Lompat ke isi

Konsep:Hakikat Muhammadiyah

Dari wikishia

Hakikat Muhammadiyah dalam Irfan Teoritis dikenal sebagai tajali (penampakan) pertama dari zat Ilahi yang muncul dalam wujud Nabi Muhammad saw sebagai perwujudan manusia sempurna (insan kamil). Konsep ini dianggap setara dengan makhluk pertama dalam kalam dan Akal Pertama dalam filsafat.

Hakikat Muhammadiyah merupakan salah satu konsep dasar dalam teori manusia sempurna Ibnu Arabi. Konsep ini dianggap sebagai akar fundamental dari pembahasan Wilayah, Kenabian, dan risalah dalam irfan teoritis. Ibnu Arabi menggunakan beberapa riwayat nabawi untuk menjelaskan konsep ini. Para pensyarah Syiah Ibnu Arabi, seperti Sayid Haydar Amuli, Agha Mohammad Reza Qomsyei, dan Imam Khomeini, menaruh perhatian pada konsep ini dan berusaha menjelaskannya dalam diri para Empat Belas Maksum as lainnya.

Perwujudan Hakikat Muhammadiyah dalam bentuk Insan Kamil (yaitu wujud Nabi saw) memiliki dua wajah: mulki (duniawi) dan malakuti. Wajah malakuti-nya adalah makhluk pertama dan perantara penciptaan makhluk lainnya; sedangkan wajah mulki-nya muncul di setiap periode sejarah dalam diri manusia sempurna pada masa itu dari kalangan para Nabi as, hingga berakhir dengan menetap pada wujud mulki Nabi Muhammad saw. Para pensyarah Syiah Ibnu Arabi meyakini bahwa Hakikat Muhammadiyah memiliki ekstensi mulki dan malakuti dalam diri manusia-manusia sempurna setelah Nabi saw. Ekstensi ini, dalam pandangan mereka, berlangsung melalui konsep wilayah; sebuah ekstensi yang setelah menetap dalam wujud malakuti Imam Ali as dan para Imam Syiah as lainnya, berakhir pada konsep Khatamul Auliya', yang oleh sebagian orang diidentifikasi sebagai Imam Zaman as. Ekstensi Hakikat Muhammadiyah ini disebut sebagai Hakikat Alawiyah.

Hakikat dan Kedudukan

Hakikat Muhammadiyah adalah sebuah konsep dalam Irfan Teoritis,[1] yang diartikan sebagai ta'ayyun (determinasi) pertama atas zat Allah.[2] Determinasi ini dianggap sebagai penyifatan zat Ilahi dengan Tauhid.[3] Dalam ontologi irfan, determinasi ini adalah tajali (penampakan) pertama zat Ilahi yang merupakan kerja penciptaan alam;[4] karena alasan inilah, Hakikat Muhammadiyah dianggap sebagai makhluk pertama dan perantara antara al-Haq (Tuhan) dan makhluk.[5] Dalam antropologi irfan, manifestasi Hakikat Muhammadiyah adalah Insan Kamil[6] dan wujud Nabi Muhammad saw dianggap sebagai perwujudan sempurnanya.[7] Hakikat Muhammadiyah dalam irfan teoritis setara dengan konsep makhluk pertama dalam kalam[8] dan Akal Pertama dalam filsafat.[9]

Hakikat Muhammadiyah termasuk dalam konsep-konsep esensial dalam teori manusia sempurna Ibnu Arabi.[10] Konsep ini dianggap sebagai akar dari pembahasan Wilayah, kenabian, dan risalah dalam irfan teoritis.[11] Ketiga konsep ini sendiri dianggap sebagai pembahasan yang diangkat dalam antropologi irfan dan diskusi manusia sempurna.[12] Dikatakan[13] bahwa Ibnu Arabi menggunakan beberapa riwayat nabawi untuk menjelaskan konsep ini.[14] Di antara pensyarah Syiah Ibnu Arabi, tokoh-tokoh seperti Sayid Haydar Amuli,[15] Agha Mohammad Reza Qomsyei[16] dan Imam Khomeini[17] menaruh perhatian pada konsep ini dan beberapa dari mereka berusaha menjelaskannya untuk para maksum as lainnya sebagai perwujudan manusia sempurna.[18]

