Konsep:Mi'raj Nabi Isa as
Mi'raj Nabi Isa as (bahasa Arab:عروج حضرت عیسی) atau kenaikan Nabi Isa as ke langit adalah keyakinan yang dianut bersama oleh Muslim dan Kristen. Keyakinan ini merujuk pada naiknya Nabi Isa as ke langit serta keberlangsungan hidupnya. Dalam dua ayat Al-Qur'an, Tuhan memberikan isyarat tentang mi'raj Nabi Isa as. Peristiwa ini terjadi saat beliau berusia 32 atau 33 tahun, sekitar tahun 585 sebelum Hijrah Nabi Muhammad saw. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa mi'raj terjadi pada malam ke-21 bulan Ramadan. Para ulama Muslim sering membandingkan Mi'raj Nabi Muhammad saw dengan mi'raj Nabi Isa as, dan pendapat yang paling masyhur menyatakan bahwa mi'raj tersebut berlangsung secara jasmani dan rohani. Dari berbagai riwayat, dapat disimpulkan bahwa mi'raj Nabi Isa as bersifat rohani sekaligus jasmani.
Dalam Al-Qur'an surah An-Nisa, Tuhan menolak isu penyaliban Isa dan tuduhan bahwa beliau dibunuh oleh para penentangnya. Pernyataan ini menjadi bantahan terhadap klaim Kristen yang meyakini Isa disalib dan wafat di kayu salib. Sebagian ulama berpendapat bahwa meski Isa tidak disalib, hal itu tidak meniadakan kemungkinan wafatnya secara alami setelah umurnya berakhir. Sebaliknya, sebagian ulama lainnya menekankan keyakinan bahwa “Isa tidak meninggal” sebagai akidah populer di kalangan Muslim. Riwayat Islam juga dipahami sebagai penegasan bahwa Nabi Isa masih hidup dan diangkat ke langit. Mereka yang meyakini Isa tidak wafat menafsirkan lafaz «muta'waffîka» dalam Al-Qur'an tentang Isa as sebagai “menerima/mengambil”, bukan berarti kematian.
Kembalinya Nabi Isa as diyakini sebagai peristiwa pasti pada masa kemunculan Imam Mahdi afs. Menurut Ali al-Kurani dalam kitab Ashr al-Zhuhur, turunnya kembali Nabi Isa as pada masa kemunculan Imam Zaman afs adalah hal yang disepakati di kalangan Muslim.
Kedudukan
Tuhan menyebutkan peristiwa mi'raj Nabi Isa as dalam dua ayat Al-Qur'an;[1] Dalam Surah An-Nisa, ungkapan "Allah telah mengangkatnya kepada-Nya"[2] secara khusus merujuk pada Isa as.[3] Para mufasir Syiah[4] maupun Ahlusunah[5] menafsirkan pernyataan ini sebagai bukti bahwa Isa as mengalami kenaikan ke langit atau mi'raj. Selain itu, ungkapan Al-Qur'an "dan mengangkatmu kepada-Ku"[6] juga dipahami sebagai indikasi mi'raj Isa as.[7]
Para ulama telah melakukan perbandingan[8] antara Mi'raj Nabi Islam saw dan mi'raj Nabi Isa as,[9] serta menelaah persamaan dan perbedaannya.[10]
Istilah uruj (mi'raj/naik) merujuk pada perjalanan ke alam atas,[11] yang dianggap lawan kata dari hubuth (turun).[12] Usia Nabi Isa saat mengalami mi'raj diperkirakan 32 tahun,[13] sedangkan pendapat lain menyebut 33 tahun.[14] Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 585 sebelum Hijrah Nabi Islam saw.[15] Beberapa riwayat menyebut bahwa mi'raj berlangsung pada malam ke-21 bulan Ramadan.[16]
Diriwayatkan dari Imam Baqir as bahwa setelah syahadah Imam Ali as, putranya Imam Hasan as naik mimbar dan menyebut bahwa syahadah tersebut terjadi pada malam yang sama dengan berlangsungnya beberapa peristiwa penting, termasuk mi'raj Isa as.[17]
Dalam ajaran Kristen, Isa wafat di kayu salib setelah disalib;[18] dikuburkan,[19] dan pada hari ketiga jenazahnya tidak ditemukan.[20] Setelah bangkit, Isa menemui para muridnya,[21] lalu naik ke surga dan "duduk di sebelah kanan Allah".[22]
Isa Tidak Disalib
Dalam Al-Qur'an, Tuhan menegaskan bahwa Isa tidak disalib.[23] Surah An-Nisa, yang dianggap unik terkait penyaliban Isa,[24] menjelaskan bahwa kisah pembunuhan dan penyaliban Nabi Isa dibantah:[25] "Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya"[26] Orang lain dibunuh secara keliru, sehingga mereka mengira telah membunuh Isa.[27] Ada riwayat yang menyebut bahwa para penentang Isa membunuh orang lain secara keliru sebagai gantinya.[12]
