesi pemakamannya dikelola secara tertutup oleh Abu al-Saraya, bertempat di Kufah atau Najaf,[30] dan berita duka tersebut sengaja tidak disiarkan ke ranah publik.[31] Di sisi lain, muncul pula hipotesis terpisah yang meyakini bahwa jenazahnya dikebumikan di kawasan Qarafah, Mesir.[32] Langkah taktis menyembunyikan berita wafat dan melangsungkan pemakaman di malam hari ini konon didasari oleh urgensi strategi politik demi menjaga mental dan kohesi pasukan.[33]
Jalannya Pemberontakan Setelah Wafatnya Ibnu Thabathaba
Sebagai respons atas wafatnya sang pemimpin spiritual, Abu al-Saraya secara strategis mengangkat seorang figur dari kelompok Alawiyin[34] bernama Muhammad bin Muhammad bin Zaid bin Ali bin Husain—yang kelak masyhur dengan sebutan Imamzadeh Mahruq. Pemuda yang saat itu masih berada di usia belia tersebut diplot sebagai suksesor Ibnu Thabathaba.[35] Meskipun ia dianugerahi gelar prestisius sebagai Amirul Mukminin,[36] pemegang otoritas substantif tetap berpusat pada Abu al-Saraya.[37] Banyak pengamat meyakini bahwa manuver politik ini dirancang eksklusif guna menginjeksi legitimasi religius terhadap berbagai kebijakan dan operasi militer Abu al-Saraya.[38] Di samping itu, pengadopsian atribut seperti pakaian dan panji-panji berwarna putih[39] juga dinilai sebagai bagian esensial dari upaya simbolis untuk mengukuhkan legitimasi gerakan pemberontakan tersebut.
Menyadari kekalahan telak yang dialami Zuhair, Hasan bin Sahal dengan cepat mengerahkan kekuatan baru yang terdiri dari empat ribu personel kavaleri di bawah arahan Abdus bin Muhammad Marwazi, dengan misi untuk merebut kembali Kufah. Pertempuran sengit pun pecah pada tanggal 17 Rajab.[40] Konfrontasi tersebut kembali dimenangkan oleh kubu Abu al-Saraya, mengakibatkan tewasnya Abdus di medan juang, sementara unit tempurnya porak-poranda; sebagian besar prajurit meregang nyawa atau berakhir sebagai tawanan perang.[41] Kemenangan gemilang ini memicu gelombang ekspansi yang masif, di mana Abu al-Saraya mendispersikan elemen pasukannya guna melancarkan penaklukan atas kota-kota strategis seperti Basrah, Wasit, dan Madain.[42]
Tata Kelola Pemerintahan dan Penunjukan Gubernur
Seiring dengan stabilnya konsolidasi kekuasaan di kawasan yang telah dikuasai, Muhammad bin Muhammad bin Zaid mendelegasikan sejumlah figur untuk menjabat sebagai administrator regional atau gubernur (wali). Formasi birokrasi ini didominasi secara signifikan oleh kalangan Alawiyin, termasuk para keturunan Imam.[43] Distribusi jabatan tersebut mencakup: Penunjukan Ismail bin Ali bin Ismail bin Ja'far sebagai deputi yang berkedudukan di Kufah. Di Basrah, otoritas diserahkan kepada Abbas bin Muhammad bin Isa al-Ja'fari[44] (versi lain merujuk pada Muhammad bin Ja'far bin Muhammad as-Shadiq as).[45] Sementara itu, Husain bin Hasan bin Ali bin Husain (al-Afthas) didapuk sebagai amir kota suci Mekah, yang secara khusus memegang yurisdiksi atas tata laksana haji.[46][47] Muhammad bin Sulaiman bin Dawud bin Hasan dikirim sebagai perwakilan administratif untuk Madinah,[48] dan teritori Yaman diserahkan ke dalam wilayah kekuasaan Ibrahim bin Musa bin Ja'far as-Shadiq as.[49] Posisi gubernur di kawasan Fars dipegang oleh Ismail bin Musa bin Ja'far as, sedangkan entitas politik Ahvaz direbut oleh Zaid bin Musa bin Ja'far as, sosok agresif yang sebelumnya bertanggung jawab atas ofensif penaklukan Basrah.[50] Selain itu, penugasan penting juga diberikan kepada Muhammad bin Sulaiman bin Dawud al-Hasani yang diberangkatkan menuju Madain.[51]
Dalam epos pemerintahannya yang relatif singkat, rezim revolusioner ini sempat mencetak instrumen moneter berupa koin emas dan perak yang dibubuhi inskripsi kutipan firman Allah, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka adalah suatu bangunan yang tersusun kokoh."[52]
Konfrontasi dengan Hartsamah bin A'yan