Penjelasan dan Karakteristik

Toshihiko Izutsu, pakar hikmah dan irfan Islam, menjelaskan Hakikat Muhammadiyah dengan bersandar pada karya-karya Ibnu Arabi[19] dan beberapa pensyarahnya,[20] sebagai berikut: Hakikat Muhammadiyah adalah tajali Ilahi pertama yang telah ada sebelum makhluk lainnya.[21] Hakikat ini adalah Ism Azham yang menghimpun seluruh asma Ilahi dan lebih unggul darinya.[22] Kemunculan Ism Azham dalam Hakikat Muhammadiyah terjadi dalam bentuk makhluk ciptaan yang paling utama (Insan Kamil) yang perwujudannya adalah wujud Nabi Muhammad saw;[23] perwujudan Hakikat Muhammadiyah dalam bentuk Insan Kamil (yaitu wujud Nabi saw) memiliki dua wajah mulki dan malakuti: wajah malakuti-nya adalah makhluk pertama dan perantara penciptaan makhluk lainnya; wajah mulki-nya muncul di setiap periode sejarah dalam diri manusia sempurna periode tersebut.[24] Wajah ini muncul secara berturut-turut dalam diri para nabi Ilahi, seperti Adam as, Nuh as, Ibrahim as, Musa as, dan Isa as hingga berakhir pada tajali historis terakhirnya dalam wujud mulki Nabi Islam saw.[25] Gambaran dari dua wajah Hakikat Muhammadiyah dalam bentuk manusia sempurna ini terdapat dalam sebuah riwayat dari Nabi saw: "Aku telah menjadi nabi saat Adam as masih berada di antara air dan tanah."[26]

Hakikat Muhammadiyah ditinjau dari kedudukannya dalam ontologi dan antropologi irfan, memiliki beberapa karakteristik yang dirinci: di antaranya bahwa hakikat ini, karena memiliki hubungan paling erat dengan al-Haq (Tuhan), merupakan argumen utama dan paling terang atas keberadaan-Nya di alam semesta;[27] juga bahwa pengetahuannya tentang al-Haq, karena hubungan sempurna tersebut, merupakan pengetahuan yang paling sempurna dan sumber makrifat manusia terhadap hakikat.[28]

Penamaan

Untuk menyebut Hakikat Muhammadiyah, selain determinasi pertama (ta'ayyun awwal), nama-nama lain telah digunakan oleh para arif Muslim; di antaranya tajali pertama (tajalli awwal),[29] Haqiqat al-Haqa'iq[30] dan Hakikat Ahmadiyah.[31] Maqam ini disebut juga sebagai Hakikat Khatmi[32] dan Hakikat Insani:[33] Hakikat Khatmi karena merupakan puncak pendakian manusia dalam suluk ilallah[34] dan Hakikat Insani[35] karena kedudukan Insan Kamil meskipun lebih rendah dari maqam zat Ilahi, namun berada di atas determinasi lainnya.[36] Dikatakan karena para arif menganggap maqam determinasi pertama sebagai maqam khusus Nabi saw dan akhir dari suluk beliau, maka mereka menyebutnya Hakikat Muhammadiyah.[37] Beberapa sufi menyebutkan alasan penamaan ini; misalnya menurut pandangan Fanari (w. 834/1430-31), salah seorang pensyarah Ibnu Arabi, karena maqam ini merupakan tempat cahaya Rasulullah saw dan penampak derajat beliau, maka disebut dengan nama ini.[38] Ia menganggap riwayat dari Nabi Muhammad saw sebagai bukti perkataannya[39] yang bersabda: "Hal pertama yang Allah ciptakan adalah cahayaku."[40]

