Lompat ke isi

Konsep:Kaidah Basithul Haqiqah

Dari wikishia

Kaidah Basithul Haqiqah (Aturan Realitas Sederhana) adalah sebuah kaidah dalam filsafat yang diambil dari ungkapan "Basithul Haqiqah kullu al-asy-ya' wa laisa bi syai-in minha" yang bermakna bahwa Realitas Sederhana adalah segala sesuatu, namun ia bukan satu pun dari hal-hal tersebut. Dalam penjelasan kaidah ini disebutkan bahwa "Basithul Haqiqah" yang suci dari segala bentuk komposisi (tarkib), memiliki kesempurnaan eksistensial dari segala sesuatu secara paripurna dan tidak memiliki satu pun dari kekurangan hal-hal tersebut.

Mulla Sadra menganggap kaidah ini sebagai salah satu inovasi filosofisnya. Menurut Mulla Hadi Sabzewari, para arif sebelum Mulla Sadra telah memperhatikan isi kaidah ini dalam karya-karya mereka. Walaupun demikian, Murtadha Motahhari meyakini bahwa meskipun para urafa memperhatikan kandungan kaidah ini, namun Mulla Sadra adalah filsuf pertama yang mengajukan argumen akal untuk kaidah ini dan menggunakannya dalam filsafatnya.

Mulla Sadra meyakini bahwa Wajibul Wujud adalah "Basithul Haqiqah", dan oleh karena itu, memiliki seluruh kesempurnaan eksistensial segala sesuatu dan suci dari kekurangan-kekurangan mereka. Terhadap pandangan Mulla Sadra ini, terdapat kritik dari para ulama seperti Syaikh Ahmad al-Ahsa'i. Para pemikir seperti Mahmoud Syahabi Khorasani dan Gholamhossein Ebrahimi Dinani menganggap kritik-kritik tersebut muncul karena kurangnya pemahaman yang benar terhadap kaidah ini.

Mulla Sadra juga menggunakan kaidah ini dalam pembahasan seperti ilmu dzati Allah, kesatuan jiwa (nafs) dengan daya-dayanya, dan penolakan terhadap Syubhah Ibnu Kammunah.

Penjelasan Kaidah

Kaidah Basithul Haqiqah diambil dari ungkapan masyhur "Basithul Haqiqah kullu al-asy-ya' wa laisa bi syai-in minha"; yang bermakna bahwa Realitas Sederhana adalah segala sesuatu, namun ia bukan satu pun dari hal-hal tersebut. Kaidah ini digunakan dalam filsafat Mulla Sadra.[1] Penjelasan beberapa istilah dalam kaidah ini adalah sebagai berikut:

  • Basithul Haqiqah: Basith (sederhana/tunggal) adalah lawan dari murakkab (komposit/campuran). Dalam filsafat, basith ditujukan kepada sesuatu yang tidak memiliki bagian sama sekali.[2] Basithul Haqiqah adalah maujud yang sederhana dari segala sisi dan tidak ada komposisi apa pun di dalamnya, baik komposisi eksternal (materi dan bentuk/shurah), komposisi akal (genus dan diferensia/fasyl), komposisi kuantitas (garis, bidang, dan volume), bahkan komposisi dari eksistensi (wujud) dan esensi (mahiah) maupun eksistensi dan ketiadaan.[3]
  • Basithul Haqiqah Kullu al-Asy-ya': Yang dimaksud dengan istilah "asy-ya'" (segala sesuatu) dalam kaidah ini adalah aspek eksistensial dan kesempurnaan dari para maujud.[4] Maksud dari "Basithul Haqiqah kullu al-asy-ya'" adalah bahwa Realitas Sederhana merupakan maujud yang memiliki seluruh kesempurnaan para maujud.[5]
  • Laisa bi Syai-in Minha: Basithul Haqiqah tidak memiliki satu pun dari kekurangan dan aspek ketiadaan ( 'adami) dari maujud lainnya.[6] Oleh karena itu, Basithul Haqiqah meskipun dari sisi eksistensi adalah satu dengan seluruh maujud, namun dalam zatnya ia berbeda dengan mereka.[7]

Sejarah

Dikatakan bahwa kaidah ini termasuk kaidah yang dibangun oleh Mulla Sadra dalam filsafat.[8] Dasar kaidah ini dianggap sebagai gradasi eksistensi yang khusus (tasykik khashshi wujud).[9] Mulla Sadra dalam kitab Asfar Arba'ah setelah menyebutkan dan menjelaskan kaidah ini, menganggapnya sebagai inovasinya dan berkata bahwa ia tidak menemukan seorang pun yang mencapai pemahaman terhadap masalah ini.[10] Ia juga menganggap hal ini sebagai argumen Arsyi untuk membuktikan tauhid Wajibul Wujud yang khusus bagi dirinya sendiri.[11]