Keyakinan ini menolak klaim Kristen yang menyatakan Isa disalib.[28] Kitab Suci Kristen menegaskan bahwa Isa disalib,[29] wafat di kayu salib,[30] dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan Kristen mengenai hal ini.[31] Keempat Injil, yang dianggap paling otoritatif, secara rinci mencatat peristiwa penangkapan dan penyaliban Nabi Isa.[32]
Hidup atau Wafatnya Isa
Ulama Muslim mengemukakan pendapat berbeda mengenai apakah Isa meninggal secara alami sebelum mi'rajnya atau mi'raj terjadi saat beliau masih hidup.[33] Dalam Al-Qur'an, Tuhan hanya menegaskan bahwa Isa as tidak dibunuh atau disalib oleh para penentangnya.[34] Beberapa ulama berpendapat bahwa meskipun Isa tidak disalib oleh Yahudi, tidak berarti beliau sama sekali tidak meninggal; melainkan, setelah beberapa waktu umurnya berakhir, beliau wafat secara alami.[35] Dalam Al-Qur'an, ungkapan «mutawaffika» (Aku akan mengambilmu/mewafatkanmu) dalam Surah Ali Imran[36] menjadi dasar perbedaan pendapat para ulama. Beberapa mufasir Syiah[37] dan Ahlusunah[38] menyimpulkan bahwa Isa wafat secara alami sebelum mi'raj, sehingga mi'raj terjadi setelah kematiannya.
Keyakinan bahwa "Nabi Isa tidak wafat" dan tetap hidup menjadi pandangan populer di kalangan Muslim.[39] Riwayat dari sumber-sumber Syiah menukil bahwa Isa bin Maryam tidak mati dan akan kembali sebelum Hari Kiamat.[40] Riwayat Islam secara umum juga menegaskan bahwa Nabi Isa hidup dan diangkat ke langit.[41] Orang-orang yang meyakini Isa tidak wafat menafsirkan ungkapan «mutawaffika» tentang beliau sebagai "mengambil/menerima", sehingga tidak harus dimaknai sebagai kematian.[42] Sebagian lain mengaitkan ungkapan ini dengan kematian, namun berpendapat bahwa ini merujuk pada mi'raj Isa; karena beliau tidak lagi berada di bumi, digunakan istilah tersebut.[43]
Dalam tradisi Kristen, Isa wafat di kayu salib setelah disalib,[44] dikuburkan,[19] dan pada hari ketiga jenazahnya tidak ditemukan.[20] Setelah itu, Isa bangkit, menemui murid-muridnya,[45] dan kemudian naik ke surga.[46]
Mi'raj Jasmani dan Rohani
Para mufasir sepakat bahwa Al-Qur'an tidak secara tegas menyatakan apakah mi'raj Isa as terjadi hanya dengan ruh atau dengan jasad dan ruh.[47] Beberapa menafsirkan zhahir Ayat 158 Surah An-Nisa sebagai mi'raj rohani,[48][49] sedangkan sebagian lain menafsirkan bahwa mi'raj Isa bersifat rohani dan jasmani.[50] Dari riwayat Islam dapat disimpulkan bahwa mi'raj Isa memang mencakup jasmani dan rohani.[51]
Diriwayatkan dari Imam Ridha as bahwa Isa bin Maryam diangkat dari bumi dalam keadaan hidup. Di antara langit dan bumi, ruhnya dicabut, kemudian dibawa ke langit, dan di sana ruhnya dikembalikan ke tubuhnya.[52]
Beberapa mufasir Ahlusunah meyakini bahwa pendapat masyhur mufasir maupun non-mufasir tentang Isa as menegaskan mi'raj jasmani dan rohani.[53] Beberapa peneliti berpendapat bahwa Al-Qur'an memuji Isa karena mi'rajnya, dan pujian ini menunjukkan sifat mi'raj yang mencakup jasmani dan rohani; sebab mi'raj rohani tidak eksklusif bagi Isa, banyak ruh yang naik kepada Tuhan, sedangkan mi'raj ini menjadi pujian khusus baginya.[54] Beberapa riwayat juga menunjukkan kembalinya Isa pada masa kemunculan Imam Mahdi, yang dianggap bukti mi'raj jasmani.[55] Mi'raj Nabi Islam saw juga dianggap sebagai bukti bahwa Isa mi'raj dengan jasad, karena Nabi Islam melihat Isa dalam mi'rajnya, meski ada kritik terhadap dalil ini.[56]
Kembali
Artikel terkait untuk kategori ini adalah Kembalinya Nabi Isa.