Hakikat Alawiyah: Ekstensi Hakikat Muhammadiyah dalam Irfan Syiah

Para pensyarah Ibnu Arabi, termasuk para pensyarah Syiah-nya, menganggap konsep Hakikat Muhammadiyah memiliki ekstensi mulki dan malakuti dalam diri manusia-manusia sempurna setelah Nabi Muhammad saw.[41] Dikatakan bahwa alasan mereka adalah keluasan eksistensi Hakikat Muhammadiyah dan kedudukannya dalam penciptaan.[42] Ekstensi ini dalam pandangan mereka[43] dilakukan dalam maqam Khalifatullah dan dalam kerangka konsep Wilayah; ekstensi yang setelah menetap dalam wujud malakuti Imam Ali as dan para Imam Syiah as lainnya dalam konsep Khatamul Auliya' pada wilayah Muhammadiyah, yang oleh sebagian orang[44] diidentifikasi sebagai Imam Zaman as, berakhir.[45] Ekstensi Hakikat Muhammadiyah ini oleh sebagian orang disebut sebagai Hakikat Alawiyah.[46]

Mohsen Jahangiri (w. 2019), pakar Ibnu Arabi, memberikan indikasi konsep Hakikat Alawiyah dalam perkataan Ibnu Arabi;[47] di mana setelah menyebutkan Hakikat Muhammadiyah, ia menyebut Imam Ali as sebagai orang yang paling dekat dengan perwujudan Hakikat Muhammadiyah (Nabi saw).[48] Jahangiri berpendapat kemungkinan yang dimaksud Ibnu Arabi dengan Imam Ali as adalah hakikat wilayah Alawiyah, bukan pribadinya; sebagaimana yang dimaksud Ibnu Arabi dengan Nabi Muhammad saw adalah Hakikat Muhammadiyah, bukan pribadinya.[49] Menurut pandangan Jahangiri, konsekuensi dari analisis ini adalah bahwa Imam Ali as merupakan manifestasi paling sempurna dari Hakikat Alawiyah, sebagaimana Nabi saw merupakan manifestasi paling sempurna dari Hakikat Muhammadiyah.[50]

