Lompat ke isi

Konsep:Mir Sayid Ali Hamadani

Dari wikishia

Templat:Kotak Info Ulama Syiah Mir Sayid Ali Hamadani (714-786 H) yang dikenal dengan Syah Hamadan dan bergelar Amir Kabir, adalah seorang arif dan fukaha abad kedelapan Hijriah yang lahir di Hamadan dan nasabnya bersambung kepada Imam Sajjad as. Ia melakukan banyak perjalanan ke Hijaz, Ma Wara' al-Nahr dan Kashmir serta sempat menetap di Khuttalan. Pengaruh spiritualnya menimbulkan sensitivitas politik, termasuk kekhawatiran Timur, dan kemudian ia pergi ke Kashmir; di mana ia memainkan peran penting dalam penyebaran Tasyayyu', bahasa Persia, dan kemakmuran kerajinan tangan, khususnya tenun syal.

Berdasarkan catatan sejarah, Hamadani adalah salah satu pembesar tarekat Kubrawiyah dan seorang arif yang berpegang teguh pada syariat. Ia memiliki guru-guru seperti Syekh Mahmud Mazdaqani dan murid-murid seperti Nuruddin Ja'far Badakhsyi serta Khajah Ishaq Khuttalani. Setelahnya, tarekat ini terbagi menjadi cabang Dzahabiyah dan Nurbakhsyiyah. Terdapat perbedaan pendapat mengenai mazhabnya, namun karya-karya seperti Al-Mawaddah fi al-Qurba, Insan al-Kamil, dan Asrar Wahyi menyebabkan banyak orang menganggapnya sebagai seorang Syiah; sebagaimana dalam syair-syairnya ia juga menekankan kecintaan kepada Imam Ali as.

Ia menulis banyak karya dalam bahasa Persia dan Arab mengenai irfan dan ajaran-ajaran Islam, di antaranya Dzakhirah al-Muluk, Sair al-Thalibin, Insan al-Kamil, dan Al-Mawaddah fi al-Qurba. Ia meninggal dunia pada tahun 786 H dalam perjalanan pulang dari Kashmir dan dimakamkan di Kulob, Tajikistan. Tempat-tempat yang dinisbatkan kepadanya juga terdapat di Kunar, Afganistan dan Mansehra, Pakistan.

Nasab

Sayid Ali bin Syihabuddin Hasan Hamadani, lahir pada tahun 713 atau 714 H bersamaan dengan masa pemerintahan Oljeitu (memerintah: 703-716 H) di Hamadan. Nasabnya dari pihak ayah bersambung kepada Imam Sajjad as.[1] Ibunya juga berasal dari kalangan Alawiyun.

Perjalanan

Khanaqah dan masjid Syah Hamadan di Kashmir

Sebagian dari kehidupan Mir Sayid Ali Hamadani dihabiskan dalam perjalanan-perjalanan panjang. Perjalanan haji, perjalanan ke kota-kota di Iran, serta perjalanan ke Ma Wara' al-Nahr, Hindustan, dan Ceylon (Sri Lanka) adalah beberapa perjalanannya yang disebutkan dalam sumber-sumber biografi.[2]

Kehadiran di Ma Wara' al-Nahr

Mir Sayid Ali pergi dari Hamadan ke Ma Wara' al-Nahr pada pertengahan abad kedelapan dan menetap di Khuttalan

  1. Hamadani, Syah Hamadan Mir Sayid Ali Hamadani, 1995 M, hlm. 12.
  2. Riyadh, Ahwal wa Atsar wa Asy'ar-e Mir Sayid Ali Hamadani, 1985 M, hlm. 28.