Progresivitas agresi militer Abu al-Saraya memicu alarm krisis bagi Hasan bin Sahal, menyusul minimnya perwira andal di jajarannya yang kapabel membendung laju invasi tersebut.[53] Dalam kondisi terdesak, Hasan mengutus kurir—atau mengirim sebuah korespondensi tertulis[54][55]—kepada Hartsamah bin A'yan, salah satu jenderal militer paling disegani di era al-Makmun, demi memohon intervensinya. Abu al-Saraya sendiri bukanlah sosok asing bagi Hartsamah; mereka pernah bahu-membahu menaklukkan pasukan Amin (saudara tiri al-Makmun) di palagan perang sebelumnya. Kedekatan inilah yang membuat Hartsamah memiliki rekam jejak yang presisi terkait taktik militer lawan. Meskipun pada fase awal Hartsamah mengelak dari permintaan tersebut dilatari oleh friksi pribadinya dengan Hasan bin Sahal,[56] pada akhirnya ia menyepakati mobilisasi pasukan setelah didesak oleh ancaman keras maupun daya tarik kompensasi material.[57]
Pasca-konsolidasi armada perangnya di Baghdad, Hartsamah melakukan pergerakan taktis menuju Kufah pada bulan Sya'ban.[58] Barisan militernya bersirobok dengan laskar Abu al-Saraya di sepanjang tepian Sungai Sarshar, menjadikan bentang sungai tersebut sebagai demarkasi alami yang membelah kedua kubu.[59] Baku tembak dan konfrontasi berdarah meletus, berujung pada kekalahan destruktif yang memaksa brigade Abu al-Saraya mundur dari medan pertempuran. Tak menyia-nyiakan momentum, Hartsamah melancarkan manuver pengejaran dan berhasil meringkus sejumlah faksi loyalis Abu al-Saraya.
Operasi militer ini lalu diintensifkan dengan memblokade Kufah. Terdesak hebat, Abu al-Saraya bersama segelintir partisan yang setia kepadanya memilih eksodus dari Kufah pada tanggal 16 Muharam.[60] Ironisnya, kronik mencatat penetrasi Hartsamah ke dalam jantung kota tersebut telah berlangsung sehari sebelumnya, yakni pada 15 Muharam, sebuah penaklukan damai tanpa menimbulkan korban sipil dari penduduk setempat.[61]
Runtuhnya Pemberontakan
Diimpit oleh kekalahan telak di gerbang Baghdad pada tahun 200 H / 815-816 M,[62] Abu al-Saraya melarikan diri demi menyambung nyawa menuju Wasit yang kemudian dilanjutkan ke arah Ahvaz. Di sana, gerak lajunya kembali dipatahkan secara telak dalam laga militer menghadapi armada Hasan bin Ali Badghisi, yang mewakili otoritas kegubernuran setempat di bawah rezim al-Makmun.[63] Kondisi kesehatannya yang kian memburuk akibat komplikasi disenteri kronis, memaksanya mencari suaka di sebuah residensi tertutup di distrik Ra's al-Ain[64] (sebagian literatur mencantumkan lokasinya di Rustuqbad).[65] Namun pelariannya terhenti setelah ajudannya yang bernama Hammad, membongkar titik persembunyiannya kepada faksi lawan. Melalui operasi pengepungan yang dikalkulasi dengan janji amnesti (jaminan keamanan),[66] pasukan pemerintah berhasil meringkus Abu al-Saraya sekaligus Muhammad bin Muhammad bin Zaid Alawi. Mereka lalu diekstradisi untuk diadili oleh Hasan bin Sahal di barak militer Nahrawan[67] (beberapa naskah klasik merujuk pada kota Baghdad).[68]
Memasuki fase pengadilan, Abu al-Saraya memohon pengampunan nyawa dari Hasan bin Sahal, sebuah permohonan yang ditepis secara mentah-mentah. Berdasarkan diktat eksekusi yang dijatuhkan, pada hari Kamis, 5 Rabiul Awal 200 H / 815-816 M,[69] sang arsitek pemberontakan menjalani hukuman pancung. Kepala terpidana segera ditransmisikan menuju istana al-Makmun di timur, sementara sisa raganya dimutilasi menjadi dua fragmen terpisah untuk disalib sebagai instrumen teror publik di atas struktur jembatan ganda yang melintasi sungai Tigris di Baghdad.[70] Bertindak sebagai algojo pamungkas dalam prosesi fatal tersebut adalah Harun bin Muhammad, sosok yang menyimpan dendam personal karena pada palagan sebelumnya pernah terjerat menjadi sandera tempur Abu al-Saraya.[71]
Menyikapi nasib sang pemimpin spiritual Muhammad bin Muhammad bin Zaid, riwayat historiografi terbelah dalam dua tradisi naratif. Kelompok pandangan pertama menyatakan bahwa Hasan bin Sahal merespons kehadirannya secara simpatik dan memandangnya murni sebagai korban eksploitasi ambisi politik, yang pada gilirannya diberangkatkan dengan protokoler penghormatan menuju Khorasan[72] untuk menghadap khalifah.[73] Tradisi kedua berargumen sebaliknya; Hasan sedari mula memproyeksikan eksekusi mati bagi sang figur Alawi sejajar dengan nasib komandannya, namun urung diwujudkan setelah dianulir oleh lobi politik lingkaran elite di markas komandonya, sehingga ia hanya dideportasi menuju wilayah pengasingan di Merv.