Kembalinya Isa as diyakini sebagai peristiwa yang pasti terjadi pada masa [[Kemunculan Imam Mahdi as |kemunculan Imam Mahdi afs]].[57] Menurut Ali al-Kurani dalam kitab Ashr al-Zhuhur, kembalinya Nabi Isa as pada masa kemunculan Imam Zaman afs merupakan perkara yang disepakati di kalangan Muslim.[58]
Sejumlah mufasir menafsirkan ayat 46 Surah Ali Imran[59] dan ayat 159 Surah An-Nisa[60] sebagai rujukan terkait kembalinya Nabi Isa as pada masa kemunculan.
Dalam literatur Ahlusunah, terdapat 28 riwayat[61] mengenai turunnya Nabi Isa as di masa kemunculan. Sementara itu, dalam sumber riwayat Syiah terdapat 30 riwayat mengenai peristiwa serupa,[62] yang menurut Sayid Muhammad Husain Thabathaba'i, penulis Al-Mizan, dapat dikategorikan sebagai khabar mustafidh.[63]
Catatan Kaki
- ↑ Rezaei, «Barresi-ye Tathbiqi-ye Me'raj-e Payambar (saw) va Uruj-e Isa (as)», hlm. 157.
- ↑ Surah An-Nisa, ayat 158.
- ↑ Husaini Hamadani, Anwar-e Derakhshan dar Tafsir-e Quran, 1404 H, jld. 4, hlm. 277.
- ↑ Qara'ati, Tafsir-e Nur, 1388 HS, jld. 2, hlm. 207.
- ↑ Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 11, hlm. 262.
- ↑ Surah Ali Imran, ayat 55.
- ↑ Rezaei, «Barresi-ye Tathbiqi-ye Me'raj-e Payambar (saw) va Uruj-e Isa (as)», hlm. 157.
- ↑ Fakhrurrazi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 8, hlm. 200.
- ↑ Rezaei, «Barresi-ye Tathbiqi-ye Me'raj-e Payambar (saw) va Uruj-e Isa (as)», hlm. 168.
- ↑ Rezaei, «Barresi-ye Tathbiqi-ye Me'raj-e Payambar (saw) va Uruj-e Isa (as)», hlm. 171.
- ↑ Bigdeli, «Moghayeseh-ye Didgah-e Uruj va Raj'at-e Hazrat-e Isa (as) dar Eslam va Masihiyat», hlm. 33.
- ↑ 12,0 12,1 Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1417 H, jld. 5, hlm. 132.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 1, hlm. 585.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 2, hlm. 95.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 1, hlm. 585.
- ↑ Qummi, Waqa'i al-Ayyam, Penerbit Nur-e Mathaf, hlm. 79.
- ↑ Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 457.
- ↑ Injil Matius, Bab 27: Ayat 50.
- ↑ 19,0 19,1 Injil Lukas, Bab 23, Ayat 50-54.
- ↑ 20,0 20,1 Injil Lukas, Bab 24, Ayat 1-3.
- ↑ Injil Matius, Bab 28: Ayat 16-20.