. Alasan perjalanannya ke daerah ini dianggap karena kekacauan politik dan sosial pada tahun-tahun setelah runtuhnya pemerintahan Ilkhanat. Ia mendapatkan banyak pengikut di Ma Wara' al-Nahr, sehingga Timur Gurkani, yang telah menguasai Ma Wara' al-Nahr, menjadi takut akan pengaruhnya.[1] Diriwayatkan bahwa sekelompok ulama yang merasa terganggu dengan popularitas Sayid Ali berencana untuk membunuhnya dan meracuninya[2] serta menjelek-jelekkannya di hadapan sultan. Beberapa peneliti mengaitkan reaksi ini dengan kecenderungan Syiah yang dimiliki oleh Mir Sayid Ali.[3] Mir Sayid Ali, setelah dipanggil dan bertemu dengan Timur Lenk, keluar dari Ma Wara' al-Nahr dan melakukan perjalanan ke Kashmir.[4]

Kehadiran di Kashmir

Mir Sayid Ali melakukan perjalanan ke Kashmir pada tahun 774 H. Dalam surat-suratnya, ia mengajak raja-raja di sekitarnya untuk memeluk Islam dan mematuhi hukum-hukum syariat.[5] Ia kembali ke Kashmir pada tahun 781 H. Dikatakan bahwa dalam perjalanan ini, 700 orang menyertainya. Mir Sayid Ali menetap di daerah Alauddin Pura, Srinagar.Templat:Minta Rujukan

Penyebaran Tasyayyu' dan bahasa Persia di Kashmir dianggap sebagai salah satu hasil dari perjalanannya ke Kashmir.[6] Kemakmuran seni dan kerajinan tangan Iran di wilayah ini adalah hasil lain dari perjalanannya ke Kashmir. Selain itu, dengan kedatangannya, industri tenun syal di Kashmir dihidupkan kembali.[7] Mir Sayid Ali sendiri mencari nafkah dengan menenun kopiah.[8]

Wafat

Makam Mir Sayid Ali Hamadani di Tajikistan

Sayid Ali Hamadani meninggal dunia pada tahun 786 H di Pakhli (Kunar, timur Afganistan) saat dalam perjalanan kembali dari Kashmir menuju Turkestan. Jenazahnya dibawa ke Kulob (salah satu kota di Provinsi Khuttalan di Tajikistan) dan dimakamkan di sana.[9] Bangunan makam tersebut terletak di sebuah taman di mana beberapa anak dan cucunya juga dimakamkan. Kompleks ini juga mencakup perpustakaan yang menyimpan manuskrip-manuskrip kuno dari karya-karya Mir Sayid Ali.[10]
Di tempat meninggalnya Sayid Ali di Provinsi Kunar, Afganistan, terdapat sebuah tempat yang dikenal dengan nama Ziarat Syah Hamadan.[11] Selain itu, di kota Mansehra, Provinsi Perbatasan Barat Laut, Pakistan, juga terdapat sebuah tempat ziarah dengan nama yang sama.[12]

Tarekat Irfan

Gambar Mir Sayid Ali Hamadani pada uang kertas Tajikistan

Sayid Ali Hamadani dianggap sebagai salah satu pembesar tarekat irfan yang bernama tarekat Kubrawiyah. Ia dikenal sebagai seorang arif yang berpegang teguh pada syariat, yang dalam karya-karyanya selalu menekankan komitmen terhadap syariat Islam.[13]

Pendidikan dan pengasuhannya pada masa kecil ditangani oleh pamannya dari pihak ibu, Sayid Alauddin, yang oleh Mir Sayid Ali sendiri dianggap sebagai salah satu wali Allah (Auliya' Allah).[14] Salah satu gurunya yang paling penting adalah Syekh Mahmud Mazdaqani[15] yang merupakan murid Alauddawlah Simnani dan salah satu syekh tarekat Kubrawiyah. Syekh Akhi Ali Dusti Simnani dan Quthbuddin Naisaburi adalah guru-gurunya yang lain.