Catatan Kaki

  1. Izutsu, Sufism wa Taoism, 1378 HS, hlm. 248; Alamul Huda, "Haqiqat-e Muhammadiyah", hlm. 712.
  2. Jami, Naqd al-Nushush, 1370 HS, hlm. 34-35.
  3. Jami, Naqd al-Nushush, 1370 HS, hlm. 34-35.
  4. Izutsu, Sufism wa Taoism, 1378 HS, hlm. 248-249.
  5. Izutsu, Sufism wa Taoism, 1378 HS, hlm. 248; Emami, "Haqiqat", hlm. 167.
  6. Izutsu, Sufism wa Taoism, 1378 HS, hlm. 248.
  7. Jahangiri, Muhiyuddin Ibnu Arabi, 1395 HS, hlm. 493.
  8. Izutsu, Sufism wa Taoism, 1378 HS, hlm. 249.
  9. Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyah, 1994 M, jld. 1, hlm. 94.
  10. Emami, "Haqiqat", hlm. 167.
  11. Amininezhad, Asynayi ba Majmu'eh Irfan-e Eslami (Mengenal Kumpulan Irfan Islam), 1390 HS, hlm. 400.
  12. Amininezhad, Asynayi ba Majmu'eh Irfan-e Eslami (Mengenal Kumpulan Irfan Islam), 1390 HS, hlm. 400.
  13. Alamul Huda, "Haqiqat-e Muhammadiyah", hlm. 713.
  14. Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyah, 1994 M, jld. 1, hlm. 243; Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, 1365 H, jld. 1, hlm. 63-64.
  15. Sayid Haydar Amuli, Jami' al-Asrar, 1368 HS, hlm. 391-392.
  16. Qomsyei, Majmu'eh Asar-e Hakim Sahba, 1378 HS, hlm. 78-88.
  17. Khomeini, Misbah al-Hidayah, 1372 HS, hlm. 56-57.
  18. Sayid Haydar Amuli, Jami' al-Asrar, 1368 HS, hlm. 407; Khomeini, Misbah al-Hidayah, 1372 HS, hlm. 63.
  19. Sebagai contoh lihat: Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyah, 1994 M, jld. 1, hlm. 119-120.
  20. Sebagai contoh lihat: Qaysari, Syarh Fushush al-Hikam, 1375 HS, hlm. 127-129.
  21. Izutsu, Sufism wa Taoism, 1378 HS, hlm. 249.
  22. Izutsu, Sufism wa Taoism, 1378 HS, hlm. 249.
  23. Izutsu, Sufism wa Taoism, 1378 HS, hlm. 248.
  24. Izutsu, Sufism wa Taoism, 1378 HS, hlm. 248.
  25. Izutsu, Sufism wa Taoism, 1378 HS, hlm. 249.
  26. Izutsu, Sufism wa Taoism, 1378 HS, hlm. 248.
  27. Alamul Huda, "Haqiqat-e Muhammadiyah", hlm. 713.
  28. Alamul Huda, "Haqiqat-e Muhammadiyah", hlm. 713.
  29. Ibnu Turkah Isfahani, Tamhid al-Qawa'id, 1360 HS, hlm. 131.
  30. Jami, Naqd al-Nushush, 1370 HS, hlm. 36.
  31. Fanari, Misbah al-Uns, 2010 M, hlm. 333.
  32. Asytiyani, Syarh Muqaddameh Qaysari bar Fushush al-Hikam, 1370 HS, hlm. 464.
  33. Qaysari, Syarh Fushush al-Hikam, 1375 HS, hlm. 120; Qomsyei, Majmu'eh Asar-e Hakim Sahba, 1378 HS, hlm. 86.
  34. Yazdanpanah, Mabani wa Oshul-e Irfan-e Nazari (Dasar dan Prinsip Irfan Teoritis), 1389 HS, hlm. 405.
  35. Qaysari, Syarh Fushush al-Hikam, 1375 HS, hlm. 120; Asytiyani, Syarh Muqaddameh Qaysari bar Fushush al-Hikam, 1370 HS, hlm. 464.
  36. Yazdanpanah, Mabani wa Oshul-e Irfan-e Nazari, 1389 HS, hlm. 405-406.
  37. Yazdanpanah, Mabani wa Oshul-e Irfan-e Nazari, 1389 HS, hlm. 405.
  38. Fanari, Misbah al-Uns, 2010 M, hlm. 333.
  39. Fanari, Misbah al-Uns, 2010 M, hlm. 333.
  40. Ibnu Abi Jumhur al-Ahsa'i, Awali al-La'ali, 1405 H, jld. 4, hlm. 99.
  41. Sayid Haydar Amuli, Jami' al-Asrar, 1368 HS, hlm. 383-384; Khomeini, Misbah al-Hidayah, 1372 HS, hlm. 75-76.
  42. Emami, "Haqiqat", hlm. 167.
  43. Sayid Haydar Amuli, Jami' al-Asrar, 1368 HS, hlm. 401; Nayrizi, Risaleh Ruhiyeh wa Manhaj al-Tahrir, Shiraz, hlm. 18-19; Khomeini, Misbah al-Hidayah, 1372 HS, hlm. 63.
  44. Abdul Razzaq al-Kasyani, Syarh Fushush al-Hikam, 1383 HS, hlm. 127; Qomsyei, Majmu'eh Asar-e Hakim Sahba, 1378 HS, hlm. 111-114; Hasanzadeh Amoli, Hezar o Yek Nokteh, 1365 HS, hlm. 387-388.
  45. Jahangiri, Muhiyuddin Ibnu Arabi, 1395 HS, hlm. 496; Emami, "Haqiqat", hlm. 167.
  46. Nayrizi, Risaleh Ruhiyeh wa Manhaj al-Tahrir, Shiraz, hlm. 112; Khomeini, Misbah al-Hidayah, 1372 HS, hlm. 63.
  47. Jahangiri, Muhiyuddin Ibnu Arabi, 1395 HS, hlm. 495-496.
  48. Ibnu Arabi, Al-Futuhat al-Makkiyah, 1994 M, jld. 1, hlm. 119.
  49. Jahangiri, Muhiyuddin Ibnu Arabi, 1395 HS, hlm. 496.
  50. Jahangiri, Muhiyuddin Ibnu Arabi, 1395 HS, hlm. 496.