Mulla Hadi Sabzewari, arif dan filsuf Iran abad ke-13 Hijriah, menganggap kaidah ini sebagai masalah yang rumit yang muncul di sebagian besar buku Mulla Sadra, bahkan dalam buku ringkasnya seperti Al-Masya'ir dan Al-Hikmah al-'Arsyiyah.[12] Menurut Sabzewari, banyak urafa sebelum Mulla Sadra yang telah memperhatikan kaidah ini;[13] di antaranya adalah Mir Damad, filsuf Syiah abad ke-11 dan guru Mulla Sadra.[14]

Qasem Ghani, sastrawan dan penulis kontemporer Iran, dalam buku berjudul Bahsyi dar Tasawwuf (Bahasan dalam Tasawuf), menganggap teks kaidah ini sebagai inovasi Mulla Hadi Sabzewari dan dasar ajaran filosofisnya,[15] namun Murtadha Motahhari menolak pendapat ini dan meyakini bahwa Kaidah Basithul Haqiqah meskipun berakar dalam kata-kata para urafa, namun sebagai sebuah argumen filosofis, merupakan inovasi Mulla Sadra.[16]

Pembuktian Kaidah

Mulla Sadra untuk membuktikan bahwa "Basithul Haqiqah adalah segala sesuatu", berargumen bahwa jika Basithul Haqiqah bukan segala sesuatu dan ada sesuatu yang dinafikan (salab) darinya, maka zatnya akan menjadi komposit (murakkab) dari "eksistensi suatu hal" dan "ketiadaan hal lainnya", atau dengan kata lain komposit dari eksistensi (wujud) dan ketiadaan ('adam).[17] Sebagai contoh, jika dikatakan "A" bukan "B", artinya "A" adalah komposit dari satu aspek eksistensial "menjadi A" dan satu aspek ketiadaan "bukan B", dan kedua aspek ini tidaklah satu; karena akan mengakibatkan kesatuan antara eksistensi dan ketiadaan yang mana hal itu batil.[18] Oleh karena itu, "setiap identitas yang sesuatu dinafikan darinya, maka ia menjadi murakkab" dan kontraposisi (aks naqidh)Templat:Yad dari proposisi ini adalah: "Setiap yang bukan murakkab (yaitu Basithul Haqiqah), tidak ada satu pun eksistensi dan kesempurnaan yang sah untuk dinafikan darinya." Maka Basithul Haqiqah adalah segala sesuatu.[19]

Mulla Sadra dalam Asfar untuk membuktikan Kaidah Basithul Haqiqah berhujjah dengan ayat-ayat; seperti Ayat 17 Surah Al-Anfal ("wa ma ramaita idz ramaita walakinnallaha rama") dan ayat 3 serta 4 Surah Al-Hadid ("Huwa al-awwalu wa al-akhiru wa al-zhahiru wa al-bathinu wa huwa bikulli syai-in 'alim... wa huwa ma'akum ainama kuntum").[20]

Penggunaan dalam Filsafat Mulla Sadra

Mulla Sadra untuk membuktikan tauhid Wajibul Wujud dan kedudukannya sebagai Realitas Sempurna (Tammul Haqiqah) berargumen dengan kaidah ini sebagai berikut:[21] Wajibul Wujud adalah Basithul Haqiqah atau berada pada puncak kesederhanaan, dan apa pun yang merupakan Basithul Haqiqah adalah segala sesuatu, maka Wajibul Wujud adalah segala sesuatu; artinya Wajibul Wujud adalah zat sederhana yang memiliki seluruh kesempurnaan dan aspek eksistensial dari segala sesuatu, dan tidak satu pun dari segala sesuatu dari sisi kesempurnaan dan eksistensinya yang berada di luar hakikat-Nya, serta Ia suci dari kekurangan dan aspek ketiadaan mereka.[22]

Mulla Sadra juga menggunakan kaidah ini untuk membuktikan identitas sifat-sifat ilahi dengan zat-Nya,[23] dan juga menolak syubhah masyhur Ibnu Kammunah,[24] Templat:Yad menjelaskan bagaimana ilmu Allah terhadap zat-Nya dan terhadap para maujud,[25] serta membuktikan kesatuan jiwa rasional terhadap daya-dayanya.[26]

Kritik

Mulla Hadi Sabzewari dalam kitab Asrar al-Hikam menyebutkan salah satu kritik terhadap penerapan Kaidah Basithul Haqiqah pada Wajibul Wujud sebagai berikut: jika Wajibul Wujud yang merupakan Basithul Haqiqah adalah segala sesuatu, maka mengharuskan benda mati, tumbuh-tumbuhan, dan seterusnya semuanya adalah Wajibul Wujud.[27]