Di antara murid-murid dan pengikutnya yang menyertainya, dapat disebutkan orang-orang berikut:

  • Nuruddin Ja'far Rastabazari Badakhsyi (740-797 H), yang menulis sebuah biografi (tadzkirah) berjudul Khulashah al-Manaqib mengenai kehidupan Mir Sayid Ali.
  • Khajah Ishaq bin Amir Aramsyah Alisyahi Khuttalani (731-827 H), yang menjadi penerusnya setelah beliau. Setelahnya, tarekat ini terbagi menjadi dua cabang: satu cabang yang dikenal dengan nama Dzahabiyah dan cabang lainnya yang dinisbatkan kepada Sayid Muhammad Nurbakhsy (795–869 H. Dikenal sebagai Sayid Muhammad Nurbakhsy, pendiri tarekat Nurbakhsyiyah, salah satu murid Ibnu Fahd al-Hilli) yang disebut dengan Nurbakhsyiyah.[16]

Abdullah bin Syekh Ruknuddin Syirazi, Burhanuddin bin Abdush Samad, Qawamuddin Badakhsyi, Alauddin Hishari, Baba Ka' Syirazi, Syamsuddin Badakhsyi, Muhammad Thaliqani, dan Muhammad Saray Isti adalah murid-muridnya yang lain.Templat:Minta Rujukan

Tasyayyu'

Bait-bait syair dari Mir Sayid Ali Hamadani pada uang kertas 10 Somoni Tajikistan

Terdapat perbedaan pendapat mengenai mazhab Sayid Ali Hamadani. Sebagian penulis biografi, dengan bersandar pada beberapa karyanya seperti Al-Mawaddah fi al-Qurba wa Ahl al-'Aba yang merupakan kumpulan hadis tentang keutamaan Ahlulbait as,[17] mengelompokkannya sebagai penganut Syiah. Agha Buzurg Tehrani dalam kitab Azh-Dzari'ah, mengutip dari Qadhi Nurullah Syusytari, menganggap kitab Al-Mawaddah fi al-Qurba sebagai bukti bahwa ia adalah seorang Syiah.[18] Karya lain yang dinisbatkan kepadanya yang memperkuat kemungkinan bahwa ia adalah seorang Syiah adalah risalah Insan al-Kamil dan Asrar Wahyi.[19] Oleh karena itu, beberapa penulis menganggap tidak sepantasnya untuk meragukan kemazhaban Syiahnya.[20]

Templat:Puisi

Karya-karya

Mir Sayid Ali telah menulis karya-karya dalam berbagai tema irfan, akidah, dan sastra. Sebagian besar karyanya ditulis dalam bahasa Persia dan memiliki beberapa risalah dalam bahasa Arab. Beberapa karyanya adalah sebagai berikut:

Risalah-risalah berbahasa Persia: Templat:Kolom

  • Dzakhirah al-Muluk; yang merupakan karyanya yang paling komprehensif dan terkenal, serta merupakan buku politik (siyasat-nameh) yang sebagian besar isinya merupakan terjemahan dari kitab Ihya' 'Ulumuddin karya al-Ghazali.
  • Mir'at al-Ta'ibin; mengenai topik taubat.
  • Sair al-Thalibin; mengenai adab suluk irfani.
  • Risalah I'tiqadiyah; mengenai makrifat kepada Allah.
  • Masyarib al-Adzwaq; syarah kasidah mimiyyah karya Ibnu al-Faridh.
  • Risalah Dah Qa'idah; jalan-jalan menuju Allah.
  • Risalah Manamiyah; mengenai kualitas imajinasi serta tingkatan tidur dan mimpi.
  • Risalah Hall-e Musykil; mengenai topik irfan.
  • Waridat Amiriyah; munajat dan kata-kata mutiara.
  • Risalah Darwisyiyah; mengenai perlunya kepatuhan kepada pir (guru spiritual) dalam tarekat irfan.
  • Risalah Futuwatiyah; dalam menjelaskan tentang sikap kesatria (futuwwah).
  • Risalah Dzikriyah; dalam tafsir tentang zikir-zikir.
  • Risalah 'Aql; mengenai makna, keutamaan, dan tingkatan akal.
  • Risalah Faqriyah; mengenai para wali dan keadaan mereka.
  • Asrar Wahyi; percakapan Nabi saw dengan Allah pada malam mikraj.
  • Chehel Hadits; (Empat Puluh Hadis).
  • Risalah Chehel Maqam Shufiyah;
  • Risalah Haqiqat-e Iman; topik irfan dan teologi.
  • Risalah Muchalkeh; dalam menjelaskan hadis bahwa tidak ada satu huruf pun dari Al-Qur'an kecuali memiliki enam puluh ribu pemahaman.
  • Risalah Haqq al-Yaqin; tafsir ayat "lillahi mulkus samawati wal ardh" (Hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi).
  • Nuriyyah; mengenai adab irfani.
  • Risalah Talqiniyyah; mengenai penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
  • Risalah Hamadaniyyah; penjelasan masalah-masalah irfan.
  • Risalah Bahramsyahiyyah; nasihat Bahram Badakhsyani.
  • Risalah 'Aqabat; hakikat iman.
  • Wujudiyyah; mengenai wujud mutlak.
  • Chehel Asrar atau Ghazaliyat; mencakup kumpulan sajak lirik (ghazal) dari Sayid.
  • Minhaj al-'Arifin; buku nasihat.