Daftar Pustaka

  • Asytiyani, Sayid Jalaluddin. Syarh Muqaddameh Qaysari bar Fushush al-Hikam. Tehran, Penerbit Amirkabir, 1370 HS.
  • Ibnu Abi Jumhur al-Ahsa'i, Muhammad bin Zainuddin. Awali al-La'ali al-'Aziziyah fi al-Ahadits al-Diniyah. Riset: Mojtaba Iraqi. Qom, Dar Sayyid al-Syuhada lil-Nasyr, 1405 H.
  • Ibnu Turkah Isfahani, Sa'inuddin Ali bin Muhammad. Tamhid al-Qawa'id. Riset: Sayid Jalaluddin Asytiyani. Tehran, Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi, 1360 HS.
  • Ibnu Arabi, Muhammad bin Ali. Al-Futuhat al-Makkiyah. Riset: Usman Yahya. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1994 M.
  • Ibnu Arabi, Muhammad bin Ali. Fushush al-Hikam. Riset: Abu al-Ala Afifi. Kairo, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, 1365 H/1946 M.
  • Emami, Ali-Asyraf. "Haqiqat". Dalam Da'irah al-Ma'arif Bozorg-e Eslami (Ensiklopedi Besar Islam). Jld. 21, Tehran, Pusat Ensiklopedi Besar Islam, 1392 HS.
  • Amininezhad, Ali. Asynayi ba Majmu'eh Irfan-e Eslami. Qom, Muassasah Amuzesyi wa Pazhuhesyi Imam Khomeini, 1390 HS.
  • Izutsu, Toshihiko. Sufism wa Taoism. Terjemahan Mohammad Javad Gohari. Tehran, Penerbit Rowzaneh, 1378 HS.
  • Jami, Abdurrahman bin Ahmad. Naqd al-Nushush fi Syarh Naqsy al-Fushush. Riset: William Chittick. Tehran, Muassasah Motale'at wa Tahqiqat-e Farhangi, 1370 HS.
  • Jahangiri, Mohsen. Muhiyuddin Ibnu Arabi Cehreh-ye Barjasteh-ye Irfan-e Eslami (Muhiyuddin Ibnu Arabi Tokoh Terkemuka Irfan Islam). Tehran, Universitas Tehran, 1395 HS.
  • Khomeini, Sayid Ruhullah. Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah. Tehran, Muassasah Tanzim wa Nasyr-e Asar-e Imam Khomeini, 1372 HS.
  • Sayid Haydar Amuli, Haydar bin Ali. Jami' al-Asrar wa Manba' al-Anwar. Riset: Henry Corbin dan Usman Ismail Yahya. Tehran, Penerbit Elmi wa Farhangi, 1368 HS.
  • Alamul Huda, Jalileh. "Haqiqat-e Muhammadiyah". Dalam Danisynamah-ye Jahan-e Eslam (Ensiklopedi Dunia Islam). Jld. 13, Tehran, Bonyad-e Da'irat al-Ma'arif-e Eslami, 1388 HS.
  • Fanari, Muhammad bin Hamzah. Misbah al-Uns bayn al-Ma'qul wa al-Masyhud. Riset: Ashim Ibrahim al-Kayyali. Tehran, Penerbit Mowla, 2010 M.
  • Qomsyei, Mohammad Reza. Majmu'eh Asar-e Hakim Sahba (Beserta Biografi). Riset: Hamid Naji Isfahani dan Khalil Bahrami Qasre-Chamani. Isfahan, Kanun-e Pejuhesy, 1378 HS.
  • Qaysari, Dawud bin Mahmoud. Syarh Fushush al-Hikam. Riset: Sayid Jalaluddin Asytiyani. Tehran, Penerbit Elmi wa Farhangi, 1375 HS.
  • Nayrizi, Quthbuddin Muhammad. Risaleh Ruhiyeh wa Manhaj al-Tahrir. Riset: Mohammad Khajavi. Shiraz, Kitabkhaneh Ahmadi, tanpa tahun.
  • Yazdanpanah, Sayid Yadullah. Mabani wa Oshul-e Irfan-e Nazari. Penulisan: Sayid Atha Anzali. Qom, Muassasah Amuzesyi wa Pazhuhesyi Imam Khomeini, 1389 HS.