Menurut pendapat Sabzewari, orang yang mengajukan keberatan ini terjebak dalam kekeliruan Iham-e In'ikas (Ilusi Pembalikan).Templat:Yad[28] Dalam kaidah ini disebutkan "Basithul Haqiqah adalah segala sesuatu", dan dari benarnya kalimat ini tidak mengharuskan kebalikannya yaitu "Segala sesuatu adalah Basithul Haqiqah" juga benar.[29] Oleh karena itu, Basithul Haqiqah dari sisi eksistensi dan kesempurnaan eksistensial adalah segala sesuatu, namun segala sesuatu bukanlah Basithul Haqiqah.[30]

Syaikh Ahmad al-Ahsa'i, pendiri aliran Syaikhiyah, dalam kitab Syarh al-'Arsyiyah yang merupakan syarah atas kitab Al-'Arsyiyah karya Mulla Sadra, mengajukan kritik terhadap Kaidah Basithul Haqiqah.[31] Ia juga dalam risalah berjudul Ma'na Basith al-Haqiqah Kullu al-Asy-ya' selain mengajukan kritik terhadap kaidah ini, menganggapnya bertentangan dengan lahiriah ayat dan riwayat, serta berkeyakinan bahwa dari riwayat dan pandangan ulama dapat disimpulkan bahwa para penganut kaidah ini, yang meyakini hal tersebut mengharuskan keyakinan pada Wahdatul Wujud, berada di jalan penyimpangan dan berhak menerima azab akhirat.[32] Mahmoud Syahabi Khorasani, mujtahid dan guru besar Universitas Teheran, serta Gholamhossein Ebrahimi Dinani, penulis, filsuf, dan guru besar Universitas Teheran, menganggap jenis pandangan Al-Ahsa'i terhadap Kaidah Basithul Haqiqah dan banyak teori filosofis lainnya muncul karena kurangnya pemahaman yang benar terhadap kaidah tersebut dan banyak masalah hikmah lainnya.[33]

Monograf

Beberapa karya yang ditulis secara independen tentang Kaidah Basithul Haqiqah antara lain:

  • Ma'na Basith al-Haqiqah Kullu al-Asy-ya': Ditulis oleh Syaikh Ahmad al-Ahsa'i. Risalah ini ditulis untuk menolak Kaidah Basithul Haqiqah dan diterbitkan oleh lembaga "Syams Hajar" di Lebanon.
  • Al-Nazhrah al-Daqiqah fi Qa'idah Basith al-Haqiqah: Ditulis oleh Mahmoud Syahabi Khorasani setebal 338 halaman. Penulis dalam buku ini menjelaskan Kaidah Basithul Haqiqah dan memberikan evaluasi kritis terhadap perkataan Ahmad al-Ahsa'i. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Lembaga Penelitian Hikmah dan Filsafat Iran.