Risalah-risalah berbahasa Arab: Templat:Kolom

  • Asrar al-Nuqthah; rahasia-rahasia huruf.
  • Risalah fi Bab 'Ulama al-Din; mengenai pembagian ulama, yaitu ashabul hadis, fukaha, dan sufi.
  • Risalah Shifat al-Fuqara; dalam menjelaskan kefakiran.
  • Arba'in Amiriyyah; empat puluh hadis.
  • Dzikriyyah 'Arabiyyah; keutamaan zikir.
  • Risalah Insan al-Kamil; pembahasan mengenai wahdatul wujud.
  • Auradiyyah; dalam menjelaskan keutamaan dan perlunya wirid serta zikir.
  • Al-Mawaddah fi al-Qurba; hadis-hadis Nabi saw mengenai keutamaan Ahlulbait.
  • Hall al-Fushush; dalam syarah kitab Fushush al-Hikam.[21]

Peringatan dan Konferensi

Pada peringatan tujuh ratus tahun kelahiran Mir Sayid Ali Hamadani, namanya dicatat dalam kalender tokoh-tokoh terkemuka UNESCO untuk tahun 2014–2015.[22] Dalam rangka perayaan tersebut, sebuah upacara peringatan diselenggarakan dengan kerja sama Organisasi Kebudayaan dan Komunikasi Islam, Komisi Nasional UNESCO, dan lembaga-lembaga lainnya pada 3 Aban 1393 HS/2014 M di Museum Nasional Iran.[23]

Selain itu, pada tanggal 9 dan 10 Mehr 1394 HS/2015 M, Konferensi Internasional Mir Sayid Ali Hamadani diselenggarakan di kota Hamadan.[24]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Hollister, Tasyayyu' dar Hend, 1373 HS, hlm. 163-164.
  2. Badakhsyi, Khulashah al-Manaqib, 1374 HS, hlm. 268.
  3. Adzkai, Morawwij-e Eslam dar Iran-e Saghir, 1370 HS, hlm. 78.
  4. Badakhsyi, Khulashah al-Manaqib, 1374 HS, hlm. 369-370.
  5. Adzkai, Morawwij-e Eslam dar Iran-e Saghir, 1370 HS, hlm. 46.
  6. Hollister, Tasyayyu' dar Hend, 1373 HS, hlm. 163.
  7. Atha'i, "Naqsy-e Mir Sayid Ali Hamadani dar Tause'eh Honar wa Sanaye'-e Dasti dar Kashmir", hlm. 210-211.
  8. Atha'i, "Naqsy-e Mir Sayid Ali Hamadani dar Tause'eh Honar wa Sanaye'-e Dasti dar Kashmir", hlm. 210-211.
  9. Adzkai, Morawwij-e Eslam dar Kashmir, 1370 HS, hlm. 87; Riyadh, Ahwal wa Atsar wa Asy'ar-e Mir Sayid Ali Hamadani, 1985 M, hlm. 73.
  10. "'Syah Hamadani' Sya'ir wa 'Arif-e Irani Aramideh dar Tajikestan", Kantor Berita Fars.
  11. Habibi, Nasab wa Zadgah-e Sayid Jamaluddin Afghani, 1355 HS, hlm. 33.
  12. Habibi, Nasab wa Zadgah-e Sayid Jamaluddin Afghani, 1355 HS, hlm. 33.
  13. Adzkai, Morawwij-e Eslam dar Iran-e Saghir, 1370 HS, hlm. 23-24 dan 32
  14. Badakhsyi, Khulashah al-Manaqib, 1374 HS, hlm. 13.
  15. Badakhsyi, Khulashah al-Manaqib, 1374 HS, hlm. 43.
  16. Adzkai, Morawwij-e Eslam dar Iran-e Saghir, 1370 HS, hlm. 20-30.
  17. Hollister, Tasyayyu' dar Hend, 1373 HS, hlm. 164.
  18. Tehrani, Azh-Dzari'ah, 1403 H, jld. 25, hlm. 255 dan jld. 10, hlm. 21.
  19. Anwari, Mir Sayid Ali Hamadani wa Tahlil-e Atsar-e U, hlm. 330, 359.
  20. Adzkai, Morawwij-e Eslam dar Iran-e Saghir, 1370 HS, hlm. 25-29.
  21. Anwari, "Mir Sayid Ali Hamadani wa Tahlil-e Atsar-e U", hlm. 203 dan seterusnya.
  22. Celebration of anniversaries in 2014
  23. Situs Komisi Nasional UNESCO Iran
  24. Situs Konferensi Internasional Mir Sayid Ali Hamadani

