Konsep:Kesultanan Khodadad Mysore
Kesultanan Khodadad Mysore (1175-1214 H / 1761-1799 M) adalah sebuah pemerintahan lokal dan Syiah di wilayah Mysore, selatan India. Kesultanan Khodadad Mysore dalam masa singkatnya, selain memiliki pendekatan anti-kolonial, juga memiliki manifestasi kecenderungan Islam dan Syiah dalam bidang legitimasi dan perilaku pemerintahan.
Pemerintahan ini didirikan oleh Hyder Ali Khan Bahadur dengan tujuan menghadapi perluasan pengaruh Inggris. Hyder Ali, dengan memanfaatkan kelemahan kekuatan lokal serta persaingan antara Inggris dan Prancis, memproklamasikan kemerdekaan Mysore dan mengokohkan kekuasaannya dengan menandatangani perjanjian politik dan militer serta terlibat dalam peperangan melawan pasukan Inggris. Setelahnya, Tipu Sultan naik takhta dan melanjutkan kebijakan menghadapi Inggris melalui perang serta upaya membangun aliansi dengan beberapa kekuatan regional dan ekstra-regional. Pemerintahan ini runtuh dengan terbunuhnya Tipu Sultan dalam Perang Anglo-Mysore keempat, dan wilayahnya dibagi antara Perusahaan Hindia Timur dan Nizam Hyderabad.
Awal dan Akhir Pemerintahan
Kesultanan Khodadad Mysore adalah sebuah negara Muslim di selatan India yang didirikan pada tahun 1175 H / 1761 M oleh Hyder Ali Khan Bahadur dengan tujuan menghadapi perluasan pengaruh Britania.[1] Hyder Ali Khan Bahadur, yang merupakan salah satu komandan militer Mysore, dengan memanfaatkan kelemahan kekuatan lokal dan persaingan antara Inggris dan Prancis, memproklamasikan kemerdekaan Mysore dan mendirikan pemerintahan baru.[2] Posisi politik dan pengaruh keluarga ayahnya, ditambah dengan struktur Provinsi Mysore yang relatif terpusat dan kohesif, memberikan landasan bagi pengokohan kekuasaannya.[3] Hyder Ali menjalin aliansi atau pakta perdamaian dengan beberapa penguasa lokal, termasuk penguasa Madras dan wilayah Nizam di Dekkan, untuk membendung pengaruh Britania, serta beberapa kali terlibat perang dengan pasukan Inggris dan meraih beberapa kesuksesan.[4]
Setelah kematiannya pada tahun 1197 H / 1782 M, putranya Tipu Sultan naik takhta. Pada periodenya, peperangan antara Mysore dan Britania terus berlanjut. Tipu Sultan berupaya menciptakan aliansi dengan kekuatan regional dan ekstra-regional seperti Afganistan, Iran (pada masa Fath-Ali Shah Qajar), Prancis (pesaing utama Inggris), dan bahkan Kekaisaran Utsmaniyah untuk menghadapi Inggris.[5] Namun Britania, dengan menghadapi tindakan-tindakan ini, berhasil mengalahkan Tipu Sultan dalam Perang Anglo-Mysore keempat (1214 H / 1799 M) dan menjadikannya gugur.[6]
Setelah terbunuhnya Tipu Sultan, wilayah Kesultanan Khodadad Mysore dibagi antara Perusahaan Hindia Timur Britania dan Nizam Hyderabad. Beberapa waktu kemudian, berdasarkan sebuah perjanjian antara Perusahaan Hindia Timur dan Sultan Mysore yang baru, provinsi ini berada di bawah perlindungan dan kendali Perusahaan Hindia Timur.[7]
Buku Tarikh-e Saltanat-e Khodadad-e Mysore (Sejarah Kesultanan Khodadad Mysore)[8] dalam bahasa Urdu, secara khusus mengkaji sejarah dan struktur Kesultanan Khodadad Mysore. Buku Zendegi-ye Ejtema'i-Eqtesadi-ye Syi'eh-ye Itsna 'Asyari ba Tekyeh beh Syahr-e Mysore dar Hend (Kehidupan Sosial-Ekonomi Syiah Dua Belas Imam dengan Menitikberatkan pada Kota Mysore di India)[9] dalam bahasa Persia juga didedikasikan untuk mengkaji kondisi kaum Syiah di Mysore.