Pasca ketibaannya di Merv, fasad diplomasi sang khalifah, al-Makmun, ditunjukkan dengan memberi sambutan hangat, termasuk penganugerahan privilese residensi. Kendati demikian, tidak butuh waktu lama sebelum sang tokoh ini dikabarkan tewas secara senyap dengan cara diretoksikasi (diracun).[74]
Terhitung sejak pertama kali percikannya menyala pada 199 H / 814-815 M, akumulasi pemberontakan Ibnu Thabathaba ini membentang selama kurang lebih 10 bulan eksistensi historis.[75] Efek domino dari pembungkaman drastis ini mengukuhkan dominasi hegemoni khalifah al-Makmun di antero Dunia Islam; menandai redupnya serangkaian siklus pergolakan bersenjata secara simultan dari ruang percaturan politik.[76]
Posisi Politis Imam Ridha as terhadap Dinamika Pemberontakan
Keterlibatan kelompok Alawiyin dalam konfrontasi ini sungguh signifikan dan terstruktur secara masif, tak terkecuali pengerahan elemen silsilah dari putra-putra Imam Musa al-Kazhim as (yang merupakan kerabat dekat Imam Ali ar-Ridha as) yang unjuk gigi berpartisipasi di garis terdepan. Saat Abu al-Saraya melantik Muhammad bin Salman (seorang bangsawan Alawi) sebagai penguasa yang mengeksekusi kendali atas Madinah, hampir sebagian besar pemuka Alawiyin serta tetua klan Quraisy bergegas mendeklarasikan ikrar kesetiaan (baiat) kepadanya. Akan tetapi, merespons euforia ini, Imam Ridha as secara bergeming mengadopsi postur moderasi dan memilih untuk menyangguhkan baiatnya dengan menangguhkannya selama kurun waktu 20 hari. Keputusan taktis tersebut kemudian terjustifikasi oleh rentetan sejarah; tepat di hari ke-18, legiun kontra-pemberontakan Jalludi—perwira loyalis al-Makmun—berhasil mematahkan kekuatan pemberontak dan memaksa mereka terbirit-birit eksodus dari wilayah tersebut.[77] Aksi kehati-hatian Imam tersebut diinterpretasikan oleh sejumlah pengamat sejarah sebagai pantulan visi geopolitik sang Imam yang visioner; beliau sanggup mengkalkulasi dengan cermat probabilitas keruntuhan manuver prematur gerakan tersebut, sekaligus meminimalisasi potensi katastrofe institusional yang berpotensi memukul eksistensi posisi keimamannya secara langsung, seandainya ia secara terang-terangan menceburkan diri dalam jurang gerakan tersebut.[78]
Analisis Faktor Kegagalan Pemberontakan
Sekalipun sukses membentangkan sayap teritorialnya secara masif dan mendulang serangkaian kemenangan awal, supremasi gerakan ini tergerus oleh berbagai celah kelemahan krusial. Beberapa determinan fundamental atas kegagalan pergerakan tersebut meliputi hilangnya jangkar kepemimpinan spiritual akibat wafatnya tokoh utama pada fase eskalasi gerakan, serta kealpaan afiliasi ideologis yang nyata akibat absennya sokongan dari figur Imam Ridha as.[79] Di samping itu, keengganan Abu al-Saraya untuk berafiliasi mutlak dan meletakkan nasib pergerakannya di tangan kaum Alawiyin memperdalam keretakan internal gerakan ini.[80] Situasi tersebut semakin diperburuk oleh meluasnya resistensi moral yang memantik ketidakpercayaan publik atas kapasitas Abu al-Saraya sebagai suksesor pasca-wafatnya Ibnu Thabathaba. Rentetan tindak represi dan aksi premanisme yang diorkestrasi oleh segelintir partisan Alawiyin di wilayah Mekah pada akhirnya berujung fatal karena memantik badai kemarahan di kalangan umat Muslim secara luas, yang pada akhirnya memadamkan sisa-sisa napas pemberontakan tersebut.[81]
Catatan Kaki
- ↑ Ibnu Syabib memberontak melawan Makmun saat ia menetap di Baghdad, (Ibnu A'tsam, al-Futuh, 1411 H, jld. 8, hlm. 417.)