Catatan

Templat:Catatan-catatan

Daftar Pustaka

  • Agha Buzurg Tehrani, Muhammad Muhsin. Azh-Dzari'ah ila Tashanif asy-Syi'ah. Beirut: Dar al-Adhwa', cetakan kedua, 1403 H.
  • Adzkai, Parviz. Morawwij-e Eslam dar Iran-e Saghir, Ahwal wa Atsar-e Mir Sayid Ali Hamadani be Inzhimam-e Risaleh Hamadaniyeh. Intisyarat Danesygahe Bu-Ali Sina ba Hamkari Intisyarat Moslem Hamadan, 1370 HS.
  • Anwari, Sayid Mahmud. "Mir Sayid Ali Hamadani wa Tahlil-e Atsar-e U". Buletin Fakultas Sastra dan Ilmu Humaniora Tabriz, Nomor 123, Musim Gugur 1356 HS.
  • Badakhsyi, Nuruddin Ja'far. Khulashah al-Manaqib (dar Manaqib Mir Sayid Ali Hamadani). Islamabad: Markaz Tahqiqat Farsi Iran wa Pakistan, 1374 HS.
  • Riyadh, Muhammad. Ahwal wa Atsar wa Asy'ar-e Mir Sayid Ali Hamadani. Islamabad, Pakistan: Markaz Tahqiqat Farsi Iran wa Pakistan, 1985 M.
  • Atha'i, Abdullah. "Naqsy-e Mir Sayid Ali Hamadani dar Tause'eh Honar wa Sanaye'-e Dasti dar Kashmir". Majalah Ayeneh Mirats, Tahun Keenam, Nomor Keempat, Musim Dingin 1378 HS.
  • "Syah Hamadani' Sya'ir wa 'Arif-e Irani Aramideh dar Tajikestan". Kantor Berita Fars. Tanggal Publikasi: 8 Mordad 1391 HS.
  • Hollister, John Norman. The Shi'a of India (Tasyayyu' dar Hend). Terjemahan: Azarmidukht Masyaikh Faridani. Teheran: Markaz Nasyr Danesyghahi, 1373 HS.
  • Hamadani, Sayid Husain Syah. Terjemahan Muhammad Riyadh Khan. Syah Hamadan, Mir Sayid Ali Hamadani. Islamabad, Pakistan: Markaz Tahqiqat Farsi Iran wa Pakistan, 1995 M.
  • Hamadani, Mir Sayid Ali. Risalah I'tiqadiyah. Riset oleh Ehsan Fattahi Ardakani. Jurnal Kuartalan Mitsaq Amin, Pra-edisi ketiga, Musim Panas 1386 HS.
  • "Risaleh Mir Sayid Ali Hamadani dar Syarh-e Muradath-e Hafez". Situs Web Irfan-e Eslami. Tanggal Akses: 1 Esfand 1404 HS.