- ↑ Injil Markus, Bab 16: Ayat 19.
- ↑ Ma'rifat, Syubuhat wa Rudud Haula al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 102.
- ↑ Shadiqi Tehrani, Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an wa al-Sunnah, 1365 HS, jld. 7, hlm. 423.
- ↑ Fadhlullah, Min Wahyi al-Qur'an, 1419 H, jld. 7, hlm. 534.
- ↑ Surah An-Nisa, Ayat 157.
- ↑ Modarresi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 2, hlm. 248.
- ↑ Shadiqi Tehrani, Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an wa al-Sunnah, 1365 HS, jld. 7, hlm. 423.
- ↑ Injil Lukas, Bab 23, Ayat 32-34.
- ↑ Injil Matius, Bab 27: Ayat 50.
- ↑ Thayyib, Atyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1378 HS, jld. 4, hlm. 263.
- ↑ Bigdeli, «Moghayeseh-ye Didgah-e Uruj va Raj'at-e Hazrat-e Isa (as) dar Eslam va Masihiyat», hlm. 34.
- ↑ Thabrisi, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1372 HS, jld. 2, hlm. 759.
- ↑ Ma'rifat, Syubuhat wa Rudud Haula al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 106.
- ↑ Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 2, hlm. 72.
- ↑ Surah Ali Imran, Ayat 55.
- ↑ Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 2, hlm. 71.
- ↑ Zamakhsyari, Al-Kusyaf 'an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil, jld. 1, hlm. 366.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hlm. 569.
- ↑ Thabrisi, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, 1372 HS, jld. 2, hlm. 759.
- ↑ Bigdeli, «Moghayeseh-ye Didgah-e Uruj va Raj'at-e Hazrat-e Isa (as) dar Eslam va Masihiyat», hlm. 37.
- ↑ Bigdeli, «Moghayeseh-ye Didgah-e Uruj va Raj'at-e Hazrat-e Isa (as) dar Eslam va Masihiyat», hlm. 37.
- ↑ Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 2, hlm. 71.
- ↑ Injil Matius, Bab 27: Ayat 50.
- ↑ Injil Matius, Bab 28: Ayat 16-20.
- ↑ Injil Markus, Bab 16: Ayat 19.
- ↑ Sayyid Qutb, Fi Zhilal al-Qur'an, 1412 H, jld. 2, hlm. 802.
- ↑ Qara'ati, Tafsir-e Nur, 1388 HS, jld. 2, hlm. 207.
- ↑ Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Beirut, jld. 6, hlm. 15.
- ↑ Ma'rifat, Syubuhat wa Rudud Haula al-Qur'an al-Karim, 1423 H, hlm. 106.
- ↑ Rezaei, «Barresi-ye Tathbiqi-ye Me'raj-e Payambar (saw) va Uruj-e Isa (as)», hlm. 159.
- ↑ Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha as, 1378 H, jld. 1, hlm. 215.
- ↑ Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Beirut, jld. 6, hlm. 15.
- ↑ Sa'di, Syarh al-Nasafiyah fi al-Aqidah al-Islamiyah, 1380 HS, hlm. 322.
- ↑ Sa'di, Syarh al-Nasafiyah fi al-Aqidah al-Islamiyah, 1380 HS, hlm. 322.
- ↑ Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Beirut, jld. 6, hlm. 15.
- ↑ Qazwini, Imam Mahdi (aj) az Veladat ta Zhuhur, 1387 HS, hlm. 678.
- ↑ Kurani, Ashr al-Zhuhur, 1430 H, hlm. 245.
- ↑ Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 2, hlm. 550.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 5, hlm. 134-135; Shadiqi Tehrani, Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an wa al-Sunnah, 1365 HS, jld. 7, hlm. 439.
- ↑ Kurani dkk, Mu'jam Ahadits al-Imam al-Mahdi (aj), 1428 H, jld. 2, hlm. 399-493.
- ↑ Bakhshi, [http://ensani.ir/fa/article/466878/بررسی-و-تبیین-نقش-نزول-عیسی-ع-در-دوران-پس-از-ظهور-امام-زمان- «Barresi va Tabyin-e Naqsh-e Hazrat-e Isa (as) dar Dowran-e Pas az Zhuhur-e Imam Zaman (as)»], hlm. 116.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 5, hlm. 144.