- ↑ Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 426.
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 5, hlm. 293; Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 478.
- ↑ Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 426.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 304.
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 5, hlm. 294.
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 3, hlm. 82; Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 303.
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 5, hlm. 294.
- ↑ Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 426.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 529; Ibnu Miskawaih, Tajarub al-Umam, 1379 HS, jld. 4, hlm. 115.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 306.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 303.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 3, hlm. 439; Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 529; Ibnu Miskawaih, Tajarub al-Umam, 1379 HS, jld. 4, hlm. 115.
- ↑ Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 70; Ibnu Miskawaih, Tajarub al-Umam, 1379 HS, jld. 4, hlm. 115.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 528; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 3, hlm. 141; Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 425; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 70.
- ↑ Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 428.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 302; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, jld. 10, hlm. 244.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 529; Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 303.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 306.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 529; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, jld. 10, hlm. 244.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 529; Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 306.
- ↑ Anonim, Tarikh-e Sistan, 1366 HS, hlm. 172
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 529; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, jld. 10, hlm. 244.
- ↑ Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 429.
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 5, hlm. 294.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 529; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 70; Ibnu al-Jauzi, al-Muntazham, 1412 H, jld. 10, hlm. 84.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 529.
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 5, hlm. 294.
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 5, hlm. 294.
- ↑ Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 435.
- ↑ Zirikli, al-A'lam, 1989 M, jld. 5, hlm. 294.
- ↑ Yaqut al-Hamawi, Mu'jam al-Buldan, 1995 M, jld. 5, hlm. 143.
- ↑ Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 435.
- ↑ Ibnu Qutaibah, al-Ma'arif, 1992 M, hlm. 387.
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 3, hlm. 266; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, jld. 10, hlm. 244; Gardizi, Zain al-Akhbar, 1363 HS, hlm. 172.
- ↑ Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 3, hlm. 439.
- ↑ Ibnu al-Jauzi, al-Muntazham, 1412 H, jld. 10, hlm. 74.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 529.
- ↑ Gardizi, Zain al-Akhbar, 1383 HS, hlm. 172.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 305.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 530; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, jld. 10, hlm. 244; Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 304.
- ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, jld. 10, hlm. 244.
- ↑ Ibnu Qutaibah, al-Ma'arif, 1992 M, hlm. 387
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 306.
- ↑ Khalifah bin Khayyat, Tarikh Khalifah, 1415 H, hlm. 311.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 306; Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 435; Mustaufi, Tarikh-e Gozideh, 1364 HS, hlm. 311.
- ↑ Afthas awalnya menyeru rakyat berbaiat kepada Ibnu Thabathaba; namun setelah wafatnya Ibnu Thabathaba ia menyebut dirinya sendiri sebagai khalifah dan imam serta mengambil baiat dari rakyat untuk dirinya sendiri. (Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 3, hlm. 440.)
- ↑ Khalifah bin Khayyat, Tarikh Khalifah, 1415 H, hlm. 311.
- ↑ Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 3, hlm. 439.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 306.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 306.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 530; Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 13, hlm. 71.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 530.
- ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, jld. 10, hlm. 244.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 530.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 306.
- ↑ Mustaufi, Tarikh-e Gozideh, 1364 HS, hlm. 311.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 306.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 306.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 307.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 305.
- ↑ Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 3, hlm. 440.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hlm. 447.
- ↑ Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 305.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hlm. 447.
- ↑ Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 445.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, jld. 8, hlm. 532; Ibnu Miskawaih, Tajarub al-Umam, 1379 HS, jld. 4, hlm. 118; Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, 1408 H, jld. 3, hlm. 305.