Catatan Kaki

  1. Sajjadi, Farhang-e Ishthilahat-e Falsafi-ye Mulla Sadra, 1379 HS, hlm. 130.
  2. Syahabi, Al-Nazhrah al-Daqiqah fi Qa'idah Basith al-Haqiqah, Lembaga Penelitian Hikmah dan Filsafat Iran, hlm. 52.
  3. Sajjadi, Farhang-e Ishthilahat-e Falsafi-ye Mulla Sadra, 1379 HS, hlm. 130.
  4. Syahabi, Al-Nazhrah al-Daqiqah fi Qa'idah Basith al-Haqiqah, hlm. 53.
  5. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 6, hlm. 110.
  6. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 6, hlm. 110; Sabzewari, Asrar al-Hikam, 1383 HS, hlm. 103.
  7. Anwari, "Basith al-Haqiqah", hlm. 156.
  8. Sajjadi, Farhang-e Ishthilahat-e Falsafi-ye Mulla Sadra, 1379 HS, hlm. 130.
  9. Qomi, "Basith al-Haqiqah kullu al-asy-ya' wa laisa bi syai-in minha", hlm. 124.
  10. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 3, hlm. 40.
  11. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 1, hlm. 135.
  12. Sabzewari, "Ta'liqah", dalam Al-Hikmah al-Muta'aliyah, jld. 2, hlm. 368.
  13. Sabzewari, "Ta'liqah", dalam Al-Hikmah al-Muta'aliyah, jld. 2, hlm. 368.
  14. Sabzewari, Asrar al-Hikam, 1383 HS, hlm. 106; Sabzewari, "Ta'liqah", dalam Al-Hikmah al-Muta'aliyah, jld. 6, hlm. 110.
  15. Ghani, Bahsyi dar Tasawwuf, 1331 HS, hlm. 10.
  16. Motahhari, Majmu'ah Atsar, 1390 HS, jld. 11, hlm. 610.
  17. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 6, hlm. 110-111.
  18. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 6, hlm. 110-111.
  19. Thabathaba'i, Majmu'ah Rasa'il, jld. 1, hlm. 32-33; Thabathaba'i, "Ta'liqah", dalam Al-Hikmah al-Muta'aliyah, jld. 6, hlm. 110.
  20. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 2, hlm. 368-372.
  21. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 2, hlm. 368.
  22. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 2, hlm. 368.
  23. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 6, hlm. 145.
  24. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 1, hlm. 135.
  25. Sabzewari, "Ta'liqah", dalam Al-Hikmah al-Muta'aliyah, jld. 6, hlm. 217.
  26. Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 8, hlm. 134-135.
  27. Sabzewari, Asrar al-Hikam, 1383 HS, hlm. 106.
  28. Sabzewari, Asrar al-Hikam, 1383 HS, hlm. 106; Sabzewari, "Ta'liqah", dalam Al-Hikmah al-Muta'aliyah, jld. 6, hlm. 110.
  29. Sabzewari, Asrar al-Hikam, 1383 HS, hlm. 106.
  30. Sabzewari, "Ta'liqah", dalam Al-Hikmah al-Muta'aliyah, jld. 6, hlm. 110.
  31. Sebagai contoh lihat Al-Ahsa'i, Syarh al-'Arsyiyah, 1427 H, jld. 1, hlm. 145-155.
  32. Al-Ahsa'i, Ma'na Basith al-Haqiqah Kullu al-Asy-ya', 1430 H, hlm. 54-55.
  33. Syahabi, Al-Nazhrah al-Daqiqah fi Qa'idah Basith al-Haqiqah, Lembaga Penelitian Hikmah dan Filsafat Iran, hlm. 9-10 (pendahuluan); Ebrahimi Dinani, Majara-ye Fekr-e Falsafi dar Jahan-e Islam, 1379 HS, jld. 3, hlm. 370-371.

Daftar Pustaka

  • Al-Ahsa'i, Ahmad bin Zainuddin. Ma'na Basith al-Haqiqah Kullu al-Asy-ya'. Beirut, Muassasah Syams Hajar, cetakan pertama, 1430 H.
  • Al-Ahsa'i, Ahmad bin Zainuddin. Syarh al-'Arsyiyah. Beirut, Muassasah Syams Hajar dan Muassasah al-Balagh, cetakan kedua, 1427 H.
  • Anwari, Mohammad Javad. "Basith al-Haqiqah". Da'irah al-Ma'arif Bozorg-e Islami. Pusat Da'irah al-Ma'arif Bozorg-e Islami. Teheran, 1383 HS.
  • Ebrahimi Dinani, Gholamhossein. Majara-ye Fekr-e Falsafi dar Jahan-e Islam. Teheran, Penerbit Tharhe Nou, cetakan pertama, 1379 HS.
  • Ghani, Qasem. Bahsyi dar Tasawwuf. Teheran, Percetakan Majelis, 1331 HS.
  • Khwansari, Mohammad. Farhang-e Ishthilahat-e Manthiqi. Teheran, Lembaga Penelitian Ilmu Humaniora dan Studi Budaya, cetakan kedua, 1376 HS.
  • Motahhari, Murtadha. Majmu'ah Atsar. Qom, Penerbit Sadra, 1390 HS.
  • Mulla Sadra, Mohammad bin Ibrahim. Al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-'Aqliyah al-Arba'ah. Beirut, Dar al-Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketiga, 1981 M.
  • Qomi. "Basith al-Haqiqah kullu al-asy-ya' wa laisa bi syai-in minha". Jurnal Hauzah, nomor 93, 1378 HS.
  • Sabzewari, Mulla Hadi. Asrar al-Hikam. Qom, Penerbit Matbu'at-e Dini, cetakan pertama, 1383 HS.
  • Sabzewari, Mulla Hadi. Syarh al-Manzhumah (Manthiq). Teheran, Nesyr-e Nab, 1369 HS.
  • Sajjadi, Sayid Ja'far. Farhang-e Ishthilahat-e Falsafi-ye Mulla Sadra. Teheran, Penerbit Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, cetakan pertama, 1379 HS.
  • Syahabi, Mahmoud. Al-Nazhrah al-Daqiqah fi Qa'idah Basith al-Haqiqah. Teheran, Lembaga Penelitian Hikmah dan Filsafat Iran, tanpa tahun.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Bidayah al-Hikmah. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, tanpa tahun.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Majmu'ah Rasa'il. Qom, Penerbit Bustan-e Ketab, 1391 HS.

Templat:Filsafat Islam```