Daftar Pustaka
- Ibnu Katsir Dimasyqi, Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, 1407 H.
- Bakhshi, Saeed, «Barresi va Tabyin-e Naqsh-e Hazrat-e Isa (as) dar Dowran-e Pas az Zhuhur-e Imam Zaman (as)», Majalah Masyriq-e Mou'ud, Tahun ke-14, No. 53, Musim Semi 1399 HS.
- Bigdeli, Hasan, «Moghayeseh-ye Didgah-e Uruj va Raj'at-e Hazrat-e Isa (as) dar Eslam va Masihiyat», Majalah Ma'aref Quran va Etrat, Tahun kedua, No. 5, Musim Gugur 1395 HS.
- Husaini Hamadani, Muhammad, Anwar-e Derakhshan dar Tafsir-e Quran, Teheran, Lotfi, 1404 H.
- Rezaei, Ameneh, «Barresi-ye Tathbiqi-ye Me'raj-e Payambar (saw) va Uruj-e Isa (as)», Majalah Hadits va Andisheh, No. 13, Musim Semi dan Panas 1391 HS.
- Sa'di, Abdul Malik Abdurrahman, Sanandaj, Kurdistan, Syarh al-Nasafiyah fi al-Aqidah al-Islamiyah, 1380 HS.
- Sayyid Qutb, Fi Zhilal al-Qur'an, Beirut, Kairo, Dar al-Syuruq, Cetakan ke-17, 1412 H.
- Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha (as), Peneliti dan Korektor: Mahdi Lajurdi, Teheran, Nasyr-e Jahan, Cetakan pertama, 1378 H.
- Shadiqi Tehrani, Muhammad, Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an bi al-Qur'an, Qom, Entesharat-e Farhang-e Eslami, Cetakan kedua, 1365 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, Qom, Daftar Entesharat Eslami, Cetakan kelima, 1417 H.
- Thabrisi, Fadhl bin Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Pengantar: Muhammad Javad Balaghi, Teheran, Naser Khosrow, Cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir, Tarikh Thabari (Tarikh al-Umam wa al-Muluk), Tahqiq: Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim, Beirut, Dar al-Turats, Cetakan kedua, 1387 H.
- Thayyib, Sayid Abdul Husain, Atyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Teheran, Entesharat-e Eslam, Cetakan kedua, 1378 HS.
- Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar, Mafatih al-Ghaib, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan ketiga, 1420 H.
- Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain, Tafsir Min Wahyi al-Qur'an, Beirut, Dar al-Malak lil Thiba'ah wa al-Nasyr, Cetakan kedua, 1419 H.
- Qara'ati, Mohsen, Tafsir-e Nur, Teheran, Markaz-e Farhangi-ye Darsha-i az Quran, 1388 HS.
- Qazwini, Muhammad Kazim, Imam Mahdi (aj) az Veladat ta Zhuhur, Qom, Nasyr al-Hadi, 1387 HS.
- Qummi, Abbas, Waqa'i al-Ayyam, Penerbit Nur-e Mathaf, Qom, Tanpa Tahun.
- Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, Al-Kafi, Peneliti dan Korektor: Ali Akbar Ghaffari, Muhammad Akhundi, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan keempat, 1407 H.
- Kurani Amili, Ali, Ashr al-Zhuhur, 1408 H, Tanpa Tempat, Tanpa Penerbit.
- Kurani, Ali dkk, Mu'jam Ahadits al-Imam al-Mahdi (aj), Qom, Entesharat Masjid-e Moqaddas-e Jamkaran, 1428 H.
- Modarresi, Sayid Muhammad Taqi, Min Huda al-Qur'an, Teheran, Dar Muhibbi al-Husain, Cetakan pertama, 1419 H.
- Maraghi, Ahmad bin Musthafa, Tafsir al-Maraghi, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Beirut, Tanpa Tahun.
- Ma'rifat, Muhammad Hadi, Syubuhat wa Rudud Haula al-Qur'an al-Karim, Qom, Muassasah Farhangi Entesharati al-Tamhid, 1423 H.
- Mughniyah, Muhammad Jawad, Al-Tafsir al-Kasyif, Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan pertama, 1424 H.