Manifestasi Pemerintahan dari Islam dan Syiah
Pemilihan istilah "Khodadad" (dalam bahasa Persia dan Urdu bermakna "Pemberian Tuhan" atau "Anugerah Ilahi") untuk pemerintahan Hyder Ali dan Tipu Sultan, merupakan bentuk legitimasi agama bagi pemerintahan ini; yakni pemerintahan yang dianugerahkan oleh Allah kepada mereka.[10] Muhammad Husain al-Muzhaffar, fakih Syiah, dalam buku Tarikh al-Syi'ah, memberikan isyarat singkat pada pemerintahan Syiah Mysore dan dua penguasanya.[11] Dalam penelitian sejarah, disebutkan beberapa karakteristik penting Islam dan pemerintahan untuk masa kekuasaan Hyder Ali Khan Bahadur dan Tipu Sultan (Kesultanan Khodadad Mysore):
- Hyder Ali Khan memiliki kecintaan dan rasa hormat yang luar biasa kepada Imam Ali (as) dan pada mata cincinnya terukir kalimat masyhur "La Fata illa Ali La Saifa illa Zulfiqar". Meskipun demikian, gaya kepemimpinannya jauh dari fanatisme mazhab dan perselisihan Syiah dan Sunni, serta ia mendampingi umat Hindu dengan rasa hormat; bahkan ia ikut serta dalam upacara dan hari raya mereka.[12]
- Hyder Ali melakukan pengawasan ketat terhadap perilaku para aparat pemerintahannya dan menggunakan agen rahasia serta inspeksi malam secara sembunyi-sembunyi di kota untuk tujuan ini.[13]
- Upaya untuk persatuan Islam dengan tujuan menghadapi kolonialisme Inggris, khususnya pada periode Tipu Sultan.[14]
- Tipu Sultan juga memiliki rasa hormat yang besar kepada Imam Ali (as) dan berkomitmen pada beberapa tradisi Islam: membaca Al-Qur'an setelah Salat Subuh, beribadah di waktu istirahat, menghidupkan malam (ihya), hanya makan dua kali dalam sehari semalam, dan memulai dekrit pemerintahan dengan nama Allah.[15]
- Tipu Sultan mengeluarkan perintah agar wanita Hindu tidak keluar dengan kepala terbuka dan menjaga hijab kepala.[16]
- Tipu Sultan sangat menghormati para ulama. Ia gemar mempelajari buku-buku Islam dan sejarah, serta telah menguasai bahasa dan aksara Persia dengan sempurna; sedemikian rupa sehingga ia memahami bahasa Persia dengan baik dan berbicara dengannya.[17]
Catatan Kaki
- ↑ 'Aqili, "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore...", hlm. 70 dan 73.
- ↑ 'Aqili, "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore...", hlm. 70 dan 73.
- ↑ 'Aqili, "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore...", hlm. 74.
- ↑ 'Aqili, "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore...", hlm. 74.
- ↑ 'Aqili, "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore...", hlm. 78.
- ↑ 'Aqili, "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore...", hlm. 77.
- ↑ 'Aqili, "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore...", hlm. 78.
- ↑ Mahmud Banglori, Mahmud Khan, Tarikh-e Saltanat-e Khodadad-e Mysore, Lahore, Penerbit Maktabah Aliyah, 1995 M.
- ↑ Ja'farpur, Jalal, Zendegi-ye Ejtema'i-Eqtesadi-ye Syi'eh-ye Itsna 'Asyari ba Tekyeh beh Syahr-e Mysore dar Hend, Tehran, Penerbit Arsyadan, 1401 HS.
- ↑ Mahmud Banglori, Tarikh-e Saltanat-e Khodadad-e Mysore, hlm. 342.
- ↑ Muzhaffar, Tarikh al-Syi'ah, hlm. 247.
- ↑ 'Aqili, "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore...", hlm. 80.
- ↑ 'Aqili, "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore...", hlm. 80.
- ↑ 'Aqili, "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore...", hlm. 76 dan 78.
- ↑ 'Aqili, "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore...", hlm. 80.
- ↑ 'Aqili, "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore...", hlm. 80.
- ↑ 'Aqili, "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore...", hlm. 80.
Daftar Pustaka
- 'Aqili, Sayid Ahmad dkk. "Amalkard-e Hukumat-e Mahalli-ye Mysore dar Qabal-e Dowlat-e Engelis wa Thar-e Andisyeh-ye Moqawamat wa Ettehad-e Eslami" (Kinerja Pemerintah Lokal Mysore terhadap Pemerintah Inggris dan Rencana Ide Perlawanan serta Persatuan Islam). dalam Muthala'at-e Tarikhi-ye Jang (Studi Sejarah Perang), no. 4, 1401 HS.
- Ja'farpur, Jalal. Zendegi-ye Ejtema'i-Eqtesadi-ye Syi'eh-ye Itsna 'Asyari ba Tekyeh beh Syahr-e Mysore dar Hend (Kehidupan Sosial-Ekonomi Syiah Dua Belas Imam dengan Menitikberatkan pada Kota Mysore di India). Tehran, Penerbit Arsyadan, 1401 HS.
- Mahmud Banglori, Mahmud Khan. Tarikh-e Saltanat-e Khodadad-e Mysore (Sejarah Kesultanan Khodadad Mysore). Lahore, Penerbit Maktabah Aliyah, cetakan kedua, 1995 M.
- Muzhaffar, Muhammad Husain. Tarikh al-Syi'ah. Beirut, Penerbit Dar al-Zahra, 1408 H / 1987 M.