- ↑ Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 445.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 535.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hlm. 447; Ibnu Miskawaih, Tajarub al-Umam, 1379 HS, jld. 4, hlm. 114-117; Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 528-535; Mas'udi, Muruj al-Dzahab, 1409 H, jld. 3, hlm. 439-440; Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 426-446.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 8, hlm. 535.
- ↑ Ibnu Qutaibah, al-Ma'arif, 1992 M, hlm. 387.
- ↑ Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hlm. 447.
- ↑ Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 446.
- ↑ Ibnu Atsir, al-Kamil, 1965 M, jld. 6, hlm. 310.
- ↑ Ibnu Thiqthiqa, al-Fakhri, 1418 H, hlm. 217-218.
- ↑ Safari Foroushani, "Tahli-e bar Qiyam-ha-ye Alaviyan...", 1388 HS, hlm. 68-69.
- ↑ Safari Foroushani, "Tahli-e bar Qiyam-ha-ye Alaviyan...", 1388 HS, hlm. 68-69.
- ↑ Safari Foroushani, "Tahli-e bar Qiyam-ha-ye Alaviyan...", 1388 HS, hlm. 68-69.
- ↑ Taqqus, Daulat-e Abbasiyan, 1383 HS, hlm. 151.
- ↑ Taqqus, Daulat-e Abbasiyan, 1383 HS, hlm. 151.
Daftar Pustaka
- Baladzuri, Ahmad bin Yahya bin Jabir. Ansab al-Asyraf. Riset: Suhail Zakkar. Beirut: Dar al-Fikr, 1417 H.
- Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam. Riset: Umar Abdussalam Tadmuri. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1413 H.
- Gardizi, Abu Said Abdul Hay bin Dhahak. Zain al-Akhbar. Riset: Abdul Hay Habibi. Tehran: Donyaye Ketab, 1363 HS.
- Ibnu A'tsam al-Kufi, Abu Muhammad Ahmad. al-Futuh. Riset: Ali Syiri. Beirut: Dar al-Adhwa, 1411 H.
- Ibnu al-Imad al-Hanbali, Syihabuddin Abul Falah. Syadzarat al-Dzahab fi Akhbar Man Dzahab. Riset: al-Arna'uth. Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1406 H.
- Ibnu al-Jauzi, Abul Faraj Abdurrahman. al-Muntazham fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1412 H.
- Ibnu Atsir, Izzuddin. al-Kamil. Beirut: Dar Sadir, 1965 M.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H.
- Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad. Tarikh Ibnu Khaldun. Riset: Khalil Syihadah. Beirut: Dar al-Fikr, 1408 H.
- Ibnu Miskawaih, Abu Ali Razi. Tajarub al-Umam. Riset: Abul Qasim Imami. Tehran: Soroush, 1379 HS.
- Ibnu Qutaibah, Abu Muhammad Abdullah bin Muslim. al-Ma'arif. Riset: Tharwat Ukasyah. Kairo: al-Hai'ah al-Mishriyyah, 1992 M.
- Ibnu Thiqthiqa, Muhammad bin Ali. al-Fakhri. Riset: Abdul Qadir Muhammad Mayo. Beirut: Dar al-Qalam al-Arabi, 1418 H.
- Isfahani, Abul Faraj Ali bin Husain. Maqatil al-Thalibiyyin. Riset: Sayid Ahmad Shaqar. Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.t.
- Khalifah bin Khayyat, Abu Amru. Tarikh Khalifah. Riset: Fawwaz. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
- Mas'udi, Abul Hasan Ali bin Husain. Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jauhar. Riset: As'ad Daghir. Qom: Dar al-Hijrah, 1409 H.
- Maqdisi, Mutahhar bin Thahir. al-Bad' wa al-Tarikh. Beirut: Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, t.t.
- Mustaufi Qazwini, Hamdullah. Tarikh-e Gozideh. Riset: Abdul Husain Nawai. Tehran: Amir Kabir, 1364 HS.
- Safari Foroushani, Ni'matullah. "Tahli-e bar Qiyam-ha-ye Alaviyan dar Douran-e Imam Ridha as", Syiah-syenasi, No. 26, 1388 HS.
- Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar al-Turats, 1387 H.
- Taqqus, Muhammad Suhail. Daulat-e Abbasiyan (Negara Abbasiyah). Terjemahan: Hujjatullah Judaki. Qom: Pajoheshgah Houzeh va Danesyegah, 1383 HS.
- Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qubi. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut: Dar Sadir, t.t.
- Yaqut al-Hamawi, Syihabuddin Abu Abdullah. Mu'jam al-Buldan. Beirut: Dar Sadir, 1995 M.