Konsep:Izhar
Izhar (bahasa Arab: إِظْهَار) merupakan sebuah istilah teknis dalam disiplin ilmu Tajwid[1] yang berarti melafalkan huruf secara jelas dan tepat dari makhraj-nya tanpa mereduksinya ke dalam Idgham maupun Ghunnah.[2] Dalam proses artikulasinya, huruf-huruf tersebut diucapkan secara sempurna pada titik keluarnya tanpa mengalami distorsi atau perubahan bunyi.[3]
Secara fonologis, penerapan asas Izhar dilatarbelakangi oleh jauhnya jarak antar-makhraj huruf yang saling bertemu.[4] Berbeda dengan Idgham dan Ghunnah yang melibatkan asimilasi atau peleburan bunyi, karakteristik makhraj yang saling berjauhan ini menuntut agar huruf-huruf tersebut dilafalkan secara terpisah (infishal) dan terdengar jelas. [5] Berdasarkan prinsip dasar tersebut, diskursus mengenai Izhar diklasifikasikan ke dalam hukum Nun sukun dan Tanwin tatkala berhadapan dengan huruf-huruf halqi (tenggorokan), begitu pula pada hukum Lam ta'rif (Alif Lam) yang bersanding dengan Huruf Qamariyah.
Di kalangan ulama tajwid, terdapat divergensi pandangan mengenai status penerapan idgham atau izhar pada sejumlah kata spesifik di dalam Al-Qur'an.[6] As-Suyuti, seorang pakar otoritatif dalam disiplin ulumul Qur'an, telah menguraikan diskursus mengenai perbedaan pendapat ini secara komprehensif di dalam mahakaryanya, Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an.[7]
Para cendekiawan qiraah mengklasifikasikan Izhar sebagai salah satu dari empat hukum utama Nun sukun dan Tanwin, bersanding dengan Idgham, Iqlab, dan Ikhfa.[8] Ketentuan hukum ini diberlakukan apabila Tanwin atau Nun sukun bertemu dengan salah satu dari enam Huruf Halqi (huruf tenggorokan), yakni Hamzah (ء), Ha (هـ), 'Ain (ع), Ha (ح), Ghain (غ), dan Kha (خ).[9] Pada kondisi tersebut, fonem Nun wajib dilafalkan secara natural dan jelas[10] dalam status sukun (mati), seraya mempertahankan tempo bacaan yang lugas tanpa penahanan dengung (ghunnah panjang).[11][12] Rasionalisasi teoretis di balik hukum ini bertumpu pada divergensi atau rentang jarak yang signifikan antara makhraj tenggorokan dengan makhraj Nun dan Tanwin. Sebagai preseden, pada lafal "An'amta" (أَنْعَمْتَ) dan "Kufuwan Ahad" (کُفُوًا اَحَد), Nun sukun dan Tanwin dibaca secara izhar murni karena posisinya mendahului kemunculan huruf halqi.[13]
Diskursus mengenai Izhar tidak semata-mata terbatas pada ilmu tajwid, melainkan turut dieksplorasi di dalam bab Shalat pada literatur Fikih, terkhusus dalam menetapkan parameter validitas pelafalan bacaan salat.[14] Salah satu fokus esensialnya adalah keharusan penerapan izhar pada huruf Lam (Alif Lam makrifat) di awal kata yang tergolong Huruf Qamariyah, semisal pada lafal "Al-Hamdu" dan "Al-'Alamin". Sebagian fukaha memberikan penekanan kuat pada kewajiban untuk menjaga transmisi artikulasi yang jelas untuk bacaan ini, seraya memandang bahwa tindakan mengabaikannya—atau keliru melafalkannya menggunakan pola idgham—secara yuridis berpotensi membatalkan keabsahan salat.[15]
Lihat Juga
Catatan Kaki
- ↑ Qanuji al-Bukhari, Abjad al-'Ulum, 1420 H, jld. 2, hlm. 123.
- ↑ Lembaga Dairatul Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1426 H, jld. 1, hlm. 554.
- ↑ Al-Sarraf, Al-Jadid fi 'Ilm al-Tajwid, 1428 H, hlm. 49.
- ↑ Biglari, Sirr al-Bayan, 1364 HS, hlm. 192.
- ↑ Biglari, Sirr al-Bayan, 1364 HS, hlm. 192.
- ↑ As-Suyuti, Al-Itqan, 1424 H, hlm. 238-239.
- ↑ As-Suyuti, Al-Itqan, 1424 H, hlm. 238-239.
- ↑ As-Suyuti, Al-Itqan, 1424 H, hlm. 240.
- ↑ Qomi, al-Ghayah al-Qushwa, 1423 H, jld. 1, hlm. 414; Gilani, Tuhfah al-Abrar, 1409 H, jld. 2, hlm. 160.
- ↑ Habibi & Syahidi, Ravankhandi va Tajwid-e Qur'an-e Karim, 1389 HS, hlm. 149.
- ↑ Musawi Baladeh, Hilyah al-Qur'an, 1376 HS, hlm. 84.
- ↑ Berikut adalah contoh ayat Al-Qur'an di mana Nun sukun atau Tanwin bertemu dengan huruf halqi, sehingga wajib dibaca izhar: (Hamzah): يَنْأَوْنَ، مَنْ أَمَنَ، رَسُولٌ أَمِینٌ; (Ha - هـ): مِنْهُمْ، اِنْ هُوَ، قَوْمٍ هَادٍ; ('Ain): أَنْعَمْتَ، مِنْ عِلْمٍ، سَمِیعٌ عَلِیمٌ; (Ha - ح): وَانْحَرْ، مِنْ حَکِیمٍ، عَلِیماً حَلِیمًا; (Ghain): فَسَیُنْغِضُونَ، یَکُنْ غَنِیَّاً، اِلَهٍ غَیْرِهِ; (Kha): وَالْمُنْخَنِقَةُ، مِنْ خَیْرٍ، قَوْمٌ خَصِمُونَ.
- ↑ Lembaga Dairatul Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1426 H, jld. 1, hlm. 555.
- ↑ Lembaga Dairatul Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1426 H, jld. 1, hlm. 554.
- ↑ Lembaga Dairatul Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1426 H, jld. 1, hlm. 555.
Daftar Pustaka
- Amili, Syamsuddin Muhammad bin Mahmoud. Nafais al-Funun fi 'Arais al-'Uyun. Riset: Abu al-Hasan Sya'rani. Tehran: Islamiyah, 1381 HS.
- Al-Sarraf, Mustafa. Al-Jadid fi 'Ilm al-Tajwid. Karbala: Maktabah al-Allamah Ibnu Fahd al-Hilli, 1428 H.
- As-Suyuti, Abdurrahman bin Abi Bakar. Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an. Beirut: Dar al-Kutub al-Arabi, 1424 H.
- Biglari, Hasan. Sirr al-Bayan fi 'Ilm al-Qur'an. Tehran: Penerbit Perpustakaan Sanai, 1364 HS.
- Dehkhoda, Ali Akbar. Loghatnameh-ye Dehkhoda. Tehran: Penerbit Universitas Tehran, 1377 HS.
- Gilani Syafti, Sayid Muhammad Baqir. Tuhfah al-Abrar al-Multaqath min Atsar al-Aimmah al-Athar. Isfahan: Penerbit Perpustakaan Masjid Sayid, 1409 H.
- Habibi & Syahidi. Ravankhandi va Tajwid-e Qur'an-e Karim. Tehran: Organisasi Tabligh Islam, 1389 HS.
- Lembaga Dairatul Ma'arif Fiqh Islami. Farhang-e Fiqh Muthaabiq Mazhab-e Ahlul Bait as. Di bawah pengawasan Sayid Mahmoud Hashemi Syahrudi. Qom: Lembaga Dairatul Ma'arif Fiqh Islami, 1426 H.
- Musawi Baladeh, Sayid Muhsin. Hilyah al-Qur'an. Qom: Pusat Penerbitan Organisasi Tabligh Islam, 1376 HS.
- Qanuji al-Bukhari, Siddiq bin Hasan Khan. Abjad al-'Ulum. Qom: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1420 H.
- Qomi, Syaikh Abbas. al-Ghayah al-Qushwa fi Tarjumah al-'Urwah al-Wutsqa. Qom: Sobh-e Pirouzi, 1423 H.